Tamu Tak Diundang

1047 Words
Leona dan Erik sudah sampai di kediaman Erik. Kesan pertama yang Leona lihat adalah sebuah kesederhanaan dari rumah kecil dengan banyak tanaman di sekelilingnya. Benar-benar terlihat asri dan rindang. Banyak tanaman bunga yang menghiasi sekeliling rumah itu. Begitu juga dengan pohon-pohon yang lumayan besar, membuat rumah sederhana itu terlihat sejuk. Rumah itu berbahan batu permanen itu mempunyai cat berwarna biru, pas sekali dengan warna yang Leona suka. "Ini rumahmu?" tanya Leona yang masih tak mengalihkan pandangannya dari rumah itu. Ia lantas turun dari sepeda motor untuk mengintip bagian samping rumah itu. Ternyata, ada beberapa tanaman juga di sana. "Tidak, ini rumah kontrakan," sahut Erik sambil memarkirkan sepeda motornya ke teras rumah itu. "Bagus sekali. Jika kita punya uang, ayo, kita beli rumah ini," ujar Leona sambil menatap Erik dengan penuh harap. "Bukankah kau orang kaya? Kenapa ingin rumah seperti ini?" Erik mengernyitkan dahinya. "Sejak tinggal di jalanan, aku tidak peduli dengan rumah besar. Yang aku ingin rumah yang nyaman untuk aku tinggali. Sepertinya rumah ini sangat nyaman." Leona berdecak kagum. "Kau tidak tahu saja, kalau saat musim panas, banyak ular masuk ke dalam kamar mandi. Tikus menguasai plafon, dan kecoa ada dimana-mana." "Hah? Sebegitu parahnya?" Leona menatap khawatir. "Panggillah pembasmi kecoa, tikus, dan ular. Aku akan membantumu mencari uang, aku berjanji. Aku sudah pengalaman jadi tukang parkir, pedagang asongan, pengamen, bahkan pelayan di warteg." "Aku hanya bercanda. Rumah ini bersih dari hama. Aku selalu membersihkan pekarangan rumah setiap hari Minggu." Erik tertawa sambil berlalu ke dalam rumah itu. Leona berdecak kesal karena baru saja dibodohi oleh Erik. Ia pun ikut masuk ke dalam rumah mungil itu. Lagi-lagi, ia terkesan dengan dekorasi ruang tamu yang sangat rapi dan memanjakan mata. Erik memakai nuansa biru putih untuk dalam rumah itu. Ditambah sofa mungil dan juga vas bunga lumayan besar di pojokan menambah keindahan ruangan itu. Lantai terbuat dari marmer berwarna senada dengan dinding. "Ini kamarmu," ujar Erik sambil menunjuk sebuah pintu di dekat ruang tamu itu. "Dan ini kamarku." Menunjuk kamar lain di sebelahnya. Leona mengangguk. Ia pun segera memasuki kamarnya. Di dalam, ada sebuah ranjang berukuran sedang, sebuah lemari pakaian kecil yang baru, dan sebuah meja rias lengkap dengan kursinya. "Erik, kenapa kau membeli lemari baru?" tanya Leona dengan suara agar keras karena mereka berbeda kamar. "Lemariku hanya satu. Apa kau mau berbagi lemari denganku?" "Oh, begitu, terima kasih, ya." "Hmmm." Leona langsung memasukkan baju-bajunya yang ia dapat dari Bibinya. Selama tinggal di sana, Bibinya membelikannya banyak baju. Juga hadiah dari tetangga Bibinya itu, isinya adalah pakaian dengan berbagai jenis. "Assalamualaikum, Mas Eriiik." Terdengar suara ketukan pintu disertai suara genit seorang wanita. Erik langsung masuk ke dalam kamar Leona. "Aku mohon, hadapi dia," ujar Erik sambil berbisik pada Leona. "Dia siapa?" "Namanya Dara, dia itu mahasiswa langganan ojekku. Pasti dia ingin mengantarkan makanan lagi. Tolong, hadapi dia." Leona mengernyitkan dahinya. Bahkan seorang mahasiswa pun bisa tergila-gila dengan Erik. "Masih bocah, tidak masalah akan aku tangani." Leona langsung pergi keluar menuju pintu utama rumah itu. Ia pun langsung membuka pintu dan melihat sosok yang sejak tadi memanggil Erik tanpa henti. "Waalaikumsalam," sahut Leona setelah pintu terbuka. Raut wajah Dara seketika berubah. Senyum di wajahnya menghilang, berganti dengan raut wajah bingung. "Maaf, Mbak, siapa, ya? Kok ada di rumah Mas Erik?" "Oh, kenalkan, saya istrinya Erik." Leona mengulurkan tangannya ke Dara. Dara tidak menyambut tantan Leona. Ia hanya terbengong sambil terus menatap Leona tanpa henti. "Mbak, halo." Leona mengibaskan tangannya di depan wajah Dara, agar gadis itu segera tersadar dari lamunannya. "Eh, Mbak, jangan bohong. Mana mungkin Mas Erik menikah?" Dara mulai tersadar dari lamunannya. Ia mulai menatap curiga pada Leona yang ia kira sedang mengarang cerita. "Saya tidak bohong. Kami sudah menikah pagi tadi di rumah bibi saya. Ini buktinya." Leona mengeluarkan dompet kecilnya, lalu mengambil sebuah foto di dalamnya untuk diperlihatkan kepada Dara. Dara terkejut melihat foto pernikahan Erik dan Leona itu. Ia menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Mbak, foto bisa diedit, kan? Kau pasti bohong!" Dara masih bersikeras. "Ada apa, Sayang?" Terdengar suara Erik dari belakang Leona. Ia pun segera menghampiri Leona dan merangkul mesra pinggangnya. Mata Dara menatap tajam tangan Erik yang sedang merangkul mesra pinggang Leona. "Eh, Dara, ada apa?" tanya Erik dengan santainya. Ia bahkan semakin mempererat pelukannya ke Leona. Meski risih, namun Leona berusaha untuk tenang. "Mas, apa benar kau sudah menikah dengan wanita ini?" tanya Dara dengan tatapan tidak suka. "Benar, kami baru menikah tadi pagi." Kini Erik mencium kening Leona. Ingin rasanya Leona menginjak kaki Erik karena dengan lancang sudah menciumnya, namun, ia harus menahannya sebentar lagi sampai Dara pergi. "Kau pasti bohong. Selama ini aku tidak pernah melihat mu dengan wanita!" "Ya, karena kami menjalani hubungan jarak jauh. Iya, kan, Sayang." Erik menatap Leona sambil tersenyum. "Iya, Sayang." Leona mengangguk sambil membalas senyuman Erik. "Kau jahat, Mas! Masa kau tega menolakku demi wanita seperti ini. Dia ini mirip seperti wanita jalanan! Kulitnya saja kusam dan wajahnya tidak cantik!" Beginilah trik Dara jika ingin mengalahkan lawan, yaitu dengan body shaming. Leona yang tak terima langsung balas memaki Dara. "Biarpun aku buruk di matamu, tapi akulah wanita yang dipilih Erik! Memangnya kenapa kalau aku tidak cantik? Buktinya orang setampan Erik mau menikah denganku." Menatap sengit. "Halah, pasti kau memakai guna-guna pada Mas Erik, kan? Mana mungkin dia mau padamu! Dasar wanita tidak berpendidikan! Lihat saja aku? Aku cantik, berpendidikan, dan pastinya bisa menjadi istri yang berguna untuk Mas Erik." Leona menatap kesal. Tidak berpendidikan katanya? Jelas-jelas ia sudah bergelar S2. Seorang mantan CEO yang sangat berprestasi. Hanya saja, nasib buruk menimpanya saat ini. Dicampakkan oleh keluarganya sendiri karena fitnah dari orang lain. "Apa? Kau berpendidikan, tapi kenapa masih percaya guna-guna? Pendidikan macam apa yang kau tempuh? Perdukunan?" Leona tersenyum mengejek. "Jaga bicaramu, dasar sialan!" Dara siap melayangkan tamparan ke wajah Leona. Namun dengan cepat, Erik langsung menahan tangannya di udara. "Dara, cukup! Jangan hina istriku. Sekarang, jika kau tidak keberatan, silakan pergi. Kami sangat sibuk." Akhirnya Erik buka suara. Sepertinya ia sudah muak dengan tingkah Dara yang semakin keterlaluan. Dengan perasaan yang teramat kesal, akhirnya Dara pun pergi. Namun sebelum itu, ia menatap tajam pada Leona sebagai tanda awal permusuhan mereka. *** Seseorang terlihat sedang menghubungi orang suruhannya sambil terus memperhatikan foto Leona dan Erik. Senyuman licik pun lagi-lagi terbit di wajahnya. "Pokoknya kalian jangan lengah, terus awasi mereka!" titahnya penuh rencana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD