Pertemuan yang Tak Disengaja

1362 Words
Sudah Satu Minggu Leona menggelandang di jalanan. Ia sudah meminta bantuan pada teman-temannya, namun tidak ada satupun yang mau menolongnya. Dengan pakaian lusuh, bau dan kotor, Leona menyusuri jalanan sambil menyanyikan lagu-lagu dengan peralatan seadanya dari mobil ke mobil saat lampu sedang merah. Karena keadaannya yang sangat memprihatinkan, sampai-sampai tidak satu orang pun yang mengenali wajah yang tertutup debu itu. Saat dirinya sedang mengamen di sebuah mobil, tiba-tiba saja, dari arah belakang ada yang memanggilnya. Saat Leona berbalik, betapa terkejutnya ia melihat Livia sedang berusaha keluar dari mobil. Melihat hal itu, Leona pun langsung berlari menjauh. Ia sama sekali tidak ingin bertemu dengan Livia dalam keadaan seperti ini. "Hei, Liv, ada apa?" tanya teman Livia yang memanggilnya dari dalam mobil. "Tidak, sepertinya aku salah orang." Livia pun kembali masuk ke dalam mobil. Sepanjang jalan, dia terus memikirkan orang yang mirip Leona tadi. Ia yakin bahwa wanita itu memang benar-benar Leona. *** Pada malam harinya, Livia sedang melamun di kamarnya. Kamar empuk berukuran besar dengan selimut tebal dan lembut. Ia menatap keluar jendela yang ternyata sedang hujan. Ia pun berjalan menuju jendela dan melihat air langit yang jatuh membasahi bumi. "Malam ini sangat dingin, Kak. Dengan apa kau tidur untuk menghangatkan tubuhmu? Dimana kau tinggal? Nyamankah? Mengapa juga kau harus melakukan tindakan yang membuat mama marah besar, Kak. Mengapa?" Livia menggigit bibir bawahnya sambil menangis tersedu-sedu. Ia pun memberanikan diri untuk menemui ibunya untuk memberitahu mengenai Leona yang hidupnya berantakan. "Bu, aku mohon, tolong ajak Kak Leona kembali ke rumah ini," "Diam, kau Livia! Untuk apa Ibu membawa anak tidak tahu diri itu ke rumah ini?! Dia sudah membuat malu keluarga kita. Bahkan sampai sekarang, Ibu masih menjadi bahan ejekan saat bertemu dengan teman-teman arisan Ibu!" tolak Lyana sambil menatap tajam ke putri keduanya itu. "Tapi, Bu. Kasihan Kakak. Tadi aku melihatnya dengan keadaan yang memprihatinkan. Dia….dia menjadi gelandangan, Bu. Apa Ibu tidak kasihan melihatnya? Dia kedinginan, kelaparan, dan kesepian setiap hari." Livia masih tidak bosan membujuk sang ibu supaya menurunkan egonya walau sedikit saja. "Ibu tidak peduli! Biar dia merasakan akibat dari ulahnya sendiri! Anak tidak tahu malu sepertinya hanya akan mengusahakan saja! Untung sekarang perusahaan sudah dipegang ayahmu, sehingga para investor yang sebelumnya pergi karena ulah Leona, kini datang kembali." "Bu, aku mohon!" "Cukup, Livia! Sekarang pergi ke kamarmu!" Suara bentakan Lyana akhirnya membuat Livia terdiam. Gadis cantik itu berlari keluar dan masuk ke kamarnya dengan air mata yang mengalir di pipinya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang sambil menangis. Sementara itu, Lyana masuk ke dalam kamar dengan emosi yang memenuhi hatinya. Ia bahkan duduk di sofa kamarnya dengan kasar dan wajah yang ditekuk. Daniel, suami Lyana menghampirinya dan mencoba menenangkannya. "Kenapa, Sayang?" tanyanya dengan lembut. "Livia! Dia memintaku untuk membawa kembali Leona ke rumah ini! Tentu saja aku marah!" "Leona? Apa Livia bertemu dengannya? Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" "Kau ini sama saja seperti Livia! Untuk apa menanyakan kabarnya? Dia itu tidak pantas berada di rumah ini!" Lyana menyilangkan tangannya di d**a sebagai tanda kekesalannya. "Sayang, jangan begitu. Bagaimanapun juga, Leona itu adalah darah dagingmu. Dia itu anak kandungmu. Apa kau tidak kasihan melihatnya menderita seperti itu? Hidup sendirian dan penuh penderitaan di luar sana." Kini Daniel mengusap lembut rambut Lyana. "Ah, sudahlah! Jangan menasehati ku, Daniel! Aku muak mendengar namanya!" Lyana yang semakin kesal memilih naik ke ranjang dan tertidur tanpa memperdulikan Daniel yang kini menatap heran padanya. Bagaimana bisa seorang ibu yang tega membiarkan putrinya menderita? *** Keesokan harinya, Leona yang sedang berjalan di dekat pangkalan ojek terkejut saat seseorang berteriak dari arah belakangnya. "Awas! Minggir!" Leona langsung refleks menghindar, dan orang yang berteriak di belakangnya itu masuk ke dalam parit yang tidak dialiri air bersama sepeda motornya. Seketika suasana menjadi panik. Beberapa orang mencoba membantu pria itu untuk keluar dari parit, sedangkan yang lainnya mencoba menaikkan sepeda motornya kembali. "Erik, kenapa bisa begini?" tanya seorang pengemudi ojek pada pria yang ternyata bernama Erik. Pria yang bernama Erik itu itu masih memakai helmnya sambil mengibaskan tangannya membersihkan debu di celananya, juga rerumputan yang menempel di bajunya. "Astaga, Abang tampan, harusnya lebih hati-hati," ucap penjual es buah yang tak jauh darinya. "Mas tampan, apanya yang sakit? Sini, Mimi obati," ujar seorang penjual rujak yang juga mangkal di sana. "Tidak usah, Mbak, terima kasih, saya baik-baik saja." Erik menolak sehalus mungkin. Ia membuka sedikit kaca helmnya. Memperlihatkan wajah tampannya meski hanya sedikit. Tentu saja para wanita yang melihatnya langsung terpesona, padahal dirinya hanyalah ojek offline yang mendapatkan penumpang secara manual, bukan online seperti zaman sekarang. "Hei, Erik. Jadi ini kenapa?" tanya teman Erik yang masih belum mendapatkan jawaban darinya. "Remku blong. Aku baru menyadarinya saat datang ke arah ini," ujar Erik sambil menunjuk rem kakinya yang blong. "Astaga, bagaimana bisa? Ya sudah, biar aku perbaiki." Teman Erik pun memperbaiki rem Erik dengan peralatan seadanya. Erik yang baru teringat langsung menghampiri Leona yang masih berdiri dengan wajah cemas. "Nona, maafkan aku," ucapnya saat sudah berada di depan Leona sambil perlahan membuka helmnya. "Tidak apa-apa, aku baik-baik sa…." Leona menghentikan ucapannya saat melihat wajah Erik. Ia menutup mulutnya dengan tatapan tidak percaya. "Kau!" "Nona, kenapa?" tanya Erik yang langsung panik melihat ekspresi Leona. "Bukankah kau pria yang ada di hotel itu?" tanya Leona yang masih dengan wajah terkejutnya. "Apa?" Erik juga tampak terkejut mendengar nama hotel. "Beberapa bulan yang lalu, di sebuah hotel, kamar nomor empat kosong dua." "Apa? Jadi kau…. kau wanita itu?" tanya Erik tak percaya. Ia memang tidak melihat wajah Leona, tapi ia sempat melihat tanda lahir di belakang punggung Leona. "Ikut aku!" Leona menarik Erik menjauh dari keramaian. "Sekarang katakan, kenapa kau bisa berada satu kamar denganku. Terus, kenapa kita bisa tidur bersama?" tanya Leona tidak sabaran. Waktu itu, memang Leona sempat tersadar dan melihat wajah Erik. Namun, karena masih mengantuk, ia kembali terlelap dan menganggapnya hanya mimpi. Sedangkan Erik, ia yang bangun setelahnya terkejut dengan keberadaan Leona di sampingnya. Ia hanya melihat punggung Leona saja, lalu pergi karena panik. Apalagi, mereka tertidur dalam keadaan tidak memakai pakaian yang lengkap. "Aku…. aku tidak mengerti. Saat itu, aku mendapat penumpang yang minta diantar ke hotel itu. Tak hanya itu, dia juga menyuruhku pergi ke kamarmu untuk memberikan bunga untukmu. Namun, setelahnya, aku merasa seperti dibekap, lalu, begitu aku sadar, aku sudah berada di sampingmu dengan pakaian yang tidak lengkap," jelas Erik panjang lebar. Ia juga tidak tahu menahu mengapa ia bisa sampai tidur di sana. Seingatnya, ia hanya disuruh mengantarkan bunga dari penumpangnya. "Apa kau ingat siapa orangnya?" Leona semakin tidak sabar. "Seorang pria tinggi dan tampan, tapi aku tidak tahu siapa namanya." Erik menggelengkan kepalanya. "Yang jelas jika dilihat dari pakaiannya, sepertinya dia adalah pria mapan yang kerja kantoran." "Dia Panji, tunanganku yang menjebakku dengan kau sebagai objeknya!" Leona menatap serius. "Tunanganmu? Mengapa dia tega sekali?" tanya Erik terkejut. Jika pada umumnya tunangan itu adalah orang yang akan merajut masa depan dengan pasangannya, lain halnya dengan Panji, tunangan Leona yang malah menghancurkan hidup Leona. "Dia memang berencana balas dendam padaku karena kesalahpahaman yang terjadi antara diriku dan adiknya dulu. Dan sekarang dia berhasil! Aku diusir dari rumah, dicoret dari keluarga, dan hidup sendirian," ucap Leona santai. Tidak perlu sedih untuk menceritakan keadaan yang sekarang. Saat ini, ia benar-benar tidak butuh dikasihani karena menggelandang membuat mentalnya semakin kuat. "Astaga, dia tega sekali. Maafkan aku, harusnya aku tidak pergi, jadi, aku bisa memberikan kesaksian untuk menyelamatkanmu," ujar Erik dengan wajah bersalah. Sebagai pria, harusnya saat itu ia tidak pergi. Meski ia tidak ingat dengan apa yang mereka lakukan malam itu, tetapi, ia ikut andil dalam kejadian waktu itu. Ia benar-benar merasa payah menjadi seorang lelaki gentleman. "Ini bukan salahmu. Kita sama-sama korban. Meskipun kau memberikan kesaksian, tetap saja, dia punya banyak cara untuk menyangkalnya." Leona menghela nafas berat. "Lalu, bagaimana hidupmu sekarang? Apa kau tidak ingin meluruskan ini semua?" "Maksudmu?" Leona mengernyitkan dahinya. "Jika dia sudah menghancurkanmu, maka kau juga harus menghancurkan dia!" Kini Erik menatap serius. "Bagaimana mungkin? Aku sendirian, dan tidak punya apa-apa. Aku tidak akan bisa melawannya." "Bisa, kau bisa melakukannya bersamaku. Kita akan sama-sama balas dendam pada Panci itu." "Panji!" "Oh ya, maksudku Panji." "Caranya?" "Kita bisa mengaturnya. Mempersiapkan semua rencana dengan matang, tapi ada satu syarat." "Syarat apa?" tanya Leona penasaran. "Menikahlah denganku." "Apa?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD