Pagi hari kondisi Ayesha mulai membaik. Meski tubuhnya masih terasa lemas, dia tetap memaksakan diri beraktivitas. Baginya selama tidak pusing, tidak menjadi persoalan. “Pagi, Pa,” sapa Ayesha dengan suara serak. Papa Ayesha memperhatikan wajah anaknya yang sedikit memerah itu. “Kamu sakit, Sha?” “Agak nggak enak badan, Pa.” Ayesha mengambil nasi dengan lauk daging lada hitam dan meletakkan di piring. Dia kemudian melirik ke kursi samping, kosong tidak ada Afisha. Tebersit pertanyaan di kepala Ayesha, tapi dia masih kecewa dengan tingkah kakaknya semalam. “Sha. Kalau nggak enak badan izin sekolah dulu, ya,” kata Papa Ayesha. Seketika Ayesha mengangkat wajah lalu menggeleng pelan. “Ayesha kuat kok, Pa.” “Sha, dengerin Papa. Kalau maksa sekolah terus di sana nggak bisa nangkap pelajar

