Tanpa Yura sadari, diam-diam Adrian memasukkan arloji miliknya ke dalam tas yang sedari tadi terselempang di bahunya saat wanita itu membuka kemeja kancing Adrian dengan mata tertutup.
“Kau boleh pergi sekarang.” Ujar Adrian seraya melepas pergelangan tangan Yura.
“Nggak jadi di mandiin?”
Adrian mengangguk satu kali, ekspresi yang tadinya tenang kini berubah dingin. ”Suruh Gresyuan ke sini sebelum kau pergi.”
“Baik,” jawab Yura dengan perasaan lega. Ia buru-buru pergi sebelum Adrian memberinya perintah yang membuatnya kesal. Lebih baik Yura melakukan pekerjaan rumah, daripada harus berdekatan dengan Adrian.
***
Yura memilih sayur-sayuran, buah-buahan segar dan bahan pokok lainnya, kemudian memasukkannya ke dalam troli belanja.
Seorang pria muncul dari ujung rak yang merupakan titik buta CCTV agar hal yang akan dia lakukan tidak terekam CCTV dengan jelas. Ia dengan sengaja menunbruk Yura yang sedang mengambil sabun cuci di rak.
“Maaf.” Ucap pria asing tersebut kemudian pergi.
“Iya, nggak apa-apa.” Yura mengusap lengannya yang terasa ngilu akibat tubrukan barusan.
“Yura, kamu tidak apa-apa?”
Yura tersentak kaget saat seorang pria berdiri di hadapannya, kemudian ikut mengusap lengannya dengan lembut.
Dia adalah Malik, mantan tunangan yang tega mengkhianatinya.
“Apa ‘sih!” ujar Yura ketus. Refleks Yura mundur satu langkah karena Malik menyentuh tangannya. Yura merasa risih bersentuhan dengan pengkhianat seperti Malik yang tega menghancurkan mimpi dan kepercayaannya.
“Aku hanya mau membantumu.”
“Aku nggak butuh,” cetus Yura dengan nada ketus.
Yura menarik troli kemudian bergegas pergi, akan tetapi Malik menarik tangannya hingga langkah Yura terhenti.
“Apa maumu?” tanya Yura dengan kesal sembari menghempaskan tangan Malik dengan kasar.
“Aku sudah minta maaf dan menyesali perbuatanku. Kenapa kamu masih marah?”
“Sudah kumaaf, sekarang pergi dan jangan ganggu aku lagi. Aku nggak mau istri tercintamu menuduhku yang tidak-tidak.” Perkataan Malik tidak membuat Yura merasa lega, hanya dengan kata maaf tidak akan mampu menghapus luka yang Malik goreskan ke dalam hatinya.
“Yura, kita perlu bicara.”
“Mau ngomong apa lagi, kita udah nggak ada urusan.”
Malik menghembuskan napas berat, kemudian menggenggam tangan Yura dengan erat hingga Yura tidak bisa melepasnya meski ia berusaha.
“Begini Yura, aku sudah bertahun-tahun bekerja di kantor suamimu, tapi selama bertahun-tahun aku mengabdikan hidupku di sana, aku tetap tidak bisa naik jabatan dan tetap menjadi staf biasa. Tolong bujuk suamimu, beri aku jabatan yang lebih tinggi.”
“Nggak tahu malu,” u*****n dengan nada sarkas lolos begitu saja dari bibir ranum Yura. Kebenciannya pada Malik semakin bertambah saat mengetahui tujuan utama Malik selama ini mendekatinya bukan karena merasa bersalah, semata-mata hanya untuk memanfaatkannya lagi.
“Setelah pengkhianatan yang kamu lakukan dengan Amira, sekarang kamu masih berani muncul dan mau memanfaatkanku lagi kayak dulu.”
“Aku tidak ada maksud untuk mengkhianatimu, Yura. Sekarang aku menyesal menikah dengan Amira, dia tidak sebaik dan seperhatian kamu. Kalau gajiku naik, kamu bisa kembali padaku. Kita bisa bersama lagi kayak dulu.”
“Balik sama kamu.” Yura tersenyum getir melihat pria yang dulu sangat dicintainya begitu tidak tahu malu dan sangat percaya diri bermimpi Yura akan mengemis cinta pada orang yang sudah mempermalukannya dan membuangnya seperti sampah.
“Permisi, Nona.” Seorang sekuriti tiba-tiba muncul bersama dengan pria yang tadi menubruknya, kedatangan mereka menghentikan perseteruan antara Yura dan Malik.
“Iya. Ada apa?” tanya Yura dengan sopan pura-pura tidak terjadi apa pun.
“Mohon kerja samanya, Bapak ini kehilangan arlojinya. Izinkan saya untuk menggeledah tas anda dan saya berharap anda bersedia untuk menghilangkan kecurigaan bapak ini.” Sekuriti menunjuk pria asing yang berdiri di sebelahnya.
“Kurang ajar sekali kau,” Malik mengumpat kesal.
“Oh, baik.” Meski kesal atas tuduhan tersebut, Yura tetap menyerahkan tas yang terselempang di bahunya pada sekuriti.
“Tapi, Yura-“ Belum selesai Malik protes, Yura sudah menyelanya.
“Diam, nggak usah ikut-ikut.”
“Kalau terbukti dia tidak bersalah, kalian berdua akan kutuntut.” Malik menunjuk wajah sekuriti dan pria asing di sebelahnya secara bergantian.
Sekuriti mulai membuka resleting tas milik Yura, kemudian menuang semua isinya. Yura dan Malik sangat terkejut saat sebuah arloji jatuh dari dalam tas Yura bersama dengan barang yang lain.
“Sudah kuduga, dia percurinya,” tuduh pria asing itu sambil menuding Yura.