7

1005 Words
“Za, ada yang mencarimu di depan.” Reza mengalihkan pandangannya sejenak dari laptop dan menatap Derian yang melangkah masuk ke dalam ruangannya lalu duduk di meja sambil bersedekap d**a. “Siapa?” “Shila.” Ucapan Derian sukses membuat Reza tak fokus. Ia menutup laptopnya lalu beralih menatap Derian dengan lekat. Shila Anastasya, wanita yang pernah mengisi hati Reza. Bahkan hingga sekarang masih terisi oleh Shila. Reza meninggalkan Derian yang mengumpat karena melihat atasannya yang bodoh. Bukannya belajar mencintai sang istri, ia justru ingin kembali mengulang kisah yang pernah terjadi. Entah apa yang merasuki Reza hingga saat mendengar nama wanita itu, ia jadi bersemangat. Begitu tiba di ruang tunggu, ia mengerjap beberapa kali karena tidak percaya jika akan bertemu lagi dengan Shila. Ia menghela napas untuk mengurangi rasa gugupnya. “Hai!” Shila mendongak lalu tersenyum saat melihat Reza sedang menyunggingkan senyum. “Akhirnya kita bertemu lagi.” Shila bangkit. “Sebenarnya aku mencari kerja di sini,” lanjutnya.” “Kebetulan aku butuh sekretaris perempuan. Kamu bisa bekerja di sini.” Derian yang baru tiba di sana langsung berdeham. Ia sempat menggaruk batang hidungnya saat terjadi kecanggungan melanda mereka. “Aku tidak bermaksud mengganggu kalian, hanya saja kamu harus berhati-hati, Za, karena tak ada yang bisa menjamin kalau istrimu tidak akan tahu hal ini.” Shila berpikir bisa memperbaiki hubungannya dengan Reza, tetapi saat mendengar perkataan Derian, ia justru menjadi tidak bersemangat berada di kantor sang mantan kekasih. Ia menatap Reza untuk meminta penjelasan yang rinci. Daripada membuat suasana semakin panas, Derian memilih untuk kembali ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda karena harus memberi tahu Reza tentang kehadiran Shila. “Ka ... kamu sudah menikah?” Reza mengangguk mengiakan pertanyaan Shila. Memang benar jika ia sudah menikah, tapi jika boleh jujur, hati dan pikirannya masih tertuju untuk Shila seorang. Munafik jika ia bilang telah mencintai Vanessa karena pada kenyataannya, ia sama sekali tidak bisa melakukan itu. Walaupun kemarin malam Vanessa telah menyerahkan mahkota yang sangat berharga untuknya, ia sama sekali belum bisa menerima wanita itu. Apalagi hari ini Shila kembali datang dalam kehidupannya. “Aku memang sudah menikah, tapi hatiku masih utuh untukmu.” Shila menggelengkan kepala karena tidak percaya dengan apa yang telah ia dengar dari Reza. Sungguh. Ia takkan ingin kembali dalam hidup Reza jika tahu mantannya itu telah menikah. Ia tak ingin menjadi orang ketiga. Rumah tangganya hancur karena kehadiran orang ketiga dan ia tak ingin istri Reza merasakan hal yang sama karena dirinya. “Kamu tidak boleh melakukan itu. Kamu harus melupakanku dan belajar mencintai istrimu.” Reza menggeleng. “Hanya kamu yang aku cinta, bukan Vanessa. Kita bisa memulai semuanya dari awal dan kalau perlu, aku akan menceraikannya agar kita bisa bersama lagi.” “Rumah tanggaku hancur karena orang ketiga, aku tidak ingin istrimu merasakan apa yang kurasakan. Kalau aku menyetujui permintaanmu, aku maupun orang ketiga itu tidak ada bedanya.” Karena Shila terisak, Reza memijit pelipisnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan sang mantan kekasih. Akan ada masalah besar jika ia memeluk untuk menenangkannya. “Aku mohon, jangan tinggalkan aku lagi.” Jujur, Shila berat untuk menerima permintaan Reza, tetapi ia tidak bisa berbuat apa pun karena ia juga masih mencintainya. Jika tidak dijodohkan, mungkin ia bisa bersanding dengan Reza. “Ya sudah, aku akan ikuti permintaanmu,” balas Shila dengan satu tarikan napas. Setelah itu, Shila pulang dan Reza kembali ke ruangannya dengan perasaan yang sangat senang. Kali ini ia lebih bersemangat dari biasanya. Foto saat dirinya bersama Shila terdahulu kembali ia pajang di samping foto pernikahannya bersama Vanessa. Maafkan aku, Vanessa. Hati kecil Reza merasa sangat egois karena tidak memikirkan perasaan Vanessa jika tahu ia bermain liar dengan Shila. Namun, ia tidak ingin pusing memikirkan itu, ia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena menyambut kehadiran wanita yang ia cintai selain Arini, wanita yang melahirkannya di dunia hingga ia bisa bertemu dengan Shila. Pintu ruang kerja Reza terbuka dan terlihat Derian yang menyembulkan kepalanya di pintu. “Tidak pulang, Za? Vanessa pasti menunggumu di rumah. Pulanglah.” “Aku tidak semangat berada di rumah, lebih baik aku menyelesaikan semua pekerjaanku agar besok bisa menghabiskan waktu dengan Shila.” Di lain tempat, Vanessa tengah cemas hati memikirkan sang suami yang belum juga pulang. Padahal ia sudah menunggu sedari tadi. Tak biasanya Reza belum pulang seperti sekarang ini. Biasanya saat matahari masih bersinar, Reza sudah pulang. Ia berjalan menuju kamar untuk mengambil ponsel lalu menelepon Reza. Bukannya mendapat jawaban, ia justru dibuat semakin gelisah sebab teleponnya sama sekali tak direspons. “Astagfirullah, kamu di mana, Mas?” Sambil terus merapalkan doa dalam hati, Vanessa kembali menghubungi Reza dan akhirnya diangkat. Saat hendak mengucap salam, Reza telah terlebih dahulu berbicara dari seberang telepon. “Kenapa?” Suara berat Reza menyapa indra pendengarannya membuat Vanessa tersenyum. “Kamu di mana, Mas? Kenapa belum pulang? Aku khawatir, dari tadi aku menunggumu, tapi kamu tidak pulang-pulang juga.” Terdengar suara lenguhan napas. “Kamu tidak usah menungguku! Tidurlah, Ness, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.” Vanessa menggeleng. Ia tidak mungkin tidur sebelum Reza pulang, karena bagaimanapun juga, ia tetaplah seorang istri yang memiliki rasa khawatir pada suami yang belum pulang. “Aku akan menunggumu.” “Kamu tidak mendengar ucapanku? Tidak perlu menungguku pulang!” Vanessa terkejut saat dibentak Reza. Bukankah ia juga salah? Reza sudah memberi tahu agar tidak usah menunggu, tapi karena ia keras hati, makanya Reza seperti itu. Ia mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia menghela napas lalu membawa tubuhnya menuju ruang keluarga. Mungkin dengan menonton televisi ia bisa merasa sedikit lebih baik. Saat asyik menonton, pintu utama mansion terbuka dan menampakkan Reza dengan setelan kemejanya yang sudah lusuh. Vanessa bangkit dan menghampiri Reza. “Mandi dulu, Mas. Aku akan memanaskan makan malammu.” “Tidak perlu. Aku mau istirahat, kalau kamu mau, kamu saja yang makan,” kata Reza sebelum berlalu meninggalkan Vanessa yang masih dengan keterkejutannya. Vanessa merasa bingung dengan sikap Reza yang mendadak berubah. Padahal baru kemarin mereka merasa dunia seperti milik berdua, tetapi sekarang suaminya itu menjadi sosok yang dingin.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD