2. Dilamar

1052 Words
Elvan berjalan gontai memasuki pekarangan rumahnya. Bukan rumah miliknya yang dulu, melainkan rumah kontrakan kecil yang sudah ia tempati selama enam tahun belakangan ini. Setelah Risha menggugat cerai dirinya, Elvan hanya hidup bertiga degan Radea dan cucunya atau anak dari Radea. Saat itu Risha juga mengajak Radea dengan catatan meninggalkan anaknya bersama Elvan, namun Radea tidak mau. Gadis itu yakin jika ibunya itu akan mengorbankan dirinya untuk membuat ekonomi menjadi stabil lagi. Tok..tok..tok Elvan mengetuk pintu rumah kontrakan. Pria yang sudah dipanggil kakek itu harus bersabar menunggu sang anak yang membukakan pintu dari dalam. "Papa dari mana aja?" tanya Radea khawatir. "Papa ada urusan sebentar," jawab Elvan. "Urusan? Sampai semalam ini?" tanya Radea memicing. Elvan hanya bisa mengangguk menanggapinya. "Papa nemuin Stella lagi?" selidik Radea. Elvan tak menjawab dengan langsung berlalu dari hadapan Radea, berjalan menuju kamar di mana ada seorang anak berusia tujuh tahun yang sudah tertidur. Azkia Noura. Nama yang Elvan sematkan untuk cucu pertamanya itu. Cucu yang dilahirkan Radea enam tahun lalu, meski Azkia terlahir karena sebuah kesalahan namun Elvan tetap menyayangi cucunya. Sering kali Elvan bersedih ketika Azkia menanyakan siapa ayah kandungnya. Dirinya jadi mengingat akan Calya yang pernah ia tinggalkan di panti asuhan. Apakah dulu Calya seperti Azkia yang selalu menanyakan ayahnya setiap waktu? Mengingat hal itu, rasa penyesalan Elvan semakin menjadi. Karma yang diterima bukan saja untuk dirinya, namun pada anak dan cucunya juga. "Maafkan Kakek, Azkia. Kesalahan yang Kakek perbuat pada Tante kamu membuat kamu juga harus merasakan hal yang sama. Semoga kamu akan selalu bahagia," bisik Elvan dalam hatinya. ____ Stella terbangun dari tidurnya dengan mata yang sembab. Semalaman ia menangis setelah pertemuannya dengan Elvan. Gadis itu menoleh ke atas nakas di mana di atasnya ada karangan bunga dari Elvan. Bunga itu sudah layu, seperti hatinya untuk Elvan. Stella mengambil ponselnya dan membuka aplikasi pesan. Sudah banyak pesan masuk dari Niko yang mengingatkannya agar segera bersiap menuju ke studio. Tak lama kemudian, layar ponselnya berubah menampilkan panggilan masuk dari kekasihnya itu. "Halo.." "Pasti baru bangun, ya?" "Kamu udah tahu." "Hahaha kan sekarang udah bebas, pasti kamu mau menikmati kebebasan itu." "Iya, kamu kenal aku dengan baik." "Ya udah, cepat mandi sana! Nanti aku jemput kamu jam sepuluh. Jangan lupa sarapan dulu." "Iya bawel." "Udah sana bantuin ibu dulu." "Oke aku matikan telponnya ya." "Eh jangan dulu." "Apalagi?" "Sama dandan yang cantik ya!" Tut. Stella geleng-geleng kepala setelah ia memutuskan panggilan sepihak. Niko memang selalu bisa membuat moodnya membaik. Tak salah ia menautkan hatinya pada sahabat lelaki pertamanya itu. ____ Tiba di studio, Stella langsung mendudukan dirinya di sofa. Ia melihat-lihat majalah baru yang tergeletak di atas meja. "La, lo abis nangis ya?" tanya Edo. Stella mengangguk, "Inget sesuatu jadi nangis." "Inget Andra?" tanya Edo. "Sembarangan lo!" "Do, orang udah punya jalan masing-masing masih di sangkut pautkan aja," tegur Arsy. "Abis mereka jadi pasangan terheboh waktu itu." "Itu mah fans Andra yang pada lebay, hebohnya udah ngalahin perang dunia." "Lo juga, Arsy," sindir Stella. Arsy mengembungkan pipinya. Stella benar, ia pernah menjadi salah satu fans Andra garis keras. "Tapi si Andra jadi suami sama bapak yang bauk gak sih?" tanya Arsy kepo. "Banget, speechless gue lihatnya. Dulu emang dia sempat bersikap nyebelin sih, tapi ke sini-sini dia baik kok," jawab Stella. "Rutin lo kumpul keluarga?" "Lumayan, kalau Mama udah nyuruh wajib ngumpul semua. Gak ada alasan buat nolak." Kemudian mereka semua terdiam dan sibuk dengan kegiatan masing-masing. "Si Niko bikin teh manis lama amat," cibir Stella. "Awas dia godain office girl," canda Arsy. "Biasanya gitu, sama Edo juga. Tapi Edonya ada di sini." "Eh enggak ya, Lala! Jangan sembarangan!" "Hahaha." "Eh Alva, kemana aja?" tanya Arsy kala Alva baru masuk ke dalam studio. "Kemarin ngurus bisnis yang di Bandung, sekalian berkunjung ke rumah Oma," jawab Alva. "Sayang banget kemarin Niko sama Stella wisuda, lo gak ada. Jadi Stevanie enggak lengkap." "Jadinya Stesynie." Alva terkekeh, "Sorry, tapi emang ada problem juga sama bisnis di sana. Sebagai owner gue kudu turun lansung." "Oh iya, selamat ya La," ucap Alva. "Thank you, Va. Mana bunganya?" pinta Stella. "Bunga yang ada di meja mau?" "Gue maunya bunga deposito." "Ayo, sama gue dulu tapi jangan sama Niko." Stella menggeleng dan melambaikan tangannya tanda ia menolak sambil fokus kembali pada majalah yang ia pegang. "Eh, Niko mana?" tanya Alva kemudian. "Bikin teh manis. Tapi kayaknya dia metik dulu tehnya sama bikin dulu gulanya, dari tadi gak datang-datang." "Paling ngobrol sama yang lain." "Eh, ada yang kecelakaan jatuh dari tangga!" teriak seseorang dari luar. Sontak semua yang ada di dalam Studio berlari. Terlebih Stella, ia panik takut kekasihnya yang mengalami hal tersebut. Saat Stella dan teman-temannya ke tempat kejadian. Orang tersebut sudah dikerumuni oleh banyak orang. Stella menahan napas pertanda takut. Perlahan ia berjalan mendekati kerumunan tersebut. Saat Stella tiba di belakang orang yang berkerumun itu, mereka semua bubar dan memberi Stella jalan. Gadis itu langsung menutup matanya. Ternyata, yang dikerumuni orang-orang itu adalah Niko—kekasihnya. Mata Stella berkaca-kaca melihat keadaan Niko. ____ Keadaan Niko baik-baik saja. Malah lelaki itu berjalan ke arahnya sambil tersenyum dengan membawa karangan bunga mawar merah. Saat tiba di depan Stella, lelaki itu langsung berlutut di depan kekasihnya. Tangannya merogoh saku dan mengeluarkan sebuah kotak yang berisi cincin. "Aku gak tahu cara yang romantis kayak apa, gak bisa bikin dekorasi yang bagus atau pun mewah. Tapi aku jamin, pengalaman ini akan sangat berkesan untuk kamu. Aku pastikan kalau kamu gak akan melupakan hari ini," ucap Niko sambil memegang tangan Stella. "Maaf, belum bisa jadi kekasih yang baik buat kamu. Makanya, sekarang aku mau bertransformasi menjadi calon suami kamu. Aku janji akan jadi suami yang baik dan setia untuk kamu. Stella, maukah kamu menjadi satu-satunya wanita yang akan menjadi istri aku?" pinta Niko. Stella tak bisa lagi menahan rasa harunya, ia membekap mulutnya dengan kedua tangan. Tanpa berpikir apapun lagi, gadis itu mengangguk dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya. Niko tersenyum dan langsung bangkit. Ia menyematkan cincin di jari manis Stella, kemudian berdiri dan mendekap erat tubuh kekasihnya. Semua orang yang ada di sana bertepuk tangan bahkan sampai ada yang menangis juga. Alva yang ikut menyaksikan momen itu pun tersenyum tipis. Ia sudah sadar, Stella memang bukan untuknya. Mulai sekarang, hubungan Stella dan Niko sudah naik satu level. Hubungan yang lebih serius akan segera dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD