[9] Cup Cake

1920 Words
Hari Senin telah tiba. Itu artinya para siswa harus kembali bersekolah, ditambah mereka harus melakukan upacara terlebih dahulu. Banyak siswa yang memilih datang lebih awal saat hari Senin, alasannya tentu tidak mau telat. Ada pula yang datang pagi agar terhindar dari razia guru piket. Ayesha yang tidak pernah berbuat macam-macam datang seperti biasanya. Saat masuk ke halaman, guru piket langsung memeriksa kelengkapan seragam dan aksesoris yang boleh digunakan. Seperti biasa, Ayesha selalu lolos dari razia kali ini. “Ayesha!!” Baru saja melangkah menaiki lantai dua, teriakan Nala telah terdengar. Ayesha berjalan ke sebelah kiri dan melihat sahabatnya itu sudah menunggu di bangku depan kelas. “Tumben lo udah dateng.” “Please, ya. Kalau Senin gue selalu bareng papa gue berangkat pagi!” “Ya, gue hafal.” Setelah mengucapkan itu Ayesha masuk kelas dan melihat kotak berwarna putih di atas mejanya. Dia menoleh ke belakang dan Nala berjalan mengikutinya. “Itu apaan, La?” “Gue juga nggak tahu.” Ayesha mendekat dan mengangkat kotak putih yang terasa ringan itu. Penasaran, dia mengintip isinya dan melihat tiga buah cup cake berwarna pink. “Lo yang bawa?” tanyanya. “Beneran gue nggak tahu. Pas gue dateng ada beginian di bangku depan,” jawab Nala. “Nih, ada tulisan buat lo. Makanya langsung gue pindahin ke sini.” Ini pertama kalinya Ayesha mendapat kiriman kue seperti ini. Penasaran, dia membuka kardus itu dan terselip notes di bagian pinggirnya. Semoga cup cake ini sampai ke tangan lo. Gue tunggu nanti sepulang sekolah. Bye, Ayesha Salsa Parulina. Tanpa sadar Ayesha tersenyum. Dia yakin ini pemberian Redo. “Dari siapa, Sha?” tanya Nala penasaran. “Ada, deh!!” Ayesha menyimpan kue itu di laci meja kemudian merogoh ponsel di saku. Dia mengirim pesan untuk Redo. Ayesha: Makasih cup cake-nya. Tet!! Bel sekolah mulai berbunyi. Ayesha dan Nala segera turun ke lapangan untuk melakukan upacara. Saat memasuki halaman, mereka berpapasan dengan Aidan. “Hai, Sha,” sapa Aidan semringah. “Hai!” Ayesha hanya menjawab singkat dan masuk ke barisan kelasnya. Tinggi Ayesha yang tidak seberapa, membuatnya harus berdiri di deretan paling depan bersama Nala. Posisinya yang seperti ini membuatnya bisa melihat deretan seberang yang ternyata kelas bahasa. Ayesha bisa melihat Aidan mulai bergabung di deretan paling belakang. Cowok itu melambaikan tangan dan Ayesha hanya tersenyum kecil. “Kayaknya Aidan suka banget sama lo,” bisik Nala. “Tapi gue, kan, nggak suka dia.” Nala melirik ke arah Aidan dan cowok itu terus memperhatikan Ayesha. “Dia pernah nembak lo nggak?” “Enggak.” “Kayaknya bentar lagi.” Nala menyenggol lengan sahabatnya bermaksud menggoda. “Kalau dia nembak lo, lo terima?” Ayesha menoleh dengan raut lelah. “Gue nggak boleh pacaran. Gue juga nggak suka dia. Pasti gue tolak.” Nala manggut-manggut. “Kalau Redo yang nembak lo?” Deg! Jantung Ayesha tiba-tiba berdegup lebih kencang. Dia menunduk menatap sepatu hitamnya yang selalu mengkilat itu. “Ya.. gue.. gue.. to.. tolak.” “Kok kayaknya nggak yakin gitu?” “Apaan, sih!” Ayesha membuang pandang daripada meladeni pertanyaan Nala. Diam-diam Nala tersenyum. Dia ingat jelas bagaimana Ayesha terlihat lues saat bersama Redo. Sahabatnya itu tidak terkesan menjauh, meski masih sewot. “Redo emang bikin takut. Lebih tepatnya kita yang deg-degan sendiri lihat tatapan tajamnya. Tapi kalau dia yang terbaik buat lo, gue bakal ikut doain.” Ayesha memilih tidak menjawab. Rasanya terlalu dini untuk membiacarakan hubungannya dengan Redo. Pertemuannya dengan Redo bisa dibilang karena ketidaksengajaan. Ayesha juga tidak tahu latar belakang Redo seperti apa. “Kalau lo, mulai ada rasa gitu nggak sama Redo?” bisik Nala masih saja kepo. “Udah, deh, jangan ngomongin ini!!” Lama-lama Ayesha bingung sendiri menjawab pertanyaan Nala.   ***   Ayesha: Makasih cup cake-nya. Redo baru membaca pesan itu saat istirahat. Sedikit kecewa karena membiarkan pesan itu terlalu lama. Redo: Sama-sama. Udah lo makan belum? “Sendirian aja lo!” Suara itu membuat perhatian Redo teralih. Dia mendongak dan mendapati cowok berponi panjang duduk di hadapannya. Refleks Redo melongok ke belakang Wiska, tapi dia tidak menemukan sosok Auryn. “Auryn ke perpustakaan,” ucap Wiska. “Sama Virgo?” “Yaps.” “Huh...” Redo menghela napas pelan. Auryn dan Virgo semakin dekat, itu artinya dia tidak ada harapan lagi untuk mendapatkan gadis itu. “Gue tadi lihat lo jalan kaki. Ke mana mobil atau motor lo?” tanya Wiska penasaran. “Di rumah. Males gue bawa.” “Horang kayah. Sampai males bawa kendaraan pribadi.” Tidak ada respons berarti dari Redo. Menurutnya hanya jawaban itu yang pas. Dia tidak dekat dengan Wiska, bahkan dengan siswa satu sekolah dia tidak begitu dekat. “Gue lihat, setelah nggak ikut ekskul aura lo makin redup.” Wiska yang ceplas-ceplos seolah tidak memikirkan perasaan Redo saat ini. “Virgo, kan, yang sekarang dieluh-eluhkan?” tanya Redo. “Pantes kok. Virgo pinter dan cocok jadi panutan.” “Wait. Wait!” Jari telunjuk Wiska bergerak ke kiri dan ke kanan. “Tumben lo legowo? Biasanya lo selalu pengen jadi nomor satu.” Redo seketika menunduk. Dulu, dia memang seperti itu karena ingin mendapat pujian dari mamanya. Namun, sekarang lama-lama dia lelah sendiri. Menurutnya, dia tidak berbakat dan otaknya pas-pasan, hanya uang saja yang dia miliki. Jadi, untuk apa dia mendapat pujian jika dia tidak menguasai bidang apapun? “Seseorang bisa berubah, kan? Anggap saja ini Redo yang baru.” “Karena Auryn lo jadi kayak gini?” Tet!! Bel tanda istirahat berakhir berbunyi. Bukannya menjawab, Redo malah beranjak lebih dulu dan meninggalkan Wiska. Dia tidak tahu siapa yang membuatnya berubah. Mungkin karena Auryn, mungkin pula karena lingkungannya, atau karena dirinya sendiri. Redo tidak tahu pasti.   ***   Setelah pulang sekolah, Redo langsung menuju SMA Pancasila. Dia melihat sekolah itu telah sepi. Redo mengedarkan pandang mencari sosok Ayesha, tapi dia tidak kunjung menemukan. Nekat, Redo memilih masuk ke sekolah itu lagi. “Hei. Mau ke mana?” Seorang Satpam yang berjaga langsung menghadang Redo. “Mau jemput adik sepupu saya, Pak. Ayesha. Katanya tadi sakit.” Satpam itu tidak serta merta percaya. Dia menyuruh Redo menuju pos satpam lewat gerakan tangan. Bukannya menurut, Redo malah berlari memasuki sekolah. Dari kejauhan, dia melihat Ayesha berjalan keluar dengan kedua tangan memegangi tali tas. “Ayesha!!” teriak Redo. Ayesha kaget melihat Redo berlari ke arahnya dengan seorang satpam yang mengejar. Seketika dia berlari mendekat dan menarik Redo ke sampingnya. “Pak, dia nggak jahat kok,” ucapnya ke Pak Satpam. “Tetap saja, Dek, dia bukan anak sekolah ini. Apalagi dia langsung lari gitu aja.” Redo nyengir saat Ayesha melotot ke arahnya. Dia kemudian merangkul Ayesha dan menatap Pak Satpam bertubuh tegap itu. “Adik sepupu saya ini sakit, Pak. Dia jadi terpaksa keluar sendiri, kan?” Bola mata Ayesha membulat. Pertama karena Redo langsung merangkul pundaknya. Kedua, karena cowok itu beralasan dia sepupunya yang sedang sakit. Ayesha seketika menyikut lengan Redo kemudian menatap Pak Satpam yang masih butuh jawaban itu. “Saya yang nyuruh dia masuk buat jemput, Pak. Maaf saya salah.” “Lain kali jangan kayak gitu. Bapak jadi mikir yang enggak-enggak.” Pak Satpam itu kemudian berbalik menuju pos. “Cowok ganteng gini dikira mau ngapa-ngapain,” kata Redo. Ayesha mendongak, lalu mendorong d**a Redo. “Nggak usah ambil kesempatan kali!” “Cuma akting, Sha. Biar meyakinkan.” Redo berjalan dengan Ayesha mengikuti di belakangnya. “Sorry, gue telat. Sekolah gue, kan, lima belas menit lebih telat pulangnya.” Tidak ada tanggapan dari Ayesha. Dia menatap Redo yang berjalan di depannya. Cowok itu menepati janji, bahkan nekat masuk ke sekolahnya. “Nggak masalah kok. Sekarang kita pergi ke mana?” Seketika Redo menghentikan langkah kemudian menggenggam tangan Ayesha. “Jalan-jalan. Buruan sebelum malem!!” ajaknya sambil berlari. Mau tidak mau Ayesha ikuti berlari mengimbangi langkah Redo. Saat melewati pos satpam, Redo melambaikan tangan seolah mengejek. Mana ada orang sakit berlari cepat seperti Ayesha. “Lo jahil banget, sih, jadi cowok!” ucap Ayesha setelah berdiri di halte sekolah. “Kalau nggak gini nggak seru. Bener nggak?” Ayesha mengangguk pelan. Benar, sih, kalau tidak seperti tadi tidak seru.   ***   Tidak lama kemudian, mereka sampai di sebuah kafe dengan konsep unfinishing. Beberapa siswa berseragam SMA terlihat memenuhi beberapa meja. Ayesha yang baru ke tempat ini celingukan, sambil menatap interior kafe yang anak muda banget. Dia jarang ke kafe yang dikunjungi anak muda seperti ini. Biasanya dia memilih restoran keluarga, karena saat itu dia makan malam bersama kakak dan kedua orangtuanya. “Gue dulu sering nongkrong di sini,” ucap Redo sambil berjalan masuk. “Terus sekarang enggak?” Ayesha duduk di kursi kayu kemudian menatap pengunjung meja seberang yang sedang bermain UNO itu. Gadis itu kemudian mengedarkan pandangan, kafe ini tidak terlalu besar. Bentuknya memanjang dan memiliki dua lantai. Namun, di setiap sudut terlihat instagramable. Adapula hand lattering dan quotes yang dipasang di dinding. “Gue jarang nongkrong di sini,” jawab Redo. “Oh, ya, lo mau pesen apa?” Lalu Redo mengulurkan buku menu ke Ayesha. “Gue pilih milkshake greentea.” “Makanannya?” “Kentang aja.” Redo melambaikan tangan dan mengucapkan pesanannya ke pelayan. Setelah itu dia menatap Ayesha yang mengenakan cardigan berwarna hijau mint itu. “Cup cake-nya tadi udah habis?” “Udah, dong. Makasih, ya,” jawab Ayesha dengan senyum tulus. Bisa dibilang harga cup cake itu tidak seberapa. Namun, Redo merasa pemberian itu spesial, karena Ayesha merespons dengan begitu tulus. “Hai, Do!!” Panggilan itu membuat Redo langsung mendongak dan melihat Erwin, teman nongkrongnya dulu. Redo tidak memberi respons dan malah menatap Ayesha. Tindakan itu membuat Ayesha bingung, karena Redo terlihat cuek. Dia lalu menggerakkan dagu ke arah Erwin. “Lama lo nggak ke sini,” ucap Erwin sambil duduk di samping Redo. “Gue tadi nggak lihat mobil lo. Baru lagi mobil lo?” Bukannya menjawab, Redo malah berdiri dan mengulurkan tangan ke Ayesha. “Kita pindah, yuk, Sha!” Meski awalnya bingung, Ayesha menurut dan berjalan mengikuti Redo. Gadis itu lalu menyempatkan diri menoleh ke teman Redo itu. “Do, lo marahan sama cowok itu?” Redo memilih duduk di serambi depan dan bersikap seolah biasa-biasa saja. “Sorry, jadi pindah di sini.” “Nggak masalah,” jawab Ayesha. “Itu tadi temen lo?” “Bukan. Yang namanya temen itu bukan manfaatin doang.” “Dia manfaatin lo?” Redo mengangguk tapi tidak bercerita lebih lanjut. Dia sengaja menjauhi lingkungan pergaulannya dulu. Erwin dan teman lainnya hanya memanfaatkan uang Redo. Di saat Redo butuh untuk ditemani Erwin malah pergi begitu saja. “Silakan, Kak!” Pelayan datang membawakan pesanan Redo. Milkshake greentea, milkshake cokelat, kentang dan nasi goreng terhidang di hadapan mereka. Redo langsung menyeruput milkshake itu lalu memakan nasi gorengnya. “Lo mau nyicipin?” Ayesha menggeleng lalu menyeruput milkshke greentea-nya. Dia mengernyit karena rasanya terlalu manis dan tidak ada rasa segar dari greentea. “Kenapa?” Redo memperhatikan Ayesha yang geleng-geleng. “Mau ganti?” “Nggak perlu. Cuma kemanisan dikit.” Ayesha menyantap kentang untuk menetralkan rasa manisnya itu. “Lo suka manis?” “Suka. Karena gue manis jadi gue juga suka manis.” Redo mengerling dan Ayesha langsung menutup mulut seolah mual. “Kalau lo nggak suka manis? Rasa cup cake-nya tadi kemanisan nggak?” “Suka, tapi nggak terlalu. Rasa cupcake-nya tadi pas. Enaklah.” “Bagus. Karena lo pun udah manis,” jawab Redo sambil mengerling. Ayesha menunduk. Dia tahu Redo tadi hanya menggombal, tapi entah kenapa dia malah tersenyum. Dia langsung membuang pandang ke arah lain. Waduh pertanda nggak baik, nih!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD