Bab. 23. Firasat Faida.

1534 Words

Pagi harinya, saat sarapan Amera masih tetap diam tidak ikut ngobrol dengan Danis maupun orang tua angkatnya. Gadis itu hanya fokus pada nasi goreng di depannya. Mengingat dia bangun tidur pagi ini, membuat Amera kalang kabut karena takut matanya bengkak bekas menangis. Namun, katakutannya tak terjadi, membuat gadis bernafas lega. "Amera, Sayang. Kau sudah siap berangkat ke kampus?" tanya Faida. "Iya, Ma. Tapi, kita akan ke rumah bibi dulu untuk mengambil beberapa buku," jawab Amera. "Siap, ayo berangkat. Mama sekalian ingin bertemu bibimu," ucap Faida. "Pa, aku berangkat kuliah dulu," pamit Amera sambil merangkul leher Afandi dari belakang. Afandi terkekeh, "Sepulang dari kuliah, nanti telpon biar papa yang jemput." "Siap!" Amera menjawab dengan tawa khasnya. Tanpa bicara sepatah k

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD