“Gue nggak tahu rasa apa yang mendasari tindakan gue ini.” Tubuh Ayesha seketika kaku mendengar bisikan itu. Di pikirannya mulai menebak-nebak perasaan Redo kepadanya. Apa Redo suka gue? pikirnya. Ah, tapi nggak mungkin. Tapi nggak ada yang nggak mungkin juga, sih. Lelah berdebat dengan pikirannya sendiri, Ayesha seketika melepas pelukan lalu menatap Redo yang terlihat bingung itu. “Do. Maksud lo apa ngomong kayak gitu?” Bukannya menjawab, Redo malah mengedarkan pandang. Dia melihat sebuah bayangan di balik bilik pembatas ruang tamu dengan ruang tengah. “Gue nggak bisa ngomong di sini,” jawabnya sambil menatap Ayesha. “Kalau lo udah sembuh, kita main lagi.” “Huh!” Ayesha menghela napas panjang, padahal dia sudah terlanjur penasaran dengan jawaban Redo. Namun, gadis itu juga menyadari,

