9

1789 Words
Mereka keluar berbalut handuk saat selesai mandi. "Gio, aku tak punya pakaian yang pantas untuk makan malam." "Aku sudah menyediakannya." "Benarkah?" "Ya." Dia kemudian keluar dari kamar dan membawa masuk sebuah kotak dan menyerahkannya pada Nafa. Dengan bahagia ia membuka kotak itu dan menemukan sebuah gaun yang sangat indah. Ia mengangkatnya dan menatapnya, dengan cepat ia melepaskan pakaian itu dan berbalik memeluk leher Gio senang. "Terima kasih! Aku tak pernah melihat gaun seindah itu," ujarnya di depan bibir Gio dan mencium mesra bibir suaminya yang terdiam seolah tak menyangka. Gio mengetatkan pelukannya pada pinggang Nafa dan menciumnya semakin dalam. "Dio, aku tak tahu apa yang sudah menimpaku," ujar Gio. Nafa mendorong Gio di atas ranjang dan meloncat ke atasnya. "Hanya tubuh seorang wanita," ujar Nafa yang menimpa tubuh Gio. Dia merengkuh kepala Nafa dan menciumnya dengan intens. "Kita akan terlambat jika kamu tidak segera berpakaian," ujar Gio tersiksa saat merasakan kulit telanjang Nafa yang menempel padanya. "Aku tak peduli, aku masih merindukanmu," bisik Nafa di bibir Gio dan menciumnya perlahan. "Dasar penggoda!" ucap Gio dan menyerah kemudian kembali bercinta dengan Nafa. "Berpakaianlah kita hampir terlambat," ujar Gio saat kenikmatan mereka sudah mereda. "Ya." Dengan cepat Nafa berganti baju dan membubuhkan sedikit make up pada wajahnya seperti yang Vanni ajarkan padanya. Mereka masuk ke dalam helikopter dan segera mengudara menuju sebuah restoran di Roma. Nafa terus menatap ke bawah melihat keindahan kota Roma di malam hari. Sejak mereka menikah baru kali ini Gio mengajaknya keluar dan ia ingin melihat semuanya sepuasnya. "Sangat indah," ujar Nafa tersenyum. "Ya," balas Gio sambil menatap Nafa yang tak menyadarinya. "Gio, kenapa kamu bisa pulang hari ini?" tanya Nafa penasaran akhirnya. "Hanya merindukanmu." "Benarkah?" tanya Nafa curiga. "Ya benar, kamu pasti sangat merindukanku hingga bahkan kamu sama sekali tak mau repot-repot untuk meneleponku," sindir Nafa. Gio tersenyum mendengarnya, dia tak mungkin mengatakan jika selama ini dia selalu menelepon dan menanyakan kabar Nafa melalui Abriana. Tadi saat dia menelepon, Abriana memberitahunya jika Nafa menanyakan cara untuk kembali ke Grand Canyon dan dia tahu jika Nafa pasti marah padanya karena itulah dia pulang dengan cepat dan merencanakan makan malam ini. "Ya, bella mia, aku sangat merindukanmu," ujar Gio meraih Nafa dan mencium bibirnya perlahan. Akhirnya mereka sampai di restoran dan mendarat di helipad. Restoran itu memang sangat terkenal hingga banyak tamu penting yang akan datang ke sana hanya untuk makan. Gio kemudian meletakkan lengan Nafa di lengannya dan membawanya masuk. Seorang pelayan menghampiri mereka dan membawa mereka ke meja yang sudah Gio pesan di mana terdapat lilin, bunga dan wine yang menunggu mereka. "Apa ini makan malam romantis?" "Ya." Nafa tersenyum mendengarnya dan ia sungguh bahagia. "Terima kasih," ujar Nafa. Gio meraup tangan Nafa dan membawanya ke bibirnya. "Apapun untukmu akan aku lakukan," ujar Gio dan mengecup tangan Nafa perlahan. "Kamu sudah lama tidak melakukan hal itu dan aku merindukannya," ujar Nafa tersenyum dan tanpa bisa ia kendalikan gairah timbul di dalam dirinya saat Gio mengecup tangannya, sesaat dia merasa bingung akan reaksinya. Ia juga tak menyadari akibat dari ucapannya membuat Gio segera melepaskannya. Mereka makan dalam diam dan akhirnya Nafa bisa merasakan sesuatu sudah terjadi dan ia tak tahu apa itu. Tapi ia bisa merasakan ketegangan yang terjadi di antara mereka kembali timbul ke permukaan dan ia yakin saat pulang dari sini maka Gio akan kembali  meninggalkannya. Saat selesai makan mereka segera bangun dan akan keluar dari restoran tapi suara seorang wanita menghentikan mereka. "Gio!" Nafa bisa melihat raut wajah Gio yang berubah mengeras saat melihat siapa yang memanggilnya. Seorang wanita dan laki-laki menghampiri mereka dan kemudian berbicara bahasa Italia dengan Gio yang tak ia mengerti artinya. Bahkan wanita itu menangis saat mengucapkan sesuatu pada Gio, sambil memeluknya. Stefano lalu berjabat tangan dengan Gio yang tampak dingin. Membuat Nafa penasaran apa yang sebenarnya mereka bicarakan. Wanita itu kemudian berbicara dengan Nafa menggunakan bahasa Italia dan ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Maaf, aku tidak bisa bahasa Italia," ujar Nafa menyesal. "Oh, maafkan aku. Aku Latisa, sepupunya Gio dan ini Stefano, suamiku." "Aku Nafa," balas Nafa menjabat tangan Latisa dan Stefano. "Apa kamu kekasih, Gio?" "Aku__" "Dia istriku." "Istri?!" seru Latisa terkejut. "Kamu sudah menikah tapi kami semua tak tahu? Bahkan kamu tidak memberitahu Noona, dia akan sangat marah jika tahu kamu menikah tanpa mengundangnya." "Semua itu mendadak," ujar Gio. "Apa dia__?" Latisa tidak menyelesaikan pertanyaannya dan memandang perut Nafa. "Aku tidak hamil," ujar Nafa mengerti maksud tatapan wanita itu. "Jadi itu artinya Gio seketika langsung jatuh cinta padamu?" "Seperti itulah, kami saling jatuh cinta dalam waktu singkat" ujar Nafa tersenyum. "Senang akhirnya bisa bertemu dengan wanita yang bisa menaklukkan Giovanno yang tak tertaklukkan, aku mengira dia tak akan pernah menikah," ujar Latisa senang. "Dan kamu, Gio. Noona pasti akan sangat marah saat dia pulang dari Prancis nanti," sambung Latisa. "Aku akan memberitahunya nanti saat dia pulang. Maaf kami harus segera pulang," ujar Gio dan dengan cepat menyeret Nafa pergi sebelum ia sempat menyelesaikan pertanyaannya. Nafa merasa heran ada apa dengan Gio dan ia tak berani mengatakan apa-apa saat melihat jika raut wajah laki-laki itu kembali tampak keras dan tak ingin diganggu hingga saat mereka sudah sampai di kamar dan Nafa tak tahan lagi untuk bertanya. "Katakan kenapa mereka memanggilmu Giovanno? Bahkan saat kita menikah juga seperti itu dan kamu sama sekali tidak mengoreksinya," tanya Nafa saat ingat kesalahan yang terjadi di pernikahan mereka dulu dan sempat ia lupakan. "Hal itu memang sering terjadi, mereka sering salah memanggil namaku." "Itu tidak mungkin! Dan siapa itu Noona?” “Dia nenekku.” “Nenek?! Kamu masih punya Nenek dan aku tak tahu!” "Maafkan aku, karena ingin segera menikahimu aku jadi lupa segalanya.” “Itu tak masuk akal, Gio! Atau apakah nenekmu juga tak merestui kita seperti kakakmu?” “Noona akan merestui siapa pun yang aku nikahi selama aku menikah,” ujar Gio tersenyum dan menarik Nafa ke dalam pelukannya. Membungkam bibir Nafa dengan bibirnya saat wanita itu kembali ingin bicara. “Aku menginginkanmu," ujar Gio dan meraup Nafa ke dalam pelukannya, tak membiarkan ia bicara lagi. Nafa tak mampu berpikir lagi saat Gio menciumnya dan ia hanya bisa mendesah pasrah saat laki-laki itu dengan terburu-buru membuka resleting gaunnya bahkan sebelum pakaiannya terbuka sepenuhnya ia sudah melepaskan celana dalam Nafa dan memasukinya dengan cepat. Bergerak dengan cepat di dalam tubuh Nafa hingga mereka mencapai o*****e mereka. Kemudian Gio membuka seluruh pakaian Nafa dan kembali mencumbunya hingga ia kembali merasakan gairahnya bangkit. Malam itu Gio terus bercinta dengannya seolah-olah tak ada hari lain hingga ia tertidur pulas di dalam pelukan Gio yang memeluknya erat. *** Keesokan harinya Nafa membuka mata perlahan, ia tersenyum saat menemukan Gio masih berada di ranjangnya dan tak melarikan diri seperti biasanya. Ia menatap wajah itu dan membayangkan wajah Gio saat mereka baru bertemu. Ia menghirup aroma Gio yang terasa berbeda saat ia masih buta tapi aroma Gio yang sekarang terasa menenangkannya. Kemudian ia merasa penasaran ingin menyentuh wajah Gio lagi. Nafa memejamkan mata dan mulai menelusuri wajah Gio dengan tangannya sambil membayangkannya seolah-olah ia masih buta. Ia menyentuh tulang pipi Gio yang tinggi, hidungnya yang mancung, alis matanya yang tebal dan rambutnya yang tebal kemudian ia turun perlahan dan menyentuh rahang Gio yang kokoh dengan bakal janggut tipis di sana. Nafa kemudian tersenyum saat rasa geli terasa di tangannya. Ia melanjutkan aksinya dan mulai menyusuri bibir Gio yang sensual, kemudian ia menyusuri sudut bibir Gio. Seketika ia tersentak sadar dan membuka matanya lebar saat Gio mencengkram tangannya erat. Sesuatu di dalam otak dan hatinya juga menyadari jika laki-laki yang saat ini bersamanya bukanlah Vinno yang bersamanya saat ia masih buta. Dengan ketakutan ia bangun dari tidurnya dan menatap Gio dengan air mata menggenang di kedua matanya. "Kamu bukan Vinno, 'kan?" "Aku orang yang sama." "Bohong! Kamu kakaknya, laki-laki yang datang ke tempatku dan menghinaku. Katakan yang sebenarnya! Karena itu juga bukan sepupumu memanggilmu Giovanno karena kamu memang bukan dia!" Gio bergeming dan tak mengatakan apa-apa. "Aku tahu kamu bohong, aku tahu bagaimana rasanya wajah Vinno di tanganku dan kamu bukan dia!" "Aku memang dia! Jika aku bukan dia tidak mungkin aku akan memiliki wajahnya!" Sesaat Nafa ragu mendengarnya sebab apa yang Gio katakan memang benar. "Kita sedang berada di mana saat aku menerima lamaranmu?" tanya Nafa pelan sambil menatap Gio. Gio sempat ragu menjawabnya, "Di dalam restoran." Wajah Nafa memucat mendengarnya dan dengan cepat ia turun dari ranjang menjauh dari Gio. Ia kembali mengingat apa saja yang sudah ia katakan tentang Kakak Vinno yang ternyata merupakan Gio. Gio menyadari jika ia sudah salah menjawab saat melihat Nafa tampak ketakutan. "Katakan kenapa wajah kalian begitu mirip?! Aku melihat fotonya bersamaku saat di restoran dan wajahnya memang begitu mirip denganmu, walaupun aku bisa melihat jika dia lebih ceria dan kamu lebih kaku serta dingin tapi hal itu tidak menjelaskan semuanya." "Aku akan menjelaskan semuanya saat kamu sudah tenang." "Katakan!" jerit Nafa histeris. "Di mana Vinno?! Katakan di mana dia?! Apa kamu mengucilkannya karena dia mencoba menikahiku?! Apa kamu sengaja menikah denganku untuk menyakiti kami berdua?! Sekarang aku menyadari inilah maksud perkataanmu, kamu menikahiku hanya untuk balas dendam saja." "Jangan katakan apapun lagi yang akan membuat kamu menyesalinya nanti." "Aku mohon katakan di mana dia, aku mencintainya dan ingin menikah dengannya bukan denganmu!" jerit Nafa marah. "Dia sudah meninggal dan itu semua salahmu!" bentak Gio akhirnya merasa sakit hati mendengar ucapan Nafa, jadi dia ingin balas menyakiti Nafa. Nafa tersentak mendengarnya dan perlahan air mata mengalir di pipinya. "Tidak! Itu tidak benar! Kamu pasti berusaha membohongiku!" "Aku tidak berbohong! Dia sudah meninggal 4 bulan yang lalu dan semua itu karena dia ingin bergegas kembali padamu hingga nekat mengemudi saat dia sedang marah dan akhirnya dia mengalami kecelakaan!" ungkap Gio marah. "Kamu pasti berbohong! Dia belum mati, dia sudah berjanji tak akan meninggalkan aku!" jerit Nafa pedih dan menutup telinganya tak ingin mendengarkan apapun ucapan Gio lagi.  "Kamu pikir siapa yang mendonorkan mata untukmu?!" tanya Gio kejam. Kejadian semalam kembali berputar di benaknya dan ia menyadari jika saat itu Latisa pasti mengucapkan turut berduka cita karena meninggalnya Vinno hal itulah yang menyebabkan dia menangis dan sikap Gio langsung berubah. "Tidak! Tidak! Itu tidak benar! Aku tidak menginginkan mata ini, aku menginginkan Vinno!" jerit Nafa histeris. "Sayang sekali yang kamu dapatkan adalah aku dan dengan senang hati dia melemparkanmu ke dalam pelukanku meski aku enggan. Dia memaksa agar aku menikahimu dan memohon padaku karena takut menghancurkan hatimu." "Katakan kenapa wajahmu begitu mirip dengannya?! Tolong katakan semuanya padaku!" lirih Nafa. "Karena kami kembar. Aku merupakan anak paling tua hanya karena aku terlahir duluan di antara kami bertiga. Kami merupakan kembar tiga dengan aku sebagai anak pertama, Giovinno sebagai anak kedua dan Giovanni sebagai anak ketiga," mulai Gio. Air mata Nafa semakin deras mendengarnya dan ia hanya terdiam di sana saat Gio mulai menceritakan semuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD