3. Kabar Mengejutkan

1324 Words
Berita dilamarnya Stella oleh sang kekasih langsung menjadi hal yang menghebohkan di dunia televisi dan sosial media. Para pemburu berita berlomba-lomba datang ke studio Stevanie hanya untuk mendapatkan informasi dari dua sejoli yang sebentar lagi berubah status dari berpacaran menjadi suami istri itu. Stella tak henti-hentinya menyunggingkan senyum sambil terua menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. "Iya tahu, yang dilamar mah bahagia," cibir Arsy iri. Pasalnya gadis itu sudah memberikan kode setiap hari kepada Edo agar segera melamarnya, namun lelaki itu kurang peka dan berakhir dengan ketidakpastian. Mendengar cibiran Arsy, Stella tersenyum jahil. "Edo, kapan lo ngajak Arsy lebih serius? Ditikung sama cowok lain baru tahu rasa loh," ujar Stella membuat Arsy melotot dan pipinya memerah. "Emang ada yang mau nikung gue?" tanya Edo percaya diri. "Takdir gak ada yang tahu, ya! Siapa tahu lo cuma jagain jodoh orang," timpal Alva ikut memanasi suasana. "Daripada ngarepin jodoh orang," balas Edo santai. "Gila!" ____ Radea melemparkan remot asal ke atas karpet. Perempuan itu menggerutu kesal kala semua infotainment di televisi hanya membahas perihal hubungan Stella dan Niko. Entah kenapa, rasa iri dalam diri Radea semakin menjadi untuk saudara tirinya itu. Senyum manis Stella selalu menghiasi layar kaca yang ditonton oleh Radea dan hal itu tentu saja membuat Radea sangat muak. Ia selalu bertanya-tanya dia dan Stella sama-sama anak Elvan, bahkan keduanya anak yang lahir dalam ikatan pernikahan. Lantas mengapa nasibnya tak bisa seberuntung Stella? Mengapa semuanya tidak adil? Kenapa Stella tiba-tiba bahagia dan dirinya menjadi sangat menderita? "Kenapa Stella selalu beruntung, kenapa?" geram Radea. "Dia gak pernah sedikit pun merasa sedih, dia semakin bersinar. Sedangkan gue? Gue harus urus anak yang gak diakui sama ayahnya, gue gak bisa sekolah tinggi karena Papa bangkrut," gumamnya. Tak lama kemudian, ia menatap ke arah televisi lagi yang sedang menampilkan band Stevanie bernyanyi. Radea tersenyum miris, "Coba kasih tahu, La? Kebaikan apa yang selalu lo lakukan sampai bisa bikin banyak orang berpusat sama lo? Bahkan orang yang selalu memprioritaskan gue dari kecil aja sekarang selalu memaksakan diri untuk bertemu dan kasih sesuatu sama lo." ____ Stella datang ke rumah dengan senyum yang terus mengembang dj bibirnya. Rasanya ia begitu bahagia hari ini. "Seneng banget kayaknya," goda Riva. "Ahh... Ibu, Lala bahagia," pekik Stella sambil memeluk Riva. "Ibu bersyukur Niko mau serius sama kamu." "Iya, Bu. Lala bahagia, akhirnya sampai di titik ini. Padahal Lala sempat berpikir gimana kalau ternyata Lala itu jadinya gak sama Niko." Riva tersenyum dan membelai surai hitam Stella dengan lembut, "Kalau kalian memang benar-benar berjodoh, ada masalah sebesar tsunami pun kalian gak akan pernah hancur." "Semoga aku dan Niko memang berjodoh ya, Bu." "Aamiin." Riva membalas pelukan Stella. Wanita itu memejamkan matanya dan kembali mengingat momen di mana saat ia menikah dan diceraikan. Ah, itu peristiwa paling buruk dalam hidup Riva. ____ Malamnya Rayhan datang bersama istri dan anaknya untuk bertemu dengan Stella. Stella tersenyum canggung kala melihat Rayhan datang. Hubungan mereka sebenarnya agak canggung akibat suatu hal. "Selamat ya, La. Sebentar lagi jadi seorang istri," ucap istri Rayhan itu. Stella hanya mengangguk dan tersenyum tipis menananggapinya. "Stella, boleh aku ikut ke dalam? Baby nangis karena haus," ucapnya meminta izin. "Boleh," ujar Stella. Stella wanita itu pergi Stella menatap tajam ke arah Rayhan. "Please, Kak! Jangan jadi b******k, setiap aku lihat kalian rasanya aku juga ngerasain rasa sakit hatinya dia," tukas Stella tajam. "La, ini semua rumit. Gak bisa selesai dalam waktu yang singkat, ini bener-bener menyangkut banyak orang. Lagian, sampai sekarang aku masih belum ketemu sama dia." "Kakak sendiri yang bikin semuanya jadi rumit, kalau dari awal Kakak jujur semua gak bakalan begini!" ____ Tumben sekali pagi ini Stella sudah rapih dan wangi. Lamaran Niko kemarin memang memberikan efek yang dahsyat bagi mood Stella. "Oh, Diya tahu kenapa Kak Lala bangun pagi," ujar Nadiya yang tiba-tiba datang dari arah belakang Stella. "Kenapa?" "Karena Kak Lala mau jadi istrinya Kak Niko, makanya gak bisa bangun siang-siang. Entar suaminya kelaperan," ledek Nadiya. "Jangan bikin Kakak tarik ikat rambut kamu yang udah rapih itu ya, Nadiya," peringat Stella. "Ampun Nyonya Nik—Aaa ibu, Diya berangkat!" pekik Nadiya berlari menuju gerbang depan. Stella tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Nadiya anak yang lucu dan menggemaskan itu kini sudah beranjak menjadi remaja yang cantik. Kini Nadiya sudah menduduki bangku kelas sebelas, memang waktu begitu cepat berlalu. "Diya, cepet banget gede sih. Rasanya baru kemarin kamu lulus SD dan nangisin Zero yang mati karena sakit," gumam Stella. ____ Suasana di rumah Niko memang selalu tegang sedari ia masih kecil. Semenjak ibunya menderita gangguang jiwa, rumah yang selalu Niko tempati itu mulai mendingin. Tidak ada lagi canda tawa dan hangatnya keluarga. "Kamu serius melamar gadis itu?" tanya Viko—ayahnya. Niko mengangguk, "Kalau aku gak serius, mana mungkin aku berani melamar dia, Pa." "Baiklah, atur pertemuan kita dengan keluarganya. Kita akan lamar kekasih kamu secara resmi." "Iya, Pa nanti Niko diskusikan dulu sama Stella." "Ya sudah, Papa berangkat," pamit Viko. Niko menghela napas dan menatap nanar punggung tegap papanya yang menjauh. Ia benar-benar kehilangan banyak momen bersama papanya itu. ____ Selesai diskusi untuk acara lamaran keluarga, Niko dan Stella meminta bantuan Arsy untuk mencarikan jasa event organizer yang terpercaya. "Gue pernah pake jasa event organizer yang ini, kemarin pas sepupu gue lamaran juga pake ini. Pokoknya the best deh, acara sukses sampe akhir," beritahu Arsy. "Gimana, La? Setuju?" tanya Niko kepada kekasihnya itu. "Boleh. Nanti gue minta kontaknya ya, Sy." "Siap, gue juga minta dulu sama sepupu gue." "La, kalau untuk urusan acara mending nanti kita minta bantuan Andra juga deh. Soalnya dia udah pengalaman banget kan ngurusin acara," usul Niko. "Boleh juga sih, entar aku bilang dulu ke Mama ya." "Eh guys, kabar si Radea gimana sekarang? Anaknya pasti udah gede ya?" tanya Arsy tiba-tiba. Stella bergedik, "Gue gak tahu, gak pernah ketemu dia lagi. Terakhir ketemu dia tuh pas gue sama Niko pulang dari Bandung. Ketemu dia di minimarket lagi beli s**u formula buat anaknya kali ya." "Sy, gue mau tanya. Perasaan lo pas tahu Radea kayak gitu gimana? Soalnya gue lihat lo gak mau banget ada urusan sama dia sejak saat itu?" tanya Niko penasaran. Ia sudah memendam pertanyaan ini bertahun-tahun. "Ya, gak apa-apa. Kesal aja pas tahu dia ternyata anak pelakor. Apalagi sampai melakukan hal yang kayak gitu. Gak nyangka aja, padahal dia tuh disayang banget sama papanya," jawab Arsy. "Terus lo juga bilang dia di kelas berduaan sama Runo ke si Fian?" Arsy mengangguk, "Gue waktu itu sebenarnya bingung. Tapi si Fian yang udah keburu lihat video itu langsung cari gue dan nanya di mana Radea. Karena gue takut akhirnya gue jawab aja kalau dia sama Runo di kelas sampai akhirnya guru datang ke sana." "Dari situ Radea ada menghubungi lo?" "Gak ada, dia langsung blokir kontak gue dan keluar dari semua grup yang di sekolah. Kayak grup kelas, ekskul sama kelompok." "Terus—" "Eh tunggu, ada telpon," ujar Stella kala ponselnya berbunyi. "Halo?" "...." "Iya, saya sendiri. Ada apa ya?" "...." "Apa? Sekarang di rumah sakit mana?" "...." "Oke, Pa. Saya ke sana sekarang." Tut "Ada apa, La?" tanya Niko panik saat mendengar kata rumah sakit. "Nadiya kecelakaan, Nik. Dia jadi korban tabrak lari," beritahu Stella sambil menangis. "Oke kamu tenang ya. Ayo kita ke rumah sakit sekarang, La. Nadiya butuh kita," ajak Niko buru-buru. "Guys, gue sama Stella ke rumah sakit dulu ya," pamit Niko kepada tiga temannya. Sedangkan Stella saat ini hanya diam saja karena kaget. "Iya Nik, hati-hati bawa mobilnya. Kalau ada apa-apa telpon aja dan jangan kupa kabari kita soal keadaan Nadiya," tukas Alva. Setelah itu mereka berdua segera tancap gas menuju rumah sakit tempat Nadiya diberi pertolongan. "Va, gimana perasaan lo ke Stella?" tanya Edo saat Niko dan Stella telah pergi. "Ya masih sama." "Terus gimana?" "Gak apa-apa, Stella udah bareng orang yang tepat kok. Gue percaya Niko bisa bikin dia bahagia," ujar Alva. "Semoga lo secepatnya menemukan orang yang bisa balas perasaan lo ya, Va. Lo orang baik pasti lo bakalan dapat pasangan yang baik juga."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD