“Pokoknya aku nggak mau nikah sama Adrian.” Soraya berteriak tak sabaran karena lelah berdebat dengan ayah dan ibunya yang terus mendesaknya untuk menikah dengan Adrian.
Abram tidak ingin membatalkan pernikahan putrinya dengan salah satu pemilik perusahaan terbesar di dunia. Aray Fernandez pasti akan menghancurkan siapa pun yang berani menyinggung keluarganya.
“Bukannya dulu kamu yang ngotot ingin menikah dengan Adrian, dan mati-matian mengejarnya, lalu kenapa sekarang kamu malah berubah pikiran? Apa kata keluarga besar Fernandez nanti tentang kita?”
“Itu dulu, sekarang sudah berbeda, Pa. Adrian yang dulu sempurna, sekarang sudah lumpuh permanen, aku nggak mau punya suami cacat.” Soraya merentangkan tangannya seraya meraung-raung seperti orang kesetanan, seolah dunia ada dalam genggamannya. “Apa kata dunia? Soraya yang cantik, sang super model memiliki suami yang cacat. Aku malu, Pa. Aku malu.”
“Tapi, sebentar lagi pernikahan kalian akan digelar, mustahil untuk dibatalkan. Kalau kalian batal nikah, Tuan Aray Ferandez akan membatalkan investasinya di perusahaan keluarga kita. Ini kesempatan emas untuk biar cepat naik derajat, Adrean Fernandez adalah pewaris tunggal perusahaan Apple. Kamu pasti juga akan bisa menikmati hartanya.”
“Aku tidak peduli, persetan dengan perusahaan itu. Aku nggak mau nikah sama orang cacat, aku nggak sudi punya suami lumpuh.” Soraya meraung-raung sambil membanting apa pun yang ada di dekatnya sebagai pemberontakan.
“Apa susahnya menikah dengan orang cacat, toh nantinya yang mengurusi Adrian adalah ART di sana, kamu cukup kuras saja hartanya.” Lea ikut menimpali perdebatan antara suami dan putrinya, karena dia juga tidak mau kehilangan tambang emasnya.
Soraya mengambil sebilah pisau buah yang ada di atas meja, lalu mengarahkan mata pisau ke pergelangan tangannya.
“Soraya, apa yang kamu lakukan?” Abram membentak Soraya. Ia dan Lea sangat panik melihat tindakan Soraya, mereka sangat takut kehilangan anak semata wayangnya.
“Kalau kalian tetap memaksaku untuk menikah dengan pria lumpuh itu, kalian harus siap kehilanganku.”
***
“Anakku harus sembuh, cari Dokter terbaik untuk mengobati Adrian. Kalau perlu, bawa Adrian ke luar negeri untuk berobat.” Jeni menangisi Adrian yang masih terbaring tak berdaya di atas ranjang dengan kaki digips, sementara wajahnya ditutupi dengan perban.
“Saya sudah meminta Dokter spesialis saraf terbaik untuk menangani cedera di kaki Adrian, Tante. Peralatan di sini juga sudah canggih, jadi sebaiknya Adrian dirawat di sini saja supaya Adrian tidak kelelahan di jalan karena kondisinya saat ini sedang tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh.”
Di saat yang bersamaan, Hp di saku celana Aray berdering. Dalam hitungan detik, Aray sudah menerima panggilan telepon dari calon besannya.
“Ada apa?” tanya Aray to the point.
“Sebelumnya aku minta maaf, tapi aku tidak bisa melanjutkan pernikahan Soraya dan Adrian.”
“Apa maksudmu, kau tidak bisa seenaknya sendiri apalagi pernikahan sudah tinggal menghitung hari.” Aray sangat marah pada calon besannya, karena di saat putranya menderita dan membutuhkan dukungan, calon istrinya malah pergi meninggalkannya.
“Aku benar-benar minta maaf, aku sebenarnya juga keberatan pernikahan ini batal, tapi Soraya mengancam akan bunuh diri jika tetap memaksanya untuk menikah dengan Adrian.” Abram lebih menyayangi putrinya daripada harta milik keluarga Fernandes, Abram lebih rela melepas harta daripada kehilangan putri semata wayangnya.
“Baik, tapi kau harus tanggung akibatnya.” Aray yang sangat emosi langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
“Kenapa, Pa?” Jeni bertanya karena penasaran dengan apa yang terjadi hingga suaminya sangat marah.
“Pernikahan batal.”
“Apa?” pekik Jeni, pasti Adrian akan semakin terluka karena wanita yang sangat dicintainya pergi begitu saja menjelang pernikahannya, terlebih sekarang Adrian lumpuh.
“Siapa yang bertanggungjawab untuk semua masalah ini, Rian?” tanya Aray sembari menatap Rian dengan tatapan mengintimidasi.
“Seorang wanita muda berusia 21 tahun, namanya Yura Malayeka.” Dokter Rian merasa heran melihat Aray yang nampak terkejut mengetahui nama biang masalah dalam hidup Adrian.
“Yura Malayeka??” Aray mengulang perkataan Rian untuk memastikan jika dirinya tidak salah mendengar.
“Iya, Om,” jawab Dokter Rian.
“Siapa nama kedua orang tuanya?” tanya Aray dengan gugup, wajahnya yang tadi terlihat garang seketika berubah lesu.
“Nama ayahnya Andi Bagaskara, dan nama ibunya Alma Wijayanti. Mereka berdua meninggal saat Yura masih berusia 8 tahun.”
Tangan Aray gemetaran mendengar keterangan dari Rian, hingga hp di tangannya sampai terjatuh dan terpental di lantai. Kenangan pahit 13 tahun yang lalu kembali bermunculan menghantam jiwanya, ia tidak akan pernah lupa peristiwa kelam di masa lalu. Sungguh tidak disangka ternyata dunia sangat 'lah sempit.
“Bawa Yura padaku sekarang juga," titah Aray pada Dokter Rian dengan tegas.
***
FLAHS BACK ON 13 TAHUN YANG LALU
Aray berjalan tergopoh-gopoh di sepanjang koridor rumah sakit melewati ruang demi ruang karena Adrian masuk rumah sakit setelah menabrak sepasang suami istri.
“Bagaimana keadaan Adrian?” tanya Aray pada adik laki-lakinya yang sedari tadi menunggunya di ruang ICU.
“Adrian sudah melewati masa kritisnya, tapi dia mengalami amnesia karena cedera di otaknya.”
“Apa?” pekik Aray yang sangat shock sekaligus prihatin dengan nasib yang dialami oleh putranya.
“Saat siuman tadi, Adrian tidak mengingatku, bahkan dia juga tidak bisa mengenali dirinya sendiri.”
“Ya Tuhan.” Dengan tatapan iba, Aray memandangi Adrian yang tertidur pulas setelah dibius oleh dokter karena Adrian terus mengaduh kesakitan sembari memegangi kepalanya.
“Lalu bagaimana dengan sepasang suami istri yang ditabraknya?” tanya Aray lagi dengan cemas, ia sangat berharap semuanya selamat.
“Mereka meninggal di tempat TKP."
“Astaga, Adrian.” Aray mengusap wajahnya dengan kasar. Ia semakin shock mendengar kabar duka tersebut dan sangat menyesal mengizinkan putranya yang saat itu baru berusia 15 tahun untuk mengemudikan mobil hadiah ulang tahun darinya.. “Apa ada rekaman CCTV dan bukti yang mengarah padanya?”
“Anehnya, hanya rekaman CCTV saat peristiwa itu terjadi yang tidak ada.”
“Syukurlah, kali ini keberuntungan ada di pihak Adrian. Rahasiakan semua ini dari publik, terutama dari Adrian, aku tidak ingin anakku semakin tertekan dan shock setelah tahu dirinya sudah melenyapkan nyawa orang. Cari orang yang mau dijadikan kambing hitam supaya anakku tidak disalahkan.”
"Aku sudah membayar supir pribadiku untuk menggantikan posisi Adrian di penjara dan akan menjamin kebebasannya."
“Bagus, simpan rapat-rapat rahasia ini.”
***
Aray pergi ke ruang jenazah, di sana ia melihat seorang gadis kecil yang menangisi jasad kedua orang taunya.
“Ayah, Ibu, jangan tinggalin aku. Aku nggak mau sendirian. Kalau kalian nggak ada, aku sama siapa?” Yura kecil menangis histeris melihat kedua orang tuanya sudah terbujur kaku. Ada rasa sakit yang luar biasa menghujam jauh ke dalam hatinya saat kehilangan dua orang yang sangat dicintainya.
“Siapa gadis itu?” tanya Aray pada adiknya.
“Namanya Yura Malayeka, anak tunggal dari 2 orang yang sudah Adrian tabrak.”
“Berikan dispensasi yang sangat besar pada anak itu, anggap saja untuk menebus kesalahan Adrian.”
FLASH BACK ON KE MASA SEKARANG
Aray memindai tubuh Yura dari ujung rambut hingga ujung kaki. Di matanya, Yura adalah gadis biasa yang tidak terlalu cantik, akan tetapi rasa bersalah yang bersarang di hatinya terus menghantuinya dan membuatnya ingin menebus semua kesalahan yang sudah dilakukan oleh putranya di masa lalu pada kedua orang tua Yura.
“Apa kamu yang sudah membuat anakku celaka?” ujar Aray sembari memandangi putranya yang tidak berdaya di atas ranjang.
Yura sangat ketakutan dan hanya bisa menganggukkan kepala sambil meremas jemarinya sendiri saat pandangan Aray beralih padanya.Yura takut jika Aray akan memaki dan menghukumnya karena membuat anaknya celaka.
“1 minggu lagi, pria yang kamu tabrak akan menikah, tapi calon istrinya membatalkan pernikahan itu karena kecelakaan yang Adrian alami membuat kakinya lumpuh permanen.”
Yura mendongak dengan mulut menganga, lalu melihat Adrian dengan mata berkaca-kaca, rasa bersalah semakin menghantam hati nuraninya setelah tahu apa yang Adrian alami karena kecelakaan itu. Ia tidak menyangka jika kebodohannya akan merugikan orang lain.
“Maafkan saya, saya nggak pernah punya niat untuk mencelakai anak anda.”
“Kata maaf-mu tidak bisa merubah semua yang sudah terjadi. Adrian akan tetap menikah, tapi denganmu.”
“Apa??” Mata Yura melebar dengan sempurna, bahkan jantungnya menceloh hendak keluar dari tempatnya. Dia tidak dapat mempercayai apa yang baru saja didengarnya.