Warga komples perumahan

1030 Words
"Kau yakin bisa membujuk warga kompleks yang ada di taman untuk berfoto dengan pose mengangkat jari tengah mereka Vel?" Tanya Nhosa masih merasa ragu akan rencana sang sahabat. Velly dengan yakin menganggukan kepalanya "Tenanglah Sa, semua sudah terancang dalam otakku." Sahut Velly. Sementara itu di sisi lain tepatnya di kediaman Hose, Juan yang sedang duduk di atas sofa tunggal yang ada di kamarnya terlihat masih gelisah karena belum mendapatkan balasan chat dari Nhosa_Morries. Ini adalah pertama kalinya bagi Juan menunggu balasan chat dari seseorang. "Berani sekali gadis itu membuat seorang Juan Pernando Hose menunggu seperti ini." Ucap Juan kesal seraya meraih ponselnya memeriksa ponsel itu berharap ada chat balasan dari Nhosa namun nihil harapanya sirna saat tak ada satupun notif dari pemilik akun Nhosa_Morries itu. "Apa ponselnya rusak?" Gumam Juan seraya memeriksa dengan saksama ponsel pintar berwarna navy yang ada di tanganya "Jika tidak rusak, kenapa dari tadi ponselnya tidak berbunyi." Pikir Juan sebelum kemudian dikagetkan oleh ponselnya yang bergetar karena ada panggilan telpon yang masuk. Juan tertawa canggung pada dirinya sendiri "Ponselnya tidak rusak," ucapnya lalu menjawab panggilan telpon itu. "Ada apa?" Tanya Juan tanpa memberikan kata 'Hallo' untuk sekedar berbasa basi terlebih dahulu pada si penelpon. "Ada apa denganmu? Kenapa suaramu terdengar begitu kesal?" Tanya si penelpon merasa bingung karena pagi-pagi seperti ini si pemilik nama Juan Pernando Hose itu sudah dalam suasana hati yang kesal. "Sudahlah berhenti berbasa basi dengan ku, katakan saja apa maksud dan tujuan mu menelpon ku, Mike?" Tanya Juan merasa enggan diganggu oleh sepupuhnya yang menurutnya gila itu. "Aku ingin meminjam salah satu mobilmu apa boleh?" "Pakailah," balas Juan lalu mengakhiri panggilan telponnya secara sepihak. Mendapati panggilan telponya terputus bahkan sebelum dia selsai bicara, Mike hanya memandang kesal layar ponselnya "Selalu seperti ini, dasar lelaki kurang sopan santun." Ucap Mike melampiaskan kekesalannya pada layar ponselnya seakan-akan layar ponsel itu adalah wajah Juan. "Sebenarnya apa yang dilakukan gadis itu? Kenapa lama sekali membalas chatku? Andai dia ada di depan ku sekarang maka aku akan melilitkan seluruh tubuhnya dengan lakban biar jadi mumi sekalian." Gerutu Juan Berr!.. Tangan Juan bergerak cepat meraih ponsel yang digeletakannya diatas meja, lelaki itu bahkan sudah tak mempedulikan buku bacanya yang terjatuh dari atas pangkuannya, ia tak sabar ingin memeriksa ponselnya mengira chat yang masuk adalah chat dari Nhosa, namun kekecewaan segera menghampiri Juan begitu mengetahui yang mengiriminya chat itu adalah Mike sepupuhnya. "Mau apa lagi dia?" Gumam Juan kesal dengan cepat menelpon nomor milik Mike tak beberapa lama menunggu Mikepun menjawan panggilan telpon dari Juan "Sekali lagi kau mengirim chat atau menelpon ku lagi maka aku akan membuat perhitungan dengan mu!" Ucap Juan dengan barito berat dan nada dinginnya sebelum mengakhiri panggilan telponnya. Mendengar ucapan Juan spontan membuat wajah Mike langsung pucat pasih layaknya zombie "Apa kesalahan ku begitu patal?" Pikir Mike seraya bergedik ngeri "Perasaan aku hanya mengiriminya chat bukan mengiriminya Bom." Gumam Mike pelan. *** Nhosa dan Velly kini saling menatap begitu mereka tiba di taman, Nhosa memandang takjub keramaian yang ada di taman dengan dibagi beberapa kelompok secara alami, ada tujuh atau delapan orang tengah berlari mengelilingi trotoar taman, ada lagi sebagian orang yang terlihat menggoes sepeda mereka, ada pula sebagian orang yang sedang duduk bersantai meluruskan otot-otot kaki mereka di atas rerumputan taman. "Apa kau akan mengajak semua orang ini untuk foto, Vel?" Tanya Nhosa memasang ekspresi ragunya. "Apa kau masih mengingat ada berapa orang dalam foto jari tengah yang dikirim lelaki itu?" Bukannya menjawab Velly justru memberikan pertanyaan balik. Nhosa mengangguk "Ada lima belas orang kalau tidak salah," sahut Nhosa "Kalau begitu kita hanya membutuhkan kelompok yang berisi kurang lebih dua puluh orang." Gumam Velly, mata gadis itu seperti mesin pemindai yang memantau kelompok-kelompok yang ada di taman dengan mulut yang komat kamit menghitung jumlah anggota kelompok yang ditangkap mata elangnya. Akhirnya setelah lumayan lama memantau Velly menemukan kelompok yang berjumlah kurang lebih dua puluh tiga orang sedang berdiri membuat beberapa barisan, kelompok itu diisi oleh lansia yang dengan semangatnya mengikuti gerakan senam yang di pandu tiga orang berusia awal tiga puluh tahunan yang menjadi pemimpin senam "Ketemu!" Seru Velly, sebuah senyum terlukis di wajahnya tanpa buang-buang waktu dia langsung menyeret tangan Nhosa berlari menuju ke sisi taman menghampiri para lansia yang sedang senam sore itu. "Kita mau kemana, Vel?" Tanya Nhosa yang masih belum mengetahui jalan pikiran sahabatnya itu. "Diamlah dan ikut saja," sahut Velly. Musik senam mulai memenuhi gendang telinga milik Nhosa "Apa yang akan kau lakukan, Vel?" Tanya Nhosa bingung karena tiba-tiba Velly mendorongnya kearah barisan lansia yang sedang bersenam mengikuti gerakan instruktur yang ada di depan. Nhosa masih mematung diantara barisan lansia yang terlihat asyik mengikuti senam "Ikutin senamnya, Sa!" Kata Velly seraya ikut menggerakan tangan dan kakinya sesuai irama. Velly meninggalkan Nhosa yang dengan pasra dan asal-asalan mengikuti gerakan senam, gadis berambut keriting itu menghampiri salah seorang instruktur senam seraya berjingkrak-jingkrak heboh sendiri "Huuu!... Huu!.. iiiihh haaaa..." Velly bersorak begitu kencang menghadirkan tawa di wajah para lansia itu melihat tingkahnya yang enerjik. Velly bergoyang pinggul, sesekali akan memanggut-manggutkan kepalanya. Gadis berambut kriting itu bukanya senam melainkan berjoget super aktif menjadikan area itu layaknya sebuah diskotik. Nhosa tercengang melihat aksi sahabatnya itu refleks tanganya langsung menutupi wajahnya "Dia bukan temanku," gumam Nhosa saat seorang lansia di sampingnya menatap kearahnya berharap Nhosa bisa bergabung dengan Velly. "Iyan!" panggil Velly pada salah satu instruktur senam yang dikenalnya seraya masih menggerakan tubuh mengabaikan instruksi gerakan yang benar. Bagi Velly sekarang yang penting gerak, tidak peduli gerakannya salah atau benar. "Iyan?!" Panggil Velly kembali dengan volume suara yang lebih tinggi. "Apa?" Tanya lelaki berjanggut itu tanpa menatap kearah Velly yang dari tadi mondar mandir disisi kanan dan sisi kirinya. Iyan spontan tertawa saat ia berbalik menatap kearah Velly melihat gadis itu bergerak enerjik layaknya cacing kepanasan namun dengan ekspresi datar bercambur wajah blo'onya. "Velly hentikan!" Pekik Iyan disela sela tawanya. "Baiklah, aku akan berhenti tapi kita harus bicara sebentar." Balas Velly memberi penawaran dan akhirnya mau tak mau lelaki bernama Iyanpun meninggalkan posisinya sebagai instruktur senam. "Ayo cepat! Katakan." Ucap Iyan dengan nafas tersengal-sengal dan keringat yang berpeluh setelah mereka meninggalkan area senam. "Aku ingin meminta bantuanmu." "Bantuan apa? Ku harap bukan bantuan yang aneh-aneh, Vel." Balas Iyan seraya menatap curiga kearah Velly Bersambung!...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD