Makan malam pun berjalan normal. Setelah selesai makan malam bersama mereka pun pergi ke ruang keluarga. Mereka membicarakan tentang pernikahan Elang dan Annora yang akan dilangsungkan bulan depan. Elang sangat malas sebenarnya jika membahas masalah pernikahannya, karena Elang sama sekali tak mengharapkan pernikahan ini. Begitu pun dengan Annora, tetapi Annora lebih bisa menjaga sikap untuk menghargai orang tuanya.
Elang pun langsung menarik Annora untuk meninggalkan ruang keluarga. Orang tua Elang dan Annora pun tersenyum melihatnya. Mereka merasa Elang dan Annora sudah saling setuju menerima perjodohan ini. Mereka tidak tahu kalau Elang dan Annora membuat sebuah kesepakatan.
“Sepertinya mereka sudah mulai saling mengenal satu sama lain.” Bu Nani tersenyum sambil melihat Elang dan Annora yang keluar.
“Iya, sepertinya begitu. Kita nggak salah menjodohkan mereka, Ma. Mereka nggak menolak sepertinya.” Pak Handoko menimpali istrinya.
Pak Hardi hanya manggut-manggut. Dia merasa tenang kalau Annora bisa menikah dengan anak dari sahabatnya itu. Tidak salah memilihkan jodoh dan mertua untuk anaknya. Dia merasa memiliki tanggung jawab yang berat untuk anak semata wayangnya. Apalagi sejak bayi Pak Hardi yang merawat Annora tanpa seorang ibu. Mata Pak Hardi berkaca-kaca mengingat anaknya tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.
“Mbak Nani, saya berharap Mbak bisa menyayangi Annora dengan tulus, seperti anak sendiri, bukan menganggapnya menantu. Kasihan Annora nggak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.” Pak Hardi menatap Bu Nani dengan sendu.
“Tenang, Annora sudah saya anggap anak sendiri. Percaya sama saya. Saya dan ibunya Annora sahabat sejak dulu, jadi saya merasa punya tanggung jawab untuk Annora.” Bu Nani tersenyum.
Pak Hardi berterima kasih pada Bu Nani. Lalu, mereka terlihat mengobrol begitu seru. Sementara di luar, Elang dan Annora bersitegang. Mereka hanya saling diam, entah apa yang ada dalam pikiran masing-masing.
“Eh, cewek aneh, ingat kesepakatan kita tadi siang, gue tetep berhubungan dengan pacar gue. Lo nggak boleh ngelarang-larang!” sentak Elang pada Annora.
“Iya! Dan kamu juga nggak boleh ngelarang aku pergi dengan siapa saja. Termasuk teman cowok!” Annora menatap Elang sinis.
Mendengar pembicaraan Annora, Elang langsung terbahak-bahak.
“Apa? Teman cowok? Emang lo punya teman cowok? Bukannya nggak boleh temenan sama cowok?” Elang bertanya dengan sinis.
“Yey, siapa yang ngelarang? Bolehlah, yang nggak boleh itu pacaran!” sentak Annora.
Elang hanya mencebik. Annora tiba-tiba teringat Pak Johar, teman sesama guru di sekolahnya mengajar. Entah, tiba-tiba dia merasa ada yang berdesir aneh saat teringat Pak Johar. Pria itu memang berbeda menurut Annora. Sayangnya Annora tidak begitu mengenal, Pak Johar sosok yang cuek, bertanya jika hanya perlu saja. Itu yang membuat Annora merasa kagum padanya. Andai saja Annora bisa mengenal Pak Johar, mungkin dia bisa memiliki alasan menolak perjodohan ini, sayangnya tidak bisa.
“Malah ngelamun! Awas kesambet!” sentak Elang membuat Annora berjingkat.
“Apaan, sih?” Annora menatap Elang kesal.
“Besok kita disuruh ukur baju sama Mama. Besok gue jemput lo. Lo nggak usah masuk kerja, izin nggak ngajar dulu.”
“Emangnya nggak bisa ukur baju sepulang dari ngajar?” tanya Annora.
“Nggak! Besok pagi ukur bajunya, lagian kudu milih juga, jadi ya nggak bisalah kalau siang, waktunya nggak cukup. Udah deh, nurut aja sama WO-nya. Lagian gue nggak mau pernikahan gue jelek. Gue mau semuanya sempurna.”
“Iya!” Annora memutar bola mata malas.
“Tapi, nggak usah ajak pacar kamu! Aku nggak mau semuanya kacau!” ancam Annora.
“Tenang, kalau untuk acara pernikahan kita, gue nggak bakal ajak Jeny. Kasihan dia, sedih ntar lihat kekasihnya pilih baju pengantin bersama cewek lain.” Elang menatap Annora dengan sinis. “Eh, tapi lo mana ngerti sedih, kan, nggak punya pacar.” Elang tersenyum miring.
Annora hanya diam. Dia tak perlu menanggapi kata-kata sinis Elang. Percuma. Saat mereka sedang asyik mengobrol ponsel Elang berdering.
“Tuh, pacarnya udah telepon.” Annora menyindir Elang.
“Iyalah, kan, punya pacar. Nggak kayak kamu, nggak ada yang telepon.” Elang tertawa kecil.
Annora hanya berdecak kesal, lalu dia masuk ke ruang tamu. Dia tak mau mengganggu obrolan seru sepasang kekasih itu. Sempat terdengar di telinga Annora, obrolan mereka terdengar begitu mesra.
“Loh, Nak Annora, mana Elang?” tanya Bu Nani.
“Eh, masih di luar Tante. Sepertinya lagi ada perlu sama temannya.” Annora mencoba menutupi kalau Elang sedang mengobrol dengan kekasihnya.
“Oh ya udah. Emmm, besok jangan lupa, ya, siap-siap dari pagi. Biar dijemput Elang untuk cari model dan ukur baju pengantin. Waktunya sebentar lagi soalnya
Tak lama kemudian, Elang pun masuk.
“Elang, besok jangan lupa, jemput Annora.” Bu Nani mengingatkan Elang lagi.
“Iya Ma.”
“Annora ayo kita pulang dulu, udah malam,” ajak Pak Hardi.
“Iya, Yah.”
“Mbak Nani, Mas Han, saya dan Annora pulang dulu. Terima kasih undangannya.” Pak Hardi pun berpamitan pada Bu Nani dan Pak Handoko.
“Hati-hati, ya. Annora, emm gimana kalau kamu biar diantar Elang saja?” tawar Bu Nani.
“Nggak usah Tante, Nora bareng Ayah aja, kasihan Ayah naik motor sendiri.” Annora menatap Pak Hardi sambil tersenyum.
“Lagian Mama aneh-aneh aja, Annora ke sini, kan, sama ayahnya, masak suruh nganter Elang pulangnya.” Elang terdengar sewot.
“Kan, calon istri kamu, Lang.”
“Udah Mbak, Annora pulang bareng saya saja.” Pak Hardi akhirnya menengahi.
Lalu, Annora dan Pak Hardi pun berpamitan. Dalam perjalanan Annora hanya terdiam. Annora hanya ingin menjadi anak yang berbakti saja, tidak lebih. Menerima perjodohan ini pun Annora hanya tidak ingin menolak niat baik ayahnya. Ya, walaupun Annora tahu kesepakatan yang mereka buat itu salah. Tak seharusnya ada kesepakatan pernikahan di antara mereka, sebab pernikahan bukan hal main-main. Pernikahan peristiwa sakral.
Annora hanya menatap punggung ayahnya, mungkin kalau Annora cerita pada ayahnya, sang ayah akan membatalkan perjodohan ini. Namun, Annora berpikir lagi, kalau nanti perjodohan ini batal, bagaimana dengan orang-orang? Di mana ayahnya akan menaruh muka? Sebab, ayahnya sudah mengabarkan ke semua tetangga kalau Annora akan menikah dengan anak teman almarhum ibu Annora, seorang pengusaha kaya. Kalau sampai batal, pasti ayahnya akan dibilang tukang halu dan tukang bohong. Annora tak mau semua itu terjadi.
“Alhamdulillah, akhirnya sampai juga.” Perkataan Pak Hardi membuyarkan lamunan Annora.
Annora mencium tangan sang ayah, lalu segera membuka pintu.
“Annora! Tunggu!” panggil Pak Hardi.
Annora menoleh menatap Pak Hardi.
“Kamu nggak apa-apa, kan, Nak?” tanya Pak Hardi menatap Annora.
“Memangnya kenapa, Yah? Nora nggak apa-apa, kok.” Annora mencoba tersenyum.
“Kamu bahagia, kan, dengan keputusan ini?” Pak Hardi menatap Annora dengan dalam.
“Iya, Yah.”
“Kamu ikhlas, kan, nerima keputusan Ayah?”
“Iya, Yah. Ayah tenang saja. Nora bahagia dan nerima perjodohan ini dengan ikhlas. Nora akan ngelakuin apa saja asal bisa bikin Ayah bahagia.” Annora tersenyum menatap Pak Hardi.
Pak Hardi menarik napas lega setelah mendengar jawaban Annora. Sementara Annora hanya pura-pura tersenyum.
“Ya udah, Yah, Nora masuk dulu, ya? Mau istirahat,” ucap Annora.
Pak Hardi hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia merasa bangga memiliki anak seperti Annora, anak yang selalu bisa membahagiakan dirinya. Annora tak pernah membantah apa yang diperintahkan sang ayah.
Annora langsung masuk kamar dan mengunci pintu kamarnya. Dia langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Gadis itu melihat langit-langit kamarnya. Kemudian, dia mengambil foto ibunya. Dia sedih, karena tak pernah mendapat kasih sayang darinya. Annora lahir ke dunia sedangkan sang ibu meninggalkannya sendiri di dunia ini. Annora mendekap foto sang ibu sambil meneteskan air mata.
“Andai Ibu masih ada, mungkin Annora bisa menolak perjodohan ini, Bu. Tapi, sekarang Annora nggak bisa menolak. Annora nggak sanggup jika melihat Ayah sedih karena Annora menolak keinginan Ayah. Kata Ayah perjodohan ini adalah kesepakatan Ibu dengan Tante Nani dulu waktu masih sama-sama single. Ibu dan Tante Nani membuat keputusan, kalau anak kalian harus menikah. Annora nggak bisa menolak permintaan ini, karena Annora nggak mau Ibu kecewa di sana.”
Annora terus mendekap foto ibunya dengan air mata yang berlinang. Annora hanya berharap semoga dengan menuruti permintaan perjodohan ini, bisa membuat ibunya tenang di alam sana.
***
Bersambung