"Kenapa harus bertanya mengenai Paman?" Amera tak memberikan jawaban, melainkan sebuah pertanyaan ke sahabatnya.
Hal itu membuat Santi mendengus kesal karena tak mendapat jawaban.
"Lupakan mengenai pamanku, ayo aku traktir makan siang. Maka, selesaikan dengan segera!"
Keduanya mulai asik dengan pekerjaan juga tugas masing-masing. Di lantai atas ada tiga karyawan lagi khusus menjahit. Di lantai bawah untuk ruang kerja dan menaruh bahan.
Menit berlalu, jam makan siang pun keduanya memilih makan di sebuah restoran. Santi membawa mobil milik Amera. Sahabat Amera itu sengaja memilih restoran yang tak jauh dari tempatnya bekerja.
"Kau mau pesen apa?" tanya Santi sambil menatap buku menu di depannya.
"Pesen saja beberapa menu yang best seller di sini. Aku belum pernah makan di restoran ini, jadi kurang tahu dengan menunya," jawab Amera.
"Oke!"
Santi memesan dua es teh lemon, beberapa makanan yang memang best seller di restoran itu. Sekitar lima belas menit, semua sudah terhidang di meja.
"Kau tak mau membuka obrolan sekarang?" tanya Santi menatap wajah Amera yang memang terlihat tak seceria biasanya.
Amera menatap wajah sahabatnya sekilas. "Nanti saja. Bikin selera makan hilang kalau cerita sekarang."
Santi akhirnya memilih diam melanjutkan makan dengan lahap. Ia akan menunggu sahabatnya selesai makan dan bercerita. Hampir dua puluh menit keduanya berhasil menghabiskan semua menu makan siang itu.
"Alhamdulillah kenyang," ucap Santi sambil mengusap pelan perutnya.
"Kalau pesan lagi enggak apa-apa," jawab Amera.
"Enggak. Nanti pas balik dari sini mau beli es buah di pertigaan sebelum masuk ke arah ruko," ucap Santi.
"Katanya kenyang, tapi mulutmu enggak mau diem," jawab Amera sambil terkekeh.
"Sudah buruan, kamu ngomong apa? Aku bakal jadi pendengar yang baik. Soalnya, jarang banget seorang Amera sampai pengen ketemu ngajak ngobrol seperti siang ini.
Amera menatap sahabatnya dengan sedikit tersenyum. Ia kemudian menghembuskan nafas panjang.
"Santi, setelah aku menyelesaikam event pameran nanti, aku akan pindah ke negara di mana Bibiku berada."
Santi kaget, dia tak pernah mengira akan ditinggal jauh oleh sahabat yang baru beberapa bulan merintis usaha bersama. Meski Amera tak punya keahlian dalam bidang desainer, nyatanya dia langsung lincah bisa melakukan segalanya dalam jangka tiga tahun, sejak dia menyatakan cinta di usia ke-17.
"Ada masalah apa? Kau tak akan pergi sejauh itu tanpa sebab?" Santi menatap serius ke arah Amera.
Gadis itu menundukkan wajahnya, dia kembali menatap Santi. "Aku pikir, semua sudah berbeda, San. Paman sudah membesarkan dan menyekolahlanku sampai saat ini. Dan aku harus segera pindah, agar dia punya kehidupan sendiri."
"Lagi pula, aku tinggal menyelesaikan kuliahku dan mencari pekerjaan di sana. Kalau aku terus menempel pada paman, lelaki itu juga tidak bisa memikirkan masa depannya."
"Apakah ini juga alasan kamu selalu ditolak pamanmu?" Santi tak mau percaya dengan pernyataan sahabatnya.
Amera mengangguk, "Aku juga malu kalau terus di rumah itu. Meski kita nanti jauh, aku tetap akan membantu mengembangkan bisnis yang sudah kita bangun."
"Aku sengaja menjual semua barang berharga juga rumah peninggalan kedua orang tuaku. Kalau uang itu tersisa, setelah aku membayar semua dana yang dikeluarkan paman, aku akan memberikan padamu untuk modal usaha," ucap Amera.
"Kau sudah gil@, Amera!"
"Aku masih waras dan dengan sadar mengucapkan ini, santi."
"Jangan pikirkan aku, Amera. InsyaAllah, semua akan baik-baik saja."
"Tidak apa-apa, Santi. Anggap saja kau pinjam uangku untuk membuat perusahaan yang lebih besar. Kelak kalau kau sudah menjadi desainer terkenal, kau wajib menggantinya."
Santi tertawa, tapi air mata langsung berlinang membasahi pipinya. Sebagai sahabat, dia hanya sedikit tahu semua hal yang dirasakan Amera. Gadis itu sengaja tak mau bercerita apa pun.
"Jangan menangis! Aku pergi akan ke rumah saudaraku. Kamu jangan sedih, karena kita masih akan bertemu kapan pun. Bukankah, jaman sekarang semakin canggih?"
"Kau ini bagaimana? Gara-gara patah hati, kenapa aku yang jadi korban?" Santi merasa kesal.
Amera terkekeh, "Maaf. Karena aku sudah memilih bertahan, nyatanya, aku kalah dengan keadaan yang tak membiarkan aku menjadi pendamping paman."
Santi akhirnya tahu, atas perubahan sikap Amera. Dan juga perubahan dari perilaku paman sahabatnya yang tak lagi memberikan perhatian seperti dulu. Santi menarik tangan kanan Amera. Dia genggam erat tangan itu.
"Di manapun kamu berada, jangan pernah patah semangat. Jangan pernah berpikir tak ada lagi orang yang menginginkanmu. Jika kau merasa begitu, ingatlah aku. Datang padaku, Amera!"
Amera yang awalnya tak menangis pun akhirnya meneteskan air mata. Dia juga sedih harus kehilangan sahabat. Meninggalkan tanah kelahirannya. Dan menghapus segala kenangan tentang pamannya.
"Hampir empat tahun aku belajar banyak hal, Santi. Aku tahu rasanya dijauhi orang terkasih, aku tahu mana yang tulus dan bukan. Aku tahu cara mengatasi ketakutan seorang diri. Aku juga tahu jatuh bangun untuk tetap berdiri meski aku merasa tak sanggup."
Amera menghapus air matanya, dia mengucapkan itu dengan sesegukan menahan derasnya air mata.
"Sebelum aku memutuskan ikut dengan bibi, aku juga memikirkan banyak hal. Aku berharap, paman hanya sedang marah padaku dan ingin aku memperbaiki sikap."
"Nyatanya, sampai saat ini, semua semakin membuat aku tertekan dan merasa bersalah. Aku tinggal menunggu rumah itu terjual. Lalu, aku akan segera berangkat, Santi."
Santi mengangguk, dia juga tak bisa menahan sahabatnya. Meski dia punya apartemen kecil, tentu Amera tak akan mau untuk tinggal dengannya. Jalan satu-satunya membiarkan sahabatnya pergi, agar bisa menyembuhkan luka akibat patah hati.
Keduanya tetap mengobrol, sampai keadaan membaik dan keduanya bisa menguasai diri. Tepat jam setengah dua siang, keduanya kembali ke tempat bekerja.
___
Sore harinya sekitar pukul lima sore, Amera membuat kopi. Mengambil cemilan di kulkas, kemudian dia memilih ke taman belakang. Cuaca masih nampak cerah, semburat jingga menuju senja terukir indah di langit.
Menatap ke arah atas sambil memejamkan mata, kedua tangannya bersidekap. Rambut panjangnya tersapu angin hingga bergerak menutupi wajah cantiknya. Tak ada siapa pun, hanya aroma wangi kopi yang mencuat memenuhi area taman.
"Ya Allah, jika kau mengizinkan aku pergi dari rumah ini, berikan aku kelancaran untuk segala sesuatunya," ucap Amera lirih.
Meski dia tak bisa melupakan segalanya, setidaknya dia tak menjadi penghalang kebahagiaan sang paman. Dia juga tahu caranya balas budi, setidaknya, agar Danis tak semakin bersikap kasar padanya. Atau merendahkannya.
"Semoga dengan kepergianku, Paman bisa lebih bahagia bersama Gina. Aku doakan hubungan kalian langgeng sampai pernikahan. Aku sudah ihklas melepas rasa ini, Paman."
"Aku akan pastikan, paman tidak akan terganggu dengan segala tingkah, bahkan kehadiranku."
Amera menyesap kopi yang sudah menghangat, sebelum ia pergi, sepertinya dia juga harus berkunjung ke suatu tempat.