KEMARAHAN ADRIAN

542 Words
“Ma-maaf.” Ujar Yura dengan suara terbata-bata, ia pun buru-buru turun dari ranjang karena takut akan semakin memicu kemarahan Adrian. Yura menunduk dengan perasaan tak karuan, takut dengan tatapan Adrian yang tajam. Yura sendiri bingung harus bersikap bagaimana di hadapan suaminya, karena mereka bukan pasangan suami istri yang saling mencintai, melain sepasang suami istri yang sama-sama terluka fisik dan hatinya. “Buang seprai dan bantal itu, lalu ganti dengan yang baru.” Adrian mengambil disinfektan kain dari laci yang ada di samping ranjangnya, lalu melemparnya tepat di kaki Yura. “Semprot ranjangku dengan disinfektan itu. Aku tidak ingin kuman yang ada di tubuhmu mengotori ranjangku.” “Baik.” Yura mengambil botol pembasmi bakteri di kakinya dengan tangan gemetar, kemudian meletakkannya ke atas laci. Setelah itu Yura bergegas membereskan ranjang meski hatinya sangat terluka mendengar hinaan Adrian. Sebegitu rendah Yura di mata Adrian hingga disamakan dengan kuman yang terkesan najis. Yura berusaha tegar, ia sadar penderitaannya saat ini tidak sebanding dengan penderitaan Adrian yang lumpuh seumur hidup karena kebodohannya. Yura berusaha memaklumi dan ikhlas menerima perlakuan buruk Adrian. Setelah beberapa menit berlalu, ranjang pun sudah rapi dan bersih sesuai dengan perintah Adrian. Pria yang duduk di kursi roda itu merayap berusaha naik ke atas ranjang, tapi sekeras apa pun dia mencoba tetap saja tidak bisa. “Ah, dasar kaki sialan!!” Adrian mengumpat dengan kesal. “Biar bantu.” Yura meraih tangan Adrian karena tidak tega melihat suaminya itu kesulitan naik ke atas ranjang. “JANGAN SENTUH AKU DENGAN TANGAN KOTORMU, AKU BEGINI KARENAMU!! KALAU MAU MATI KENAPA HARUS MENYUSAHKAN ORANG LAIN!!” Adrian berteriak marah, tangannya dengan kuat mendorong Yura hingga wanita malang itu tersungkur di lantai. Adrian sangat muak dan putus asa karena ketidakberdayaannya. “Maaf.” Yura tertegun dengan hati yang sakit bagai disayat belati, matanya sudah berkaca-kaca menahan air mata yang berdesakan ingin keluar. Adrian tidak tahu seberapa tertekannya Yura saat itu hingga memilih untuk mengakhiri hidupnya, Yura merasa berat dan tidak sanggup memikul semua beban yang dihadapinya. “Kata maafmu itu tidak berguna, apa dengan kau meminta maaf kakiku bisa berjalan lagi. Sihir apa yang kau berikan pada papaku sampai-sampai Papaku memaksaku untuk menikah dengan wanita yang sudah membuatku jadi pria tidak berguna seperti sekarang.” Adrian menghela napas panjang saat melihat Yura mulai menangis tersedu-sedu karena mengingat semua kenangan pahit setelah kedua orang tuanya meninggal. “Pergi dari sini aku muak melihat wajahmu.” Adrian mengusir Yura sambil menunjuk pintu keluar. Yura bangkit, kemudian berbalik keluar dari kamar Adrian seraya menangis, ia sangat sedih karena semua orang tidak menginginkannya. Yura terus berjalan tanpa arah hingga saat dirinya berbelok ke sebuah lorong malah menabrak seseorang hingga tanpa sengaja jatuh ke pelukannya “Andreas,” dengan spontan tercetus kata 'Andreas' dari bibir Yura saat melihat wajah pria yang memeluknya sama persis dengan Adrian, bedanya pria tampan yang ada di hadapannya saat ini bisa berdiri dengan gagah. Setelah sadar dari keterkejutannya, Yura buru-buru mendorong d**a Andreas, melepaskan diri dari pelukan adik iparnya itu. Ini pertama kalinya Yura bertemu dengan Andreas. Pria itu memiliki tatapan mata teduh, serta aroma parfum maskulin yang menguar dari tubuhnya pasti mampu memikat para wanita. "Kau pasti Yura," tebak Andreas yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Yura. "Siapa yang membuatmu menangis?" tanya Andreas lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD