Se-La 24
Erin baru saja menginjakan kakinya di koridor sekolah, suasana masih sama seperti biasanya ramai dan riuh melebihi pasar swalayan yang banyak sekali tahap tawar menawar. Tak memperdulikan mereka, Erin melangkah seperti biasa, berjalan santai dengan memasang senyum seperti biasa, hanya saja Erin tak begitu menyadari dengan keadaan sekitar, terlebih pada tatapan murid perempuan yang menatap remeh dan aneh kearahnya, walau hanya sebagian namun tetap saja tatapan mereka seolah menelanjangi Erin dengan makian kecil.
Erin yang tak pernah mau ambil repot jelas tak peduli dengan segala tatapan mereka, yang Erin lakukan hanyalah membalas senyum dari para adik kelas yang menyapanya. Membalas keramahan seseorang itu wajib, dan mengabaikan tatapan mencemooh itu juga harus.
"Sa!"
Menghentikan langkahnya Erin menatap Mili dengan sebelah alis terangkat. Apalagi saat Mili terlihat setengah berlari kearahnya.
Dengan nafas terengah dan tangan bertumpu pada lutut, Mili mengatur nafasnya. "Lo haru tau ini." ujarnya mendongak menatap Erin. "Ikut gue." setelahnya Mili langsung menyambar tangan Erin dan menyeretnya tanpa permisi menuju koridor utama. Tempat di mana mading harian berada.
"Itu lo?" tanya Mili menunjuk Foto yang ada di mading saat mereka baru saja sampai tepat di depan mading.
Mengikuti arah telunjuk Mili, Erin sedikit terkejut dan agak bingung saat menemukan foto Dirinya yang di pajang disana. Foto yang memperlihatkan ia dengan seorang cowok yang bisa Erin tebak adalah Upal, karena dari pakaian dan tempat yang ada di foto itu jelas kemarin sore saat ia kencan dengan Upal di taman dekat komplek kontrakannya.
"Itu kak Upal kan?" Bisik Mili pelan tepat di dekat telinga Erin, takut jika sampai ucapannya terdengar oleh orang lain dan membuat kehebohan di seluruh sekolah.
"Kalo di liat dari foto itu, kayaknya lo emang ada apa-apa sama kak Upal deh. Dan dugaan gue selama ini bener. Lo ada hubungan kan sama Dia?" ucap Mili dengan praduga di kepalanya, Mili masih begitu penasaran dengan hubungan Erin dan Upal di balik semua tingkah mereka baru-baru ini. Walau nyatanya Erin pernah membenarkan asumsi dirinya tentang hubungan keduanya, namun Mili masih begitu menggebu sebelum Erin sendiri yang mengakui jika dirinya memang ada hubungan dengan kak Upal.
Sekali lagi Erin tak menjawab. Tatapannya masih terfokus pada foto ukuran lima R yang di ambil secara diam-diam. Bukan masalah jika fotonya di pajang di mading, hanya saja siapa yang begitu peduli dengan hubungan mereka berdua.
Hubungan yang selama ini ia sembunyikan begitu rapat, dan anehnya lagi untuk apa? Apa di antara hubungan mereka ada pihak yang di rugikan?
Sepertinya tidak, hubungan mereka jelas sudah terjalin cukup lama, dan selama itu pula tak pernah ada yang namanya gangguan atau segala hal yang menyangkut dengan keduanya.
Lalu untuk apa mereka dengan repot menyebar foto kedekatannya dan Upal di sana?
Seperti biasa, Erin yang tak mau ambil pusing jelas membiarkan foto itu begitu saja. Untuk apa marah atau malah bersikap bar-bar hanya untuk membuka kaca Mading dan merobek foto itu yang mana jelas akan membenarkan tuduhan mereka tentang keberadaan dirinya di sana.
Erin berlalu meninggalkan Mili yang terperangah melihat raut biasa saja dari sahabatnya. Tak lama kemudian ia mengejar Erin, mengekorinya dari belakang. "Lo nggak terganggu gitu dengan foto Lo yang di pajang di mading?" tanya Mili penasaran yang hanya di balas oleh diamnya Erin. "Sa, Erin Lo nggak sadar. Itu foto Lo, foto Lo dengan cowok yang keliatan jelas kalo dia kak Upal!" sentak Mili agak gemas melihat reaksi Erin yang seolah tak peduli. Entah bagaimana nasibnya setelah ini. Yang pasti Erin akan menjadi buah bibir dari dua sekolah yang memiliki satu lapangan. "Erin! Lo nggak takut kalo semisal Lo di labrak atau malah di gosipin yang nggak-nggak tentang hubungan kalian?"
Erin berhenti, memutar tubuhnya hingga menghadap sang sahabat. Di tatapnya lekat sepasang mata Mili dengan tatapan serius, diperlakukan seperti itu jelas Mili bungkam seribu bahasa, tak bisa berkutik apalagi membantah. Yang Mili lakukan hanya menunggu, menunggu sebuah kalimat pedas atau petuah keluar dari mulut Erin yang mana sama sekali tak menunjukan gelagat unjuk suara setelah persekian detik Mili menunggu. Yang Erin lakukan malah berbalik dan meninggalkannya, lagi.
***
"Lo udah denger cerita anak-anak?" Upal yang baru saja duduk di kursinya langsung mendongak dengan sebelah alis terangkat menatap Adi yang saat ini duduk di mejanya. "Kalo gua liat dari ekspresi Lo kayaknya belom tau." lanjut Adi menatap temannya Dave dengan dagu terangkat seolah memberikan perintah lewat pergerakannya.
Dave yang tengah sibuk dengan ponselnya langsung beranjak, "Lo kayaknya musti ke Mading anak SMA deh. Di sana lagi heboh karena foto cewek paling populer yang katanya nggak pernah Deket sama cowok nyatanya bisa ketahuan bermesraan dengan cowok." ada jeda saat Dave memilih duduk di kursi yang tengah di duduki oleh Upal. Kursi kecil yang harusnya menampung sebuah p****t saja kini sesak dengan tambahan p****t Dave sialan.
"Dan Lo tau siapa foto cowok itu?" tanya Dave yang di balas Dengan kerutan dahi dan juga terangkatnya sebelah alis Upal.
"Prediksi kita si, foto itu mirip banget sama Lo. Dan semua orang mikir itu emang elo." Adi menimpali ucapan Dave dengan santai. "Tapi biar lebih yakin lagi, mending Lo liat langsung deh."
Mendengar itu, Upal tanpa banyak bicara lagi langsung beranjak, namun belum juga ia melangkah, pundaknya sudah di tepuk oleh Adi dengan sanai. "Nggak perlu kesana, yang ada bukannya aman malah runyam. Tau sendiri kan gimana mulut cewek kalo liat kabar seger ginian?"
"Terus?" Tanya Upal malas dengan kemauan kedua sahabatnya ini.
"Sants lah, kita juga tau kalo Lo bakal penasaran, jadi kita inisiatif buat foto itu Mading" ucap Adi memberi isyarat pada Dave yang kemudian Dave memberikan ponselnya pada Upal, "kita nggak mau kabar ini makin jelas kebukri nyata dengan lo kesana" lanjut Dave kemudian.
Upal menerima ponsel Dave yang menunjukan fotonya sepasang anak manusia yang jelas itu dirinya dan Erin yang di ambil kemaren sore di taman komplek, Upal terdiam sejenak, memikirkan siapa kemungkinan orang yang dengan sengaja mengambil foto itu?
Senyum kecil tercetak di bibirnya, masa bodo sama foto itu, bagaimanapun juga sepertinya Upal harus berterimakasih pada pelaku utama, tak usah ambil pusing, cukup ambil positifnya aja, dengan adanya foto itu jelas menguntungkan bagi Upal karena mulai sekarang mereka para kaum hawa yang terus saja mengikuti Upal dan memanggil namanya akan berhenti begitu mengetahui Upal sudah memiliki pasangan, dan itu adalah cewek popular di gedung sebelah.
"Woy, malah senyum-senyum ini anak, bukannya mikir."
Upal mendongak menatap Dave yang seolah tak percaya dengan ekspresi Upal.
"Kenapa?"
"Aelah, pake tanya kenapa pula" ucap Dave tak percaya, "gue nggak tau apa hubungan lo sama si Erin yang notabennya kita semua para anak cowo tau kalo dia cewek populer di gedung sebelah, tapi apa Lo nggak mikir gimana kalo Lo di posisi Erin?"
Upal mengerut kening tak mengerti apa maksud Dave "Maksud Lo?"
"Aelah, di. Kawan Lo b***t apa emang beneran konslet karena banyakan makan komponen sih!" Ucap Dave tak percaya melihat reaksi yang di tunjukan Upal.
"Maksud Dave di sini itu gimana kemungkinan Erin setelah foto itu beredar dan kalo foto itu jelas nyata. Maksudnya, kalo emang bener hubungan Lo dan Erin beneran ada. Apa Lo nggak takut kalo Sampek Erin di teror atau parahnya di labrak sama fans gila Lo itu?"
"Dan lo harusnya tau gimana gilanya para cewe yang memuja Lo itu." Lanjut Dave
"inget gimana kejadian Arin anak tkj yang di buli abis abisan beberapa bulan lalu?"
Mereka benar, kenapa Upal setolol itu sampai berfikir jika ia di ungtungkan dengan beredarnya foto itu, tanpa berfikir apa yang akan di hadapi Erin dengan kemungkinan yang ada. Dan kenapa ia lupa dengan bahanya para cewek gila yang selalunmenggilainya?
Upal beranjak ingin membersihkan foto yang terpampang hampir di seluruh Mading. Bukan hanya di gedung sekolahnya, tapi di gedung sebelah. Namun Adi lebih cepat untuk mencegah Upal beranjak. "Slow bro. Kalem" ucapnya pelan.
"Gue nggak tau sebenernya apa hubungan Lo sama Erin, tapi yang jelas mending lu kalem dulu di sini"
"Dan biarin Erin di labrak cewek gila itu?" Ucap Upal dingin penuh penekanan, ia tak habis fikir bagaimana sahabatnya ini malah menyuruhnya untuk diam dan bersantai saat kondisi Erin jelas dalam bahaya, mungkin jika Erin seorang diri gadisnya itu jelas akan bisa memberontak atau melawan, tapi yang ia takutkan adalah kondisi kandungan Erin, Upal tak bisa tinggal diam melihat gadisnya menderita apalagi menyangkut buah hatinya.
"Iya gue tau kalo cewek itu bakal dalam masalah, tapi kita nggak bisa juga kalo cuma ngebuang foto di Mading yang jelas hampir semua orang udah tau." Adi masih bersikap santai melihat bagaimana cemasnya Upal sekarang.
"Betul, makanya gue sama Adi bakal bantu Lo dengan cara kita sendiri" lanjut Dave mendekat lalu duduk di atas meja tepatvdi belakang bangku yang di duduki Upal. Tangannya merangkul sahabatnya santai. "Tapi sebagai imbalan Lo harus kasih tau dengan jelas apa hubungan Lo sama Erin"
"Terserah!" Sentak Upal menepis tangan Dave yang bertengger di pundaknya, "jelasin gimana cara kalian bersihin ini kasus"
Adi tersenyum, menyandarkan p****t di meja sebelah Upal, melipat tangan di d**a sebelum menjelaskan pada Upal, "ngebuang foto di Mading jelas nggak akan berguna, jadi kenapa kita cari pelaku utama yang nyebarin itu foto?"
"Caranya?"
"Lo lupa kalo kita punya akses ruang monitor sekolah? Kenapa kita nggak gunain itu buat nelisik siapa yang selalu ngusik kehidupan Lo?"
Upal mengerut kening, kenapa ia tak mengingat hal sepenting itu sejak awal, dengan itu ia bisa saja mencari tau siapa pelaku utama yang selalu mengusik hidupnya, dengan ini bukannya ia bisa menyingkirkan benalu yang selalu menggangunya semala ini. "Kita kesana sekarang!" Upal beranjak dari tempatnya, ia harus segera menyelesaikan masalah ini sebelum semua hal buruk terjadi dan menimpa gadisnya