Acara telah usai. Rumah paman dan bibi Leona sudah sepi kembali. Menyisakan beberapa orang yang membantu membereskan semua piring kotor dan sisa makanan.
Kini tibalah saatnya Leona pergi bersama suaminya, yaitu Erik.
"Erik, tolong, jagalah Leona. Sekarang dia menjadi tanggung jawab mu. Jika kalian ada waktu, rajin-rajinlah mengunjungi kami. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk kalian," ucap Arfian pada Erik yang saat ini sedang berada di depannya. Menatapnya dengan serius, mendengarkan dengan patuh, serta menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.
Leona cukup terkesan dengan sikap Erik yang begitu menghormati orang tua meski itu bukanlah keluarganya.
"Baik, Paman, aku mengerti. Terima kasih telah menikahkan kami, bahkan Paman dan Bibi juga menggelar acara kecil-kecilan. Ini lebih dari yang kami harapkan."
"Tidak apa-apa, Nak. Leona adalah keponakan kami. Sudah sepantasnya kami melakukan hal itu." Arfian menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Iya, Nak Erik, kau juga sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Kami ini tidak punya anak, jadi, anggaplah kami orang tua kalian juga. Jangan sungkan untuk ke sini, anggap saja rumah sendiri," sambung Bella.
"Terima kasih, Paman, Bibi. Kami pasti akan sering-sering mengunjungi kalian." Leona tersenyum sambil mengangguk.
Setelah itu, mereka pun segera berpamitan untuk pulang ke rumah Erik. Mereka hanya menaiki sepeda motor berjenis matic yang merupakan sepeda motor yang digunakan Erik untuk membawa penumpang saat ia bekerja. Mereka juga sudah meninggalkan alamat rumah Erick kepada paman dan bibinya jika sewaktu-waktu mereka ingin mampir.
Arfian dan Bella menatap kepergian sepasang suami istri itu dengan perasaan haru. Baru beberapa hari ini mereka merasakan menjadi orang tua karena adanya Leona di sana. Selama ini mereka memang tidak pernah mempunyai anak lagi setelah anak perempuan mereka meninggal akibat kelainan jantung beberapa hari setelah dilahirkan.
"Aku akan sangat merindukan Leona. Dua hari bersamanya merupakan momen yang paling berharga untukku, Mas," ujar Bella sambil menyandarkan kepalanya di pundak Arfian.
Ia masih ingat saat dua hari ini mengobrol bersama dengan Leona. Gadis itu mencurahkan isi hatinya kepada Bella.
Saat itu, Leona sedang istirahat di kamarnya.
"Leona, boleh Bibi masuk," ujar Bella sambil mengetuk pintu kamar Leona.
Leona langsung membukakan pintu kamar, lalu mempersilahkan Bella masuk.
"Ini kan rumah Bibi, mengapa masih bertanya."
"Tidak, Sayang. Kau adalah penghuni kamar ini, makanya Bibi harus mengetuknya dulu." Bella duduk di samping Leona, tepatnya di atas ranjang berukuran kecil itu.
"Bi, terima kasih, ya, sudah membantuku mengurus pernikahan ku. Maaf, sudah merepotkan." Leona menatap Bella dengan tatapan haru. Disaat ibunya sendiri membencinya, ada sosok Bella yang begitu menyayangi dirinya.
"Sama-sama, Nak. Bibi juga senang bisa membantumu." Bella mengusap lembut kepada Leona. 'Anak yang malang,' batinnya.
"Aku tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi selain paman dan bibi. Tidak ada yang mau menerimaku sejak kejadian itu." Leona tertunduk sedih.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Yang penting, sekarang kau akan menikah dengan pria itu. Bibi tahu kau tidak sengaja melakukan kesalahan itu." Bella menatap lembut keponakannya itu.
"Tapi, Bi, itu bukan salahku. Maksudku, aku dijebak oleh Panji sendiri. Dia ingin menghancurkan hidupku," ujar Leona dengan mata berkaca-kaca. Seketika ia jadi teringat dengan kejadian menyakitkan itu. Kejadian dimana ia dicampakkan oleh keluarganya sendiri karena fitnah dari Panji.
"Bagaimana bisa, Nak? Apa yang sebenarnya terjadi?" Bella menatap penasaran.
"Dulu, aku pernah berpacaran dengan adiknya Panji dan katanya dia pernah hampir bunuh diri karena ulahku. Karena itu Panji menjebakku. Dia membuat ku dan Erik tidur bersama dan memotret kami. Lalu, di hadapan seluruh keluarga, dia melakukan playing victim seolah-olah dialah pihak yang tersakiti. Padahal semua itu hanya sandiwara, Bi."
Kini air mata Leona tak mampu terbendung. Ia menangis lantaran kembali mengingat betapa perihnya perasaannya hari itu.
"Dan setelah itu, aku diusir hingga menjadi gelandangan di jalan selama seminggu. Tidur di bawah jembatan dengan alas kardus dan selimut karung, makan dari belas kasihan orang, bahkan aku pernah makan dari tempat sampah."
Leona tak mampu menahan gejolak amarahnya. Ia semakin menangis tersedu-sedu dengan rasa kesal yang teramat dalam.
"Sayang, sabarkan dirimu. Istighfar, jangan terpancing oleh emosi, itu tidak baik." Bella memberikan segelas air pada Leona sembari mengajarinya melafazkan istighfar. "Astaghfirullahaladzim."
"Astaghfirullahaladzim." Leona beristighfar.
"Sekarang kau harus tenang. Bibi percaya padamu. Kau adalah korban, suatu hari nanti kau akan mendapatkan keadilan. Ingat, Allah bersama orang-orang yang sabar."
"Ya, Bi, terima kasih telah mendengarkan. Sekarang aku jauh lebih baik." Leona mengusap air matanya, lalu tersenyum pada Bibinya.
"Oh ya, sebenarnya ada yang ingin Bibi berikan padamu," ujar Bella sambil mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya. Ia lantas membukanya, lalu mengeluarkan isinya yang ternyata adalah sebuah kalung yang cantik.
"Ini adalah kalung yang Paman dan Bibi beli kemarin. Sekarang Bibi berikan padamu sebagai hadiah pernikahan, terima lah." Bella menyerahkan kalung itu ke tangan Leona.
"Tapi, Bi, ini pasti mahal. Aku tidak bisa menerima kalung ini. Aku tidak pantas."
"Kau lebih dari pantas, Nak. Ini adalah hadiah pernikahanmu. Jika kau menganggap Bibi adalah keluarga mu, maka terimalah."
Leona akhirnya menganggukkan kepalanya. Ia menerima kalung tersebut. Bella membantunya memakai kalung itu.
"Cantik sekali, Bi," ucap Leona berdecak kagum. Kalung dengan jenis rantai itu melingkar sempurna di leher jenjangnya.
"Benarkan, cocok sekali." Bella juga berdecak kagum.
Leona kembali terharu karena akhirnya, ia kembali memiliki kalung meski bukan berlian seperti yang ia pakai dulu saat menjadi CEO. Pakaian mahal, mobil mewah, berlian, tas, serta sepatu branded, semua ia miliki. Namun sekarang, ia hanya memakai pakaian lusuh dengan wajah yang sangat kusam akibat hidup di jalanan.
Hari itu Bella dapat melihat senyuman bahagia Leona.
Arfian mengusap punggung Bella, lalu merangkulnya kembali.
"Dia memang anak yang baik. Sayang sekali dia mendapat perlakuan yang buruk dari ibunya." Menatap prihatin pada anak adiknya itu.
Ia merasa bahwa sejak Lyana menikah lagi, perhatian Lyana pada Leona seakan memudar. Perlahan kasih sayangnya berangsur-angsur menghilang. Sampai pada akhirnya, ia tega mengusir anaknya sendiri, bahkan mencoretnya dari daftar keluarga.
"Seharusnya Mbak Lyana bersyukur mempunyai anak yang sangat pintar dan berprestasi seperti Leona. Bahkan Livia berada jauh di bawah Leona jika berbicara soal prestasi," sahut Bella.
"Sudahlah, jangan suka membanding-bandingkan orang lain. Setidaknya sekarang sudah ada yang menjaga Leona. Ayo kita masuk."
Mereka pun segera masuk ke dalam rumah saat menyadari Leona dan Erik telah hilang dari pandangan.
Sementara itu, seseorang tengah tersenyum licik sambil melihat beberapa foto yang dikirimkan oleh orang suruhannya.
"Memang inilah yang aku harapkan. Pergilah yang jauh dan jangan pernah kembali!!"