SIKAP HANGAT

668 Words
“Aku tidak menangis, mataku cuma kelilipan.” Yura segera menghapus air mata yang membasahi pipinya karena malu jika orang lain mengetahui luka hatinya. Andreas mengangguk meski tahu Yura sedang berbohong. “Apa kamu sudah bertemu dengan Adrian?” Andreas mengalihkan pembicaraan agar Yura tidak canggung. “Iya, sudah.” Yura memilin jemarinya sendiri karena malu untuk menyatakan keinginannya pada Andreas. “Emm, apa di sini ada kamar kosong yang boleh aku tempati?” “Apa Adrian menolakmu?” tanya Andreas yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Yura. Andreas berpikir jika Yura menangis karena penolakan Adrian. “Kalau begitu tidurlah di kamarku.” Pernyataan Andreas membuat Yura mengerutkan kening kesal karena berpikir jika Andreas adalah pria yang m***m. “Jangan salah paham.” Terbit senyuman manis di bibir Andreas yang menyadari jika Yura salah paham padanya. “Kamarku sangat jarang kutempati, kamu tahu sendiri aku tidak tinggal di rumah ini. Jadi kamu bisa menempati kamarku yang selalu kosong itu.” “Aku mau kamar kecil saja yang ada di dekat halaman belakang.” Yura menggelengkan kepala, ia lebih memilih tidur di kamar pembantu daripada harus tidur sekamar dengan Adrian yang sangat jelas membencinya. Yura juga merasa tidak pantas menjadi anggota keluarga Andreas karena mereka tidak setara dengannya. “Yura, kamu adalah bagian dari keluargaku sekarang, jadi kamu jangan pernah merasa berkecil hati. Di rumah ini banyak kamar kosong, kamu bisa memilih salah satunya, tapi jangan memilih kamar pembantu.” *** Tok tok tok Setelah beberapa saat berlalu, Yura baru berani mengetuk pintu kamar Adrian. Dengan perlahan Yura membuka pintu, takut kehadirannya mengganggu Adrian dan kembali memicu amarahnya. “Maaf, aku mau mengambil pakaianku,” ujar Yura. Namun, Adrian mengabaikannya dan tetap sibuk bermain hp. Yura masuk ke dalam kamar dan berjalan melewati Adrian yang duduk bersandar di heardboar ranjang. “Aku ingin smoothies nanas dan kelapa.” Langkah Yura terhenti ketika mendengar permintaan Adrian. “Sepertinya di dapur tidak ada nanas dan kelapa. Yang ada cuma jeruk, apel, anggur-“ belum selesai Yura memberi penjelasan, Adrean sudah menyelanya. “Aku hanya ingin smoothies nanas dan kelapa, buatkan aku sekarang juga. Kalau bahan tidak ada, kau harus membelinya.” Mata Adrian yang sedari tadi fokus ke layar hp, kini beralih menatap Yura dengan tatapan dingin. “Aku tidak punya uang.” Yura tak lagi berani membantah meski waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, ia juga tidak keberatan karena rasa bersalahnya pada Adrian. Mungkin dengan berbuat baik pada Adrian bisa mengobati rasa bersalahnya. Adrian mengambil dompet yang tergeletak di atas laci, lalu mengeluarkan selembar uang dan melemparnya. Yura menghela napas berat, kemudian mengambil uang yang tergeletak di atas lantai dengan berat hati karena Adrian terus saja merendahkannya. “Mau apa lagi selain smoothies nanas dan kelapa?" tanya Yura agar dia tidak perlu bolak-balik berbelanja keinginan Adrian. Namun, Adrian kembali bermain hp, tidak menggubris pertanyaan Yura. *** Yura pergi ke pasar malam menggunakan sepeda motor seorang diri, selama ini Jeni melarang semua asisten rumah tangganya membantu Yura jika tidak ingin dipecat. Yura membeli 2 buah kelapa utuh, 1 kelapa yang sudah di belah dan 5 buah nanas untuk berjaga-jaga jika suaminya kembali meminta hal nyeleneh di tengah malam. Yura berjalan sempoyongan, kewalahan membawa buah kelapa dan nanas yang sangat berat. Sialnya plastik yang dibawanya jebol hingga buah nanas jatuh dan bergelinding ke mana-mana. Yura buru-buru memungut satu-persatu buah nanas yang salah satunya ada tepat di kaki Malik. “Kak Yura, kenapa berbelanja malam-malam sendirian?” Suara yang tak ingin lagi Yura dengar tiba-tiba menyapa. Yura mendongak melihat Amira yang bergelayut manja di lengan Malik, mantan tunangannya. Yura sangat malu berhadapan dengan mereka karena keadaannya yang nampak sangat menyedihkan. “Ke mana suamimu ‘kok tidak mengantar?” Amira menutup mulutnya pura-pura terkejut. “Maaf, aku lupa kalau suamimu lumpuh.” "Siapa bilang aku lumpuh, aku sudah sembuh." Seorang pria tampan tiba-tiba muncul, kemudian merangkul bahu Yura dengan sangat mesra. Amira melongo melihat suami dari kakak sepupunya yang sangat tampan bagai dewa Yunani, sangat jauh jika dibandingkan dengan Malik yang wajahnya pas-pasan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD