“Pak Adrian,” Malik terperangah mengetahui orang cacat yang menikahi Yura adalah Bos di perusahaan tempatnya bekerja. Malik tersenyum lebar sebab merasa bangga bisa kenal lebih dekat dengan Bosnya, siapa tahu Yura bisa membantunya merayu Adrian untuk naik jabatan.
“Apa kabar, saya senang bisa bertemmu dengan anda.” Malik mengulurkan tangan ingin berjabat tangan dengan Andreas yang mengaku-ngaku sebagai Adrian.
“Yura, ayo kita pulang.” Andreas membantu membawa belanjaan Yura, lalu pergi mengabaikan keramah-tamahan Malik dengan angkuh. Andreas tahu betul jika penjilat seperti Malik hanya mencari muka untuk mendapatkan keuntungan darinya.
“Kamu kenal sama dia, Mas?” tanya Amira dengan kening mengerut setelah Andreas dan Yura berlenggang pergi.
“Iya, dia Pak Adrian. Bos-ku di kantor.”
“Apa!!” pekik Amira dengan mata melotot.
Kok, bisa Yura nikah sama orang ganteng dan kaya, padahal aku lebih cantik. Amira memandangi punggung Yura yang kian menjauh dengan kesal. Ia masih tidak percaya bisa kalah saing dengan Yura, rasa iri dan dengki di hatinya membuatnya sangat marah. Malik tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Adrian jauh lebih sempurna.
***
“Kenapa anda berbohong, Pak Andreas?” Yura tahu jika pria yang berjalan di sisinya bukanlah Adrian, melainkan Andreas.
“Aku tidak suka melihat cara mereka merendahkanmu dan saudaraku.” Tadinya Andreas akan pulang ke apartemennya, tapi malah melihat Yura yang berjalan sempoyongan membawa belanjaan. Ia pun memarkirkan mobilnya di tepi jalan, berinisiatif untuk membantu Yura. Saat Andreas menghampiri Yura, ia malah mendengar saudaranya dihina.
“Siapa mereka?” Andreas balik bertanya.
“Mantan tunangan dan adik sepupuku.” Yura menghela napas berat, kenangan pahit itu masih menyisakan rasa trauma yang membuat dadanya sesak. Setiap mengingat pengkhianatan saudara dan tunangannya hatinya masih terasa sakit bagai disayat belati.
“Kau beruntung tidak jadi menikah dengan pria seperti itu.”
Yura tersenyum masam, ia juga merasa tidak beruntung menikah dengan pria yang sangat membencinya.
***
Setibanya di rumah, Yura langsung pergi ke dapur membuat jus nanas dan kelapa. Yura terus menguap karena rasa kantuk menyerangnya, jam di hp-nya sudah menunjukkan pukul 10.30 malam. Tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk ke hp-nya, Yura merasa heran melihat pesan dari nomer Malik.
"Tumben, mimpi apa dia tiba-tiba wa aku."
Yura yang penasaran pun membuka pesan dari Malik. Yura, aku minta maaf. Aku tahu aku kesalahan yang kulakukan padamu sangat keterlaluan. Aku sungguh sangat menyesal. Apa bisa besok kita ketemu, aku punya sesuatu untukmu untuk menebus rasa bersalahku.
Yura mengabaikan pesan dari Malik, lalu pergi ke kamar Adrian mengantar jus yang sudah selesai ia buat dengan sepenuh hati. Yura berharap sikap baiknya bisa mengikis kebencian Adrian padanya.
“Pak, smoothies nanas dan kelapanya sudah jadi.” Yura membangunkan Adrian yang sudah terlelap dengan menepuk-nepuk lengannya.
Adrian membuka mata, lalu beringsut duduk melihat jus yang baru saja Yura letakkan di atas laci. Bukannya berterimakasih, Adrian malah membalik nampan berisi jus tersebut hingga terlempar mengenai Yura.
“Bukan seperti ini yang kuinginkan,” Adrian berteriak tanpa rasa bersalah meski sudah melihat pakaian Yura sudah basah dengan jus yang terlempar ke arahnya.
“Tapi, tadi kamu minta smoothies nanas dan kelapa. Aku sudah membuatnya sesuai dengan yang kamu mau,” balas Yura dengan suara rendah meski hatinya sangat geram atas perlakuan suaminya yang semena-mena.
“Nanasnya diiris saja, lalu di masak dengan air kelapa tanpa gula. Buatkan aku sekarang juga, jangan lama-lama.”
“Tapi, aku ganti pakaian dulu.”
“Ganti pakaianmu setelah membuat minuman untukku.”
Yura mengepalkan tangannya berusaha menahan emosi yang sejak tadi ingin meledak. Ia merasa jika suaminya hanya ingin mempermainkannya saja.
“Kenapa hanya berdiri di sana, cepat buatkan minumanku,” Adrian membentak Yura yang hanya berdiri mematung sambil menatapnya dengan kesal.
Tanpa sepatah kata pun Yura kembali ke dapur, lalu mengupas buah nanas. Sesekali Yura menggaruk da-da dan lehernya yang gatal karena tersiram jus nanas.
“Aakhh.” Yura mendesis kesakitan saat pi-sau menya-yat jarinya. Ia pun pergi ke wastafel membasuh da-rah segar yang terus menetes.
Yura membalut lukanya dengan handsaplas, lalu kembali mengupas buah nanas meski jarinya terasa perih. Setelah itu Yura mulai mengupas kulit kelapa muda dengan parang, ia kesulitan membelah kelapa muda karena sangat keras.
Setelah beberapa saat berlalu, wedang nanas dengan campuran air kelapa muda sudah selesai dibuat. Yura pergi ke kamar Adrian, berharap minuman yang dibuatnya sudah sesuai dengan keinginan Adrian.
Yura meletakkan nampan berisi wedang nanas ke atas laci yang ada di sebelah Adrian, kemudian berbalik hendak pergi sebelum emosi Adrian kembali meledak-ledak.
“Siapa yang menyuruhmu pergi?” suara datar Adrian menghentikan langkah Yura yang hendak melarikan diri.
“Kamu mau apa lagi?” tanya Yura. Andai tahu dirinya akan disuruh ini itu di tengah malam, tentu Yura tidak akan masuk lagi ke kamar Adrian.