[29] Tidak Diharapkan

2093 Words

“Mama.” Redo memperhatikan wanita berkemeja putih dengan garis vertikal berwarna biru itu. Dia mengerjab, merasa ada yang salah dengan pandangannya. Namun, wajah di depannya itu tidak kunjung berubah. Dia tetap melihat sang mama. “Mama ngapain di sini?” tanya Redo sambil berjalan mendekat. Mama Redo melirik ke arah Pak Sadiman yang duduk di meja kerjanya itu. Dia lalu berdiri dan menggandeng Redo. “Pak. Saya izin bicara sama Redo sebentar, ya.” “Oh, silakan, Bu,” jawab Pak Sadiman sopan. Mama Redo menarik tangan anaknya itu keluar dari ruang BP. Dia kemudian mengajak ke arah taman dan duduk di bangku yang tersedia. “Kamu sulit mama hubungi, Do.” Redo menatap mamanya penuh kerinduan. Namun, dia sama sekali tidak mengungkapkan perasaan itu. “Kenapa mama hubungin Redo? Bukannya sibuk sa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD