TIDAK BENAR-BENAR SAYANG

1346 Words
Adrian memandangi jahitan di keningnya melalui kaca kecil, lalu mengusapnya dengan lembut. “Apa ini akan membekas?” tanya Adrian pada Dokter Rian yang merupakan sahabatnya. “Sangat bisa, sekarang zaman sudah canggih. Wajahmu pasti akan bisa kembali seperti sedia kala, Adrian.” “Tapi, tidak dengan kakiku,” balas Adrian dengan putus asa. Rian menghela napas berat, lalu menatap Adrian dengan ekspresi datar. “Aku tahu ini pasti berat bagimu, tapi kamu jangan putus asa. Aku akan mencoba mencari metode pengobatan agar kakimu bisa sembuh.” “Tidak perlu menghiburku dengan kebohonganmu.” Adrian melempar kaca ke d**a Rian, membuat Dokter muda itu kelimpungan menangkapnya. Adrian merasa kacau karena dirinya tidak akan bisa sembuh dan menjadi lumpuh untuk selamanya. Hati Adrian sangat hancur saat Sonya, wanita yang sangat dicintainya mencampakkannya seperti sampah. Dunia Adrian terasa runtuh karena dirinya lumpuh, ia merasa hidupnya sudah tidak berguna lagi. “Adrian, kenapa kau mau menikahi wanita yang sudah membuatmu seperti ini?” tanya Rian. Ia merasa ada yang janggal, pikirannya terus bertanya-tanya, Adrian bahkan belum pernah melihat Yura, tapi tetap menikahi wanita itu. “Aku akan membuat wanita itu kehilangan kebebasan dan tidak akan mendapatkan cinta dari siapa pun,” desis Adrian dengan tatapan dingin. Yuka harus merasakan sakit dan penderitaan yang Adrian rasakan saat ini. “Jadi kamu menikahi wanita itu hanya untuk balas dendam.” Rian terperangah mengetahui tujuan Adrian yang sebenarnya, sebab Adrian adalah pria baik yang tidak suka mempermainkan wanita. “Papa juga akan menghapusku dari daftar ahli waris,” lanjut Adrian dengan tatapan kosong. “Apa!!” pekik Rian. “Aku tidak habis pikir dengan Om Aray, bukannya menjebloskan wanita itu ke penjara, dia malah menikahkannya denganmu.” "Entah 'lah." Adrian juga merasa jika Aray tidak adil padanya, karena lebih membela Yura padahal Adrian adalah korbannya. *** Setelah menandatangni surat pernikahan, Aray membawa Yura tinggal di rumah pribadi milik Adrian. Ada foto keluarga tergantung di dinding yang menarik perhatian Yura ketika dirinya dan Aray berjalan melewati ruang tamu. “Pak, apa Adrian punya saudara kembar?” tanya Yura karena ada dua wajah yang serupa di dalam foto keluarga. “Iya, Andreas dan Adrian adalah saudara kembar.” Aray membawa Yura ke kamar termegah yang ada di kediamannya yang merupakan kamar milik Adrian. “Ini kamarmu, aku harap kamu betah tinggal di sini.” “Kamar ini terlalu besar untuk saya, apa ada kamar lain yang lebih kecil dan sederhana?” Yura merasa gelisah dan tidak enak hati diperlakukan dengan istimewa, padahal sudah mencelakai putranya Aray. Ia sadar pernikahan yang dijalaninya bukan ‘lah pernikahan biasa, tapi pernikahan yang dibangun atas dasar tanggungjawab dan rasa bersalahnya. “Sekarang kamu adalah istrinya Adrian, dan kamar ini sekarang juga sudah menjadi kamarmu.” Aray menggiring Yura menuju ke ruang ganti, lalu membuka pintu lemari kaca yang lebarnya sama ruang ganti. “Kamu taruh saja pakaianmu di sini, masih banyak ruang di lemari ini. Sekarang istirahat ‘lah! Kamu pasti lelah. Aku akan menyuruh asisten rumah tangga untuk membantumu menata pakaianmu.” “Tidak usah, Pak. Saya bisa menatanya sendiri,” tolak Yura dengan sopan. “Baik, terserah kamu saja. Aku mau ke rumah sakit lagi untuk menjaga Adrian.” “Baik, Pak. Terimakasih banyak dan maaf sudah membuat putra anda begini.” Yura menunduk malu karena selalu dihantui rasa bersalah yang membuatnya tidak tenang. “Tidak perlu dipikirkan, semua akan baik-baik saja, karena Adrian adalah anak yang baik.” Aray tersenyum, kemudian berbalik pergi. Aray berharap Yura bisa memaafkan perbuatan Adrian di masa lalu pada kedua orang tuanya. Mungkin yang terjadi saat ini pada Adrian adalah hukuman dari Tuhan, apalagi Aray juga ikut andil menutupi kejahatan putranya. Yura memindahkan pakaian yang ada di dalam tasnya ke dalam lemari, kemudian beristirahat di atas ranjang besar yang empuk. Baru beberapa detik ia memejamkan mata, Jeni sudah datang menghampiri Yura. “Wah, wah, wah, wah, wah! Apa kau tidak punya malu enak-enakan tidur di sini setelah membuat anakku lumpuh?” Jeni melipat tangan sambil menggelengkan kepala dengan ekspresi mengejek. Yura seketika membuka mata, dan beringsut duduk begitu mendengar sindiran ibu mertuanya yang berhasil membuat Yura merasa tertampar. “Maaf, saya tahu saya salah. Saya ada di sini untuk bertanggungjawab dan menebus semua kesalahan saya,” jawab Yura dengan d**a yang terasa sesak, ia sendiri juga tidak ingin berada di situasi yang sulit seperti ini. “Bagus ‘lah kalau kau sadar diri. Sekarang ikut aku.” Jeni bergegas keluar dari kamar, Yura pun membuntutinya hingga sampai di tempat mencuci dan menjemur pakaian. “Cuci semua pakaian itu dengan tangan.” Jeni menunjuk tumpukan pakaian yang ada di dalam bak besar dengan kakinya. “Kau harus mencucinya dengan tangan, jangan dengan mesin cuci. Itu baju-baju mahal, aku tidak ingin baju itu rusak, sisihkan pakaian warna putih dari warna lain. Setelah selesai mencuci baju, setrika pakaian yang sudah kering itu.” Jeni menunjuk pakaian yang ada di jemuran. ”Lalu cuci juga piring-piring yang kotor di dapur,” lanjut Jeni. Meski Art-nya banyak, Jeni tetap melimpahkan semua pekerjaan rumah pada Yura sebagai balasan karena telah membuat anaknya lumpuh. Dia juga berencana akan meliburkan beberapa Art-nya selama Adrian berobat ke luar negeri. “Baik,” jawab Yura dengan patuh, berharap semua yang dilakukannya bisa menebus kesalahannya. Jeni menjejalkan sebotol obat ke tangan Yura, yang Yura sendiri tidak tahu apa itu isinya."Lain kali kalau mau bu nuh diri, minum racun saja, biar tidak menyulitkan orang dan jangan coba-coba bunuh diri di rumah ini. Dasar wanita pembawa sial!" Jeni membuka sarung tangan yang dikenakannya, lalu membuangnya ke sembarang tempat. Jeni pun berbalik pergi meninggalkan Yura yang sangat terpukul dengan cacian Jeni. Air mata Yura kembali menetes, sejak kecil ia tidak pernah punya keluarga yang benar-benar tulus menyayanginya. *** Usai mengerjakan pekerjaan rumah, Yura mengambil hp di atas nakas, ada banyak nomor telepon tidak dikenal yang membuat keningnya berkerut penasaran. Sedetik kemudian Hp itu kembali berdering, Yura pun menerima panggilan telepon itu. "Selamat siang, dengan Yura Malayeka?" "Iya, benar. Ini dengan siapa?" "Saya dari pinjol eas-case. Tagihan anda sebesar Rp. 40.000.000 sudah jatuh tempo, mohon segera dibayar agar bunganya tidak semakin tinggi." Yura terkejut bagai disambar petir, merasa tidak pernah meminjam uang di pinjol sebanyak itu. "Ini pasti ada yang salah, saya tidak pernah meminjam uang sebanyak itu di pinjol," bantah Yura dengan jantung berdebar. "Anda jangan menyangkal, bukti transaksi ada, uang senilai Rp. 40.000.000 juta masuk ke rekening anda. Kalau anda tidak mau membayar, terpaksa masalah ini akan kami ke kepolisian." Terbesit di ingatan Yura, waktu itu memang ada uang sebesar Rp. 40.000.000 masuk ke rekeningnya, tapi Yura malah mentransfer uang itu pada wanita yang mengaku salah transfer padanya. "Pak, saya akan ke Bank dulu untuk mengecek mutasi di rekening saya." "Baik, saya tunggu itikad baik anda untuk membayar semua tagihan pinjol." Yura pergi ke Bank untuk melihat riwayat transaksi yang dilakukannya selama beberapa bulan ini. "Iya, benar. Satu bulan yang lalu anda mendaftar pinjol, uang senilai Rp. 40.000.000 sukses ditransfer ke rekening anda, beberapa menit kemudian anda mentransfer uang tersebut ke rekening Mulyadi Longso,'' ujar teller Bank setelah mengecek riwayat transaksi di rekening Yura. Deg Jantung Yura serasa disambar petir dan sejenak terhenti berdetak, bahunya terkulai lemas menyadari dirinya sudah ditipu orang dengan dalih salah transfer. Yura merasa bodoh, kenapa bisa percaya begitu saja dengan mudahnya. Kepala Yura rasanya ingin meledak akibat masalah bertubi-tubi terus menimpanya, dadanya sesak memikirkan cobaan hidup yang terus saja menyiksa batinnya. *** “Ya, Tuhan. Aku lelah sekali.” Yura menghempaskan tubuh lelahnya di atas ranjang, lalu memejamkan mata yang sangat mengantuk. Setelah seharian mengerjakan pekerjaan rumah, akhirnya ia dapat beristirahat juga. 6 bulan sudah berlalu, selama itu pula Yura tidak pernah bertemu dengan Adrian karena pria itu sedang berobat ke luar negeri. Adrian juga tidak pernah sudi untuk melihat wajahnya. Yura diperlakukan layaknya seorang pembantu di rumah pribadi milik Adrian. Namun, Yura tidak keberatan karena sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah sejak kecil. BYUUUURRRR “Siapa yang mengizinkanmu tidur di ranjangku?” Yura seketika terbangun sembari mengusap wajahnya, napas terengah-engah karena tersedak air. Begitu matanya terbuka, ia terperangah mengetahui orang yang sudah menyiramnya dengan segelas air adalah Adrian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD