Cessa : Take & Give
Cessa menampilkan wajah cengegesan miliknya saat muncul di taman pojokan sekolah tempat Pangeran tengah membaca komiknya. Dari kejauhan dia mengamati pria itu dan semakin dia mengamatinya, maka semakin iri juga Cessa kepada Pangeran. Dari apa yang Cessa dengar Rena, Pangeran memiliki IQ yang cukup tinggi hingga membuatnya tidak perlu banyak usaha untuk menjadi yang terbaik dibidang akademik. Tentunya untuk mendapatkan posisi siswa paling pintar diangkatan mereka bukanlah perkara sulit baginya. Bahkan kemarin saat Cessa bertanya pada Rena, menurutnya siapa yang paling pintar antara Pangeran dan Dylan, tanpa pikir panjang Rena langsung menjawab Pangeran. Jelas jawaban Rena itu membuat Cessa keki, hingga akhirnya obrolan dia dan Rena kemarin berakhir dengan perdebatan hebat dan tidak jelas antara mereka.
Sambil berjongkok Cessa terus mengamati Pangeran, lalu tanpa disadarinya otak Cessa dengan cepat membandingkan antara Pangeran dan Dylan. Cessa masih tidak terima Rena mengatakan kalau Pangeran lebih dari Dylan dari semua bidang. 'Baiklah kalau dilihat dari tampang maka Dylan pemenangnya. Kalau otak, jelas Dylan juga pemenangnya. Untuk sikap? Dylan menang telak. Lalu popularitas? Tidak perlu ditanya kan lagi, jelas Dylan pemenangnya. Jadi kesimpulannya Dylan pemenangnya!' Cessa memekik senang dalam hatinya. Cessa melupakan fakta kalau semua tadi hanyalah penilaian personal dari seorang Princessa Mouretti.
Cessa terlalu asik dengan dunianya hingga tidak tau kalau Pangeran mengernyit tidak senang dengan kekehan yang berasal darinya. Cessa juga mengabaikan Pangeran yang sedari tadi menunjukkan tatapan malas dan datar kepadanya.
"Ngapain lo disini?" Nada malas Pangeran menyadarkan Cessa untuk segera kembali ke alam sadarnya.
Cessa menyengir dulu sebelum menjawab Pangeran. "Aku mau balikin ini ke kamu," ucapnya sambil menyerahkan paper bag yang tadi dipegangnya yang berisi celana training milik Pangeran yang dipinjamkan padanya.
Pangeran mengambil paper bag itu, meliriknya sebentar lalu mengangguk seolah mengatakan 'ya udah, kamu silahkan pergi'. Setelah itu, Pangeran bertingkah seolah Cessa sudah pergi dari hadapannya.
Tapi bukan Cessa namanya kalau dia bisa diusir secepat itu oleh Pangeran. Cessa sudah membulatkan tekatnya untuk membujuk Pangeran agar mau mengajarinya sebelum ujuan perangkingan semester ini. Jadi Cessa sudah menguatkan hatinya, agar tahan banting dengan perlakuan cuek dan menyebalkan manusia diadapannya ini. Cessa tau kalau Pangeran malas berhubungan dengannya, tapi Cessa sungguh membutuh Pangeran untuk mendapatkan Dylan. Jadilah dia menjadi orang ngotottan, tebal wajah dan teguh hati untuk menghadapi manusia tidak berperasaan seperti Pangeran.
"Ada apalagi?" Tanya Pangeran akhirnya merasa jengah dengan kehadiran Cessa.
Cessa tersenyum lebar, matanya menyipit seolah menyeringai. Cessa lalu mengeluarkan selembar kertas yang sudah disiapkannya susah payah sejak kemarin malam untuk diberikannya pada Pangeran. Pangeran terdiam saat Cessa menyerahkan surat itu di hadapan Pangeran. Dia malah menatap surat itu sejenak lalu mengembalikan tatapannya dengan satu alis terangkat pada Cessa.
"Ini adalah perjanjian yang harus kamu tanda tangani. Perjanjian ini isinya tentang kamu yang wajib memberikan aku les tambahan. Memastikan aku harus mendapatkan peringkat satu seangkatan kita," kata Cessa sambil dengan bangganya menunjukkan hasil rancangan perjanjian yang dia buat.
Pangeran semakin menukikkan alis matanya. Kali ini tatapan Pangeran berbeda dengan tatapan malas yang sedari tadi dia berikan kepada Cessa. Tatapan yang dia berikan kali ini lebih kearah tatapan menilai. Barulah setelahnya Pangeran memilih berdiri dan berjalan meninggalkan Cessa. Tapi sebelum Pangeran benar-benar pergi meninggalkan Cessa, Pangeran masih sempat mengatakan sesuatu yang membuat Cessa hanya bisa mengernyit karena tidak mengerti maksud dari perkataan Pangeran itu. "Ternyata lo memang sebego itu karena mau memakan janji manis dari malaikat berhati kejam seperti Dylan? Selamat berjuang, tapi aku tidak berniat ikut campur dengan perjuangan bodoh lo dan juga kisah cinta orang lain."
Setelah mengatakan itu, Pangeran meninggalkan Cessa yang kini mengkerutkan alisnya bingung atas perkataan Pangeran tadi.
❦❦❦
Dengan bertopang dagu, Cessa duduk di bangku kelasnya dengan pikiran yang melayang kemana-mana. Otaknya terlalu sibuk mengartikan apa maksud dari perkataan Pangeran tentang ‘termakan janji’ tadi. Sudah lama dia memikirkannya, tapi dia tidak juga menemukan apa maksud dari perkataan Pangeran padanya.
Saat Cessa menjeda pikirannya dengan mengambil catatan kecilnya, mata Cessa tidak sengaja menatap sosok Pangeran yang terlihat terburu-buru menuju belakang sekolah. Tanpa berpikir banyak Cessa mengambil HP, uang dan kartu ATM dari tas miliknya. Barulah setelah itu Cessa minta ijin keluar. "Miss, permisi. Bolehkah aku pergi ke ruang kesehatan. Kepalaku terasa pusing," ijin Cessa sambil akting memijit-mijit keningnya.
Rena yang duduk di sebelah Cessa hanya bisa menaikkan alisnya curiga. Dia tau kalau Cessa tengah bohong dan merencanakan sesuatu.
"Oh, tentu saja. Take your time miss Cessa," kata gurunya mempersilahkan.
Cessa memalingkan wajahnya sesaat lalu berbisik pada Rena sebelum meninggalkan kelasnya. "Aku nitip tas ya, mungkin aku pulang ataupun tidak."
❦❦❦
Lupakan soal UKS, tempat yang seharusnya Cessa tuju saat ijin tadi. Saat ini Cessa malah ada di dalam sebuah taksi untuk mengikuti Pangeran yang tengah mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Di dalam taxi, Cessa berusaha menebak-nebak kemana tujuan Pangeran. Terlalu serius mengikuti Pangeran, membuat Cessa mengabaikan kenyataan kalau dia sekarang ini tengah cabut hanya demi mengikuti Pangeran. Cessa seolah tidak menyadari apa yang sedang dilakukannya sekarang ini, murni tanpa berpikir terlebih dahulu.
Cessa memandang lurus pada sebuah rumahsakit yang ternyata merupakan tempat yang dituju Pangeran. Takut kehilangan jejak Pangeran, Cessa memberikan uang berlebih pada pengemudi taksi tanpa meminta kembalian uangnya. Setelah keluar dari taxi itu, Cessa dengan sigap mengikuti Pangeran. Saat mengikuti Pangeran, Cessa memastikan jarak dia dan Pangeran agak jauh agar Pangeran tidak menyadari keberadaannya. Setelah agak lama mengikuti Pangeran, akhirnya Pangeran masuk ke sebuah ruangan. Ruang itu adalah ruang perawatan khusus yang Cessa tidak tau untuk apa.
Terlalu serius mengikuti Pangeran, membuat Cessa mengabaikan rasa sakit dilututnya akibat terjatuh tadi karena buru-buru mengikuti Pangeran. Cessa bahkan tidak menyadari lukanya itu sebenarnya cukup besar, hingga mengeluarkan sedikit darah. Cessa tidak tau darimana semua rasa penasaran yang dimiliki dia untuk Pangeran ini. Bisa-bisanya dia sampai sejauh ini hanya karena penasaran akan Pangeran.
Cessa mengerutkan keningnya, Cessa mencoba menebak-nebak apa yang dilakukan Pangeran hingga dia bisa mendatangani tempat ini. Dari paniknya wajah Pangeran, Cessa mencoba menebak kalau orang yang tengah dirawat di dalam ruangan itu adalah orang yang dekat dan penting buat Pangeran. Dengan memikir kemungkinan-kemungkinan kenapa Pangeran di rumah sakit ini, Cessa duduk menunggu Pangeran di luar rawat inap tempat Pangeran masuk tadi.
"Lo ngikutin gue lagi?" Suara itu terdengar familiar dan begitu dingin.
Cessa menengadahkan kepalanya dan hanya menemukan wajah Pangeran yang Cessa yakini sedikit berubah. Entah kenapa Cessa merasa raut Pangeran berbeda. Berbeda dari yang biasanya datar kini menjadi lebih kaku dan dingin. Jujur, Cessa takut dengan raut Pangeran yang seperti ini.
Takut dengan Pangeran, Cessa mengalihkan tatapannya kearah lain. Dia benar-benar takut akan aura kemarahan yang keluar dari tubuh Pangeran. Padahal biasanya Pangeran hanya menunjukkan aura tidak bersahabat pada Cessa, makanya Cessa berani menggodanya bukan aura dingin dan penuh kemarahan seperti ini. Hal itu jelas membuat Cessa tidak bisa berkutik di hadapan Pangeran.
"Eum aku hanya..." Cessa tidak tau harus mengatakan apa. Dia tidak tau harus menggunakan alasan apa untuk mengelak dari Pangeran. Aura dan tatapan Pangeran membuat Cessa tidak mampu berpikir dengan baik sama sekali.
"Kalau lo mau ngobatin luka lo, lo harusnya nemuin dokter bukan nyasar kesini." Pangeran masih berkata dengan datar dan dinginnya.
Cessa menoleh pada luka dikakinya yang tadi sempat diperhatikan oleh Pangeran. Barulah saat itu Cessa sadar kalau ada luka disana. Cessa lalu menunjukkan cengiran kakunya. "Em...eh... iya." Cessa berdiri dari duduknya. Bersiap untuk meninggalkan tempat itu.
Tapi saat Cessa baru saja hendak berbalik dan akan beranjak dari tempat itu, Pangeran menghentikan langkah Cessa. "Gue terima permintaan lo. Tapi lo harus nerima syarat yang gue ajuin juga," kata Pangeran sambil mendudukkan dirinya di tempat yang tadi Cessa duduki.
"Apa?" Tanya Cessa tidak yakin.
"Lo harus mastiin lo bisa ngedapatin hati Dylan dan benar-benar menjadi pacarnya," kata Pangeran masih dengan nada dingin miliknya.
Cessa ingin menjawab, tapi dia tidak tau harus menjawab bagaimana karena dia tidak punya kepercayaan diri untuk itu. Lagipula Cessa bukannya buta dan bodoh untuk bisa merasakan kalau Dylan tidak atau masih belum mempunyai perasaan buatnya. Dia berani meinta kesempatan pada kakaknya Pangeran ini karena dia selalu percaya kalau dia berusaha berusaha keras, akan selalu ada peluang untuknya berhasil meskipun itu hanya kecil. Dia terbiasa berjuang untuk yang dia mau dan selama ini Cessa tidak pernah kecewa dengan hasilnya walau keberuntungan mungkin ambil bagian didalamnya.
Sayangnya untuk kali ini dia merasa berbeda. Kepercayaan diri yang selama ini menjadi landasannya ketika memperjuangkan sesuatu tidak kuat sama sekali. Cessa sangat sadar kalau perasaan bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudahnya bisa diubah meskipun seseorang sudah berusaha dengan sekuat tenaganya. Lalu bagaimana dia harus menjawab pertanyaan Pangeran ketika dia tidak percaya diri.
Baiklah, mudah saja buat Cessa bilang iya kalau hanya mau mengandalkan keberuntungannya. Tapi apa yang akan terjadi kepadanya kalau dia tidak sanggup melakukannya? Apakah Pangeran akan melakukan sesuatu padanya?
Lalu bagaimanapula kalau Cessa menyerah ditengah jalan. Pangeran mungkin akan menguburnya karena dari yang Cessa dengar dari Rena, sahabat sekaligus sebangkunya, Pangeran itu tidak hanya ansos, pendiam dan pintar, Pangeran juga kejam katanya. Itu artinya Cessa tidak boleh macam-macam kepada Pangeran kalau tidak mau orang terpintar seangkatannya itu melakukan sesuatu yang membuatnya jadi target kekejaman Pangerankan?
Oh tidak.
Tidak akan pernah!
❦❦❦