10

1471 Words
Maaf ya setelah updatean ini aku agak slow update semua cerita aku. Krn lagi disibukkan dengan kerjaan dunia nyata ^^. Jadi harap maklum jika jarang update. Thx *** 4 bulan lalu... Gio sangat marah saat teman-teman Vinno pulang tanpa adiknya dan semakin marah saat mereka mengatakan jika dia terpikat pada seorang gadis buta bernama Nafa di sana. Saat 4 hari menunggu dan adiknya tak pulang juga dengan kesal dia berangkat ke Grand Canyon dan saat sampai dia masuk ke dalam sebuah restoran di mana dia mendengar suara merdu dari sana. Dirinya terpaku di tempat saat melihat seorang gadis bernyanyi begitu menghayatinya hingga dia melihat jika gadis itu menangis seolah begitu merindukan kekasihnya. Sewaktu semua orang sudah pergi dan tatapannya jatuh pada kalung yang gadis itu pakai, dia menyadari jika gadis inilah yang sudah memikat adiknya. Tapi dia ingin yakin dan memanggil namanya. Saat gadis itu tersenyum dan memeluknya erat, dia merasakan gairahnya bangkit apalagi saat gadis itu menyentuh dan meraba wajahnya. Dia semakin menginginkan gadis itu bahkan tak bisa mengendalikan diri untuk menciumnya, dia menghina gadis itu sebab merasa marah karena tahu gadis itu milik adiknya. Dia akhirnya bisa mengendalikan diri saat ingat jika gadis buta dan miskin itu tak pantas untuk keluarganya yang terhormat di Italia. Selesai mencium gadis itu dengan marah dia pergi tapi dia harus mengurus bisnisnya di New York terlebih dahulu dan baru bisa kembali ke Italia seminggu kemudian dan dia menemukan Vinno sudah menunggunya di rumah. "Kak, aku ingin bicara!" "Aku sudah tahu apa yang ingin kamu bicarakan, aku sudah melihat sendiri gadis itu. Apa yang ia tawarkan padamu hingga kamu menginginkannya menjadi istrimu?" "Aku mencintainya, Kak dan aku hanya menginginkan dirinya yang menjadi istriku." "Dia buta Vinno dan kamu akan harus mengurusnya seumur hidupmu dan bagaimana dia akan menjaga anak-anakmu bahkan jika ia tak mampu menjaga dirinya sendiri?!" "Aku bisa mempekerjakan pengasuh." "Lalu bagaimana pendapat orang-orang tentang kita? Kamu akan mempermalukan keluarga kita dengan menikahi gadis miskin dan buta itu!" "Aku tak peduli apa yang orang-orang katakan, aku tak peduli semua itu karena yang aku ingin adalah menjalani hidup sesuai keinginanku bukan keinginan orang lain dan sejak kapan Kakak menilai seseorang dari statusnya?" "Sejak aku melihat gadis itu yang sangat tak pantas untuk keluarga kita dan aku yakin ini juga hanya salah satu pemberontakkanmu padaku dan aku tak mengizinkanmu menikah dengannya." "Aku sudah dewasa dan aku serius padanya, aku ingin dia menjadi istriku dan aku akan tetap menikahinya dengan ataupun tanpa restumu!" balas Vinno dan bergegas keluar dari sana dengan marah. Gio mencoba menghentikan Vinno yang membawa mobil ferarrinya keluar dengan kecepatan tinggi tapi ia terlambat menghentikannya karena Vinno sudah meluncur pergi dari kastil itu. 3 jam kemudian ia menerima telepon jika adiknya mengalami kecelakaan dan terluka parah. Dia dan Vanni bergegas ke rumah sakit yang dimaksud dan menemukan Vinno sedang sekarat. "Vinno," panggil Gio pelan mengenggam tangan adik kembarnya. Wajah mereka memang sangat identik hingga orang-orang akan sulit membedakan mereka. Hanya senyum dan keceriaan Vinno yang membuat mereka terlihat berbeda juga warna mata mereka. Vinno memiliki warna mata yang mirip ibu mereka berwarna biru dan dia memiliki mata yang mirip ayah mereka berwarna hijau keemasan. "Kak, aku ingin meminta sesuatu." "Diamlah kamu jangan banyak bicara, saat ini kamu harus menyembuhkan dirimu dulu, aku akan merestuimu untuk menikah dengannya asal kamu pulih," ujar Gio dan mengeraskan wajahnya agar dia tak menangis. "Kakak tahu hal itu tak mungkin, aku akan menyusul Papa dan Mama sebentar lagi." "Jangan katakan itu, Kak," lirih Vanni yang sejak tadi hanya menangis dalam diam. "Maaf," bisik Vinno menatap Vanni. "Kak," panggil Vinno kembali pada Gio. "Maukah Kakak melakukan sesuatu untukku? Anggap sebagai permintaan terakhirku." "Apa? Katakan!" "Menikahlah dengan Nafa untuk menggantikan aku." "Tidak! Kamu sendiri yang akan menikahinya, aku tidak akan menggantikanmu." "Aku mohon, lakukan ini untukku, aku yakin suatu hari Kakak akan mencintainya seperti aku yang mencintainya saat Kakak sudah mengenalnya, dia gadis yang baik dan lembut, aku yakin Kakak akan dengan mudah jatuh cinta padanya dan saat Kakak sudah jatuh cinta padanya, Kakak tak akan bisa hidup tanpanya lagi." Gio terdiam mendengarnya dan sesaat ia merasa begitu benci pada gadis itu tapi sepertinya ia tak punya pilihan. "Ya, aku akan menikahinya." "Berjanjilah, Kak, bersumpahlah atas namaku jika Kakak akan menjemputnya dan menikahinya karena aku berjanji akan melakukan semua itu untuknya dan jika aku tak menepatinya maka aku akan menghancurkan hatinya dan aku tak akan pernah meninggal dengan tenang." "Ya, aku bersumpah, Vinno, berhentilah bicara!" hardik Gio marah saat merasakan jika napas adiknya semakin pendek. "Aku ingin Kakak berjanji satu hal lagi," ujarnya. "Apa?!" tanya Gio tak sabar. "Berikan mataku padanya." "Tidak! Jika kamu memang harus mati aku tak akan menguburkanmu tanpa matamu." "Jika Kakak menyayangiku maka kabulkan permintaan terakhirku karena aku juga berjanji akan membuatnya bisa melihat lagi," ujar Vinno dan membuatnya batuk darah. "Cintailah dia dan sayangilah dia, Kak. Bahagiakan dia karena dia pantas mendapatkan itu semua. Aku mohon jangan membencinya dan jangan biarkan dia menyentuh wajah Kakak sebab dia akan tahu jika Kakak bukanlah aku dan panggil dia bella mia karena aku selalu memanggilnya seperti itu," ujar Vinno semakin pelan dan kemudian mereka bisa merasakan jika napas sudah meninggalkan kembaran mereka selamanya. Vanni menangis tersedu-sedu di sana dan Gio hanya bisa melampiaskan kemarahannya dengan memukul tembok. Ia tak bisa melanggar janjinya pada Vinno dan ia segera menuju Grand Canyon melaksanakan wasiat terakhir Vinno untuk menikahi Nafa. Tapi ia bertekad akan membuat hidup gadis itu menderita karena menyebabkan kematian saudaranya dan ia tak akan berhenti hingga gadis itu juga mati di tangannya. Ia akan membuat gadis itu menderita hingga akan ingin mengakhiri hidupnya sendiri dan Gio tak pernah gagal mendapatkan keinginannya. *** Saat Gio menyelesaikan ceritanya Nafa merasakan hatinya begitu hancur dan cahaya yang didapatnya selama ini membuat dia membencinya dan memilih lebih baik berada di kegelapan saja. Dirinya terisak begitu menyedihkan saat tahu jika laki-laki yang dicintainya telah tiada. Aku tak mengira jika pertemuan kita kemarin memang adalah yang terakhir. Kenapa Vinno? Kenapa kamu tinggalkan aku? Gio terluka melihat betapa hancur hati Nafa saat tahu semuanya. Dia memang berduka atas kehilangannya akan saudaranya tapi saat ini dia begitu marah saat melihat istrinya meratapi laki-laki lain walaupun itu saudaranya sendiri dan walaupun ia menikah dengannya karena Vinno. Ia memang ingin balas dendam pada Nafa karena menganggap Nafa penyebab kematian Vinno. Dia beranggapan jika Nafa tak merayu Vinno, maka adiknya tak akan meninggal tapi saat tahu jika Nafa ternyata masih perawan dan Vinno tak pernah menyentuhnya, Gio berubah pikiran dan menyadari jika adiknya memang mencintai Nafa karena Vinno bahkan lebih playboy daripada dirinya. "Jadi semua ini salahmu, Vinno meninggal karena mengenalmu!" ucap Gio ingin menyakiti Nafa untuk membalas sakit hatinya karena Nafa yang masih mencintai adiknya. Hal itu juga yang menyebabkan dia muak mendengar ungkapan cinta Nafa sebab dia tahu jika itu bukan untuknya melainkan untuk saudara kembarnya. "Tidak, ini juga salahmu, jika kamu tidak menentang hubungan kami dia tidak akan mati! Aku membencimu! Aku tak ingin melihat wajahmu lagi! jerit Nafa. "Tapi kenyataannya dia sudah mati dan aku akan membalas kematiannya padamu, aku akan membuatmu menerima balasannya karena harus menjadi istriku, laki-laki yang kamu benci dan aku akan membuatmu harus terus menerima sentuhanku, laki-laki yang tak ingin kamu lihat wajahnya. Jika kamu lupa, bella mia, wajah laki-laki yang kamu cintai juga sama persis denganku," ujar Gio dan meraih tubuh Nafa serta melemparkannya di atas ranjang. "Aku akan melukaimu jika kamu menyentuhku." "Apa kamu lupa, bella mia? Kamu sangat menyukai sentuhanku, bahkan sejak pertama kita bertemu, aku hanya perlu menyentuhmu sedikit saja dan kamu akan langsung luluh di dalam pelukanku." "Kamu menjijikkan! Jangan panggil aku dengan sebutan itu, hanya Vinno yang memanggilku begitu, kamu tidak berhak!" "Aku sangat berhak akan dirimu, Vinno sendiri yang menyerahkanmu padaku." "Jika selama ini kamu merasa terpaksa menikah denganku, kamu bisa mengembalikanku pada orang tuaku, dan aku akan membebaskanmu dari janji yang kamu buat dengan Vinno." "Aku malah berterima kasih padanya karena bisa menikmatimu sepuasku. Mencium bibirmu saat itu tidak menghilangkan hasratku sama sekali tapi malah semakin mengobarkannya. Dirimu memang ditakdirkan untukku, bella mia, dan aku tak akan pernah melanggar janjiku pada adikku, selamanya kamu akan terjebak bersamaku," ujar Gio dan menangkap tangan Nafa serta menekannya di atas kepala saat wanita itu mencoba memukulnya dengan membabi buta. Gio kemudian memagut bibir Nafa tapi ia berpaling menghindari ciuman-ciuman Gio hingga laki-laki itu geram dibuatnya dan ia berpindah mencumbu p******a Nafa yang telanjang. "Jangan!" isak Nafa saat gairah menghantamnya dengan keras sewaktu tiba-tiba Gio mencumbu payudaranya. Tanpa bisa ia tahan dirinya mengangkat punggungnya menginginkan perhatian lebih dari ciuman Gio pada payudaranya. "Kamu lihat bukan hatimu boleh dimiliki oleh saudara kembarku tapi tubuhmu sejak pertama hanya menjadi milikku, ia tak pernah menyentuhmu." Nafa tak sanggup bicara dan hanya bisa merasakan semua sentuhan Gio pada tubuhnya. Ia merintih nikmat saat Gio menerobos kehangatannya dan ia menjerit nikmat beradu dengan geraman Gio saat mendapatkan pelepasan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD