1. Wisuda

1118 Words
Edo dan Arsy menyambut Stella dan Niko yang baru keluar dari dalam gedung wisuda. "Stella, selamat ya," ucap Arsy sambil memeluk dan membelikan Stella sebuah karangan bunga. "Terima kasih ya Sy, udah datang ke sini." "Sama-sama. Gue datang ke sini juga ikut Edo, takut dia godain sama cewek-cewek di sini," canda Arsy. "Hahaha... Emang harus dijaga, jangan sampai ada celah buat orang yang mau merusak." "Hahaha.. Ah tapi jadi ngelantur nih kita." Setelah lulus SMA, Stella dan Arsy memang belum berbaikan. Namun, seiring berjalannya waktu Edo selalu membawa Arsy saat latihan band. Dari situlah hubungan mereka kembali membaik. Arsy pun telah meminta maaf atas semua yang ia lakukan pada Stella dulu. Dia benar-benar telah berubah. "La, Om Nanda udah nelpon. Katanya kita makan dulu," ajak Niko. "Ah ayo, sekalian ajak Edo sama Arsy ya." Niko mengangguk dan langsung menggandeng tangan Stella. "Nik, mending lewat belakang deh. Takutnya ada penggemar Stevanie di depan dan malah bikin repot dan rusuh," usul Arsy. "Bener, gue males ditempelin sama cewek-cewek," ujar Edo santai. Plak Arsy memukul lengan Edo sekuat tenaga, "Gak usah ganjen deh kamu tuh!" "Iya sayang, ampun. Aku minta maaf." ____ Nanda menyewa sebuah restoran untuk merayakan hari kelulusan Stella dan Niko. Sebenarnya bisa saja mereka makan di restoran biasa, namun demi kenyamanan mereka memilih privat saja. Dikarenakan Stevanie sudah terkenal sejak dua tahun yang lalu, itu menjadi alasan mengapa mereka lebih menjaga privasi dan tak bisa sembarangan berada di tempat umum. Resiko menjadi orang yang terkenal di kalangan masyarakat luas, setiap salah satu mereka berjalan di muka umum maka akan banyak orang yang menghampiri sekedar untuk meminta tanda tangan maupun foto. "Alva gak ke sini, La?" tanya Retta. "Dia lagi di Bandung, Ma. Di rumah neneknya," jawab Stella. "Ohh.. Andra gak tahu bakalan ke sini apa enggak, soalnya anaknya lagi rewel banget," beritahu Retta. Iya, Andra akhirnya memang menikah mudah, anak sulung Nanda itu menikah di usia 21 tahun dan bukan menikah dengan Sadira. "Yah, padahal aku pengen banget main sama si embul." "Gak usah sedih, nanti kita juga nikah terus bikin yang lebih lucu dari embul," goda Niko berbisik. Dengan keras Stella mencubit lengan Niko. "Aw, sakit loh sayang!" ____ Malam ini Stella dan Niko sedang duduk berdua di teras menikmati semilir angin malam yang menerpa kulit mereka. "Aku bersyukur, akhirnya Alva bisa move on dari kamu," ujar Niko. "Iya, semoga aja Alva bisa cepet dapat pendamping biar enggak kalah sama Andra." "Kamu gak pernah cemburu sama Alva?" tanya Stella kemudian. Kekasihnya itu menggeleng, "Aku biasa aja tuh, karena aku ada sama kalian juga dan yang terpenting aku percaya sama kamu." "Good, aku suka tipe cowok yang enggak posesif." "Hahaha, posesif tanda sayang lho." "Kalau berlebihan itu gak baik tahu, nanti malah bikin gak nyaman." "Iya makanya aku gak mau membatasi kegiatan kamu, mau kamu berteman sama siapa aja bebas. Aku gak mau kalau apa-apa larang kamu, nanti bukannya betah tapi kamu malah pengen pergi," ujar Niko. "Bener sih, tapi untung kita satu hobi dan kerjaan. Jadi kita bisa saling mengawasi." "Iya juga ya." "Tadi apa bener Papa kamu gak bisa datang sekedar setor muka atau kasih karangan bunga ke kamu?" tanya Stella hati-hati. Niko tersenyum tipis sembari menggeleng, "Udah biasa bukan? Apalagi semenjak adik aku hilang dan meninggal. Papa bener-bener dingin sama aku." "Kamu enggak coba menuntut?" "Percuma, yang ada aku jadi samsak hidupnya dia." "Sabar ya, ada aku. Butuh apapun sama aku saat papa atau orang terdekat kamu sulit membantu kamu." "Justru kamu orang paling dekat sama aku," ujar Niko sambil memeluk tubuh Stella. ____ "Calya..." Baru saja Stella hendak menutup pintu ketika Niko baru saja pulang, seseorang memanggil namanya dan membuat tubuh gadis itu menegang. Sorot mata gadis itu tetap tajam untuk seorang lelaki paruh baya yang sudah empat tahun tak pernah ia lihat lagi. Kali ini orang yang dulu selalu Stella tunggu ada di hadapannya, dengan membawa sebuah karangan bunga yang terlihat sudah sangat layu. Meski sudah belasan tahun berlalu, tetap saja luka yang Stella dapatkan masih menganga lebar. Apalagi saat ini sumber lukanya ada di hadapannya. Haruskah Stella melupakan semua luka dan bersikap baik-baik saja? "Ada apa?" tanya Stella. "Papa ke sini mau memberikan selamat untuk kamu," ujar Elvan. Stella rasanya ingin menangis ketika melihat penampilan Elvan sudah tak seperti dulu. Kini pria itu menggunakan baju yang lusuh dan warnanya luntur. Penampilan yang gagah nan berwibawa itu sudah tak lagi melekat pada diri Elvan. "Duduk," suruh Stella. Elvan menurut dan segera duduk di kursi yang biasa ada di teras rumah Riva. "Maaf Papa baru menemui kamu. Tadinya Papa mau datang ke tempat wisuda kamu, tapi Papa harus kerja dulu supaya membeli bunga untuk kamu. Gak mungkin Papa datang dengan tangan kosong kan?" ujar Elvan memulai obrolan. Stella bergeming tak menanggapi celotehan lelaki yang sudah membuatnya ada di dunia ini. "Papa sekarang kerja bangunan, saat masalah Radea semua investor menarik kerja sama dengan perusahaan Papa. Mereka bilang tidak mau bekerja sama dengan Papa, mereka bilang jika Papa gagal mendidik anak Papa. Mendidik anak saja gagal, apalagi memimpin perusahaan. Sejak saat itu, Risha pun meninggalkan Papa. Sekarang Papa hanya hidup bersama Radea dan anaknya." Stella berusaha menjaga raut dinginnya, padahal hatinya bergemuruh ketika mendengarkan cerita dari Elvan. Benarkah Elvan semenderita itu sekarang? "Papa sekali lagi minta maaf. Maaf karena telah membuat kamu terluka dan menderita. Papa gak masalah hidup seperti ini karena ini adalah karma atas apa yang Papa perbuat sama kamu," tukas Elvan. "Selamat wisuda Calya sayang, maaf terlambat. Papa harus mencari uang dulu buat beli bunga ini. Maaf kalau bunganya layu, Papa beli pas maghrib tadi. Ini juga harganya agak mahal, penjualnya curang. Tapi demi kamu, gak apa-apa. Papa rela buruh harian Papa berkurang demi kamu." Elvan menghela napas pasrah kala Stella tak merespon semua ucapannya. Ia langsung mendekat dan memberikan bunga tersebut kepada Stella. "Sekali lagi selamat dan maaf," ucap Elvan menarik Stella ke dalam pelukannya. Elvan bersyukur kala Stella tak berontak apalagi menolak, ini kali pertama Elvan memeluk Stella kembali setelah belasan tahun yang lalu ia meninggalkan Stella di tempat ini. "Jaga diri baik-baik ya, jangan kelelahan. Papa tahu sekarang kamu sudah terkenal dan pekerjaan kamu banyak, hati-hati kepada orang-orang ya? Kamu harus pandai memilih teman, jangan sampai terjerumus ke hal yang negatif," ucap Elvan sebagai kalimat penutupnya. Kemudian pria itu berbalik dan melangkah meninggalkan Stella yang menatap kosong ke depan. Setelah Elvan benar-benar menghilang dari pandangannya, barulah Stella berjongkok dan menangis sambil menggenggam erat bunga pemberian Elvan. "Maafin aku, Pa... Tapi luka itu belum benar-benar hilang," lirih Stella Sedangkan Elvan sebenarnya belum benar-benar pergi dari sana. Ia ingin melihat anaknya lebih lama lagi, ia masih rindu dan merasa bersalah. "Jangan menangis, Calya. Papamu ini tidak pantas untuk kamu tangisi," lirih Elvan menatap Stella yang masih terlihat menangis di sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD