[10] Meragukan

2035 Words
“Aduh!!” Ayesha menggerutu saat melihat Kak Afisha sedang di depan rumah. Gadis itu menoleh ke Redo yang duduk santai di sampingnya. “Do, nanti lo ngumpet, ya!” Redo yang setengah melamun seketika menoleh. Belum sempat dia bertanya, kepalanya ditekan oleh Ayesha. “Makasih, Do, udah nganterin gue. Gue turun duluan!” Ayesha turun dari taksi kemudian menarik kakaknya menjauh. Afisha yang sedang membersihkan mobil sontak kebingungan dengan tingkah adiknya itu. “Kak ada PR biologi dan gue nggak bisa!” Ayesha menoleh ke belakang dan melihat taksi tadi sudah pergi. Tanpa sadar dia menghela napas panjang, beruntung kakaknya tidak menyadari kehadiran Redo. “Nanti aja! Gue lagi bersihin mobil!” Afisha berbalik dan kembali membersihkan bangku bekalang yang terdapat sisa makanan. “Ya udah, Kak. Selamat bersih-bersih!!” Setelah mengucapkan itu Ayesha berbalik sambil mengusap dadanya naik turun. Untung saja kakaknya itu tidak curiga. Jika, tadi kakaknya tahu dia pulang bersama cowok habis sudah riwayatnya. Drtt!!! Ponsel di saku seragamnya bergetar. Ayesha merogoh benda itu sambil menaiki tangga. Bunglon Serem calling. Buru-buru Ayesha masuk kamar dan mengangkat panggilan itu. “Halo.” “Takut ketahuan, ya?” Lagi-lagi cowok itu bisa menebak dengan benar. Ayesha meletakkan tasnya di kursi meja belajar kemudian berbaring dengan kaki setengah menggantung. “Lo ngomong apa, sih? Siapa juga ketakutan!” elaknya. “Gue lihat tadi lo nyeret seseorang. Kakak lo ya itu?” tanya Redo. “Terus sikap lo tadi juga aneh tiba-tiba dorong kepala gue.” “Huh....” Ayesha mengembuskan napas pelan, sepertinya tidak ada gunanya menutupi semua itu dari Redo. “Iya gue takut ketahuan kakak gue. Puas lo?” “Hahaha!” Redo tertawa terbahak. “Emang keluarga lo seprotektif itu, ya?” “Ya gitu, deh,” jawab Ayesha enggan bercerita lebih lanjut. “Lo udah sampai mana, nih?” “Kok tumben tanya-tanya?” Seketika Ayesha duduk tegak lalu menggigit ujung bibirnya bingung. “Emm. Nggak usah lo tanggepinlah!” “Jaim banget, sih, lo jadi cewek!” jawab Redo. “Gue bentar lagi sampai kosan kok. Dengan selamat.” Ayesha senyum-senyum sendiri. Entahlah dia tidak sadar menjadi cewek jaim. “Lo ngekos di mana, sih?” “Mau main ke kosan gue?” “Nggak-nggak makasih!” Selanjutnya tidak ada suara apapun. Ayesha melihat ponselnya dan panggilannya masih tersambung. Dia menempelkan ponsel di telinga dan barulah mendengar suara Redo lagi. “Sha!” Ayesha terdiam, mendengar suara Redo yang terdengar lembut itu. “Apa?” “Kalau besok gue ajak jalan lagi mau nggak?” Tidak ada tanggapan dari Ayesha. Dia hanya menunduk menatap kedua kakinya yang bergerak maju mundur. Semakin ke sini dia semakin dekat dengan Redo. Entah kedekatan ini memberikan dampak positif atau justru sebaliknya ke Ayesha. “Yang tadi banyak gangguan. Gue ngajak lo keluar lagi buat nebus semuanya.” “Huh....” Ayesha menarik napas panjang kemudian menjawab. “Lo nggak perlu tebus semuanya kok. Gue tulus bantuin lo.” Hening. Sekali lagi Ayesha melihat ponselnya, memastikan masih terhubung dengan Redo atau tidak. Sambungan masih terhubung, tapi entah apa yang dilakukan cowok itu. “Gue jarang nemuin orang tulus. Makasih, Sha, udah tulus ke gue.” “Lo ngomong apa, sih!” Sebenarnya Ayesha bingung dengan perubahan nada suara Redo. Namun, dia tidak ingin terlalu ikut campur. “Ya udah lo cepet istirahat, deh. Bye, Sha.” “Bye!” Ayesha mematikan sambungan lebih dulu kemudian menutup wajah dengan tangan. Dia bingung dengan sikap Redo. Cowok itu terlalu banyak rahasia dan terkadang sikapnya berubah-ubah. “Semoga Redo bukan orang jahat yang mau ngelukain gue!!”   ***   Semenjak tinggal di indekos, Redo jarang keluar malam. Dia selalu menghabiskan malam dengan berbaring di kamar sambil bermain ponsel. Kadang, Aidan main ke kamarnya seperti sekarang. “Kalau akhir bulan gini paling males, deh!” keluh Aidan. Redo yang berbaring tengkurap seketika menoleh. “Emang kenapa?” “Lo emang nggak ngalamin?” tanya Aidan. “Masalah duit. Orangtua gue baru transfer awal bulan. Sedangkan duit gue udah habis!” Selama ini Redo tidak tahu anak kos mengalami hal itu disetiap bulannya. Dia seketika duduk tegak dan menatap Aidan yang terlihat lesu itu. “Lo butuh berapa? Gue ada duit.” Aidan terdiam dan terus menatap Redo. Selama ini hal biasa saling mengeluh kepada anak kos lainnya, tapi tidak ada yang setanggap Redo. “Beneran, nih? Nanti lo nggak kekurangan duit?” “Enggak! Butuh berapa?” Redo menggapai tas abu-abunya dan mengeluarkan dompet. “Lima ratus cukup?” “Ya ampun lebih dari cukup itu!” Aidan menerima lima lembar uang setarus ribu itu. Dia mencium uang itu lalu menatap Redo. “Awal bulan gue ganti, ya!” “Santai!” Redo kembali berbaring dan membuka Youtube. Sedangkan Aidan terus menatap Redo. Dia merasa teman barunya itu berasal dari orang kaya. “Oh, ya, lo asli mana, sih?” Redo terdiam beberapa saat. Dia sudah menebak cepat atau lambat teman kosnya akan menanyakan hal ini. “Bandung. Kalau lo?” “Banten. Kapan-kapan gue boleh, ya, main ke tempat lo!” “Hmm...” Redo menjawab tanpa semangat. “Udah malem, nih! Gue balik kamar, ya!” Aidan beranjak sambil memasukkan uang pemberian Redo ke saku celana. Setelah kepergian Aidan, Redo mengambil tasnya. Dia membuka amplop cokelat yang berisi uang itu. Percakapan dengan Aidan membuat Redo sadar, lama kelamaan uangnya akan habis. Belum lagi dia belum bisa menghilangkan kebiasaan makan makanan di kafe daripada makan di warung. Gue harus nyari kerja!   ***   Pukul 06.30, Redo sudah berdiri di depan SMA Pancasila. Dia berharap Ayesha belum datang dan bisa bertemu dengannya. Semesta sepertinya berpihak ke Redo, karena dia melihat Ayesha turun dari mobil. Sepersekian detik tatapan keduanya bertemu sebelum Ayesha membuang pandang dan berjalan sambil menunduk. Redo mengernyit mendapati perubahan sikap Ayesha. Dia lalu menoleh ke arah mobil dan melihat seorang perempuan berbaju batik memperhatikan Ayesha. Seketika dia paham, pasti Ayesha menghindarinya. Alih-alih pergi, Redo justru tetap berdiri berharap Ayesha kembali dan menemuinya. Tidak lama kemudian mobil itu melaju pergi. Redo menatap ke pintu gerbang dan melihat Ayesha berlari dari sana. Redo seketika tersenyum, tindakannya tidak sia-sia. “Lo ngapain ke sini?” tanya Ayesha. “Nemuin lo.” Ayesha tidak serta merta percaya. Jarak sekolahnya dengan sekolah Redo cukup jauh. “Lo berangkat sana!! Nanti telat.” “Telat udah jadi kebiasaan gue.” “Dan lo bangga?” Redo menggeleng. “Enggak,” jawabnya. “Nanti sore pergi, yuk!” Inilah pertanyaan yang dihindari Ayesha. Sejak semalam dia dibingungkan dengan antara memilih menjauh atau mendekat dengan Redo. “Lo ngejauhin gue?” tebak Redo tepat sasaran. “Lo, kan, udah iyain mau jadi temen gue.” “Emm...” Ayesha menggigit ujung bibirnya. Tidak mungkin dia berkata jujur tentang kegundahannya. “Lain kali aja, ya. Gue nggak enak kalau pulang malem terus.” Alasan itu cukup masuk akal bagi Redo. Selain itu dia mulai sadar terlalu mendekati Ayesha padahal gadis itu juga punya kehidupan lain. “Oke, deh. Kapan-kapan.” “Ya, kapan-kapan,” jawab Ayesha lega. Redo memperhatikan Ayesha, menyimpan wajah cantik itu ke dalam memorinya. Dia lalu mengusap puncak kepala Ayesha dengan lembut. “Gue berangkat sekolah dulu, ya!” pamitnya kemudian berlari menuju halte. Ayesha masih berdiri di posisinya, memperhatikan Redo yang duduk di bangku halte. Rasanya Ayesha terlalu jahat ke cowok itu. Tapi mau bagaimana lagi, Redo terlalu misterius bagi Ayesha.   ***   “Jadi, lo milih menjauh dari Redo?” Setelah sampai di kelas, Ayesha langsung menceritakan semuanya ke Nala. “Iya. Dia terlalu misterius. Gue bingung sendiri hadepinnya.” “Huh....” Nala membuang napas panjang. “Gue juga ngerasa gitu. Tapi apa lo nggak penasaran Redo itu siapa?” Ayesha memejamkan mata. Sebenarnya dia penasaran, bahkan sangat penasaran. Namun, dia takut jika fakta di depannya tidak bisa diterima. “Menurut lo gue harus gimana?” “Sekarang gini, deh, selama lo pergi sama Redo apa pernah dia yakitin lo?” selidik Nala. “Enggak!” Justru Redo perhatian dan bertanggung jawab ke Ayesha. Gadis itu sampai bingung mengartikannya, Redo beneran baik kepadanya karena ada sesuatu atau itu sifat asli cowok itu. “Nah. Kalau dia nggak nyakitin lo, kenapa lo takut?” tanya Nala tidak habis pikir. “Terlepas dari tatapan tajamnya maksud gue!” Ayesha manggut-manggut mengerti. “Tapi gue selalu kepikiran waktu pertama kali ketemu Redo. Dia dikejar-kejar preman, loh! Lo bisa bayangin nggak Redo terlibat masalah apa?” Sayangnya waktu itu Nala tidak menyaksikan saat Redo bersembunyi di tempat Ayesha. “Mungkin Redo ada masalah, makanya sampai dikejar. Biasalah cowok berantem, mungkin.” “Itu yang bikin gue was-was!” Ayesha mengusap wajahnya yang mulai lesu. “Sha!” panggil Nala sambil menepuk pundak Ayesha. “Nggak baik berperasangka buruk ke seseorang. Redo juga nggak pernah, kan, nyakitin lo? Temenan nggak harus pilih-pilih, kan? Asal kita bisa jaga diri.” Perlahan pikiran Ayesha terbuka. Selama ini terlalu mengikuti pikirannya sendiri jika Redo bukan cowok baik. Sampai-sampai dia lupa dengan kebaikan dan perhatian cowok itu. “Nah, udah nggak bingung lagi, kan? Sekarang lo hubungin Redo dan minta maaf ke dia,” saran Nala. Ayesha menggeleng pelan. “Nanti istirahat gue bakal telepon dia.”   ***   Istirahat pertama, Redo habiskan dengan berbaring di UKS. Dia sedang malas melakukan hal apapun. Biasanya dia akan ke kantin sekadar makan cemilan, tapi hari ini dia tidak mood makan. “Kak Redo!” Redo menoleh dan melihat Seika masuk UKS. Cowok itu melambaikan tangan lalu memperhatikan Seika yang mengambil minyak kayu putih. “Kenapa lo?” “Pusing!” Seika menghirup minyak kayu putih itu beberapa kali. “Lo mau tidur? Gue bisa pindah!” Redo beranjak dan memilih duduk di sofa panjang. Kini Seika yang berbaring miring di brankar. “Kak Redo apa kabar?” tanya Seika. Redo menghadapkan telapak tangannya ke atas. “Gini-gini aja. Lo?” “Mulai sembuh,” jawab Seika dengan senyum segaris. “Patah hatinya.” Tentu Redo tahu apa yang dialami Seika. “Lupain cowok itu. Hubungan lo sama dia udah jauh lebih erat.” “Kalau Kak Redo udah bisa ngelupain Kak Auryn?” Seketika Redo terdiam. Memikirkan Auryn membuat hatinya langsung berdenyut nyeri. “Sulit, Ka. Belum ada cewek yang kayak Auryn.” “Memang nggak ada yang kayak Kak Auryn. Pasti bakal ada cewek yang bikin Kak Redo jauh lebih bahagia.” Drtt! Belum sempat Redo menjawab kalimat Seika, ponsel di sakunya lebih dulu bergetar. Dia melihat nama Ayesha muncul, dan itu cukup membuat bibirnya tersenyum. “Kayaknya cewek itu hubungin Kak Redo,” tebak Seika. “Itu, Kak, tempatmu. Gue mau balik ke kelas aja!” “Bye, Ka!!” teriak Redo sebelum mengangkat panggilan Ayesha. “Hallo,” jawabnya. “Lo udah istirahat belum, Do?” Suara Ayesha terdengar kecil, kalah dengan suara bising di belakangnya. “Ini lagi istirahat. Kenapa?” tanya Redo penasaran. Ini pertama kalinya Ayesha meneleponnya lebih dulu. Redo pikir gadis itu akan kembali cuek. “Sorry, ya soal yang tadi.” “Maksudnya?” tanya Redo butuh kalimat lebih. Terdengar helaan napas panjang di sana. Redo menebak Ayesha kesulitan mengungkapkan semuanya. “Sha!” panggilnya saat tidak kunjung mendapat jawaban. “Selama ini gue selalu mikir lo cowok nggak baik. Waktu gue terlalu deket sama lo, gue takut lo ngapa-ngapain gue. Maaf kalau tadi gue berniat menghindari lo!!” “Huh!!” Redo mengembuskan napas lega. Dia hampir frustrasi karena akan ditinggalkan oleh teman barunya. Teman? Ya mungkin masih seperti itu. “Gue tahu kok awal pertemuan kita emang cukup buruk. Tapi gue nggak ada niat buruk ke lo.” “Iya gue percaya!!” “Kalau percaya kenapa tadi malah ngejauh?” tanya Redo. “Ihh, Redo!!!” “Hahaha!” Redo terbahak. “Gue suka lo manggil gue sambil ngerengek kayak gitu.” “Bodo!” balas Ayesha jutek. “Bercanda kok gue,” jawab Redo dengan senyum yang masih mengembang. “Gue nanti bisa keluar kok.” Suara Ayesha terdengar malu-malu. Tebersit keinginan Redo untuk mengerjai gadis itu. “Emang gue ngajak lo pergi? Itu, kan, tadi sekarang enggak!” Tut. Tut. Tut. Sambungan diputus secara sepihak, dan Redo terkekeh geli karena ulah Ayesha ini. Cowok itu kemudian mengirimkan pesan ke Ayesha. Redo: Nanti gue tunggu di gerbang sekolah. Bye Ayesha yang cantik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD