Yura terbangun, kilasan ingatan saat dirinya terkurung di kamar mandi membuatnya panik. Matanya memindai seisi kamar dengan gelisah, mendadak hatinya lega saat mendapati dirinya berbaring di atas ranjang kecil.
“Kamu sudah bangun.”
Yura menoleh ke arah pintu, melihat Adrian memasuki kamar bersama Gresyuan yang mendorong kursi rodanya menghampiri Yura.
“Maaf, aku tidak tahu kalau kamu terkurung di kamar mandi. Kupikir kamu sudah keluar dari kamar mandi saat aku tidur. Kenapa kamu tidak teriak minta bantuan?” tanya Adrian tanpa rasa bersalah.
“Aku sudah teriak minta tolong, tapi nggak ada yang peduli,” balas Yura dengan kening berkerut meski dirinya meragukan pernyataan Adrian. Mustahil Adrian tidak mendengar teriakannya sebab jarak Adrian sangat dekat dengan kamar mandi, dan aneh rasanya jika Adrian seharian tidak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan buang air.
“Oh, ya. Aku lupa jika ruang ganti kedap suara. Jadi aku tidak bisa mendengar suaramu,” Adrian kembali mengelak dengan ekspresi tenang seolah yang menimpa Yura bukanlah sebuah masalah.
“Bagaimana keadaanmu sekarang?”
“Hanya sedikit pusing.” Jawab Yura sembari memegangi pelipisnya yang terasa berkunang-kunang.
“Istirahatlah, aku akan memanggil Dokter untuk memeriksa keadaanmu.”
“Tidak perlu, aku hanya butuh istirahat.”
“Greyuan, hubungi Dokter Rian, suruh dia ke sini dan bawakan makanan untuk Yura karena dia belum makan apa pun sejak kemarin.”
"Sejak kemarin," Yura membatin, ia bahkan tidak tahu berapa lama dirinya terkurung dan pingsan.
“Baik.” Gresyuan menelepon Dokter Rian, kemudian meminta Art menyiapkan makanan untuk Yura. Dulu, mendiang ayahnya Rian merupakan Dokter pribadi keluarga Aray, kini Dokter Rian menggantikan posisi ayahnya.
Sambil menunggu kedatangan Dokter Rian, Adrian menemani Yura makan. Membuat wanita itu heran melihat perubahan sikap Adrian yang mendadak penuh perhatian. Yura berpikir apakah pria itu merasa bersalah padanya.
“Aku senang melihat kalian akur,” sapa Rian sembari tersenyum begitu tiba di kamar tempat Yura dan Adrian berkumpul. Rian tidak ingin sahabatnya itu membalas dendam pada Yura karena yang Yura lakukan adalah ketidak sengajaan.
“Periksa saja dia,” sanggah Adrian tanpa ekspresi, sementara Yura langsung memindahkan piring yang ada di pangkuannya ke atas laci dan buru-buru menelan makanan yang ada di mulutnya karena merasa tidak enak hati pada Rian.
“Tidak usah buru-buru, selesaikan saja makanmu.” Dokter Rian meletakkan tasnya di samping piring bekas makan Yura, lalu mendaratkan panggulnya di tepi ranjang.
“Saya sudah selesai, Dok. Sudah kenyang,” jawab Yura sembari mengusap sudut bibirnya takut ada sisa makanan yang tertinggal di sana.
“Ok, baringkan dirimu.” Rian mengeluarkan stetoskop dari dalam tasnya, dan mulai memeriksa Yura yang sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
“Apa keluhanmu saat ini?” Rian mulai memeriksa kondisi Yura dengan seksama.
“Cuma pusing saja,” jawab Yura dan hanya dijawab anggukan kepala oleh Rian.
“Bagimana keadaannya?” tanya Adrian dengan ekspresi tenang.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dia hanya kelelahan dan telat makan, makanya asam lambungnya kambuh. Cukup banyak istirahat dan minum obat, sebentar lagi juga akan sembuh. Aku akan meresepkan obat untuknya, tapi harus jaga pola makan dan jangan sering-sering telat makan, nanti bisa fatal akibatnya.”
Yura mengabaikan perkataan Rian, tatapan matanya kosong tertuju pada plafon kamar, pikirannya berkecamuk, bingung dengan sikap Adrian, entah sandirawara apa yang sedang pria itu mainkan.
“Yura!” panggil Rian. Tidak ada sahutan.
“Nona Yura!” panggil Rian lagi, masih tidak ada jawaban. Sampai akhirnya Rian melambaikan tangan di depan wajah Yura, barulah wanita itu terhenyak kaget.
“Ada apa?” tanya Yura bingung.
“Kamu tidak mendengarkan aku.”
“Saya dengar ‘kok.” Yura mengelak.
“Memangnya apa yang aku katakan barusan?” Tanya Rian sembari menulis resep obat untuk istri dari sahabatnya itu.
“Hmm,” Yura menggigit bibir bawahnya, malu tidak bisa menjawab pertanyaan Rian.
“Apa yang kamu lamunkan?”
“Tidak ada.”
Rian menganggukkan kepala, sambil menyerahkan resep obat yang sudah ditulisnya kepada Adrian. Sedetik kemudian, perhatiannya beralih pada Yura. “Kamu harus banyak istirahat dan jangan telat makan, harus jaga pola makan, supaya asam lambungmu tidak kambuh lagi.”
“Baik, Dok, terimakasih.”
***
Satu minggu sudah berlalu, Adrian melihat Yura berjalan melewati kamarnya. Kini penampilannya berbeda, Yura tampil lebih rapi dan tidak kucel seperti biasanya.
“Iya.” Yura menoleh saat mendengar namanya dipanggil sang suami.
“Mau ke mana?”
“Mau ke SuperMarket belanja kebutuhan dapur.”
“Mandikan aku dulu.”
Mata Yura terbelalak, tubuhnya terkesiap, ia hanya bisa berdiri kaku mendengar permintaan gila suaminya. Entah bermimpi apa Adrian hingga tiba-tiba ingin dimandikan olehnya, biasanya juga Gresyuan yang mengurus Adrian.
“Kenapa berdiri di situ saja. Cepat kemari.”
“I, iya,” jawab Yura terbata-bata sambil berjalan menghampiri Adrian dengan kaki gemetar.
“Bantu aku turun.” Adrian menyingkap selimut yang menutupi kakinya begitu Yura berdiri di sampingnya.
“Iya.”
Yura bersusah-payah merengkuh tubuh Adrian yang sangat berat baginya, jantungnya berdegup kencang saat memeluk tubuh suaminya dengan erat agar pria itu tidak jatuh dan mendarat sempurna di kursi rodanya.
Aroma tubuh Adrian sangat wangi meski pun belum mandi, jarak mereka sangat dekat menempel satu sama lain, saking dekatnya hingga Yura dapat merasakan hembusan napas Adrian yang menyapu wajahnya.
Yura membawa Adrian ke kamar mandi, sesampainya di sana, ia melihat bathub sudah siap berisi air dan busa. Pasti Gresyuan yang sudah menyiapkannya.
“Bukakan bajuku.”
“Aku.” Yura melotot sambil menunjuk hidungnya sendiri. Hanya kaki Adrian yang lumpuh, harusnya pria itu bisa membuka bajunya sendiri dengan tangannya yang masih normal.
“Siapa lagi, di sini hanya ada kita.”
"Baik."
Susah hanya Yura menahan saliva, jantungnya berdebar tak karuan, sebelumnya Yura tidak pernah melihat pria tela-njang. Yura gemetaran bukan karena cinta, tapi karena ia tidak pernah sedekat ini dengan seorang pria.
Yura menutup mata tak siap melihat tubuh suaminya, ia meraba da-da Adrian dengan tangan gemetaran mencari kancing kemeja. Yura dapat merasakan d**a suaminya yang bidan dan terasa hangat. Yura mulai membukannya satu-persatu dengan nervous. Adrian tersenyum, sadar jika istrinya itu sangat gugup.
"Kau mau pergi ke supermarket mana?" tanya Adrian.
"Farmers Market."
"Oh."
Setelah Yura menanggalkan kemeja dan kaos yang Adrian kenakan, ia mulai membuka kancing celana Adrian yang membuat jantungnya semakin berdebar tak karuan saat membayangkan apa yang ada di balik sana.
Yura mulai menarik resleting celana yang membungkus kaki Adrian. Yura terlonjak kaget saat Adrian mencekal pergelangan tangannya yang tak sengaja menyenggol aset milik Adrian.
“Maaf, aku nggak sengaja,” ucap Yura dengan gugup.
“Buka matamu, aku ini suamimu, kau boleh menyentuh apa pun yang kamu mau,” ujar Adrian yang masih setia menggenggam tangan Yura.
Yura perlahan membuka mata menuruti permintaan Adrian, terpampang jelas gambar dirinya dan Adrian di kaca besar yang ada di depannya. Wajah Yura bersemu merah, ia pun menunduk malu dan malah dengan jelas melihat tubuh Adrian tanpa busana.