PERLAKUAN LEMBUT

1119 Words
“Apa maksdumu?” tanya Adrian santai seolah tidak tahu apa-apa tentang Yura. “Jangan pura-pura bodoh. Arloji itu cuma ada 1 di dunia, aku memesannya khusus dari desainer ternama hanya untukmu. Aku tahu kamu yang sudah menjebak Yura dan menjebloskannya ke penjara. Orang suruhanmu sudah mengakui semuanya, jadi kamu tidak usah berkelit lagi,” cecar Andreas. Arloji itu adalah hadiah ulang tahun darinya untuk Adrian, Andreas tidak mungkin salah mengenalinya. “Urus saja urusanmu, jangan mencampuri masalah rumah tanggaku.” “Aku juga tidak suka ikut campur dalam masalah rumah tanggamu, tapi aku tidak akan diam saja jika melihat kamu berbuat jahat, terlebih pada Yura. Apa yang kamu lakukan pada Yura sudah sangat keterlaluan. Walau bagaimana pun, Yura adalah istrimu. Kalau kamu masih memperlakukan Yura dengan buruk, aku akan membawanya pergi.” “Dia istriku, kau tidak punya hak atas dirinya.” Adrian nampak marah. Adrian tidak akan membiarkan Yura hidup bersama dengan Andreas, saudara kembarnya itu akan memperlakukan Yura dengan sangat baik, sedangkan Adrian ingin melihat Yura menderita. “Aku akan mengembalikan Yura padamu, jika aku ingin.” Tegas Andreas dengan mantap. “Apa maksudmu?” tanya Adrian bingung. Sayangnya Andreas berbalik pergi mengabaikannya. “Andreas!” Adrian memanggil Andreas yang tangannya sudah memegang gagang pintu kamar. “Yura akan tinggal bersamaku sekarang,” ujar Andreas sebelum akhirnya hilang di balik pintu. “Dia istriku, kau tidak berhak membawanya!” Adrian berteriak meski Andreas sudah tidak terlihat. “Sial.” Adrian memukul ranjang dengan kesal karena Andreas menggagalkan rencananya. *** Andreas masuk ke dalam apartemen pribadinya, ia melangkahkan kaki menuju satu-satunya kamar yang kini di tempati oleh Yura. Untuk sementara waktu, Andreas akan tidur di ruang kerjanya selama Yura tinggal di bersama dengannya. Setelah pulang dari Mall, Andreas langsung membawa Yura ke apartemennya, tidak berniat memulangkan Yura pada Adrian sebelum Adrian menyadari kesalahannya. TOK TOK TOK “Yura.” Yura terperanjat kaget ketika mendengar suara ketukan pintu, sejak tadi dirinya hanya berguling ke sana kemari di atas ranjang. Bukan karena ranjangnya tidak empuk, tapi Yura merasa tidak nyaman berada di tempat asing seorang diri, apalagi jika berduaan dengan seorang pria. Yura turun dari ranjang dengan perasaan gelisah, lalu berjalan dengan malas ke arah pintu. Saat pintu dibuka, Yura melihat Andreas sudah berdiri membawa sebuah paper bag berisi makanan. “Ayo, makan!” ajak Adrian. “Tapi, aku tidak lapar.” Yura menolak, malu berduaan dengan Andreas di dalam apartemen. “Kalau begitu temani aku makan.” “Tapi-“ Krucuk... Krucuk... Krucuk Belum sempat Yura bicara, perutnya sudah berbunyi karena cacing di perutnya protes lapar. “Tapi, perutmu tidak bisa diajak kompromi,” Andreas mengulas senyuman tipis, membuat Yura tersipu malu. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” sambung Andreas. "Apa?" "Ngobrol sambil makan lebih enak." Yura pun mengangguk, lalu mengekor di belakang Andreas yang mulai beranjak dari tempatnya berdiri sampai ke meja makan yang ada di pantri. Yura dan Andreas makan malam dalam diam, untuk mengubah kesunyian itu, Yura memutuskan membuka suara lebih dulu. “Pak, saya mau pulang saja.’’ “Kenapa buru-buru?” tanya Andreas. Ia meletakkan sendoknya ke atas piring, kemudian menatap Yura dengan serius. Andreas tidak rela melihat Yura ditindas oleh keluarganya, terlebih kedua orang tua Yura tewas karena Adrian yang menabraknya. Apa yang dialami Andreas tidak sebanding dengan nasib tragis Yura. “Pak, di rumah ini cuma ada kita berdua, saya nggak mau ada kesalahpahaman.” “Aku akan membawa Art ke apartemen ini untuk menemanimu kalau kamu merasa tidak nyaman denganku.” Andreas merasa keberatan Yura kembali ke rumah Adrian, karena ia sudah menyelidiki semuanya. Ternyata saat Aray tidak ada di rumah, Adrian dan Jeni selalu memperlakukan Yura dengan buruk. “Apa kata orang nanti, Pak? Saya sudah punya suami, tapi malah tinggal sama laki-laki lain.” “Mulai sekarang, jangan dengarkan apa kata orang. Hidup itu pilihan, jangan pernah mendengarkan omongan orang yang malah akan mempersulit jalan hidupmu. Kenapa kamu diam saja diperlakukan buruk oleh keluargaku? Kamu punya pilihan, kamu bisa mencari kebahagiaanmu sendiri, kamu bisa ke pengadilan agama. Kamu tahu ‘kan maksudku?” Yura menganggukkan kepala dengan ekspresi murung, tak lagi menutupi perasaannya yang kacau balau karena Andreas sudah mengetahui segalanya. “Aku bertahan karena aku masih merasa bersalah sama Pak Adrian. Gara-gara aku, dia jadi lumpuh, gara-gara aku, dia ditinggal tunangannya dan batal nikah. Aku tahu gimana rasa sakitnya batal nikah, ditinggal orang yang dicintai itu sakitnya luar biasa, rasa sakitnya ‘tuh nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata, duniaku rasanya hancur. Sampe saat ini, hatiku masih sakit, mungkin hati pak Adrian juga masih sakit. Aku masih mau menebus kesalahanku.” Rasa sakit hati Yura masih terasa hingga saat ini dan menyisakan rasa trauma di hatinya atas pengkhianatan dari orang yang sangat dicintainya. “Itu bukan kesalahanmu, Yura. Semua itu terjadi tanpa kamu sengaja.” “Tapi, kecelakaan itu terjadi karena kebodohanku.” “Sebesar apa pun masalahmu, jangan pernah terlintas di pikiranmu untuk bunuh diri lagi. Kamu punya Tuhan, pasrahkan semuanya padanya, dan kamu juga punya aku sekarang. Sekarang apa mau mu, aku pasti akan selalu mendukungmu?” “Aku akan bertahan sampai aku mampu.” Yura berharap Adrian bisa luluh dengan ketulusannya dan mau memaafkan kesalahannya. “Baiklah.” Andreas mencoba untuk menghormati keputusan Yura sampai wanita itu mampu bertahan. Yura tidak mampu berkata-kata, ia hanya menatap Andreas dengan mata berkaca-kaca, jika Yura mengeluarkan suara, mungkin air mata yang dia tahan akan menetes. Sedetik kemudian Yura mendongak ke atas sambil mengerjap-ngerjapkan mata agar air matanya tidak jatuh. *** Pagi pun tiba, saat Yura membuka mata, perhatiannya langsung tertuju pada Sandwich dan s**u putih di atas meja, di sampingnya ada sepucuk surat. "Aku sudah membuatkan sarapan untukmu, di dalam kulkas ada banyak makanan, kamu bebas memakannya. Nanti siang aku akan mengirim makanan untukmu. Kamu mau makan apa?" Yura membaca tulisan tangan Andreas, di sana juga tertera nomor telepon Andreas. "Dia baik sekali." Yura tersenyum hangat mendapat perlakuan lembut Andreas. Ia merasa terharu, baru pertama kali ini ada pria sopan yang memperlakukannya dengan istimewa. Yura meneguk segelas air putih, kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa saat kemudian, Yura keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, tubuhnya dibungkus handuk kimono. Ia duduk di tepi ranjang, kemudian menikmati makanannya. Baru satu gigitan sandwich masuk ke dalam mulutnya, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu apartemen. "Siapa, ya?" gumam Yura pada dirinya sendiri. Yura beranjak pergi ke pintu utama dan langsung membukanya. Ia sangat terkejut melihat Adrian ada di depan matanya. "Bapak ngapain di sini?" tanya Yura dengan spontan sambil menunduk menatap Adrian yang duduk di kursi roda. "Apa pantas kau bertanya seperti itu padaku dengan pakaian seperti itu di rumah seorang lelaki?" Adrian menatap Yura dengan tatapan tajam seraya mengamati baju kimono yang Yura kenakan, apalagi rambut wanita itu basah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD