[26] Panik

2077 Words

Jam istirahat, Ayesha memakan roti cokelat pemberian Redo. Kondisi tubuhnya masih lemah, bahkan kepalanya sekarang mulai terasa berat. Keputusannya untuk tetap bersekolah ternyata salah, nyatanya sepanjang pelajaran dia tidak bisa berkonsentrasi. “Lo yakin nggak mau pulang aja?” Nala memperhatikan wajah Ayesha yang memucat itu. “Tanggung. Beberapa jam lagi juga pulang.” Ayesha menggigit roti potongan terakhir kemudian menoleh ke Nala. Sejak tadi sahabatnya itu percis seperti emak-emak. Telinga Ayesha sampai panas mendengar omelan itu. Mamanya saja tidak pernah seperti itu. “Sha. Kalau lo kenapa-napa gimana?” tanya Nala sambil menyentuh tangan Ayesha, merasakan kulit gadis itu yang menghangat. “Tenang. Gue strong kok.” Ayesha memaksakan seulas senyum. “Ya udah. Awas kalau lo sampai pi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD