DISEKAP

713 Words
“Kau boleh membersihkan dirimu di kamar mandiku, setelah itu kemasi semua pakaianmu,” ujar Adrian sambil tersenyum hangat. “Terimakasih.” Yura tersenyum lega, ia pikir Adrian sudah berdamai dengan keadaan dan memaafkannya. Yura berlenggang ke kamar mandi tanpa menaruh curiga. Adrian menghubungi seseorang setelah melihat Yura hilang dibalik pintu kamar mandi. Tak lama kemudian, datang Gresyuan perawat yang ditugaskan untuk selalu menemani Adrian. “Kunci pintu kamar mandi.” Adrian menyerahkan pintu kamar mandi pada Gresyuan. Tanpa bertanya sepatah kata pun Gresyuan memasuki ruang ganti, lalu mengunci pintu kamar mandi yang ada di sana. Gresyuan tidak pernah berani membantah, karena hal itu hanya akan memancing kemaran Adrian, tugasnya hanya mematuhi semua perintah Adrian. Seperti halnya tadi saat dirinya telat datang ke rumah Adrian, Gresyuan mendapat sumpah serapah dari Adrian. “Kamar mandi sudah saya kunci.” Gresyuan memberikan laporan sembari mengembalikan kuncinya pada Adrian. “Kau boleh pergi sekarang, jangan lupa tutup pintu.” Adrian mulai menyeruput minuman yang dibuat oleh Yura dengan perasaan lega sudah mempermainkan Yura. “Baik.” Greyuan keluar dari kamar, tak lupa menutup pintu. Seringai jahat terbit di bibir Adrian saat membayangkan keadaan Yura yang menggigil kedinginan di dalam kamar mandi. Ia merasa senang melihat Yura tersiksa dan tidak berdaya, ini baru permulaan karena Aray masih berada di rumahnya. Yura sudah membuat Adrian lumpuh hingga wanita yang sangat dia cintai mencampakkannya seperti sampah, Yura harus membayar mahal semua masalah yang terjadi dalam hidupnya. *** Yura membuka menarik-narik knop pintu dengan panik karena pintu tidak bisa dibuka, tangannya terus menggedor-gedor pintu hingga telapak tangannya merah berharap orang yang ada di luar sana mendengarnya. “Pak Adrian, tolong saya, Pak! Saya terkunci di kamar mandi, pintunya tidak bisa dibuka! Pak, tolong bantu saya buka pintunya!” Yura berteriak dengan keras hingga tenggorokannya terasa sakit, sayangnya tak satu pun orang bisa mendengar teriakannya karena pintu ruang ganti kedap suara. "Pak, saya takut, Pak. Tolong buka pintunya." Yura mulai menangis karena tidak mendapat respon dari luar. Yura sangat takut dan masih trauma saat dirinya masih kecil, sang bibi pernah mengurung Yura saat pamannya pergi ke luar kota. Dua jam sudah berlalu, Yura sudah sangat kelelahan, ia menyerah karena semua usahanya sia-sia. Yura yang sangat mengantuk dan lelah memutuskan untuk tidur di dalam bathub, ia meringkuk kedinginan karena bathub yang dingin terasa menusuk kulit, terlebih dirinya hanya memakai handuk kimono sebab pakaiannya kotor dan basah dengan jus. *** “Di mana Yura?” tanya Aray saat tidak melihat menantunya itu bergabung di meja makan. Saat ini di meja makan hanya ada Aray, Jeni dan Adrian. “Katanya dia kenyang, tadi sudah makan.” Adrian sengaja berbohong karena masih belum puas menyiksa Yura. Ia juga takut jika Yura akan mengadukan perbuatannya pada Adrian. “Oh. Nanti siang aku akan berangkat ke luar negeri, untuk sementara Andreas yang akan menghendle perusahaanmu. Mamamu akan tetap di sini untuk menemanimu, tolong jaga Yura dengan baik, kamu harus belajar menerima Yura jadi istrimu, dia adalah gadis yang baik.” Aray memberi nasehat sebelum pergi ke luar negeri untuk mengurus cabang perusahaannya, sementara perusahaan yang ada di sini sudah ditangani oleh Andreas yang menggunakan identitas Adrian, sebab Aray merahasiakan keadaan Adrian yang lumpuh dari publik. "Baik." Adrian mengangguk sambil tersenyum sinis, bisa-bisanya Aray menyuruhnya menjaga wanita yang sudah menghancurkan hidupnya. “Papa jangan mencemaskan Yura, dia akan aman bersamaku.” Jeni mengusap lengan Aray sembari tersenyum hangat agar suaminya percaya jika dirinya juga menyayangi Yura. Namun, di dalam hati Jeni bersumpah akan membuat hidup Yura sengsara karena sudah membuat Adrian lumpuh. “Terimakasih, Sayang. Kamu memang istri yang pengertian.” Aray mengecup kening istrinya dengan sayang, sedangkan Adrian tersenyum sarkas mendengar pernyataan Jeni. Hingga sampai Aray berangkat ke bandara, Adrian masih menyekap Yura di kamar mandi. Ia beralasan pada Aray jika Yura pergi berbelanja, maka dari itu batang hidungnya tidak terlihat hingga malam tiba. “Tolong buka pintunya,” Yura menepuk-nepuk pintu kamar mandi dengan semua sisa tenaganya seraya meminta tolong dengan suara yang lemah. “Pak Adrian, tolong buka pintunya.” Yura kelaparan karena belum makan, ia hanya mengisi perutnya dengan meminum air dari kran untuk menghilangkan dahaganya. Hampir 24 jam terkurung membuat kepala Yura terasa pusing, tubuhnya juga lemas dan demam, keadaan di sekelilingnya terasa berputar seperti gempa, detik berikutnya Yura sudah tidak sadarkan diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD