Di rumah Rei saat ini ada kuki, Iva dan Vhi sementara itu Jeno tengah tertidur di atas pangkuan Vhi yang kini mengusap-usap kepala anak itu dengan lembut. Sejak tadi Iva menceritakan kegelisahannya tentang Rei yang meminjam uang untuk kebutuhan Satya. Bukan hanya sekali tapi ini sudah berulang kali dan itu buat Iva kesal sendiri
"Ya jadi kamu coba bilang ke kakak kamu deh Vhi. Aku ngerasa si Satya itu cuma manfaatin aja." Iva menjelaskan kegelisahannya.
"Ya kan memang udah jelas kalau si curut itu memang manfaatin aja. Si Rei aja yang buta karena udah terlanjur cinta," kesal Vhi.
"Cowoknya ganteng banget mungkin," timpal Kuki.
"Idih," seru Iva dan Vhi bersamaan.
"Boro-boro ganteng, maaf ya, gue enggak ngatain fisik atau gimana. Tunggu gue kasih lihat ..," ujar Iva kemudian berjalan ke kamar Rei.
Kuki melirik ke arah Vhi yang terlihat begitu perhatian pada Jeno. terlihat kalau Vhi benar-benar menyayangi anak itu. Tak lama Iva berjalan ke luar dari kamar membawakan foto Rei dan Satya lalu memberikan pada Kuki. terlihat foto Rei bersama Satya pria berambut klimis, berkulit sawo matang, bertubuh kurus bahkan tubuhnya sedikit lebih pendek daripada Rei. Kuki memerhatikan Rei yang meski bertubuh gemuk ia memiliki wajah yang cantik.
"Lihat tuh mukanya, kata Iva kaya cilok hidup." Vhi mengatakan mengingat apa yang katakan kekasihnya itu.
Ya, Iva dan Vhi menjalin hubungan beberapa bulan ini setelah mereka sering bertemu di rumah Rei dan itu membuat keduanya semakin dekat dan akrab. kemudian Vhi menyatakan perasaannya. tentu saja Vhi tertarik karena iva adalah seorang wanita mandiri terlebih lagi Iva begitu penyayang pada anak semata wayangnya Jeno. Vhi selalu berpikir kalau ia ingin mempunya kekasih yang penyayang, Vhi juga ingin mempunyai banyak anak.
Nasib Vhi tak lebih baik daripada Rei kedua orang tuanya meninggal beberapa tahun yang lalu saat ia masih berada di sekolah menengah atas. Awalnya sang ayah meninggal karena sakit, empat bulan kemudian sang ibu yang juga meninggal karena sakit yang ia alami setelah sang suami meninggal dunia.
"Dia kerja di Mahipuna Ekspedisi?" tanya Kuki melihat seragam yang dikenakan Satya.
Mendengar pertanyaan itu membuat Vhi mengambil foto yang dipegang Iva, kemudian melirik pada sahabatnya itu.
"Iya, tadinya dia itu kurir. Motornya hilang , terus Rei yang bantu buat kredit motor eh makin nggak tau diri minta dibayarin bulanan juga. Sekarang udah naik jabatannya jadi kepala cabang apa gitu." Iva menjawab.
"Cabang mana?" tanya Kuki lagi.
"Cabang sini Kuk, kecamatan yang jalan hukum itu. Lupa gue. Tunggu ya gue balikin foto ini dulu.' Iva kembali ke dalam kamar untuk meletakkan kembali foto yang ia ambil.
Saat itu dari luar terdengar suara vespa lalu pagar dibuka Kuki menoleh dari jendela terlihat Rei berjalan masuk ke dalam rumah gadis itu mengenakan kemeja pink fanta, dengan terusan celana Jeans, rambut panjangnya ia biarkan tergerai sengaja ia mengenakan bando mutiara kekinian.
"Ah sama Jimmy," ujar vhi.
"Pacarnya itu?" Kuki bertanya.
Vhi gelengkan kepala. "Bukan dia itu temen dari kecil namanya Jimmy."
Iva telah kembali kemudian duduk di samping Vhi. wanita itu melirik pada jendela melihat Rei yang tengah berjalan masuk.
"Halo aku pulang," sapa Rei.
Rei sedikit terkejut karena melihat Kuki dan Vhi yang kini berada di rumahnya. Ia lalu berjalan mendekat ia bersalaman dengan Kuki,.
"Ah lo yang kemarin itu kan?" tanya gadis itu.
"Iya, lo yang pakai baju wewe gomel itu kan?"
Rei melirik saja tanpa senyum, kemudian duduk diantara Iva dan Kuki. Kuki bisa melihat wah Rei dari dekat menurutnya sebagai perempuan gemuk Rei cantik. Apalagi aroma white musk yang lembut menjadi salah satu hal yang membuat ia semakin memikat. Vhi melihat saat sahabatnya memerhatikan Rei. Si pemilik senyum kotak itu menyenggol kaki Kuki dengan ujung kakinya. Kuki tersadar kemudian mengalihkan pandangan.
"Nenek enggak marah Lo kesini?" Tanya Rei.
"Enggak lah, gue kan ada tameng," jawab Vhi sambil melirik Kuki.
Gadis itu mengangguk. "Eh, ini ada roti." Rei meletakan roti yang ia bawa kemudian meletakkan ke tengah. Ia menoleh pada Kuki kemudian menawarkan. "Mau?" tawar Rei.
Bibirnya tipis Rei mengerucut dengan lucu saat ia mengatakan mau. Kulit putihnya menyebabkan pipinya menyurat kemerahan dan buat rona yang membuat pipi gembil Rei layaknya apel merah yang membuat Kuki gemas dan ingin menggigitnya.
"Engak doyan dia yang manis." Vhi menyahut kemudian pria itu membantu Iva untuk memindahkan Jeno dan menidurkan ke kamar.
Iva dan Vhi berjalan ke dalam kamar untuk menidurkan Jeno meninggalkan Rei bersama kuki di ruang tengah
Rei mencari di dalam kantong. Apa ada roti yang ia bawa dengan rasa tak manis. Gadis itu menemukan roti isi daging dan memberikan pada Kuki. "Ini mau?" Tawar Rei seraya menunjukkan roti pada Kuki.
Kuki tersenyum gemas setiap Rei mengatakan mau ia benar-benar menggemaskan. "Mau," jawab Kuki sambil mengambil roti itu dari tangan Rei.
"Kenapa ketawa?" Tanya Rei kembali memasang wajah judesnya.
"hmm, enggak apa-apa cuma lucu aja kamu mau repot-repot cariin roti buat kau."
Rei mengangguk saja, kemudian menatap ponselnya. Sementara Kuki mulai menyantap roti miliknya sambil sesekali melirik Rei.
"Rei, kamu kata Vhi kerja di rumah hantu?"
"Iya, di Edelweis kapan-kapan datang kalau kamu libur. Aku di sana selasa sampai kamis," jawan Rei. Ia meletakkan ponsel miliknya saat kuki mengajaknya mengobrol.
"Hari lain libur?"
"Nggak, senin selasa aku ada jadwal untuk belajar, biasanya aku ikut workshop gratis atau ke perpustakaan nasional, atau jadi penyusup di kampusnya adiknya Jimmy. Jumat sampai minggu aku di toko kue."
Kuki mengangguk ia mengerti kini dan apa yang dikatakan Vhi benar kalau Rei benar-benar berusaha keras untuk hidupnya.
"Hebat full day ya. terus jalan-jalan kapan?" tanta Kuki.
"Kenapa harus jalan-jalan kalau tidur itu refreshing terbaik?" tanya Rei yang sukses buat Kuki terkekeh mendengar jawaban yang ia terima.
Rei menikmati roti miliknya, Kuki memperhatikan ada bulu mata Rei yang terjatuh,
"Rei, maaf," ujar Kuki.
Rei menoleh, lalu tangan Kuki bergerak untuk mengambil bulu mata Rei yang terjatuh. Ia menunjukan bulu mata yang ia ambil dari pipi Rei. Rei mengambil bulu matanya dan meletakkan di rambut Kuki.
"Sorry, Katanya kalau ada bulu mata yang jatuh harus di taruh di rambut yang ambil supaya enggak kangen. Hehehe, enggak kok katanya biar enggak sial," ujar Rei kemudian tersenyum.
"Kalau aku malah jadi kangen karena kamu taruh bulu mata kamu di rambut aku gimana?" tanya Kuki.
Rei menatap, lalu terdiam sebentar dan berpikir. "Ah, itu tandanya kamu kena sial."
Kuki mendesis lalu terkekeh karena mendengar jawaban gadis di hadapannya itu.
Sementara di dalam kamar Iva dan Vhi tak segera keluar dari dalam kamar. Mereka sibuk mengobrol, Iva benar-benar meminta Vhi untuk menasehati kakak tirinya itu.
"Kamu harus tegas ke Rei. Kesian kalau dia terus-terusan dimanfaatin doang sama Satya."
Vhi mengangguk, "Aku bilang nanti."
"Uang dia habis buat Satya doang. Bahkan rei itu sering beliin snack buat pacarnya itu enggak kelaparan. Padahal dia suka mikir buat jajan sendiri." jelas Iva lagi.
"Kamu kan tau dia itu udah kebangetan bucinnya sama si cilok hidup itu," kesal Vhi yang sebenarnya sudah jengah juga menasehati sang kakak.
"BTW, temen kamu lihatin Rei terus, jodohin mau enggak dia kira-kira?" tanya Iva antusias menjadi mak comblang.
"Aku cari tau dulu dia masih punya pacar atau enggak."
"Kuki suka gonta-ganti pacar?" tanya Iva mengintrogasikan.
Vhi mengangguk. "Bukan karena apa-apa ceweknya enggak betah karena dia protektif dan kaku katanya."
"Bukan karena playboy kan?" tanya Iva lagi.
"playboy? mana ada temen aku playboy. Deket sama cewek aja susah." Vji menjawab memberitahu bahwa ia memiliki jajaran teman setia yang tak diragukan lagi secara kualitas wajah dan juga kesetiaannya.