Elang merasa lapar karena memang belum sarapan, sementara hari sudah siang. Elang masuk ke kamar, saat itu Elang melihat Annora sudah bangun.
“Udah bangun lo. Lo mau ikut gue sarapan atau tetep di sini?” tanya Elang dingin.
“Sarapan? Emang jam berapa sekarang?” Annora bertanya balik.
“Abisnya lo tadi tidur ngebo banget, dibangunin nggak bangun-bangun, jadi gue nunggu lo buat makan. Sekalian makan siang.”
“Kenapa nggak sarapan dulu aja? Aku, kan, bisa pergi sendiri.” Annora merasa bersalah pada Elang.
“Lo yakin bisa pergi sendiri? Lo nggak pernah ke sini, kan? Nggak takut nyasar?” Elang tersenyum miring.
Annora hanya tersenyum kecil. Iya, dia pasti kesasar kalau harus pergi sendiri. Elang menyuruh Annora ganti baju yang agak pantas, dia ingin mengajak Annora makan Di Mare Resto Karma Kandara. Suasananya bagus di sana. Annora pun hanya menurut, dia memakai gamis motif bunga berwarna merah muda dengan jilbab senada. Setelah selesai ganti baju Annora pun mengikuti Elang.
Di mare resto ini terletak di hotel Karma Kandara Resort Ungasan. Restoran ini terletak di pinggir tebing menghadap langsung ke laut selatan Bali dan menyajikan sajian Mediterania dan Eropa. Pemandangan yang sangat menakjubkan sekali. Annora sampai tidak berkedip melihatnya. Mereka akan makan ditemani dengan pemandangan laut lepas yang menenangkan.
Pemandangan yang ada di mare resto ini memang cantik banget. Perpaduan antara arsitektur gaya Mediterania berpadu dengan hamparan lautan biru yang luas benar-benar membuat Annora takjub. Sepertinya Annora bakal betah duduk berjam-jam di sini sambil menikmati viewnya yang luar biasa.
“Biasa aja kali, jangan sampai ngiler gitu.” Perkataan Elang membuyarkan lamunan Annora.
“Eh, siapa yang ngiler?” Annora tampak sewot.
Kemudian, datang waiters menawari mereka 2 atau 3 set menu makanan, katanya makanan di sini tidak bisa dibeli satuan. Akhirnya, Elang memesan paket 2 set menu, appetizer dan main course. Saat disuguhi daftar menu makanan Annora hanya bengong, dia tidak paham dengan makanan Eropa, Annora sama sekali tidak pernah makan makanan luar. Akhirnya, dia menyuruh Elang yang memilih. Elang pun memilih calamari, crispy duck, dan lychee tea. Ternyata makanan baru bisa dibuat setelah jam 12.00 siang. Mereka pun akhirnya harus sabar menunggu, kebetulan sekarang masih jam setengah dua belas. Sambil menunggu makanan siap Annora dan Elang pun menikmati pemandangan air laut yang indah.
Karena menyaksikan pemandangan yang luar biasa, mereka pun lupa kalau sedang lapar. Sampai akhirnya tidak disadari oleh mereka makanan pun sudah disajikan oleh waiters. Elang dan Annora pun menuju tempat duduknya kembali. Mereka pun sama-sama diam, tidak ada komunikasi sama sekali. Mereka asyik dengan dunia masing-masing.
Saat mulai menyantap makanan, Annora mengernyit.
“Calamari tadi yang mana?” tanya Annora dengan polos.
Elang otomatis langsung tertawa mendengar pertanyaan polos Annora.
“Lo bener-bener kampungan banget ya?” tanya Elang.
“Biarin! Emang salah tanya menu makanannya dulu sebelum dimakan?” tanya Annora dengan muka ditekuk.
“Nggak sih. Ok, ini namanya calamari.” Elang tertawa kecil sambil menunjuk cumi goreng tepung.
Annora hanya melongo.
“Oalah, cuma namanya doang yang aneh? Ternyata cumi digoreng sama tepung to? Kenapa nggak dinamai cumi tepung aja, sih?” tanya Annora sambil mengambil calamari.
“Ya namanya juga makanan Eropa, namanya ya keren dong.” Elang pun mulai menyantap crispy duck. “Lo, nggak tanya lagi mana crispy duck?” tanya Elang menggoda.
“Aku nggak seudik itulah. Masak crispy duck aja nggak tahu. Aku juga tahu bahasa Inggrislah!” Annora tampak sewot.
“Gitu aja ngambek. Udah gih makan! Nggak usah tanya-tanya lagi. Gue kalau nggak karena kasihan males ngajak lo ke tempat mewah gini!”
Annora hanya diam mendengar omongan Elang. Sebenarnya dia juga malas pergi bersama si cowok aneh ini. Namun, karena di sini Annora merasa asing, jadi ya terpaksa ikut saja ke mana Elang pergi.
“Kupikir masakannya bakal enak banget. Ternyata masih lebih enak bakso,” celetuk Annora.
“Dasar wong ndeso! Makanan enak gini dibilang nggak enak.” Elang tampak begitu menikmati makanannya.
“Menurutku masakannya biasa saja. Mungkin karena lidahku Indonesia banget, jadi makan menu luar berasa aneh dan biasa saja. Kalau Lychee tea-nya enak, calamari-nya menurutku biasa saja, hanya rasa tepung. Crispy duck-nya agak amis dan nggak begitu garing. Tahu gini tadi nggak mau diajak makan ke sini.” Annora berkomentar panjang lebar.
“Udah, dinikmati ajalah.”
“Entar makan malamnya kayak gini juga?” tanya Annora.
“Kenapa emang?” tanya Elang.
“Nggak bisa cari tempat makan lain?” tanya Annora takut-takut.
“Ok, ntar cari restoran lain. Ini tadi karena gue males bawa mobil. Kan, kalau di sini cukup jalan doang,” jawab Elang.
“Iya, tapi makanannya nggak cocok di lidahku.” Annora mencoba membujuk Elang.
“Gampanglah ntar.”
Mereka pun selesai menikmati makan. Annora kembali menikmati keindahan pantai. Sementara Elang lagi-lagi mengecek ponselnya, berharap ada kabar dari Jeny, tetapi sama sekali tak ada.
“Kamu kenapa resah gitu?” tanya Annora tiba-tiba.
“Bukan urusan lo!” sentak Elang.
“Aku tanya baik-baik. Kenapa jawabnya sewot banget?” Annora pun akhirnya pergi menjauh dari Elang.
Kemudian, tiba-tiba Elang menarik tangan Annora saat Annora melihat pemandangan laut di bawah sana.
“Duh, kenapa main tarik aja, sih?” tanya Annora sewot.
“Mau ikut gue apa tetep di sini?” tanya Elang balik.
“Ke mana emang?”
“Ke Karma Beach. Jangan GR, gue ngaja lo karena nggak mau lo ketakutan pas nyari gue kagak ada.” Elang lalu melepas tangan Annora.
“Iya, aku ikut.”
Lalu, mereka pun menuju Karma Beach. Annora kira mereka akan menuruni bukit dengan jalan kaki, ternyata cukup naik kereta lift. Sensasi saat menuruni bukit menggunakan kereta lift benar-benar luar biasa.
Saat tiba di Karma Beach, lagi-lagi Annora sangat takjub. Pantai Karma Bali terdapat pada pantai dengan pasir putih, kebersihan pantai sangat terjaga serta air laut sangat jernih. Pengelola obyek wisata pantai Karma Ungasan selalu menjaga kebersihan dan keamanan Karma Beach Bali. Sungguh indah ciptaan Allah.
Andai saja aku ke sini bersama Pak Johar, tentu akan sangat menyenangkan. Annora hanya berucap dalam hati. Annora terus menikmati keindahan pantai pasir putih.
Sedangkan Elang, matanya terbelalak tak percaya. Saat mengetahui ada seorang wanita yang postur tubuhnya mirip dengan Jeny, tetapi dia bersama seorang pria. Namun, Elang segera menepis pikiran anehnya. Jeny sedang kerja membuat video klip. Akan tetapi, gadis di hadapan yang sedang bersama seorang pria itu mirip dengan Jeny. Akhirnya, Elang pun melangkah menuju gadis tersebut. Dia meninggalkan Annora yang tampak menikmati keindahan pantai.
Wajah Elang makin memerah saat makin dekat dengan wanita tersebut. Suaranya persis dengan Jeny.
“Oh, jadi di sini pembuatan video klip terbarunya ya? Hebat! Sampai mesra-mesraan gitu. Mana kru yang lain?” tanya Elang menahan emosi.
Wanita di hadapan Elang yang sedang bermesraan menikmati keindahan pantai tersebut yang ternyata Jeny, langsung berdiri. Wajahnya tampak pias.
“Elang,” desis Jeny.
“Bagus, ya, bisa menjiwai gitu pembuatan video klipnya.” Elang tersenyum miring.
“Elang, yang kamu lihat nggak seperti yang kamu bayangkan. Aku bisa jelasin semuanya.” Jeny tampak gugup.
“Iya, kami bisa jelasin semuanya. Aku sama Jeny nggak ada hubungan apa-apa. Hanya sebatas rekan kerja.” Pria di samping Jeny pun menjawab. Pria itu Rio, bos Jeny.
“Bagus, sih, bos, rekan kerja, merangkap jadi selingkuhan.” Elang berkata dengan nada sinis.
“Pantes sih, dari tadi gue pengen banget ke sini, ternyata bakal ada pertunjukan keren.” Elang bertepuk tangan.
“Gue nggak nyangka ternyata lo murahan banget, Jeny!” Telunjuk Elang menukik tepat di depan wajah Jeny.
“Jaga mulut kamu, Elang! Terus kamu apa? Ke sini sama cewek kampung itu, kan? Kamu bilang nggak bakal pernah pergi bulan madu bareng cewek kampung itu, tapi nyatanya lo bulan madu ke sini.” Jeny gantian yang marah.
“Gue terpaksa, karena dipaksa ortu gue. Nggak kayak lo yang pergi bareng cowok lain tanpa sepengetahuan gue! Lo bilang pembuatan video klip di luar kota. Ternyata lo liburan bareng selingkuhan lo!”
“Kita imbas Lang!”
“Imbas! Maksud lo apa? Gue nggak selingkuh! Itu semua karena lo nolak saat gue ajak nikah, dan gue terbuka sama lo, gue udah izin sama lo untuk nikah sama Annora! Bedakan itu Jeny!” Elang benar-benar marah pada Jeny, kekasihnya. Elang sama sekali tak menyangka akan mendapatkan kejutan yang luar biasa ini.
Napasnya kembang kempis tak keruan. Sementara Jeny hanya terdiam, dia tak bersuara, karena memang apa yang dikatakan Elang benar adanya.
***
bersambung