8

1277 Words
Gio menikmati perlahan tubuh istrinya, istri yang terpaksa ia nikahi dan ia tak ingin lagi menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia akan menikmati tubuh Nafa sepuasnya sampai ia bosan dan sekaligus membalaskan dendamnya, mulai hari ini dia akan melaksanakan balas dendamnya. Satu minggu dia meninggalkan Nafa di rumah sakit, mencoba membiasakan dirinya jika dia sudah menikah dan 3 minggu dia mencoba menjauh dari ketertarikan seksualnya pada istrinya. Dia menyerah, dia tak ingin menyangkalnya lagi jika dia menginginkan Nafa meski dia membencinya. Dia bahkan muak mendengar ungkapan cinta wanita itu. Gio memagut p****g Nafa dengan perlahan dan dia tersenyum saat rintihan nikmat kembali terdengar dari bibir wanita itu, semua rintihan itu untuknya dan karena dirinya bukan orang lain. Gio bermain di sana dengan mulut dan lidahnya sepuasnya. Dia akan memberikan Nafa kebahagiaan saat ini tapi akan dia rampas nanti. "Gio!" rintih Nafa saat Gio semakin turun ke bawah menuju pusat gairahnya. "Mulai sekarang tubuhmu hanya akan menjadi milikku, aku ingin kamu melupakan laki-laki manapun yang pernah menyentuhmu di sini," ujar Gio dan memainkan jarinya di inti Nafa. "Mulai hari ini semua bagian tubuhmu hanya aku yang boleh menyentuh dan menjelajahinya," ujar Gio dan memasukkan jarinya di kehangatan Nafa yang mulai basah karenanya. "Please!" ujar Nafa tak tahan lagi meski tak tahu apa maksud perkataan Gio padanya. Dengan cepat Gio berdiri dan membuka pakaiannya secepat yang ia bisa dan mulai memosisikan tubuhnya di antara paha Nafa yang berbaring pasrah hanya bisa menatap terbelalak pada tubuh telanjang Gio. Perlahan Gio mulai memasuki tubuh Nafa dan kemudian dia menindihnya serta memagut bibir Nafa dengan perlahan. Nafa tak bisa menahan gairah yang terasa akan meledakkan tubuhnya dan dengan panik ia mencengkeram punggung Gio dan mencakarnya saat laki-laki itu memasukinya semakin dalam dan menekan tubuhnya hingga penghalangnya berhasil ditembus. "Akh!" jerit Nafa tertahan saat Gio masuk seutuhnya di dalam tubuhnya. "Aku yang pertama untukmu?" tanyanya tak percaya. Nafa tak mampu menjawab saat merasakan rasa nikmat mulai menggantikan rasa sakit di miliknya dan ia mengencangkan otot-ototnya. Hal itu membuat Gio merasakan pijatan pada miliknya dan dia menggeram karena tak mampu menahan diri lagi. Dia mulai menggerakkan pinggulnya perlahan keluar masuk di sana dan rasa nikmat semakin meningkat di setiap gerakan mereka hingga badai itu menerpa mereka dan meluluh-lantakkan tubuh mereka, hanya menyisakan kepingan-kepingan gairah di sekitarnya. Gio berbaring di samping Nafa dan memikirkan apa yang baru diketahuinya. Ia tak menyangka jika ternyata dirinya merupakan yang pertama untuk Nafa. "Tidurlah, aku tahu kamu pasti lelah," ujar Gio dan mengecup kepala Nafa. Nafa tersenyum mendengar kelembutan laki-laki itu padahal tadi Gio tampak membencinya. Sepertinya itu hanya perasaanku saja. "Aku jadi merasa Vinnoku sudah kembali saat kamu melakukan hal itu," ujar Nafa terlelap tidur tak menyadari Gio yang membeku mendengar ucapannya. Gio kemudian pergi dari sana dengan kemarahan tertahan. *** Nafa mengira setelah mereka benar-benar sudah menjadi suami istri maka semuanya akan membaik tapi ia harus kecewa saat Gio tetap seperti biasanya tampak tak peduli padanya. Gio hanya akan datang menghampirinya saat dia ingin bercinta dengannya dan setelah selesai bercinta maka dia akan meninggalkan Nafa sendirian lagi hal itu terus seperti itu selama 3 bulan ini. "Kamu mau ke mana?" tanya Nafa saat melihat Gio berkemas hari ini. "Aku ada urusan bisnis dan akan tinggal di apartemenku di Roma." "Bolehkah aku ikut?" "Sebaiknya kamu di sini saja." "Tapi aku akan merindukanmu." "Tidak, Nafa!" "Apakah kamu takut orang tahu jika aku istrimu dan kamu merasa malu akan diriku?" tanya Nafa. Gio hanya terdiam dan tak mau menjawab. Ia mengetatkan rahangnya menahan marah dan dengan cepat ia segera pergi dari sana. Nafa hanya bisa menatap sedih kepergian laki-laki itu. *** Saat ini sudah 1 minggu laki-laki itu pergi tanpa menghubunginya sekalipun atau bertanya tentang keadaannya dan Nafa tak tahan lagi dengan semua perlakuannya. Dengan gontai ia pergi ke ruang makan untuk makan malam sendirian seperti biasa sebab Vanni sudah kembali ke New York. Vanni memang tinggal di sana selama ini tapi ia pulang ke Italia untuk berlibur. "Bi," panggil Nafa pada Abriana. "Ya, Nyonya." "Bagaimana caranya untuk kembali ke Grand Canyon?" "Dari sini naik taksi ke bandara, kemudian naik pesawat ke New York sekitar 18 jam dan setelah itu aku tak tahu harus naik apalagi ke sana." "Terima kasih, Bi." "Ya." Abriana menatap curiga pada Nafa. Ia sedikit kasihan padanya tapi tak ada yang bisa ia lakukan sebab Gio berpesan agar mereka tak bicara padanya. Jadi mereka semua tak berani terlalu banyak bicara padanya. Abriana segera ke ruang kerja Gio setelah itu dan tak lama kemudian telepon berdering dan ia mengangkatnya. *** Di kamarnya setelah setengah jam mencoba bersabar akhirnya kesabaran Nafa habis. Dengan kesal ia mengepak semua barang-barangnya dan memasukkan ke dalam tas usangnya. "Mau ke mana?" "Kembali pada orang tuaku!" bentak Nafa marah saat melihat laki-laki itu malah pulang di saat yang tidak tepat. "Jika kamu tak menginginkan aku lagi kamu bisa memulangkan aku pada orang tuaku. Jika yang kamu inginkan hanya p*****r untuk menghangatkan ranjangmu kamu bisa mendapatkannya di tempat lain, aku tak sudi lagi menjadi pelacurmu dengan kedok istri di depan namaku!" Nafa menarik tasnya dan berusaha melewati Gio tapi kemudian laki-laki itu menahan langkahnya. "Apa kamu memiliki uang?" "Tidak tapi aku punya sepasang kaki dan mata sekarang," ketus Nafa dan menarik lengannya lepas dari genggaman Gio. Dengan kesal laki-laki itu merampas tas Nafa dari tangannya dan melemparnya ke dalam kamar. "Kamu tidak berhak!" jerit Nafa kesal. "Aku berhak dan jika kamu lupa aku suamimu." "Aku tidak merasa seperti itu! Aku merasa aku tak memiliki suami! Hanya gigolo di atas ranjang!" bentak Nafa marah. Dengan kesal Gio menarik lengan Nafa hingga terlempar ke dalam pelukannya kemudian ia mengangkat Nafa ke atas ranjang dan menindihnya. Dia memagut bibir Nafa dengan brutal tak mau melepaskan wanita itu yang terus meronta. "Sekarang gigolo ini menginginkan tubuhmu." "Tapi aku sedang tak ingin!" "Aku tak peduli dengan keinginanmu karena aku tahu setiap aku menyentuhmu maka kamu tak akan sadar meski rumah ini runtuh dan setiap aku mencumbumu kamu akan lupa segalanya dan hanya menginginkan aku saja. Aku hanya bisa memilikimu di atas ranjang dan karena itulah aku juga hanya menginginkanmu di atas ranjangku saja." "Aku tak mengerti apa maksudmu? Seperti yang kamu tahu aku mencintaimu." "Jangan ucapkan hal itu lagi." "Kenapa? Apa karena kamu tak mencintaiku lagi?" Gio mencium bibir Nafa agar ia tak terus bertanya dan mencumbu wanita itu agar ia lupa segalanya dan hanya ingat akan dirinya saja. Hingga akhirnya Nafa luluh di bawahnya dan hanya bisa mendesah dan menjerit di setiap sentuhan dan cumbuan Gio padanya. "Panggil namaku!" perintah Gio sambil menghunjamkan dirinya ke dalam milik Nafa yang menyambutnya. "Gio!" desah Nafa sambil mencengkeram sprei saat Gio terus bergerak dan bergerak di dalam tubuhnya. Hingga akhirnya mereka mencapai kenikmatan bersama dan tanpa bisa Nafa kendalikan ia berteriak memanggil nama Gio di sela-sela jeritannya. Gio menindih Nafa yang berada di bawahnya saat kenikmatan mereka mulai mereda. "Sekarang mandi dan bersiaplah, aku ingin mengajakmu makan malam. Maaf karena sudah mengabaikanmu selama ini." "Ya," ujar Nafa dan mengusap rambut Gio perlahan. "Maaf karena sudah berteriak padamu. Di dekatmu selalu membuatku tak bisa menahan emosi padahal aku adalah wanita yang tenang selama ini," ujar Nafa. "Hal itu tak tampak sama sekali, kamu lebih mirip kucing liar," ujar Gio tersenyum. "Ya, kucing liar milikmu." Gio sangat senang mendengar ucapan Nafa padanya. "Apa kamu ingin aku yang memandikanmu?" tanya Gio menatap kedua mata Nafa. "Jika Anda tidak keberatan, Mr. Larvall, aku akan senang sekali," ujar Nafa dengan senyum menggoda. Dengan sigap Gio menggendong Nafa ke kamar mandi dan mereka melanjutkan semuanya di sana dan kembali memuaskan diri akan satu sama lain. *** Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD