Vanessa keluar dari kamar dan mendapati Arini yang tengah sarapan. Ia mengedar pandangan mencari keberadaan Reza, tetapi ia sama sekali tak menemukan sosok suami yang mulai dicintainya.
Arini memanggil Vanessa untuk ikut sarapan bersama, tetapi Vanessa menolak dengan alasan akan sarapan saat di butik saja. Sebelum berangkat, ia mengambil ponselnya lalu melakukan panggilan pada Reza. Sama seperti semalam, ia tidak dapat menghubunginya. Ia memutuskan untuk mengirimi Reza sebuah pesan melalui aplikasi w******p. Dan ia bersyukur karena Reza masih bersedia untuk membalas pesan darinya meskipun singkat.
Vanessa: Mas, aku boleh pergi ke butik? Aku mau memantau karyawanku.
Tak lama kemudian, Reza membalas.
Mas Reza: Terserah.
Vanessa hanya tersenyum ‘tuk menanggapi balasan pesan Reza lalu menyimpan ponselnya di tas sebelum berangkat. Ia sengaja memberi tahu Reza karena tidak ingin mendapat dosa jika pergi tanpa izin. Apalagi selangkah saja ia melangkah keluar dari pintu, haram hukumnya.
Berbeda dengan Vanessa, Reza justru telah tiba di kantor. Ia berencana memperkenalkan Shila pada seluruh karyawan sebagai sekretaris barunya. Kurang lebih sepuluh menit ia menunggu di lobi, Shila tiba dengan menggunakan taksi.
Beberapa karyawan berkomentar, tapi Reza tak acuh lalu membawa Shila menuju kubikel.
"Saya ingin memperkenalkan Shila pada kalian. Dia sekretaris baru sekaligus kekasihku," kata Reza kemudian merangkul Shila dan membuat para karyawan melongo. Ada yang bertanya dalam hati dan ada juga yang terang-terangan.
Reza tersenyum. "Saya ingin berita ini tidak terdengar oleh Ayah dan ...." Reza menggantung kalimatnya lalu menatap satu per satu karyawannya yang menunggu kelanjutan kalimatnya. "Istriku," lanjutnya yang lagi-lagi membuat mereka melongo.
Reza berjalan menuju ruangannya. Ia sengaja memberi Shila tempat khusus untuk bekerja di ruangannya karena tak ingin lagi berjauhan dengan wanita yang sangat dicintainya itu. Saat Shila sedang menatap berkas-berkas di hadapannya, ia dengan sengaja memerhatikan wajah cantik Shila. Senyuman di bibirnya menandakan jika ia sangat bahagia berada di dekat Shila, tetapi kegiatannya itu harus tertunda sejenak karena ada panggilan masuk di ponselnya.
Saat melihat nama yang tertera, Reza malas untuk mengangkatnya. Ia membiarkan panggilan itu mati sendiri, sampai kurang lebih tiga kali ponselnya berbunyi, ia baru bisa bernapas lega.
Maafkan aku, Vanessa, maaf.
Reza mengambil ponselnya dan berniat akan mematikannya, tetapi sebuah pesan mendadak masuk membatalkan niatnya. Ia membuka pesan itu lalu membalasnya. Jujur, ia merasa sangat bersalah pada Vanessa, namun ia juga tidak bisa untuk terus memaksakan hatinya mencintai Vanessa.
Bukankah cinta itu tidak bisa dipaksa? Reza juga mengaku jika mulai mencintai Vanessa, tetapi semenjak kedatangan Shila, entah perasaan cinta itu pergi ke mana. Ia sudah tidak peduli karena sekarang masalahnya adalah bagaimana cara menyingkirkan Vanessa tanpa menyakiti dan segera menjadikan Shila pendamping hidupnya.
Setelah membalas pesan, Reza mematikan ponsel agar tak ada lagi yang bisa mengganggu aktivitasnya. Ia kembali memerhatikan Shila dengan kening berkerut saat membaca salah satu laporan yang ada di berkas. Jika saja pekerjaannya tidak menumpuk, ia pasti akan terus menatap Shila, tetapi hobi barunya itu harus ditunda demi pekerjaan.
Sementara di lain tempat, Vanessa tampak melamun padahal ia tengah berbicara pada salah satu pelanggan setianya.
Vanessa terlonjak kaget saat bahunya dipegang oleh pelanggan yang tengah ia temani berbincang. "Ma ... maaf, Saya baik-baik saja."
Entah mengapa Vanessa melamun seperti tadi. Seperti ada yang mengganggu pikirannya dan mengganjal di hatinya. Ia penasaran mengapa Reza berubah. Padahal sebelumnya, mereka masih melakukan sunah rasul dengan bahagia.
Setelah pelanggan tadi pulang, Vanessa kembali ke ruangannya. "Aku merindukanmu, Mas," lirihnya sambil menatap foto yang menampilkan dirinya dan juga Reza sedang tersenyum bahagia. Ia mengelus foto itu dengan air mata yang mulai tumpah ruah dari pelupuk matanya. Ingatannya menerawang saat dijemput oleh Reza untuk makan siang. Ia menegakkan tubuhnya lalu berpikir untuk mengajak Reza makan siang seperti yang dilakukannya saat itu untuk mempererat hubungan mereka.
Ya, Vanessa akan melakukan hal yang sama. Ia juga akan menanyakan perubahan sikapnya. Dengan senyum yang mengembang, ia mengambil tas lalu berlari keluar. Karena jarak kantor mereka tak terlalu jauh, ia bisa tiba dengan cepat.
Begitu menginjakkan kaki di lobi, banyak yang menatap Vanessa. Ia hanya menanggapi dengan senyuman karena tak mengerti apa arti dari tatapan mereka terhadapnya.
"Mas Reza ada di ruangannya, ‘kan?" tanya Vanessa pada karyawati yang berada di meja lobi.
"A ... ada, Bu. Saya beri tahu beliau dulu kalau Anda ada di sini."
"Tidak perlu. Saya mau memberinya kejutan, jadi tidak perlu memberi tahunya," kata Vanessa lalu beranjak dari sana menuju ruang kerja Reza.
Dengan langkah gontai, Vanessa sudah ada di luar ruangan kerja Reza. Indra pendengarannya menangkap suara tawa perempuan dari dalam, tapi ia memilih acuh. Ia membuka pintu dan mendapati Reza yang bercanda dengan seorang wanita. Ia terkejut, tetapi berusaha sabar dan tidak berpikiran buruk pada suaminya.
"Ma ... Mas Reza?" Reza maupun Shila sama-sama terlonjak. Shila mengatur jarak dengan Reza agar Vanessa tidak curiga.
"Ada apa?" tanya Reza dingin, berbeda saat Vanessa baru menginjakkan kaki di ruangan itu.
"Aku mau mengajakmu makan siang."
Reza tak langsung menjawab, ia melirik Shila yang mengangguk agar ia pergi bersama Vanessa.
"Ya sudah, tapi dia harus ikut karena banyak pekerjaan yang harus kami bahas." Vanessa hanya mengangguk mengiakan permintaan Reza. "Dia Shila, sekretaris baruku. Cantik, ‘kan?"
Vanessa mengangguk lalu tersenyum. Jujur saja, mendengar dan melihat Reza memuji wanita lain di hadapannya membuat hatinya sakit.
"Ayo, berangkat," seru Reza dan membiarkan Vanessa berjalan lebih dulu.
Ya Allah, aku tahu kalau aku salah. Aku telah membuat wanita itu menderita, tapi aku juga tidak mau kehilangan Reza lagi. Maafkan aku, Mbak.
Vanessa semakin merasa sesak saat melihat bayangan dua orang yang tengah berpegangan tangan di keramik. Ia memilih bungkam dan terus berjalan agar segera tiba di parkiran.
"Kamu mau apa?" tanya Reza saat Vanessa ingin membuka pintu.
"Aku mau masuk, Mas.”
"Kamu duduk di belakang saja dan biarkan Shila di depan,” balas Reza.
Bagaimana bisa Shila tega membiarkan istri pacarnya duduk di belakang sementara ia di depan? "Tidak usah, Pak. Biar Saya yang di belakang.”
Saat tiba di restoran, mereka makan dalam diam. Namun, Reza terus menatap Shila. Begitu makanannya habis, ia segera minum dan menatap Vanessa. "Kamu tidak mau pulang, Ness?”
“Aku ....”
“Kamu pulang saja karena aku harus menyelesaikan pekerjaan."
Vanessa yang tadinya masih mengunyah suapan terakhirnya langsung bergeming dan tanpa mengucapkan apa pun, ia berdiri, dan pergi tanpa berpamitan. Bukankah secara tidak langsung Reza mengusir? Tumpah sudah air matanya yang sedari tadi ia tahan. Ia menangis sambil berlari hingga tak melihat jika ada seseorang. Alhasil mereka bertabrakan. Sebuah tangan terulur untuk membantunya berdiri, tetapi ia menolaknya. Baru saja hendak meminta maaf dan terima kasih, lidahnya justru kelu saat melihat yang ia tabrak.
"Ka ... kamu?" kata mereka berdua bersamaan sambil saling menunjuk.
Reza yang melihat Vanessa berbicara pada pria lain merasa sedikit panas, tetapi ia memilih buang muka dan kembali fokus pada Shila.