LUMPUH

1306 Words
Yura sangat panik melihat seorang pria yang kepalanya terlungkup di kemudi mobil. Kemeja putih yang pria itu kenakan berubah merah karena lumuran da rah. Warga di sekitar area yang penasaran sekaligus prihatin langsung berdatangan mengerubungi mobil. "Pak, Pak, tolong bantu keluarin pria itu, Pak. Selamatkan dia, Pak!" ujar Yura dengan panik, sekujur tubuhnya gemetaran karena takut pria itu meninggal. Beberapa orang-orang yang menyaksikan peristiwa kecelakaan langsung meringkus Yura, dan sebagian yang lain berusaha mengevakuasi korban, tapi warga kesulitan mengeluarkan korban dari dalam mobil karena karena kaki pria itu terjepit. “Apa yang kalian lakukan, lepaskan aku.” Yura panik tiba-tiba dirinya digelandang seperti seorang penjahat. Ia memberontak sekuat tenaga karena ingin menolong pria yang celaka karena dirinya. “Daripada kamu membahayakan nyawa orang lain lagi, lebih baik kamu ditahan.” “Saya mau bantu dia, Pak.” Yura terus memberontak saat dirinya diseret secara paksa ke tepi jalan. “Bantu apa, orang kamu yang udah bikin orang celaka. Orang stres kayak kamu itu nggak seharusnya berkeliaran di jalan, tapi mendekam di Rumah Sakit Jiwa.” "Saya bukan orang gila, Pak. Tolong lepaskan saya!" Yura berteriak karena takut akan dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa. Beberapa orang yang tadinya nongkrong di warung menganggap Yura adalah wanita gila, karena sebelum kecelakaan terjadi mereka melihat Yura berjalan terseok-seok, menangis tersedu-sedu sambil bicara seorang diri, kemudian berdiri di tengah jalan sambil merentangkan kedua tangan. “Pak, tolong lepasin saya. Saya pasti akan tanggungjawab. Saya cuma mau menolong pria itu, saya janji nggak akan kabur.” “Di mana rumah kamu?” tanya salah satu bapak-bapak setelah Yura berhasil diamankan. “Saya nggak punya rumah.” Yura tidak mau mengakui di mana rumahnya karena akan sangat memalukan jika keluarganya tahu Yura sudah melakukan percobaan bunuh diri. “Geledah saja tas-nya, atau laporkan ke polisi untuk diamankan.” “Jangan, Pak. Jangan laporin saya ke polisi. Saya akan bertanggungjawab.” Yura sangat panik, takut warga akan menjebloskannya penjara. Yang ada hidupnya akan semakin hancur dan malu muncul di hadapan keluarganya terutama Amira dan Malik. Salah satu bapak-bapak menggeledah isi tas Yura dan mengambil dompet beserta hp-nya. “Nama keluargamu siapa?” Yura malah menggelengkan kepala mendapat pertanyaan tersebut. “Atau mau telepon polisi?” *** “Kenapa kamu sampai nekat mau bunuh diri, Nak? Apa semua ini karena Malik menikahi Amira?” Hadi merasa bersalah sekaligus iba pada Yura karena sudah merestui pernikahan Amira dan Malik hingga Yura frustasi dan nekat untuk mengakhiri hidupnya. “Kalau kamu katakan sejak awal jika kamu keberatan, tentu saja aku akan membatalkan pernikahan Amira dan Malik kemarin. Biar nggak ada yang nikah sekalian.” Hadi terus menceramahi Yura tanpa henti karena kecewa dengan perbuatannya. “Apa kalian memberiku pilihan?? Yang ada kalian semua mendesak aku, meski paman tidak ikut campur.” Yura hanya bisa membatin dengan perasaan yang hancur. Yura menunduk malu, rasanya dia sudah tidak punya muka berhadapan dengan keluarganya, terutama Malik yang terus menatapnya dengan tatapan dalam, entah apa yang pria itu pikirkan. Yura tidak mau menjabarkan semua masalah yang dihadapinya. Ia tidak mau semakin terlihat menyedihkan di hadapan semua orang, terutama di hadapan Malik dan Amira. Ingin sekali Yura menceburkan dirinya ke dasar telaga agar orang-orang tidak bisa melihatnya bernasib sial lagi. “Aku capek, mau istirahat.” Yura ingin segera mengakhiri percakapan yang membuatnya semakin tertekan. “Istirahatlah, besok kita masih harus bicara.” Yura beranjak dari sofa, dan bergegas pergi ke kamarnya. Begitu masuk ke dalam kamar, Yura sudah dikejutkan dengan Amira yang duduk di tepi ranjang menunggunya. “Ngapain kamu di sini?” tanya Yura dengan ekspresi datar. “Aku tahu kamu cuma cari simpati dengan pura-pura bunuh diri, biar Mas Malik merasa iba sama kamu, tapi kamu harus ingat kalau sekarang Mas Malik itu suamiku, dia milikku, kamu udah gak ada hak atas Mas Malik. Jangan coba-coba kamu menggoda Mas Malik, apalagi sampai merebutnya dariku.” Amira mengancam Yura, matanya begitu tajam menatap Yura dengan tatapan mengintimidasi. Amira tidak akan membiarkan Yura merebut apa yang sudah menjadi miliknya. “Aku tidak suka barang bekas, apalagi sampah seperti suamimu.” “Kamu yang sampah, udah dibuang sama Mas Malik kayak sampah. Harusnya kamu sadar diri, kamu itu kumuh, makanya dibuang sama Mas Malik.” “Sampah, tempatnya memang di tong sampah kayak kamu,” balas Yura tak kalah pedas. “Bicara sembarangan lagi tentang aku dan Mas Malik, akan kurobek mulutmu!” Amira menunjuk wajah Yura, matanya melotot seolah ingin mencakar Yura. Emosi Yura seketika langsung memuncak, ia mengambil gunting yang teronggok di atas meja riasnya, kemudian menodongkannya tepat di wajah Amira. “Keluar dari sini, sebelum habis kesabaranku!” ancam Yura dengan ekspresi bringas. Melihat Yura yang murka membuat sekujur tubuh Amira gemetar ketakutan. Ia tidak pernah melihat Yura semarah ini sebelumnya. Amira lari terbirit-b***t takut Yura merealisasikan ancamannya. Setelah Amira hilang di balik pintu, Yura menghentakkan panggulnya di tepi ranjang dengan lesu, ini baru pertama kalinya Yura berani melawan Amira dan itu membuatnya merasa lega. Yura masih dihantui rasa bersalah karena sudah mencelakai seseorang, bahkan Yura tidak sempat menolong dan melihat wajah pria itu karena orang-orang sudah lebih dulu meringkusnya. Samar-samar, Yura mendengar isak tangis dari kamar di sebelahnya. Ia merapatkan telinganya ke dinding, lalu menajamkan pendengarannya. “Kenapa kamu nangis, Sayang?” tanya Malik sambil mengusap punggung Amira. “Kak Yura bilang kalau akan merebut kamu dari aku, terus dia ngancem aku pakai gunting, kalau aku nggak mau ninggalin kamu, dia bakal nusuk aku pakai gunting. Aku takut kalau dia bakal bunuh aku, Mas.” Amira menangis tersedu-sedu di pelukan suaminya, berharap tuduhannya pada Yura akan membuat Malik semakin membenci Yura. “Kamu yakin, Yura kayak gitu?” Malik tidak menyangka jika Yura bisa sesadis itu akibat patah hati, beruntung dirinya tidak jadi menikahinya, meski awalnya Malik sempat menyukai Yura. “Kamu nggak percaya sama aku?” “Tentu aku lebih percaya sama kamu, Sayang.” Malik berucap dengan lembut, lalu mengecup puncak kepala Amira. “Kak Yura itu selalu jahat sama aku, dia itu suka mengambil apa pun yang aku miliki, dia bahkan sudah merebut perhatian ayahku dan Mas Hirka. Dia yang udah fitnah aku, dan terus ngedeketin Mas Hirka sampai Mas Hirka mutusin pertunangan kami.” Amira menjual air mata buaya dan nampak sangat rapuh di hadapan Malik, supaya Malik semakin bersimpati padanya. “Kamu jangan khawatir, aku bukan Hirka, aku akan selalu setia sama kamu.” Malik memeluk istri tercintanya yang bernasib malang karena memiliki saudara seperti Yura. Yura mengepalkan tangannya dengan erat. Apakah selama ini Amira sudah menghasut Malik, hingga Malik berpaling darinya. *** Seorang wanita cantik nampak begitu cemas mendengar tunangannya mengalami kecelakaan dan masuk ke rumah sakit. Ia buru-buru pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan calon suaminya. “Bagaimana keadaan Adrian?” tanya Soraya dengan cemas pada seorang Dokter yang menangani kasus Adrian. “Dia masih koma, dan belum bisa dijenguk,” ungkap Rian yang merupakan seorang Dokter, sekaligus sahabat Adrian Fernandes. “Apa?” pekik Soraya dengan mata terbelalak, sementara telapak tangannya menutup mulutnya yang menganga. 5 hari lagi dirinya dan Adrian akan melangsungkan pernikahan. Sebentar lagi dia akan menjadi wanita kaya raya, ia tidak ingin pernikahan yang dijadikannya sebagai batu loncatan untuk naik tahta ditunda karena peristiwa ini. “Kapan dia akan sembuh?” tanya Soraya dengan raut wajah penuh kekhawatiran. “Wajah pasien rusak, dan kakinya lumpuh.” “Tapi, Adrian masih bisa sembuh ‘kan?” Soraya sangat shock mendengar kenyataan pahit ini, dadanya terasa sesak mendengar calon suaminya lumpuh. “Adrian lumpuh permanen.” Dokter Rian menggelengkan kepala dengan ekspresi penuh sesal. Bahu Soraya terkulai lemas mendengar kabar buruk ini, sebentar lagi pernikahan akan berlangsung, akan tetapi Adrian yang sempurna kini menjadi pria yang cacat. Selama ini banyak wanita yang tergila-gila pada Adrian karena Adrian adalah pria tampan yang bergelimang harta, tapi apa jadinya jika pria yang dulu penuh pesona kini menjadi pria yang lumpuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD