Velly mencondongkan sedikit bagian tubuh atasnya kearah Iyan seraya berkata pelan "Aku ingin memintamu mengatur para lansia untuk mengangkat jari tengah mereka kemudian berfoto."
"Apa?!" Teriak Iyan memekik "Aku sudah katakan jangan minta bantuan yang aneh-aneh." Ucap Iyan tak ingin menyanggupi keinginan dari Velly
"Ayolah Iyan, bantu aku!" Rengek Velly meraih tangan Iyan lalu menggoyang-goyangkannya seperti sebuah ayunan.
"Bagaimana cara aku meminta mereka semua untuk mengangkat jari tengahnya?"
"Kau hanya meminta mereka mengangkat jari tengahnya saja bukan meminta mereka mengangkat beban besi seberat lima puluh kilo." Ketus Velly "Kaukan akrab dengan mereka, mereka pasti akan menurutimu. Katakan saja itu sebagai foto kenang-kenangan." Usul Velly "Kau mau membantuku atau tidak?"
"Gak!" Sambar Iyan cepat tanpa berpikir terlebih dahulu membuat Velly mulai jengkel.
"Oke! Baiklah kalau begitu, tapi jangan salahkan aku jika aku akan menceritakan pada Mbak Desi bahwa kau dulu perna mengompol di celana saat studi tour." Velly mengancam membuat Iyan langsung tersentak dan panik.
Velly sangat tahu betul kelemahan Iyan adalah Desi, pasalnya lelaki itu sedang melakukan PDKT dengan sepupunya yang bernama Desi Delasta.
"Baiklah!.. Akan ku usahakan." Sambar Iyan cepat membuat senyum diwajah Velly langsung mengembang.
"Nah gitu dong!" Seru Velly seraya memukul lengan Iyan pelan "Sesama teman harus membantu." Ucapnya yang langsung mendapat tatapan sinis oleh Iyan.
"Andai kau tidak mengancamku, aku tidak akan membantumu." Sahut Iyan kesal namun tak direspon oleh Velly
Iyan dan Velly kini berjalan untuk kembali ke lokasi senam, wajah Velly terlihat berseri-seri sedangkan wajah Iyan terlihat bermuram durja.
Iyan dengan cepat mengambil mic saat melihat beberapa lansia hendak pulang selsai senam "Jangan dulu pulang, Kakek, Nenek." Ucap Iyan spontan membuat beberapa lansia yang nyaris pulang itu langsung memberhentikan langkahnya dan berbalik menatapnya.
"Sebelum pulang bagaimana kalau kita semua berfoto dulu sebagai kenang-kenangan." Usul Iyan.
Mendengar ucapan Iyan, Nhosa spontan menatap Velly yang ada di sampingnya ternyata inilah rencana gadis berambut kriting itu, sementara Velly hanya tersenyum memabanggakan diri di hadapan Nhosa "Velly gituloh!" Ucap gadis berambut kriting itu seraya mengangkat bahu bajunya.
Para lansia itu merespon dengan baik ajakan Iyan merekapun kemudian kembali berkumpul mengambil posisi yang bagus menurut mereka.
Velly mendorong Nhosa kearah depan untuk memotret mereka nampaknya Velly juga ingin ikut andil dalam memberikan jari tengah di foto itu. Velly mengambil posisi di samping Iyan, memukul lelaki itu pelan agar lelaki itu meminta para lansia untuk mengangkat jari tengahnya, Iyan lalu berkata "Jangan lupa setelah satu, dua, tiga angkat jari tengahnya semua yah?"
"Iya!" Sahut semua lansia yang nampak menuruti keinginan Iyan.
Nhosa memgeluarkan ponsel pintarnya, ia berdiri berhadapan langsung dengan kerumunan lansia itu.
"Satu, Dua, Tiga!" Ucap Nhosa serentak para lansia itu mengangkat jari tengah mereka begitu juga dengan Velly dan Iyan.
Nhosa tersenyum melihat hasil fotonya yang bagus, merasa puas karena berhasil mengabadikan jari tengah para lansia dengan sempurna.
"Terimakasih, terimakasih." Ucap Iyan canggung kearah para lansia yang nampak senang itu.
"Aku merasa bersalah pada para lansia itu, aku seperti telah mengajari mereka sesuatu yang buruk." Ucap Iyan dengan wajah sedihnya.
"Ayolah Iyan, tak usah murung begitu, lagi pula mereka tidak tahu arti jari tengahnya jadi tak perlu khawatir aku juga tidak akan menyebar luaskan foto jari tengah mereka, jadi tenanglah. Sebagai imbalan atas bantuanmu, hari minggu yang akan datang aku akan mengatur kencanmu dengan Mbak Desi, bagaimana?" mendengar tawaran dari Velly spontan kekesalan dan rasa sedih Iyan langsung menghilang "Benarkah?" Tanyanya, Velly dengan cepat menganggukan kepalanya.
"Janji, minggu depan ini kau harus mengatur kencannya?" Ucap Iyan seraya mengacungkan jari kelingkingnya kearah Velly dan tanpa buang-buang waktu Velly langsung mengaitkan jari kelingking mereka "Janji," sahutnya.
"Terimakasih!.." Teriak Nhosa seraya berlari kearah Velly, memeluk gadis itu begitu Iyan telah pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kau memang yang terbaik!" Seru Nhosa mencium pipi Velly berkali-kali dengan gemas.
"Hentikan Nhosa, jika ada yang melihat mereka akan berpikir yang negatif tentang kita." Ucap Velly seraya memandang kearah sekitar.
"Aku tidak peduli," sahut Nhosa seraya mempererat pelukanya pada Velly.
"Rasakan kau, Tuan stiker wajah datar. Akan ku pastikan kau kalah kali ini." Ucap Nhosa membatin.
***
Setelah pulang dari taman Nhosa memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu dengan mandi kemudian mengganti bajunya dengan piama favoritenya. Dres selutut berwarna hitam tanpa lengan dengan motif kupu-kupu menjadi baju tidur kesayangan milik Nhosa.
Setelah dirasa cukup Nhosa akhirnya berjalan menghampiri tempat tidurnya mendudukan dirinya disana seraya menyandarkan punggungnya dibagian kepala tempat tidur. Tangan Nhosa terjulur meraih ponsel pintarnya yang ada di atas nakas.
"Waktunya berperang, Tuan stiker wajah datar!" Ucap Nhosa seraya berusaha melemaskan otot-otot jari tanganya karena jari-jari itu sebentar lagi akan mulai sibuk mengetik balasan chatt dari pemilik akun bernama Juan_Pernando
***
Juan terdiam dalam kamarnya. Lelaki bermata coklat itu masih menunggu balasan chatt dari Nhosa
Juan yang duduk di sofa tunggal seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa sembari menaikkan kedua kakinya ke atas meja yang ada di depan sofa terlihat bingung memandang ponselnya.
Berrrtt!... Ponsel pintar milik Juan bergetar tepat saat dia hendak putus asa karena menunggu lama.
Mendapati getaran ponselnya Juan yang sedang bersandar di sandaran sofa sponta menegakkan tubuhnya 'Nhosa_Morries mengirimi anda pesan di kotak pertemanan' bunyi pemberitahuan yang dibaca oleh Juan
"Akhirnya dia membalas pesanku juga!" Seru Juan dengan pandangan menatap takjub kearah layar ponselnya tanpa buang-buang waktu Juan langsung membuka pesan mawar itu.
Juan menyerengit melihat foto sekumpulan lansia berpose mengacungkan jari tengahnya dengan keterangan dibawa foto berbunyi 'Sekarang kau lihatkan bahwa aku pemenang sejatinya'.
Setelah mendapat balasan chatt dari Nhosa, Juan segera mengetik balasan untuk Nhosa namun saat ia hendak mengirimkan chatt balasannya chatt itu selalu gagal terkirim.
"Apa yang terjadi?" Pikir Juan sebelum kemudian Juan mencari kontak milik Mike di ponselnya dan segera menelpon Mike begitu menemukan kontaknya.
"Iya Juan ada apa?" Tanya Mike saat lelaki itu menjawab panggilan telpon
"Mike ada yang aneh dengan akun flower friendsku, aku mengirimi gadis bernama Nhosa Morries itu chatt tapi chattku selalu gagal terkirim dan aku sudah tidak bisa melihat foto profil gadis itu lagi akunnya bahkan menghilang dari pertemananku." Jelas Juan dengan nada panik
"Hhmm!! Akhirnya terjadi juga." Gumam Mike membuat Juan bingung
"Apa maksudmu?" Tanya Juan
"Itu tandanya gadis itu sudah memblokirmu." Jawab Mike
"Apa!!..." Pekik Juan dengan wajah terkejur
Bersambung.