7

1318 Words
Sejak pertengkaran mereka Nafa tak bertemu lagi dengan Gio. Laki-laki itu pergi ke kota dan meninggalkannya di sana bersama Vanni. Hanya gadis itu yang menemaninya sebab para pelayan menghindarinya seperti wabah dan mereka akan tergagap jika ia mencoba bicara dengan mereka. "Vanni, apa Gio memang seperti itu? Sesaat dia begitu baik tapi di saat yang lain dia tampak kejam?" "Ya, seperti itulah sikapnya. Beban yang harus ditanggungnya membuat semua itu mengubahnya jadi seperti itu." "Tapi saat kami pertama bertemu dia tak seperti itu," ujar Nafa bingung. Saat ini mereka sedang makan siang dan seperti biasanya hanya berduaan saja sejak 3 minggu lalu. Mereka menyelesaikan makan siang dalam diam dan kemudian kembali ke kamar masing-masing. Nafa bersyukur karena selama 3 minggu di rumah itu ia juga tak bertemu dengan Kakak Gio karena ia sungguh tak akan siap bertemu laki-laki itu. Saat ini ia sedang berada di kamarnya dan merasa begitu merindukan Vinnonya yang belum berubah menjadi Gio. Ia menatap foto mereka di ponsel yang Vinno berikan padanya. Di sana Vinno tampak tersenyum begitu ceria berbeda sekali dengannya yang sekarang dan di foto lainnya ia bisa melihat Vinno yang menatapnya dengan sayang tidak seperti Gio yang seakan membencinya atau menatapnya begitu tajam. "Kenapa kamu berubah Vinno? Aku ingin tetap memanggilmu Vinno agar kamu kembali seperti dulu tapi aku bisa mendengar dari suaramu jika kamu akan mencekikku jika aku memaksa memanggilmu seperti itu." Nafa kemudian berjalan turun dari ranjang dan memandang keluar jendela. Sejak tiba di sini ia tak pernah keluar dan tak berani keluar karena tak tahu wilayah ini. Ia merasa seolah ia masih buta hingga tak berani pergi ke manapun. Ia begitu merindukan orang tuanya tapi ia hanya bisa menghubungi mereka sesekali sebab sambungan telepon di sana tidak stabil tapi banyak orang yang memakainya hingga harus bergantian. "Mungkin aku bisa meminta Gio membelikan mereka ponsel? Tapi aku takut padanya," ujar Nafa menghela napas lelah. Satu bulan menjadi istri laki-laki itu tapi ia lebih merasa seperti orang asing dibanding saat mereka baru kenal dulu. Nafa kemudian memutuskan untuk keluar sambil memakai kacamata untuk melindungi matanya dan ia menjelajah di sekitar kastil itu. Dirinya berjalan tak tentu arah hingga akhirnya menemukan pantai yang ia lihat dari kamarnya. Ia menatap takjub pantai itu dan terus melihat-lihat di sana. Bahkan ia menunggu hingga matahari tenggelam karena ingin melihat keindahannya, saat itulah dia ingat akan janji Vinno yang akan mengajaknya kembali ke Grand Canyon untuk melihat semua hal yang tak bisa ia lihat dulu. Nafa berjalan kembali pulang sambil kembali memasang kacamata hitam itu. Sampai kastil tanpa sengaja ia menubruk tubuh berotot di hadapannya yang memegang kedua lengannya erat. "Dari mana saja dirimu?!" "Itu bukan urusanmu," ujar Nafa melepaskan diri dari tangan Gio. "Itu urusanku karena kamu istriku dan jika kamu berselingkuh di belakangku, akan aku remukkan tulangmu." Dengan marah Nafa mencoba menampar Gio karena ucapannya tapi laki-laki itu menangkap tangannya, ia bisa melihat kobaran kemarahan di sana. Dengan ketakutan ia berlari naik ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia kemudian masuk ke kamar mandi, menanggalkan pakaiannya yang terasa lengket karena angin laut yang meniup tubuhnya. Dengan perlahan ia membersihkan tubuhnya di bawah pancuran. Satu bulan menikah dan ia masih perawan sungguh sangat menakjubkan. Nafa tertawa mengingat akan hal itu. Setelah ia mandi dan mengeringkan tubuhnya, ia kemudian berjalan keluar dari kamar dan tak bisa berhenti tersenyum mengingat pernikahannya yang tak seperti bayangannya. Ia mengira akan hidup bahagia bersama suaminya tapi ternyata ia malah terus diabaikan olehnya. "Apa yang kamu pikirkan hingga tersenyum?" "Akh!" jerit Nafa shock saat menemukan Gio ada di kamarnya sedang duduk dengan sebuah gelas di tangannya dan seperti biasa menatapnya dengan sorot mata tajam dan dingin. Dengan cepat Nafa mengambil handuk untuk menutupi tubuh telanjangnya. "Bagaimana caranya kamu masuk?" Gio menunjukkan pintu penghubung yang Nafa lupakan keberadaannya. "Apa yang kamu inginkan?" tanya Nafa takut. "Menghukummu tentu saja. Tak ada yang berani mencoba melakukan apa yang kamu lakukan padaku dan aku sudah memperingatkanmu." "Apa? Menamparmu? Kamu memang pantas mendapatkannya dan aku akan terus mencoba menamparmu lagi jika kamu menghinaku seperti tadi." "Dan dengan senang hati aku akan terus menghukummu." "Aku tidak takut padamu," tantang Nafa. "Apa kamu yakin? Aku bisa melihat jika bahkan kamu berlari lebih cepat daripada rusa tadi," ujarnya meletakkan gelasnya dan berdiri menghampiri Nafa. "Kamu mau apa?" tanya Nafa mulai takut dan melangkah mundur. Entah kenapa dia merasa takut pada Gio. "Kamu pergi selama 3 minggu dan tanpa aku tahu kamu ke mana saja aku tak menuduhmu berselingkuh, jadi sudah sepantasnya aku menamparmu karena tuduhanmu padaku," cicit Nafa saat Gio terus mendekat padanya dan tak berhenti. "Aku bahkan tak tahu untuk apa kamu menikahiku jika kamu tak menganggapku istrimu, apa rasa tertarikmu menguap saat kamu berhasil menjadikanku istrimu? Apa kamu akhirnya menyesal menikah denganku? Kita bisa melakukan pembatalan pernikahan. Aku merindukanmu Vinno dan kamu sangat berbeda dengan Vinno yang baru aku kenal." "Jangan panggil aku dengan nama itu!" geram Gio marah. "Kenapa? Aku lebih menyukai nama itu dari pada Gio. Aku merasa takut saat kamu menjadi Gio tapi aku merasa begitu aman dan damai saat kamu merupakan Vinnoku, laki-laki yang aku cintai. Aku tak mengenali dirimu yang sekarang. Jika bukan karena wajah kalian memang sama, aku tak akan percaya jika kalian orang yang sama." Dengan kesal Gio menekan Nafa ke dinding dan memagut bibirnya dengan marah, mencoba menghentikan aliran kata yang keluar dari bibir wanita itu. "Hmmm," gumam Nafa berusaha melepaskan Gio darinya dengan memukul-mukul dadanya. "Vinno tak pernah berbuat kasar padaku!" bentak Nafa marah saat Gio melepaskan ciumannya. Gio kembali memagut bibir Nafa dengan brutal saat mendengar ucapannya, dia menarik rambut Nafa agar mendongak padanya hingga dia bisa dengan leluasa menghukum mulut gadis itu. Dia meraih handuk Nafa dan dengan sekali tarik handuk itu terlepas dari tubuh Nafa dan ia telanjang sepenuhnya. "Tentu saja saat itu aku harus berakting agar kamu terjatuh ke dalam pelukanku dengan mudah," bisik Gio di telinga Nafa dengan kejam. "Aku bahkan muak mendengarmu memanggilku Vinno saat itu tapi aku berhasil mengendalikan diriku dan tetap bersikap baik padamu," sambungnya lagi. Gio kemudian menangkup p******a Nafa dengan tangannya sambil terus memagut bibirnya, jarinya mengusap puncak merah jambu itu yang langsung mengeras di bawah sentuhannya dan tanpa sadar Nafa merintih karena sentuhan itu. "Sejujurnya sejak pertama melihatmu aku sudah sangat membencimu dan sekaligus menginginkanmu tapi aku bertekad tak akan menyerah pada gairah dan mencoba menjauhimu, ternyata takdir berkata lain, kamu terjatuh dengan mudah ke dalam pelukanku. Hal itu terasa seperti sebuah hadiah atau kesialan untukku, aku tak tahu. Tapi aku akan memanfaatkan hal itu dan mulai malam ini aku akan menjadikanmu milikku tapi aku tak akan pernah benar-benar menjadi milikmu, kamu bisa memilikiku sebagai suamimu tapi hanya sekedar status saja karena aku tak akan membiarkanmu menguasaiku dan mulai hari ini aku juga akan menghancurkanmu hingga kamu akan menyesal sudah terlahir di dunia ini," bisik Gio dan kembali memagut bibir Nafa. "Apa salahku? Kenapa kamu tiba-tiba jadi membenciku?" tanya Nafa di sela-sela ciuman Gio padanya. "Salahmu adalah hadir di dalam kehidupanku dan aku akan membuatmu menyesal karenanya." Dia kemudian menyusuri rahang Nafa menuju cuping telinganya dan menghisapnya perlahan. Dia membelai telinga Nafa dengan bibirnya dan Nafa merasakan seluruh tubuhnya meremang karena hembusan napas Gio di telinganya. Ia tak ingin merespon hal itu tapi tubuhnya berkata lain. "Jika kamu memanggilku Vinno lagi, aku akan membuatmu memohon padaku dan memohon belas kasihanku," bisiknya di telinga Nafa dan menjilati telinganya hingga ia bisa merasakan kakinya melemah karena hal itu dan dengan refleks ia mencengkeram bahu Gio. Gio kemudian semakin turun menyusuri leher jenjang Nafa menciumnya perlahan dan dengan seksama lalu berpindah menuju bahu Nafa dan mengigitnya pelan. Nafa hanya bisa mendesah pasrah di bawah sentuhan bibir dan jari laki-laki itu yang terus bermain bergantian di kedua payudaranya. Saat bibir laki-laki itu semakin turun hingga mencapai payudaranya, Nafa bahkan telah menantikan hal itu, menantikan ciuman Gio pada payudaranya walau ia tak tahu rasanya. Tapi Gio menghentikan sentuhannya dan malah mengangkat tubuh Nafa. Ia menjerit terkejut saat Gio membantingnya di atas ranjang hingga tubuhnya memantul dan dengan cepat Gio menindihnya kembali. Hingga ia merasakan Gio menjilati ujung sensitif payudaranya dan ia menjerit saat kenikmatan menjalari tubuhnya. *** Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD