Ternyata Aku Dijebak Oleh Tunanganku

1091 Words
"Senang bertemu denganmu, lagi, Nana." Nana adalah panggilan sayang Frans pada Leona dulu saat mereka masih berpacaran. Leona terkejut dengan ucapan Frans. "Oh, kau sudah datang, masuklah," ucap Panji tanpa tersenyum. Terlihat tatapan dingin yang begitu menusuk. Leona pun masuk ke dalam rumah tersebut. Setelah mereka semua duduk, Leona langsung meminta penjelasan dengan ini semua. "Panji, apa kau ke sini untuk berbaikan dengan ku?" tanya Leona penuh harap. "Berbaikan, hahaha, kenapa kau bisa berpikiran seperti itu, Leona! Memangnya siapa yang mau menikah dengan wanita yang tidak bisa menjaga kehormatannya." Panji tergelak namun tawanya terasa begitu mengancam. "Panji, aku tahu, pasti ada yang menjebakku. Kita bisa mencari pelakunya bersama-sama," ucap Leona penuh keyakinan. Panji dan Frans pun terlihat saling menatap. Namun beberapa saat kemudian, mereka berdua tertawa bersama. "Frans, bagaimana dulu kau bisa mencintai wanita sebodoh ini?" "Entahlah, Kak, aku juga tidak mengerti, mungkin dia menggunakan sihir atau semacamnya." "Kenapa kalian tertawa? Apa kalian tahu sesuatu?" "Tentu saja, bodoh. Bukan hanya tahu, tapi Kamilah orang yang menjebak mu!" Bagai disambar petir saat Leona mendengar pengakuan dari Panji. "Apa? Kau bercanda, kan?" "Bercanda? Apakah wajah ini terlihat sedang bercanda?" tanya Panji dengan tatapan tajamnya. "Ke-kenapa kalian melakukan semua ini?" "Kenapa kau bilang? Coba kau ingat lagi kejadian beberapa tahun yang lalu saat kau mempermalukan adikku hingga seisi kampus menertawainya dan menganggapnya pecundang!" Panji menggebrak meja hingga membuat Leona terkejut. Kini pikiran Leona kembali ke beberapa tahun yang lalu tepatnya saat ia dan Frans masih berpacaran. Frans adalah laki-laki yang baik dan pengertian. Selalu melakukan apa saja untuknya. Namun, satu hari, sebuah insiden mengubah semuanya. Kala itu, tanpa sengaja Leona melihat Frans sedang bersama dengan adik seniornya. Sebenarnya Leona tidak masalah karena menganggap mereka hanya teman. Namun, Frans yang merasa bersalah langsung menghampirinya dan berlutut di depannya memohon maaf. Leona langsung mengatakan bahwa ia tidak mempermasalahkannya. Namun, ternyata momen itu direkam oleh salah seorang teman Leona. Ia pun menyebarkannya ke grup kampus dengan tulisan, 'Ketika Pria Bersalah, Maka Ia Langsung Kehilangan Harga Diri' Sontak foto tersebut langsung menjadi bahan perbincangan satu kampus. Apalagi, saat itu pose Leona sedang menghadap ke arah lain, otomatis, orang yang melihatnya mengira bahwa Leona tidak mau memaafkannya. Sejak hari itu, Frans selalu menjadi bahan gunjingan. Tak jarang teman-temannya meledeknya sebagai seorang pengecut yang tunduk pada wanita. Sedangkan Leona sendiri menanyakan tujuan temannya memotretnya dan menyebarkannya ke seisi kampus. Namun, tanpa diduga, teman Leona malah bertingkah seolah-olah dia sudah disuruh Leona untuk merekamnya. "Kau yang sudah menyuruh ku untuk merekamnya dan menyebarkannya, bukan? Kau ingin terlihat seperti wanita yang hebat. Bahkan kau berpacaran dengan Frans karena kalah taruhan denganku." Begitulah ucapan Santi, teman Leona. Mendengar kenyataan itu, Frans langsung pindah ke luar negeri. Dan sepertinya, di sanalah ia melakukan aksi bunuh diri yang nyatanya tidak berhasil merenggut nyawanya. Leona yang merasa telah dijebak oleh Santi menemukan fakta bahwa Santi sangat membencinya sedari dulu karena ia lebih dulu menyukai Frans. Namun Frans malah menyukai Leona. "Frans, dengarkan aku, aku tidak bermaksud begitu. Sebenarnya semua itu adalah ulah Santi. Dia sengaja membuat kau membenciku," ucap Leona. "Alasan klasik! Aku tidak percaya padamu!" Frans menatap sinis pada Leona. "Sekarang kau telah menanggung akibatnya, dan itulah tujuan ku mendekati dan mengajakmu menikah. Aku ingin membalas dendam adikku dengan mempermalukan mu di hadapan keluargamu." Panji tersenyum menyeringai. "Tidak, Kak, kau lupa memberi tahu satu hal." "Oh iya, aku sampai lupa. Kau bisa mengecek sosial media sekarang. Aku yakin beritanya sudah menyebar luas." Panji tersenyum licik. "Apa?" Dengan perasaan bingung bercampur takut, Leona langsung membuka sosial media miliknya. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat foto-foto dirinya yang tidur dengan pria tersebar di media sosial namun wajah pria yang bersamanya di blur. DIDUGA DISELINGKUHI, PANJI ATMAJAYA MEMBATALKAN PERNIKAHAN DENGAN LEONA HAEDAR. CEO HDR GROUP BERSELINGKUH DAN GAGAL MENIKAH. PERUSAHAAN HDR GROUP TERANCAM KEHILANGAN REKAN BISNIS. TIDAK DISANGKA, WANITA TERHORMAT SEPERTI LEONA TERNYATA HANYALAH SEORANG WANITA YANG TIDAK BISA MENJAGA KEHORMATAN KELUARGANYA. Mata Leona terbelalak melihat berita-berita tersebut. Ia menatap Panji yang kini tengah tersenyum kepadanya. "Bukankah keluarga mu sudah mendapatkan keinginan mereka? Mereka juga sudah menandatangani perjanjian untuk tidak menyebarkan foto-foto tersebut." "Ya, tapi yang keluargamu tahu, aku menerima foto memalukan itu dari paket misterius. Jadi, sudah jelas yang menyebarkan adalah orang yang mengirim paket, bukan kami," ucap Panji dengan entengnya. "Kalian benar-benar kejam!" Leona menarik kerah baju Panji hendak mencekiknya. Namun, hal itu langsung dihentikan oleh Frans. Ia menarik tangan Leona dan mendorongnya ke lantai sampai kepala Leona membentur dinding. "Dasar wanita tidak tahu diri! Pergi kau dari sini!" usir Frans. Dengan tangisan yang tak bisa lagi terbendung, Leona pun pergi dari tempat itu. Namun, senyuman terpancar di wajahnya karena ia berhasil merekam kejadian tadi dengan kamera pengintai yang ia pasang di saku jaketnya. Namun, saat meraba sakunya, ia sama sekali tidak menemukan kamera tersebut. Dan tak berselang lama, masuklah sebuah pesan dari Panji. [Mencari ini?] Dengan disertai foto kamera pengintai yang sudah hancur terinjak. [Jangan kau kira kami tidak tahu akal licikmu. Kami jauh lebih pintar darimu. Lain kali, jika ingin merekam, gunakan otakmu lebih baik lagi] Setelah itu, semua pesan menghilang. Hati Leona benar-benar hancur. Rencana yang telah ia susun nyatanya gagal. Panji dan Frans jauh lebih licik darinya. Sesampainya di rumah, Leona melihat ibunya yang menangis histeris sedang ditenangkan oleh ayah tirinya. "Tidaaaaaak! Aku hancur! Aku hancur!" "Tenanglah, Sayang, pikirkan kesehatan mu!" "Aku hancur, Daniel! Semua sudah melihatnya!" Perlahan Leona masuk ke dalam rumah. Seketika, ibunya langsung berhenti menangis. Dengan tatapan tajamnya, Lyana berlari ke arah Leona dan menamparnya. Tak hanya itu, ia juga menendang perut Leona dan menjambak rambutnya secara brutal. "Ibu, lepaskan Kakak!" Livia berusaha melepaskan tangan ibunya dari Leona. Darah keluar dari mulut Leona karena pukulan bertubi-tubi di wajahnya. Memang, jika sedang murka, tenaga ibunya tidak bisa dilawan. "Biarkan saja! Biar anak ini mati saja sekalian! Aku menyesal telah melahirkan dirinya!!!" Daniel dan beberapa pengawal akhirnya berhasil melepaskan tangan Lyana dari kepala Leona. Dengan tertatih-tatih, Leona akhirnya bisa berdiri. "Bu, aku bisa menjelaskannya. Aku tidak,,,," "Diam kau!!" Sebuah vas bunga berbahan dasar kaca pun pecah saat menghantam dinding tepat di sebelah Leona. "Sekarang pergi! Pergi dari rumah ini! Aku tidak sudi mempunyai anak seperti mu! Mulai detik ini! Aku mencoret mu dari daftar keluarga ku!" "Bu, istighfar, Bu," ucap Livia mengingatkan. "Usir dia dari sini! Usiiiiir!" teriak Lyana seperti sedang kesetanan. "Bu, kasihan Kakak!" ucap Livia. "Jika kau tidak pergi dari rumah ini, maka aku akan membunuh diriku sendiri agar aku tidak perlu melihatmu!" ancam Lyana. Dan ancaman itupun sukses membuat Leona meninggalkan rumah tersebut tanpa membawa apapun. Bahkan ponselnya tertinggal di dalam rumah karena terjatuh saat ibunya menghajarnya habis-habisan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD