Se-La 21

1567 Words
Se-La 21 "Pal, gue pengen deh makan rujak." ucapan Erin yang tengah memainkan ponselnya itu membuat Upal memalingkan tatapannya dari layar ponsel yang tengah memutar video youtube, perlahan dia mendongak menatap aneh pada Erin yang setelahnya menunduk pada Upal. "boleh nggak sih makan rujak?" menekuk kening Upal melongo saat Erin bertanya sesuatu hal yang tak masuk akal di hadapannya. "Emang sejak kapan bumil nggak boleh makan rujak?" ucapnya seraya beranjak dari tempat paling nyaman, berbaring di paha Erin. mengedikkan bahu acuh, Erin kembali menatap layar ponselnya. "yang gue maksud itu boleh nggak gue minta tolong lo buat beliin rujak yang ada di depan sekolah itu?" "sejak kapan lo minta sesuatu pake tanya boleh apa kagaknya?" Tanya Upal pelan, karena biasanya, Erin selalu saja memerintah tanpa perlu bertanya boleh atau tidak, intinya Upal harus berangkat walaupun dirinya berkata tidak bisa. Terkecuali saat Upal sedang sibuk. Mungkin hal itu bisa di toleransi. "boleh nggak?" ulang Erin yang sudah malas menjawab pertanyaan Upal yang memojokan dirinya. "nggak ada yang lebih jauh lagi tempatnya?" "boleh, sekalian beliin rujak yang minggu lalu kita makan di deket taman kota itu." sepasang bola mata Upal membulat secara bersamaan saat mendengar ucapan Erin barusan. taman kota katanya, itu jelas dua kali lebih jauh dari sekolahnya, maksud Upal tadi hanyalah menyindir kalau tempat yang di minta Erin terlalu jauh. bukan malah menunjukan tempat yang lebih jauh. "gila aja, dua kali itu!" "ya makanya yang di sekolah aja." ucap Erin, menoleh pada Upal sembari memasang senyum tipis yang seolah terlihat terpaksa. "debay-nya lagi pengen." mendengus malas, akhirnya Upal beranjak dari tempatnya. jika Erin sudah menyebut debay yang mana adalah keinginan anaknya, Upal tak bisa berkutik lagi. entah itu memang keinginan calon buah hatinya atau malah keinginan Erin yang menjadikan kandungannya sebagai alasan. tapi yang Upal tahu jika Erin sudah mengatakan menginginkan sesuatu Jelas itu memang keinginan Calon buah hatinya. karena Erin bukanlah tipe Wanita yang selalu meminta apa yang di inginkan, Erin malah lebih menjurus pada tipe wanita yang selalu memberikan kode untuk mendapatkan apa yang di inginkan. "ya udah, iya tunggu." "jangan kelamaan." "bawel!" balas Upal yang sudah meraih jaket kesayangannya dan beranjak keluar. menuruti keinginan ibu hamil memang bukan perkara yang mudah. Dan untung bagi Upal karena nyatanya Erin hanya ngidam makanan tertentu yang mudah ia dapat di daerah sekitar. bukan makanan aneh-aneh yang harus di dapat dari kotanya langsung, atau malah Erin yang ngidam menginginkan hal yang aneh-aneh. membayangkan saja Upal sudah merinding sendiri. maka dari itu, Upal memilih cepat pergi dari hadapan Erin sebelum wanitanya itu mengingi kan hal yang lebih aneh lagi. beruntung jalanan sore itu terlihat sangat lengang. mungkin karena hujan baru saja reda yang kini menyisahkan gerimis kecil dan membuat para pengendara lebih sibuk berteduh dari pada berkendara. memasang senyum tipis, Upal menikmati suasana yang sangat jarang ia dapatkan kini, suasan asri, sejuk dan wangian khas aspal basah menjadi teman perjalanan Upal menuju sekolahnya. tak sampai lima belas menit berkendara, Upal kini telah sampai di tempat tujuannya, warung rujak bebeg yang banyak menjadi langganan kaum hawa penghuni sekolahnya, entah apa yang mereka suka dari buah yang di hancurkan dan di aduk menjadi satu hingga menyerupai sebuah sambal orek ini. "bang, Rujak dua di bungkus." "pedes nggak, kak?" "sedeng aja, bang." balas Upal yang memilih duduk di sebuah kursi panjang yang memang di sediakan oleh pemilik warung itu. mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya guna membunuh kebosanan di sela menunggu, terlebih memang yang antri cukup banyak, Upal memilih bermain game di ponselnya. mengabaikan banyak pasang mata kaum hawa yang menatap kearahnya. entah tatapan kagum ataupun memuja, yang kebanyakan memang murid satu sekolah dan kebetulan mengenal siapa sosok cowok yang saat ini tengah sibuk bermain game itu. "hey!" sebuah sapaan yang di ikuti colekan membuat Upal menegang beberapa saat, terlebih suara itu seolah tak asing di kepalanya, perlahan ia menoleh menatap kearah sumber suara yang saat ini malah memasang senyum tak berdosa. Diam Upal terpaku saat tatapannya beradu tatap dengan sosok itu. Upal berusaha menguasai diri, setelahnya menghela nafas pelan, Upal kembali meneruskan permainannya. "ngapain lo di sini?" tanya cewek yang memilih duduk tepat di sebelah Upal, mengintip apa yang tengah di lakukan oleh Upal. "ngemis!" jawab Upal tanpa mau repot mengalihkan tatapannya dari layar ponselnya. "hahaha!" suara tawa membahanan di susul tepukan agak keras pada pundak Upal membuat pria itu melirik tajam kearah cewek yang duduk di sebelahnya itu. hanua sesaat tentu saja, karena bagi Upal lebih menarik game dari pada Cewek sok kenal yang di sebelahnya itu. "yakali cowok seganteng lo ngemis. nggak lucu, pal!" "yang bilang ngelucu juga siapa?" gerutu Upal kesal, menggeser tubuh menjauh dari cewek yang seenaknya main duduk tepat di sebelahnya, membuat aroma yang masih sama menguar masuk kedalam hidungnya, suatu hal yang malah membuat Upal makin sulit mengotrol hatinya. Lalu apa yang akan Erin lakukan jika melihat Ia tengah duduk berdekatan dengan cewek yang sok akrab dengan dirinya ini. Langkah aman tentu saja menjaga jarak aman dalam radius seratus kilo meter bila perlu. "lah, lu lah, yakali gue yang ngelawak. pan lu tadi yang bikin gue ngakak!" balas Cewek tadi masih dengan sisa tawa dan juga usaha mememet tubuh Upal. "nggak lucu!" muak dengan kelakuan Cewek itu, Upal memilih beranjak dari tempatnya dan memilih mendekati Mamang penjualnya untuk meminta pesanannya. dan sialnya cewek tadi malah mengekori Upal. Nggak ada kegiatan lain apa? "dih gitu aja ngambek , nak mak Helda ini!" ucap Cewek tadi yang kini sudah berada di dekat Upal dan mengintip Upal yang sudah menenteng sebungkus Rujak di tangannya. "eh, seriusan? lo beli rujak? doyan emang?" tanyanya lagi penasaran sembari melongok bingkisan yang baru saja Upal terima. "Bukan buat gue!" "Terus?" "Nggak usah kepo." setelahnya Upal beranjak meninggalkan cewek itu, namun tertahan karena merasakan cekalan di pergelangan tangan kirinya, menoleh dan menatap tajam kearah Cewek tadi. "Buru-buru banget sih?" "Apaan?" Ada raut keraguan yang terbesit di wajah Cewek tadi, seolah tak berani berkata setelah mendapat tatapan tajam dari Upal. "Emm... Lo ada waktu?" Mendengus malas Upal berusaha melepas cekalan di tangannya "Nggak ada." "Please, gua ada mau ngomong sama lo!" "Sorry." gelengan pelan terkesan tegas dan tatapan tajam serat akan rasa kecewa dari Upal membuat cewek itu terdiam dan melepaskan cekalannya perlahan. Upal berlalu, menjauh dari sosok yang selalu membuatnya tak nyaman terlebih Upal tak ingin kenangan lama yang sudah ia timbun dalam-dalam menguar hanya karena kehadirannya. Meninggalkan cewek itu yanh diam dalam tatapan terluka menatap nanar kepergian Upal. Sepertinya setelah ini tak akan ada lagi kesempatan untuk dirinya masuk kembali dalam lehidupan pria yang pernah ia tinggalkan dengan luka yang cukup dalam. ++Selaras Langkah "Udah balik?" tanya Erin dengan senyum mengembang menyambut kedatangan Upal, yang hanya di balas anggukan sembari menutup pintu di belakangnya. Erin berjalan mendekat, meraih bungkusan yang di tenteng Upal, ia sudah tak sabar lagi untuk menikmati Rujak segar yang sudah menggodanya sejak tadi. Namun langkahnya terhenti saat sepasang tangan secara tiba-tiba membelit pinggangnya. Erin sempat terkejut, hanya sesaat. Lalu setelahnya ia bisa merasakan jika Upal sudah menyembunyikan wajahnya di cerucuk leher jenjangnya, nafas memburu dari Upal membuat Erin mencoba mengerti. lama hidup satu atap dengan pUpalya membuat Erin banyak mengerti kebiasaan Upal sehari-harinya. Dan Upal yang dalam mode ini adalah Upal yang memiliki banyak beban di kepalanya atau menyimpan banyak emosi yang mengganggu hatinya. Erin hanya bisa mencoba sabar menghadapi perlakuan Upal, Perlahan tangannya ia gunakan untuk mengelus lembut tangan Upal. "Kenapa?" tanyanya lembut yang hanya di balas gelengan pelan dari Upal, menghirup banyak-banyak aroma menenangkan dari Erin, berharap setelah ini ia bisa melupakan emosinya tadi. "Mau cerita?" tanya Erin dengan sabar, masih mengelus pergelangan tangan Upal, Mencoba mencari celah agar Upal mau herbagi sedikit saja keluh kesah padanya. Namun helaan nafas pelan keluar begitu merasakan gelengan pelan di pundaknya. "Yakin?" menoleh kesamping dengan sebelah tangan terangkat mengelus pelan rambut Upal. "Gue tau lo ada nyimpen emosi. Nggak coba cerita biar lega?" dari ekor matanya Erin melihat Upal yang sudah mulai tenang, perlahan mencuri tatap pada Erin. "Monic" gumang Upal yang hanya berupa bisikan namun masih mampu di curi dengar oleh Erin, satu nama yang entah kenapa membuat tubuh Erin menegang. Jelas karena nama itu tak asing di telinganya. Nama yang sudah lama mengisi hati Upal. Nama yang sudah memberi banyak hal manis sebelum akhirnya sosok itu pergi tanpa alasan, meninggalkan luka yang teramat dalam hingga membuat sosok Upal menerima perjodohan itu tanpa banyak pertimbangan lagi. Dan mendengar kembali nama itu entah kenapa membaut d**a Erin terasa sedikit sesak. ada rasa takut yang perlahan menyusup kedalam hatinya, takut jika kenangan lama Upal terbuka hingga mampu menarik kembali PUpalya kedalam pelulan wanita itu. jelas Erin takut, takut jika sampai kehilangan Pria yang sudah membuatnya bertekuk akan sebuah rasa nyaman dan berujung rasa Cinta. "Dia balik lagi. Sebenernya udah dari kemaren pas gue balik lomba. Dan tadi dia nemuin gue lagi. Gue... Gue-" "Sttt..." Erin memotong ucapan Upal. Tak ingin lagi pUpalya mengenang hal pahit yang jelas kembali menyayat perasaanya. Terlebih Erin juga tak ingin meresakan sesak di dadanya kian bertambah. "Nggak usah di inget, gue tau apa yang lo rasain." tapi gue nggak tau apa lo masih cinta sama dia atau nggak. "cukup di sini sama gue, gue bukan dia. karena gue nggak akan pernah sekalipun ada pikiran buat ninggalin lo. apapun yang terjadi!" ucap Erin pelan dengan makna yang lebih jauh untuk kebaikannya, prianya dan keluarganya. katakanlah dia egois, tapi jangan salahkan dia karena Upal yang sudah membuat Erin tak berkutik dan selalu ingin memiliki dirinya seorang diri, selamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD