tertawa. Andai saja yang diajak bermain adalah anak kandungnya, ia pasti akan sangat senang karena tidak ada yang menandingi kebahagiaan dari sepasang suami-istri jika telah memiliki buah hati dari hubungannya sendiri.
“Kamu lucu sekali, Nak,” kata Reza seraya mencium pipi Diza dengan gemas.
Pintu kamar terbuka dan menampakkan Vanessa yang tersenyum. Ia begitu senang saat melihat Reza yang menyayangi Diza. Mereka berdua sudah terlihat seperti seorang anak yang bermain bersama ayahnya. Dengan perlahan, ia mengayunkan kaki masuk ke dalam kamar untuk menghampiri Reza dan juga Diza.
Baru saja duduk, Reza langsung menatap intens Vanessa. Entah mengapa ia selalu terbuai oleh iris mata itu. Seperti ada ketenangan di dalam sana. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain saat Vanessa menunduk.
“Ayo, kita makan.”
“Aku tidak mau makan, Vanessa Sayang. Aku mau di sini. Aku khawatir padanya, bagaimana kalau ada setan yang menculiknya?" kata Reza yang mengundang tawa Vanessa.
Setan? Yang benar saja, Vanessa bahkan tak percaya dengan makhluk itu meski memang ada. Karena yang ia tahu, kedudukan manusia jauh lebih mulia dibanding setan di mata Allah. Ia mengusap sudut matanya yang mengeluarkan sedikit air mata karena terlalu bersemangat tertawa.
“Lebih baik kamu makan sekarang. Jangan menolak! Karena sama saja kalau kamu sedang menolak rezeki.”
“Tapi ....” Ucapan Reza terpotong bersamaan dengan terdengarnya suara kentut yang lumayan besar hingga menggema di kamar mereka. Reza dan Vanessa saling menatap dan langsung tertawa terbahak-bahak. Mungkin Diza geram karena mereka terus saja berdebat.
Tawa mereka mereda karena mendengar tangisan Diza. Reza maupun Vanessa sama-sama panik karena tidak tahu apa yang menyebabkan Diza menangis histeris seperti itu. Reza terburu-buru bangkit dari duduknya lalu mengambil boneka untuk menghibur. Namun, tetap saja, tangisan bayi itu tidak mereda. Mereka berdua belum berpengalaman dalam mengurus bayi. Tanpa ingin menunggu lebih lama, Reza pergi untuk memanggil Inayah.
Vanessa berusaha untuk menenangkan Diza dengan cara menggendong sambil menggerakkan tubuhnya ke kanan dan juga ke kiri, tetapi sama sekali tidak mempan. Inayah berjalan mendekati Vanessa dan Diza setelah Reza meminta tolong padanya untuk membantu menghentikan tangisan bayi milik Seyza dan Dimas.
“Bayinya tidak merasa nyaman. Lihatlah ... celananya penuh dengan kotoran.” Reza maupun Vanessa menggaruk tengkuk.
Baiklah, ini akan jadi pengalaman berharga. Setelah itu, Vanessa mulai membersihkan kotoran yang menempel pada Diza dengan telaten. Selama ia membersihkan sisa kotoran Diza, Reza terus saja memerhatikan sambil bersedekap d**a. Bersamaan dengan ia yang selesai mengganti celana Diza, bayi itu sudah tertidur pulas.
“Ness, bagaimana kalau kita membuat teman untuk Diza?” tanya Reza.
“Teman?”
Reza mengangguk. “Kalau kamu mau, kita bisa membuatnya sekarang.”
“Maaf, aku belum siap untuk itu." Vanessa menghela napas. “Kalau kamu tidak mau makan, ya sudah, biar aku saja yang menghabisi semuanya,” lanjutnya sebelum keluar dari kamar.
Reza tak tinggal diam di dalam kamar, ia memilih untuk menghampiri Vanessa. “Kita makan sepiring berdua, ya? Aku ingin disuap denganmu,” kata Reza saat tiba di meja makan. Secara spontan, Vanessa mencubit lengan Reza hingga membuat ia mengaduh kesakitan saat cubitan kecil mendarat di kulitnya. Di saat itu juga, Vanessa mengelus bagian tangannya yang terkena cubitan. Sebenarnya tak sakit, tetapi ia ingin Vanessa memerhatikannya, sehingga ia rela untuk berpura-pura merasa sakit.
“Kamu tega padaku, Ness. Daripada kamu mencubitku, lebih baik kamu menciumku. Aku lebih senang, apalagi kalau mengajakku membuat teman untuk Diza.”
Setelah merasa kenyang, Reza kembali ke kamar untuk menemui Diza. Ia duduk di tempat tidur lalu mengusapkan jari telunjuknya di dahi Diza. Rasanya, ia ingin memiliki anak. Namun, sepertinya keinginan itu harus dikubur dalam-dalam karena Vanessa tidak mungkin mengizinkan.
Saat Reza asyik memandangi wajah Diza, Vanessa datang sambil memandangi Reza dan Diza secara bergantian.
“Mas?”
“Ada apa, Sayang? Kamu sudah tidak tahan, ya?” Reza bangun dari duduknya lalu menggendong tubuh mungil Diza untuk dipindahkan ke dalam boks.
“Kenapa Diza dipindahkan?”
“Tidak apa. Oh iya, Ness, aku ingin meminta izin.”
Vanessa mengernyit. "Meminta izin untuk?"
Reza duduk di tempat tidur lalu menatap Vanessa dengan saksama. “Jangan membuatku menunggu lebih lama lagi. Aku memang pria yang berengsek karena meminta ini padamu, tapi biarkan aku jadi berengsek, setidaknya hanya bersamamu. Aku berengsek bukan untuk menyakitimu, melainkan membuatmu merasa dimiliki.”
Vanessa pasrah dengan semuanya. Lagi pula ia harus menjalankan kewajibannya sebagai istri. Ia menghela napas panjang lalu mengangguk. Reza tak langsung memulai kegiatan itu, melainkan ia mengajak Vanessa untuk menunaikan ibadah salat sunah terlebih dahulu karena mengikuti syariat Islam yang telah dipelajari dari dulu. Seusai salat, ia merapalkan niat sebelum melakukan itu dalam hati. Dengan membaca niat, ia meminta pada Allah untuk dijauhkan dari setan yang dapat merusak hubungannya dan juga Vanessa.