Wanita pertama

1285 Words
Wanita yang pertama kali menyakiti Daniel adalah ibunya. Ia adalah alasan kenapa selama ini tidak ada keinginan untuk menjalin hubungan. Yang ada, setiap Daniel melihat wanita, keinginan menyakiti selalu ada. Entah menampar atau mendorong hingga terjengkal. Bisa dibilang itu adalah refleks trauma karena saat kecil pernah dicekik sang ibu. Nyawa Daniel hampir hilang kalau tidak cepat-cepat diselamatkan. Daniel kecil bukan hanya terluka di bagian leher, tapi ada bekas penganiayaan di sekujur tubuh. Bukan hanya itu saja, di usia tujuh tahunnya, ia sudah melihat banyak kekerasan. Sang ayah yang gelap mata memukuli ibunya hingga tiada. Ya, begitulah jalan hidup seseorang. Tanpa diajari kasih sayang seorang anak tidak akan tumbuh pada pemikiran normal. Seperti Daniel, pola pikirnya jauh berbeda dengan para pria seusianya. Bukan hanya keras kepala, tapi juga tidak tahu bagaimana cara bersikap. Hal itu bisa dilihat dari cara Daniel menyambut kedatangan Jane di pintu apartementnya. Gadis dengan wajah pucat dan takut itu seperti mangsa paling menyenangkan. Di tempat persembunyiaannya yang membosankan, akhirnya mainan datang. Barang bisa dihancurkan tanpa rengekan. Tapi wanita di hadapannya hidup dan akan mengiba setiap dikerjai. “Karena sudah ada dia, mulai sekarang tempatmu bukan di ruang tamu, tapi kursi dekat pintu. Kamu tidak akan menonton kami, kan?” decih Daniel tanpa ragu menarik paksa Jane lalu memelintir pergelangan tangannya sedikit. Jane tersentak, terkejut meringis, menahan sakit. Baru juga datang pertemuan mereka sudah dibumbui kekerasan. Jim mengangguk penuh keraguan.”Tapi bos, jangan buat masalah baru. Itu hanya akan merugikanmu.” “Aku tahu, dasar cerewet. Ngomong-ngomong berapa harga gadis ini? Kamu tidak menghabiskan seluruh uangku, kan?” Daniel mendelik, mengalihkan pandangannya pada Jane. Sejak tadi gadis yang tengah ia cengkeram itu hanya diam dan gemetar. “Lima ratus.” Jim mengatakannya dengan hati-hati. Memang ia akui kalau penawarannya sangat gegabah. Tapi berhubung ingin mempersingkat waktu, itu adalah jalan paling pintas. Bukannya marah, Daniel malah terkekeh kencang,”jadi hargamu setengah milyar? Gila!” pekiknya mencubit pipi kiri Jane kasar. Jane langsung berkeringat dingin. Sudah diduga, mana ada pria yang rela membayarnya dengan harga sebesar itu? Dari sudut pandangnya sebagai wanita, bandrol sebuah keperawanan tidaklah fantastis. Hanya orang gila yang mau merogoh kocek lima ratus untuk kenikmatan sepuluh menit. “Dengan uang sebanyak itu, harusnya kamu tidak memperingatiku macam-macam. Memangnya kamu mampu menebusnya untukku?” Daniel melotot menunjuk wajah Jim dengan emosional. Kalau sudah begitu, Jim memilih diam. Mati atau tidaknya Jane nanti sudah bukan urusannya. Lagipula menyingkirkan mayat bisa dilakukan dengan mudah. Terlebih mereka punya banyak koneksi penegak hukum. Yang jadi masalah di sini adalah ayah Daniel. Pria tua itu lebih mengerikan dibanding polisi. Tak banyak omong, Daniel menyeret Jane masuk kamar. Mudah baginya melakukan apapun sekarang. Tubuh wanita itu begitu ringan dan ramping. Diikat dan didorong sedikit, semua akan selesai dalam hitungan menit. Namun, Daniel adalah tipe penyiksa. Ia tidak suka menikmati moment dengan terburu-buru. Ibarat kata, lebih menyenangkan memberi kesempatan bagi cacing untuk menggeliat daripada dibunuh dalam sekali injak. Benar kan? “Siapa namamu?” tanya Daniel pada Jane yang semenit lalu dibiarkan duduk di bawah kakinya. Ranjang di kamar itu besar, muat tiga orang dewasa. Tapi Jane tidak diijinkan naik, hanya bersimpuh di bawah dengan posisi menunduk. Dengan rambut panjang dan acak-acakan itu, ia sudah mirip b***k. “Ja-jane,” sahutnya pelan, menahan suaranya agar tidak terdengar terlalu gemetar. “Umur?” “Delapan belas.” Daniel lantas mengambil tongkat golf yang ada di dekat nakas. Bukan untuk memukul, tapi menyibak rambut panjang Jane lalu membuat dagu gadis itu mendongak padanya. “Menurutmu umurku berapa?” Daniel menyeringai lebar, menekan ujung tongkat tepat di nadi leher. Jane ketakutan. Itu bukan pertanyaan, melainkan ancaman. Kalau bisa memilih, ia lebih suka dibeli dengan harga standart daripada mahal tapi bertaruh nyawa. Ia menjual tubuh, bukan hidup. ”Dengar, aku akan menghukummu kalau salah,” gumam Daniel tertawa sinis. Jane langsung gugup. Bibirnya gemetar, sedang matanya mulai berlarian bingung. Untung saja, ia menemukan inisial tahun di ujung jari Daniel. Tatto itu walau kecil cukup tebal, jadi terbaca sedikit. “Dua puluh enam. Dua puluh enam tahun.” Jane mengulangnya dua kali. Awalnya Daniel terkejut, tapi kemudian tertawa kencang saat menyadari dari mana jawaban itu berasal. Ia sendiri lupa kalau punya tatto di sana. Padahal itu adalah tatto pertamanya. “Kamu pintar rupanya. Tapi sayang, aku masih banyak puluhan pertanyaan lain. Mau coba?” Daniel tanpa belas kasih mendorong tubuh Jane ke belakang dengan tongkat. Otomatis tulang leher gadis itu terpukul, sakit sekali. “Dengar, jangan berpikir kalau bercinta saja cukup. Kamu harus mengembalikan uang lima ratus jutaku dengan kepuasan lain. Asal tahu saja, kamu akan jadi mainanku di sini. Bukan gadis yang hanya bisa terlentang tanpa pakaian, tapi pengisi waktu senggang. Salahkan dirimu kenapa jadi wanita panggilan.” Daniel berdiri, sengaja melempar tongkat baseball ke lemari. Suara pecahan kaca langsung terdengar bersamaan dengan jerit kaget dari mulut Jane. Beruntung, ia bukan kaca itu. Kalau tubuhnya terkena lemparan, pasti akan menyisakan lebam atau paling parah berdarah. Jane terisak lirih, ketakutan setengah mati. Meski wajah Daniel tidak seseram Jim, tapi sikapnya luar biasa buruk. Salah-salah ia akan jadi mayat dalam hitungan hari. Jangankan memikirkan masa depan, hidupnya untuk beberapa hari masih dipertanyakan. “Ambilkan minuman, gelas juga rokok.” Daniel tiba-tiba bicara, memotong isakan Jane yang menganggu telinga. Jane menurut. Ia berdiri dengan kaki gemetar menuju nakas besar dekat ranjang. Sebotol wine juga sebungkus rokok dibawanya hati-hati. Paling tidak, ia harus bertahan dan jangan membuat kesalahan. Belum sampai ke tangan, Daniel sudah merebutnya. Terkesan kesal sekaligus jengkel karena Jane bergerak begitu lambat. “Sudah pernah merokok?” Daniel mengulurkan sebatang nikotin dari bungkusnya. Jane menggeleng. “Hisap, kalau tersedak aku akan memukulmu.” Daniel menyulut satu batang, menghisapnya lalu setelah asap di ujungnya menyala, dimasukkan ke mulut Jane secara paksa. Jane tergagap, tapi dengan cepat mengikuti permainan. Pria di depannya cukup psycho. Suka melihat penderitaan juga ketegangan orang lain. Sejauh ini, Jane merasa akan aman kalau bisa menguasai ritme. “Enak?” Daniel menatap Jane dengan pandangan yang sulit diartikan. Mata rusa berwarna kecoklatan itu kalau dilihat-lihat tidak terlalu kejam. Hanya dingin, penuh kemuraman. Rasa takut membuat Jane baru sadar kalau Daniel cukup rupawan. Wajahnya sangat simetris dan bentuk hidungnya luar biasa bagus. Bibir bawahnya lebih tebal dari atas dan walau rambutnya berantakan, tapi badannya wangi. Lamunan konyol itu membuat Jane tiba-tiba tersedak. Tenggorokannya seperti tersengat karena salah hisap. Sial, ia malah terpana dan membuat dirinya sendiri celaka. Dan benar saja, sebuah tamparan menyapa pipinya. Begitu kencang hingga ujung bibir Jane kebas. Sedetik setelahnya, lidahnya mencecap rasa asin darah. Perih, pegal sekaligus malu karena ketahuan menatap begitu. “Jangan lengah. Ini akibatnya kalau berani menggodaku. Tidak ada yang berubah kalau kita tidur bersama. Tubuhku terlalu berharga untuk gadis sepertimu. Di sini, kamu adalah mainan. Camkan itu.” Daniel meraih dagu Jane, membiarkan pandangan mereka bertemu. Ia sendiri tidak menyangka kalau akan ditatapi begitu tadi. Mana ada yang berani melihatnya selekat Jane? “Tubuhku juga berharga.” Jane berbisik, mengeluarkan sisa keberaniannya. Mati sepertinya lebih baik daripada dibiarkan hidup dalam kegilaan. Daniel terpaku, tapi tidak menanggapi itu. Rasa empati dalam dirinya sudah mati rasa. Ia pernah melakukan puluhan kali lebih kejam dari ini. Mematahkan tulang dari jari seseorang adalah rutinitas hariannya dulu. Mungkin karena sudah lama tidak melakukan, hatinya melemah. “Ganti bajumu. Naik ke atas ranjang bersamaku. Hari ini aku lelah, butuh istirahat. Bicaralah dengan Jim kalau lapar atau apapun besok. Tapi selain itu, jangan melangkahkan kaki sesentipun dari apartement ini.” Daniel menghempas wajah Jane lalu menunjuk kamar mandi. Sedikit alkohol akan membantunya untuk tidur. Tamparan tadi hanya sapaan awal. Akan banyak hal lain yang bisa dilakukan selama tiga hingga empat bulan ke depan. Setelah masa kurungan rumahnya selesai, Daniel berniat melepaskan Jane. Untuk harga lima ratus juta, gadis itu harus dimanfaatkan sepuasnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD