Datang terakhir dan pulang paling awal identik dengan siswa malas. Sebagian memang seperti itu dan Redo termasuk di dalamnya. Selama bersekolah dia tidak pernah mengalami datang paling awal, jika datang paling akhir sampai tidak bisa dihitung.
Seperti sore ini, bel sekolah baru berbunyi Redo langsung melesat meninggalkan kelas. Dia berlari menuruni tangga dan barulah berjalan santai saat melewati lapangan. Jika, saat kelas satu dan dua dia langsung ke ruang ekskul, sekarang ini tidak lagi.
Cowok dengan tas abu-abu itu berjalan santai melewati pancuran yang melingkar. Saat dia mencapai gerbang kedua tangannya langsung dicekal. Refleks Redo menoleh dan menemukan anak buah mamanya.
“Jadi, baru sekarang mama merintahin kalian?” tanya Redo dengan senyum meremehkan.
“Mas Redo mending pulang. Nyonya nyariin,” jawab Gala—anak buah mamanya yang badannya paling besar.
“Buat apa nyariin? Mama juga nggak di rumah.” Redo mulai memberontak dan menendang lutut kedua anak buahnya itu bergantian.
Saat kekuatan cekalan itu mengendur, Redo langsung menyentak dan berlari menjauh. Sudah dua hari dia kabur dan mamanya baru memeritahkan sekarang. Pasti pembantu Redo yang mengadu kalau selama ini dia tidak pulang.
“Mas Redo!!” Teriakan itu mulai terdengar.
Redo menambah kecepatan larinya menuju halte. Sepertinya ada dewa penyelamat karena bus itu berhenti dan terlihat cukup lenggang. Redo segera masuk dan duduk di paling belakang.
“Sial!!!” Samar-samar dia mendengar u*****n Fadi—anak buah yang berambut keriting.
Bus itu mulai melaju membelah kota Jakarta. Redo duduk sambil mengatur napasnya mulai naik turun. Dia yakin anak buahnya akan terus mengejarnya. Jika, tidak ingat dia sebentar lagi UN, mungkin dia akan memilih pindah sekolah. Atau lebih parahnya dia memilih keluar kota sekalian.
Drttt!!!
Di saat kondisinya mulai tenang, ponsel di saki celana Redo bergetar. Dia merogoh ponsel itu dan mendapati panggilan dari mamanya. Redo mengangkat panggilan itu kemudian memilih diam.
“Redo!! Kenapa kamu nggak pulang? Kamu marah sama mama?”
Tidak ada respons dari Redo. Dia hanya menatap kendaraan yang berlalu lalang.
“Kata Gala kamu kabur? Kamu kenapa bandel banget, sih, jadi anak! Kamu mau minta apa? Bakal mama kasih asal kamu pulang!!”
Redo mengembuskan napas dengan kasar. “Mama baru telepon sekarang? Dikasih tahu orang rumah kalau aku kabur?”
“Orang rumah ngadu ke mama. Kamu itu bikin mama makin pusing aja!!”
Selama ini Redo jarang dikecewakan orang lain, dia lebih banyak dikecewakan oleh mamanya sendiri. “Kalau Redo bikin mama pusing, jangan peduliin Redo!”
“Redo!! Mama sayang sama kamu!!”
Tut. Tut. Tut.
Redo mematikan sambungan secara sepihak kemudian mematikan ponselnya. Dia duduk sambil bersedekap sambil menatap matahari yang hampir tenggelam. Buat apa dia dicari kalau mamanya masih sibuk dengan dunianya sendiri.
“SMA Pancasila!!”
Suara kondektur bus, membuat kesadaran Redo kembali. Dia mengeluarkan uang dari saku kemudian turun. Sekolah yang dia lewati telah sepi, jelas di sekolahnya pulang lebih sore. Redo kemudian berjalan sambil mencangklong tas di pundak kirinya.
Brum!!!
Tiba-tiba suara knalpot bising itu membuatnya waspada. Redo menoleh dan melihat Gala dan Fadi menunggangi moge.
“Sialan!!” Redo tidak sadar jika terus diikuti sampai ke sini.
Sebelum dua orang itu menangkapnya, Redo berlari menajuh. Tapi sepertinya Gala sudah memprediksi ini, karena dia langsung turun dan mengejar Redo.
Redo berlari melewati gang samping sekolah, kemudian berbelok ke arah kanan. Di belakangnya Gala terus mengejar sambil memanggilnya. “Mas Redo!! Pulang, Mas!!”
“Gue nggak mau pulang!!”
Sebenarnya lutut Redo mulai terasa lemas, tapi dia tidak bisa berhenti begitu saja. Dia berbelok ke arah kanan lagi dan dia baru menyadari hanya berlari mengelilingi SMA Pancasila. Saat Redo hendak menyeberang, Fadi yang sepertinya menunggunya langsung menarik tangannya.
“Mas Redo nggak tahu kalau jalan tadi cuma muter aja!!” bisik Fadi penuh kemenangan.
“Ajak Mas Redo!!” teriak Gala yang mulai ngos-ngosan mengejar majikannya.
“Gue nggak mau pulang!! Udah berapa kali gue nggak mau pulang!! teriak Redo sambil berusaha melepas cekalan Fadi.
“Nyonya nyariin, Mas!!” jawab Gala.
“Gue nggak peduli!!”
Redo mengerahkan seluruh tenaganya kemudian berlari lagi. Namun, hanya tiga langkah Gala langsung menghadangnya. Wajah pria itu terlihat memerah, dan Redo tersenyum miring.
“Kesel, kan, ngejar gue? Mending lo balil dan tidur di rumah gue!!”
Gala sepertinya sudah kehabisan kesabaran. Dia mengangkat tangan hendak memukul Redo. Namun, Redo dengan cepat menepis dan menendang perut Gala. Fadi yang sebelumnya di belakang Redo, langsung memiting anak bosnya itu.
“Kita bisa kasar ke lo!!” bisiknya.
“Nggak peduli!!” Redo menggerakkan tubuhnya, tapi tenaga Fadi sangat kuat.
“Woi!!”
Tiba-tiba teriakan itu terdengar kencang. Redo seketika menoleh dan menemukan Ayesha berdiri di sana. Gadis itu terlihat kaget kemudian mundur ketakutan.
“Gue bakal ikut kalian, asal kasih kesempatan buat ngomong sama, tuh, cewek!”
Fadi dan Gala saling berpandangan seolah mempertimbangkan. Fadi kemudian melepas pitingannya dan Redo langsung berlari secepat kilat.
“Makasih, Sha. Lo nolongin gue lagi!!”
***
Kaki yang tidak begitu panjang itu mulai terasa lelah. Peluh menetes membasahi seragam pramuka itu. Belum lagi bagian perut yang mulai terasa ditusuk-tusuk itu.
“Gue nggak kuat!!” keluh Ayesha.
Redo seketika menoleh dan menatap wajah pucat Ayesha. Dia seketika berhenti dan gadis itu langsung berjongkok kelelahan. “Beneran nggak kuat? Gue tinggal, ya!!”
Ayesha seketika mendongak sambil menggeleng tegas. Enak saja cowok itu main tinggal setelah mengajaknya berlari. “Lo nggak bertanggungjawab banget jadi cowok! Udah ngajak lari sekarang main tinggal-tinggal aja!!”
Seulas senyum terbit di bibir Redo, dia kembali menemukan Ayesha yang jutek. “Lo sendiri yang terus ngikutin gue lari!”
“Habis gimana? Gue bingung!!”
Ayesha perlahan berdiri lalu mengedarkan pandangan. Dia baru menyadari sedang ada di gang sempit dan temaram. Refleks dia mendekat ke Redo. “Tempat apa, nih?”
Redo mengedarkan pandang, dia juga tidak tahu ini tempat apa. Dia asal berlari saja demi menghindari anak buah mamanya. “Masih kuat lari?”
Napas Ayesha tercekat. Haruskah dia berlari lagi? Deru napasnya saja baru kembali normal. “Ya udah ayo. Pelan-pelan tapi, ya!”
“Yuk!!”
Redo menarik tangan Ayesha yang sejak tadi dia genggam. Sesuai janji, cowok itu berlari pelan dengan Ayesha berlari di belakangnya. “Lo termasuk kuat, loh, bisa ngimbangi lari gue!”
“Nggak usah ngeremehin! Gini-gini juga gue sering jogging.”
“Good. Kalau cewek nggak bisa bela diri minimal dia harusnya kuat lari.”
“Hmm.” Ayesha sependapat dengan Redo. Banyak sekali korban kejahatan adalah seorang perempuan. Jika, mereka tidak tangguh bagaimana mau mempertahankan diri.
“Kayaknya mereka nggak ngejar lagi.” Redo menghentikan aksi larinya kemudian berjalan bersisian dengan Ayesha.
Ayesha mengedarkan pandang dan tidak mendapati dua preman yang tadi mengejarnya. “Lo sebenarnya siapa, sih?”
“Gue Redo!”
“Maksud gue bukan itu!” geram Ayesha. “Gue inget pasti lo cowok yang ngumpet di rumah gue itu, kan?”
Redo seketika menoleh dan menatap raut Ayesha. Gadis itu terlihat ketakutan, entah apa yang sedang dipikirkan di kepala cantiknya itu. “Lo baru sadar sekarang kalau cowok yang waktu itu?”
Ayesha mengangguk, sama sekali tidak menutup-nutupi semuanya. “Gue nggak begitu kelihatan wajah lo.”
“Gitu?” tanya Redo dengan seulas senyum.
Meski di sekitarnya gelap, Ayesha bisa melihat senyum manis itu. Dia ingat sekali senyum cowok bertopi merah waktu itu, sama dengan Redo barusan. “Jadi, kenapa lo dikejar-kejar lagi?”
Bukannya menjawab, Redo justru berjalan sambil mendongak. “Gue nggak bisa jawab. Tapi gue bukan nyuri atau apapun!”
Ayesha tentu tidak serta merta percaya. Buat apa cowok itu lari-lari kalau ada sesuatu yang terjadi? Namun, Ayesha tidak bisa memaksa cowok itu bercerita.
“Rumah lo di mana? Gue anterin pulang.”
Redo menghentikan langkah setelah sampai di trotoar. Dia menunduk dan melihat tangannya masih menggenggam tangan Ayesha. Refleks dia melepas genggaman itu lalu membuang pandangan ke arah lain.
Sepertinya Ayesha juga baru sadar jika sejak tadi tangannya di genggam Redo. Gadis itu bergeser menjauh kemudian mencoba menghubungi sopir rumahnya. Kenapa gue sampai nggak sadar? Harusnya gue ngejauhin dia!! pikirnya.
“Ayo masuk!”
Tanpa Ayesha ketahui, Redo sudah menyetop taksi. Ayesha mulai waspada dan Redo menyadari itu. Redo mengambil ponsel dari tangan Ayesha kemudian membuka kamera.
“Nih.” Redo mengembalikan ponsel itu ke pemiliknya.
Ayesha melihat foto selfie Redo. “Lo ngapain, sih?”
“Lo takut, kan, sama gue?” tebak Redo. “Gue nggak bakal ngapa-ngapain lo. Gue cuma pengen nganterin lo pulang setelah gue ajak lari-larian.”
“Gue bisa pulang sendiri, Do,” jawab Ayesha lelah. Dia masih mengira Redo itu jahat. Belum lagi sejak bertemu dengan cowok itu, hidupnya mulai tak tenang.
“Ayo gue anter pulang! Kalau sampai gue ngapa-ngapain lo, lo tahu nama gue, tahu sekolah gue dan punya foto gue! Lo bisa ngelakuin apapun kalau sampai gue jahat ke lo!” Redo menggenggam tangan Ayesha dan membimbing gadis itu masuk taksi.
Akhirnya Ayesha menurut. Sopir rumahnya tidak bisa dihubungi dan dia tidak mungkin terus menunggu. Dia duduk di paling ujung kemudian melirik Redo di sampingnya.
Lo sebenernya siapa, sih, Do? Kenapa juga gue harus terlibat sama lo?
***
Ayesha baru sampai rumah jam delapan malam. Makan malam bersama keluarga sudah berakhir satu jam yang lalu. Dia merasa bersalah karena absen di acara makan malam ini.
“Kamu dari mana, Ayesha?” Mama Ayesha masuk kamar dengan raut penuh amarah.
“Maaf, Ma. Tadi ada acara sama temen.”
“Kamu tahu, kan, tiap jumat makan malam bareng? Mama sama papa sibuk dan hanya waktu itu ada waktu luang. Kakak tadi juga bisa pulang cepet,” ucap Mama Ayesha.
Respons Ayesha hanya anggukan pelan. Dia tidak mungkin cerita saat dikejar dua pria berbadan besar tadi. “Ayesha janji, lain kali nggak bakal absen lagi.”
“Ya sudah kamu cepat mandi, terus baca buku yang dibelikan Kak Afisha!”
“Ya, Ma.”
Ayesha beranjak dari ranjang lalu masuk kamar mandi. Dia menatap pantulan wajahnya di cermin. Wajahnya terlihat berkeringat dan tatanan rambutnya sangat tidak keruan. Ini pertama kalinya dia berlarian seperti tadi. Entah ini pengalaman buruk atau pengalaman baik.
Tiga puluh menit kemudian Ayesha keluar kamar mandi dengan handuk yang melingkar di atas kepala. Dia duduk di meja belajar dan melihat buku tebal pemberian kakaknya. Dia yakin, mamanya pasti turut andil membelikannya buku ini.
Kita bakal jadi keluarga dokter!!
Ucapan mamanya lima tahun silam terngiang di kepala Ayesha. Mama dan papanya ingin kedua anak mereka berprofesi sebagai dokter. Afisha menyukai bidang itu sejak kecil, jadi sangat antusias mengejar cita-citanya. Sedangkan Ayesha, lama-lama dia tidak ingin berkecimpung di dunia kedokteran. Entahlah, seperti ada pemberontakan di hatinya.
Drttt!!!
Getar ponsel itu membuat lamunan Ayesha terputus. Dia mengambil benda itu dan melihat chat dari nomor tadi pagi, nomor Redo.
Jangan lupa, rendam kakinya sama air hangat. Biar nggak pegal.
Ayesha bimbang harus membalas pesan itu atau tidak. Redo terasa berbahaya baginya. Meski cowok itu cukup bertanggungjawab dengan mengantarnya pulang. Setelah menimbang-nimbang, Ayesha memilih membalas pesan itu.
Ayesha: Oke.
Setelah membalas pesan itu Ayesha memilih membaca buku, sambil menunggu kantuknya datang.