Amera akhirnya sampai di tempat tujuan. Jarak tempuh yang lumayan jauh hanya dia tuju dengan jalan kaki. Tak ada satu pun kendaraan umum yang lewat. Bahkan dia memesan ojek online pun tak mendapat sahutan.
Pagi ini, dia lalui dengan miris. Bahkan kini, badannya basah kuyub dan harus menahan dingin. Dengan langkah cepat, dia masuk ke kantor imigrasi. Memberikan dokumen yang ia bawa, untungnya, dia kemas dengan rapi agar air tak merusaknya.
Untungnya dia tidak sedang menunggu antrian yang begitu panjang. Sehingga, setelah selesai dia langsung keluar dari kantor imigrasi. Syukurnya, setelah ia memesan ojol, langsung mendapat respon. Jadi, dia tidak perlu jalan kaki lagi untuk mendapatkan kendaraan agar sampai di rumah.
____
Sampai di rumah, Amera tak mendapati Danis ataupun Gina. Gadis itu mulai membawa semua barang yang masih tertinggal di lantai dua. Untuk barang yang akan ia bawa ke rumah bibinya, sengaja tak dia buka.
Agar nanti saat dia pergi, lebih mudah mengangkutnya tidak lagi harus membereskan semua barang itu. Hampir satu jam lamanya, ia berkutat dengan semua barang pribadinya.
Setelah selesai, Amera menghembuskan nafas lega. Dia duduk berselonjor di atas karpet. Mengamati kamar yang lebih kecil dari ukuran kamar sebelumnya. Seutas senyum tipis tersemat di bibir.
Namun tak lama, senyum itu sirna digantikan dengan ekspresi wajah yang murung. Amera mengingat semua kenangan bersama pamannya. Lelaki itu telah memberikan banyak hal dalam hidupnya. Entah apa jadinya kalau Danis tak merawatnya.
Mungkin dia akan hidup sebatang kara di Jakarta, atau malah berakhir menjadi penghuni panti asuhan. Karena saat itu, tak ada satu pun keluarga dari dua belah pihak yang mau mengurusnya. Meski mendiang kedua orang tuanya punya beberapa peninggalan, nyatanya, mereka tak mau disusahkan oleh anak kecil berumur sepuluh tahun.
Dan keputusan akhirnya adalah, dia akan mengucapkan terima kasih kepada sang paman, dengan kepergiannya. Dia juga sudah mulai menghitung pengeluaran bulanan hingga tahunan untuk biaya hidupnya.
Semua akan ia ganti, meski nominalnya mencapai milyaran. Karena Danis, tak pernah memberikan sesuatu yang sederhana, dia benar-benar meratukan Amera. Setelah lelaki itu punya kekasih, dia berusaha menjauh dengan perubahan sikap.
Dan setelah tiga tahun berlalu, Amera menyadari, selain penolakan cinta yang dia dapatkan, Danis berubah sikap agar Amera tak berada di sisinya. Sebulan lagi dia akan genap berumur dua puluh satu tahun.
Amera bukan lagi anak remaja, tetapi dia adalah wanita dewasa. Dengan begitu, dia akan mulai mengumpulkan tabungan yang ia punya untuk mengganti biaya hidup selama menumpang di keluarga Afandi.
Semoga dengan kepergiannya, menjadi kabar membahagiakan untuk sang paman.
"Ini sudah menjadi pilihanku, kenapa aku selalu menangis saat harus mengingat semua kebaikan Paman?"
Amera mengusap air matanya, dia mencoba menghalau perasaan sedih yang timbul. Setelah dapat mengusai, dia keluar dari kamarnya, kemudian menuju dapur. Membuat cokelat panas mungkin akan lebih baik.
Gadis itu duduk di meja makan sambil memegang cangkir yang mengeluarkan asap karena hawa panas di dalamnya. Dalam diamnya, pikiran Amera mulai menghitung berapa biaya yang sudah dikeluarkan Danis untuknya.
Dia sudah mengumpulkan hadiah ulang tahun maupun hadiah yang ia dapat dari hal tertentu, dari paman juga temannya. Dia sudah menguploud di beberapa toko online.
Dia juga akan menghubungi pihak properti agar mengiklankan rumah peninggalan orang tuanya. Siapa tahu rumah itu laku dengan cepat, sebelum hari ulang tahunnya tiba.
Amera melakukan semua itu tanpa sepengetahuan Danis. Meski lelaki itu tahu, mungkin juga tak akan memberikan respon apa pun. Tiba-tiba ponselnya bergetar, Gina mengirin beberapa gambar, yang sanyangkan enggan ia buka.
"Amera, aku dan pamanmu akan berlibur ke Bali selama lima hari. Kamu jaga diri baik-baik ya."
Itulah secarik kalimat yang ditulis Gina saat mengirim foto. Amera membiarkan belasan foto tanpa terunduh. Dia mulai terbiasa dengan semua foto mesra antara paman dengan Gina. Dulu, dia akan merasa tersiksa bahkan menangis semalaman.
Amera enggan membalas pesan itu, dia asik membalas pesan dari temannya. Jika pamannya tidak akan pulang selama hampir seminggu, dia akan menggunakan waktu itu untuk menyusun semua hal keperluan kepindahannya.
Terkadang Amera berpikir, kalau Gina sengaja membuat dirinya panas dengan interaksi mesra bersama sang paman. Karena wanita itu juga sangat baik, hanya di depan Danis saja.
Ini adalah waktu baik untuknya, dia juga akan mempersiapkan beberapa gaun yang akan dia ikut sertakan dalam event di akhir bulan ini. Semoga dewi fortuna berada di pihaknya. Agar gaun yang ia buat dengan temannya itu bisa laku.
Amera memilih kembali ke kamarnya, dia membuka buku yang ia gunakan untuk menggambar desain baju. Sore sampai malam ini, akan ia gunakan untuk membuat sketsa gambar saja. Ingin keluar nongkrong di kafe bersama Santi pun terasa enggan.
Cuaca yang belakangan ini tidak mendukung, hawa dingin mulai menyerang, lebih baik dia gunakan waktu luang di rumah saja.
___
Esok harinya, rumah sangat sepi, tak ada sosok dingin yang biasa membaca koran di meja makan. Pelayan rumah sudah menyiapkan sarapan untuk Amera. Gadis itu langsung menikmati sadwich yang terhidang. Meski dengan menahan kesal karena sarapan sendirian.
Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk menghabiskan sarapan juga segelas s**u. Setelah itu, dia berangkat ke tempat kerja. Dia sudah mengajukan surat pindah kepada pihak kampus. Sehingga dia bisa fokus pada pekerjaannya.
Mengendarai kendaraan sendiri, masih sedikit merasa takut. Namun, tak ada pilihan lain, selain melawan semua itu agar dia tak selalu bergantung pada pamannya. Di rumah juga tak disiapkan sopir, mau tak mau, Amera melawan semua ketakutan itu.
Sampai di tempat kerja, Amera langsung menyusun semua pola dan mulai memotong bahan. Nanti, dia tingggal jahit. Menit berlalu, Amera sampai tidak sadar, kalau Santi datang.
"Amera ...."
Orang yang dipanggil tak merespon karena tidak menyadari kedatangan sahabatnya. Santi mulai bicara lagi, kali ini dengan nada bicara yang sedikit keras.
"Kamu kenapa, sih? Di sapa sampai enggak respon?"
"Ah, maaf. Aku tidak tahu kalau kamu datang," jawab Amera sambil nyengir.
"Kau datang lebih awal. Tumben?"
"Iya, biar semua selesai tepat waktu."
Santi mulai menempati kursinya. Gadis berambut sebahu itu juga mulai menyalakan laptop dan mulai membantu Amera.
"Istirahat makan siang nanti ayo kita makan di luar!"
Santi tak langsung menjawab, dia menatap serius ke arah sahabatnya yang jarang sekali mengajak keluar atau diajak nongkrong.
"Kau bilang apa? Apakah telingaku masih waras?" tanya Santi menatap Amera.
"Aku serius, Santi. Sekalian ada hal penting yang harus aku bicarakan denganmu," jawab Amera.
"Oke. Aku akan selesaikan semua tepat waktu, agar setelah makan kita sedikit santai."
Amera mengangguk, dia kemudian sibuk dengan pekerjaan. Namun setelah beberapa menit terdiam, Santi mulai bertanya sesuatu yang membuat Amera enggan menjawab.
"Ngomong-ngomong, kamu bawa kendaraan sendiri. Apakah pamanmu tidak lagi mengantarmu seperti biasanya? Kemana lelaki tampan nan dingin itu pergi?"
'Apa yang harus aku katakan? Apakah aku harus menjawab, kalau dia pergi dengan kekasihnya ke Bali?' Amera berucap dalam hati.