PERUBAHAN SIKAP BAIK ADRIAN

1297 Words
Yura langsung mencengkram belahan handuk kimono yang menutupi dadanya. Moralnya serasa tertampar oleh teguran Adrian. "Saya dan Pak Andreas tidak melakukan hal yang terlarang." Yura berusaha membela diri, tidak mau dipandang rendah sebagai wanita mu-ra-han oleh suaminya. "Berduaan dengan lelaki asing adalah perbuatan terlarang, Yura." "Tapi, Pak Andreas adalah saudara anda." Yura tidak ingin Adrian berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya dan Andreas. Adrian mengepalkan tangannya, geram melihat Yura yang mulai berani membantahnya. "Kutunggu 5 menit, cepat ganti pakaianmu lalu kita pulang." "Saya pamit Pak Andreas dulu." "Suamimu itu aku atau Andreas?" Yura menghela napas panjang, merasa tidak enak hati pada Andreas yang sudah membantunya. “Iya, tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu.” Yura berbalik masuk ke dalam apartemen, Adrian dan Gresyuan mengiringi langkahnya. “Tunggu di sini saja.” Ujar Adrian pada Gresyuan saat sampai di ruang depan, membiarkan Yura masuk ke dalam kamar seorang diri. Adrian merasa heran, kenapa Yura bisa leluasa masuk ke kamar Andreas, karena Andreas adalah pribadi yang lebih suka menyendiri dengan suasana sunyi dan tenang, dia punya privasi yang tak suka tersentuh orang. Kamar di apartemen ini hanya ada 1 karena Andreas tidak pernah mengundang keluarganya untuk menginap di sini. *** Yura mengambil hp di atas nakas, ada banyak nomor telepon tidak dikenal yang membuatnya menghela napas frustasi, padahal Yura sudah berulang kali berganti nomor hp, tapi orang-orang pinjol selalu tahu nomor barunya. “Pak, maaf saya pulang ikut Pak Adrian.” Yura mengirimi Andreas sebuah pesan, lalu menonaktifkan hp-nya, tak menggubris panggilan pinjol karena sudah terlalu banyak masalah dalam hidupnya. Sudah berbulan-bulan Yura diteror oleh nomor dari pinjol karena beberapa bulan yang lalu ada penelepon misterius yang menghubungi Yura, mengatakan dirinya salah transfer uang senilai Rp. 40.000.000 ke rekening Yura dan meminta Yura untuk mentransfer uang tersebut ke rekeningnya. Dengan polosnya Yura menuruti permintaan si penipu. Padahal Si Penipu menggunakan data diri Yura untuk mendaftar pinjol, setelah uang sukses masuk ke rekening Yura, si penipu meminta Yura untuk mentransnfer uang tersebut ke rekeningnya dengan dalih salah kirim. "Hufffff, sudah 'lah. Toh, bukan aku yang pinjam uang itu." Bukannya Yura tidak mau bertanggungjawab, tapi ia bingung mau membayar tagihan itu dengan apa, sisa tabungannya saja tidak akan cukup untuk membayar semua hutangnya. Yura mengenakan pakaian dan parfum pemberian Andreas, ia buru-buru menyisir rambutnya yang berantakan karena takut Adrian terlalu lama menunggunya. Ia melirik makanan yang Andreas siapkan untuknya, merasa sayang jika tidak dihabiskan. Perlakuan lembut Andreas membuat Yura merasa terharu, baru pertama kali ini ada pria sopan yang memperlakukannya dengan istimewa. “Yura, sudah 6 menit, kenapa kamu belum keluar.” Teriakan Adrian menyadarkan lamunan Yura, gadis itu pun bergegas keluar dari kamar sambil menenteng paper bag berisi pakaian yang Andreas belikan untuknya. Yura terlihat lebih cantik dari biasanya, kulitnya yang biasanya kusam kini lebih glowing apa lagi didukung dengan pakaian bagus yang membalut tubuhnya. Yura sebenarnya berkulit putih, tapi karena sering berjemur apalagi setelah menjadi kurir paket, kulitnya berubah jadi hitam. Setelah mendekam di penjara selama 2 minggu tanpa paparan sinar matahari, dan kemarin Andreas masih sempat membawanya ke salon untuk perawatan membuat kulit Yura makin putih, bersih dan mulus. “Apa yang kau bawa?” tanya Adrian saat melihat Yura menenteng banyak paper bag dari toko ternama yang setiap barangnya memiliki harga yang fantastis. “Hmmm.” Yura mendongak, menatap Adrian dengan ragu, takut jika Adrian melarangnya membawa hadiah dari Andreas. “Andreas yang membelinya untukmu?” tebak Adrian yang dijawab anggukan kepala oleh Yura. “Tinggalkan barang-barang itu di sini, aku masih mampu membelikannya untukmu.” “Tapi-“ “Aku tidak suka dibantah,” sela Adrian sebelum Yura sempat memberikan penolakan. "Kamu bahkan tidak pernah memberiku uang belanja," sahut Yura. Bahu Yura terkulai lemas karena prediksinya benar, meski keberatan dengan perintah Adrian, Yura tetap menurunkan paperbag di atas lantai dengan ekspresi kesal. "Mulai sekarang kamu akan mendapatkan hak-mu." Bulu kuduk Yura malah berdiri semua mendengar pengakuan Adrian. Apa maksud dari pernyataannya, apakah Yura akan mendapatkan nafkah lahir batin. Membayangkan dirinya tidur seranjang dengan Adrian membuatnya merasa geli. *** “Kenapa kamu membawanya kemari, Nak. Aku tidak ingin barang-barang di rumah ini, dia curi.” Jeni menyambut kedatangan Yura dengan kata-kata yang tajam hingga mampu menggores luka di hati Yura. Entah sampai kapan Yura mampu bertahan di rumah ini. “Itu tidak akan terjadi, Ma. Aku yang jamin.” Jeni menyilangkan tangan di da- da, memandangi tubuh Yura dari atas hingga ke bawah dengan tatapan jijik. Dia tahu pakaian yang Yura kenakan adalah pakaian mahal dari merk terkenal, mustahil Yura mampu membelinya. “Darah pencuri mengalir di tubuhnya, mana bisa tabiat buruknya dirubah. Baju itu, kau juga mencurinya ‘kan!” tuduh Jeni dengan tatapan hina. “Tidak, aku bukan pencuri, aku tidak pernah mencuri dan baju ini adalah pemberian Pak Andreas.” Yura membela diri, hatinya sakit selalu direndahkan oleh Jeni. Apa lagi Jeni membawa-bawa orang tuanya yang tidak tahu apa-apa. “Orang miskin sepertimu bisanya hanya memeras orang kaya,” Jeni tidak ikhlas uang Andreas digelontorkan untuk wanita di hadapannya. “Ma, cukup. Yura adalah istriku, menghinanya sama juga dengan menghinaku. Mulai sekarang, hormati dia. Aku tidak ingin siapa pun menghinanya” Yura sedikit terkejut sekaligus merasa terharu melihat Adrian menganggapnya sebagai istri, bahkan berani membelanya di hadapan ibunya sendiri. Ada perasaan lega sekaligus bahagia melihat Adrian mulai memaafkan kesalahannya dan berpihak kepadanya, ternyata tidak sia-sia pengorbanannya selama ini. “Adrian, apa-apaan kau ini. Bukannya selama ini kamu sangat membencinya. Jangan lupa! Dia yang sudah membuat hidupmu hancur.” Jeni merasa heran sekaligus kesal melihat perubahan sikap Adrian. “Aku sudah sadar, Ma. Semua yang terjadi dalam hidupku adalah takdir, bukan salah Yura. Aku mau makan dulu, Ma. Yura, kamu juga belum sarapan ‘kan! Ayo, makan bersamaku.” Usai berpamitan pada Jeni, Adrian mengajak Yura untuk pergi bersamanya. “Iya.” Yura tersenyum senang seraya menganggukan kepala satu kali, kemudian mengekor di belakang Adrian hingga tiba di ruang makan. *** Adrian mendorong tangan Gresyuan yang hendak menuang nasi ke piring yang ada di depan Adrian. “Yura!” Adrian memanggil Yura yang sedang mengambil lauk untuk dirinya sendiri. “Iya.” Yura menoleh pada Adrian. “Ambilkan aku makanan.” “Mau makan apa?” tanya Yura. “Apa saja.” “Kau boleh pergi, Gresyuan.” Adrian menyuruh Gresyuan untuk pergi karena ingin berduaan dengan Yura. Gresyuan mengangguk patuh, kemudian bergegas keluar dari ruang makan. “Aneh, biasanya dia hanya mau dilayani Gresyuan.” Yura bergumam dalam hati melihat perubahan sikap Adrian. Namun, tangannya tetap mengisi piring Adrian dengan semua menu yang ada di atas meja agar nantinya pria itu tidak membuatnya bingung. Yura makan dalam keheningan bersama Adrian, ia merasa canggung karena Adrian makan sambil sesekali memandangnya seperti orang yang sedang jatuh cinta. Namun, Yura berusaha tidak peduli karena dia sangat lapar, yang terpenting sekarang adalah mengisi perutnya yang sedari tadi keroncongan. Yura terhenyak kaget saat Adrian tiba-tiba mengusap sudut bibirnya dengan tissue karena belepotan dengan saos kacang. “Ada bumbu di bibirmu.” “Iya, nggak apa-apa." Yura salah tingkah dan tersenyum malu. "Hmmm, terimakasih ya, karena kamu sudah membebaskanku dari penjara.” Satu sudut alis Adrian menukik ke atas, matanya menatap Yura dengan tatapan penuh selidik, di detik kemudian ia menganggukkan kepala. Entah apa yang sudah Andreas katakan pada Yura hingga wanita itu berpikir jika dirinya ‘lah yang membebaskan Yura dari penjara. “Maaf jika selama ini aku bersikap kasar padamu, aku harap kamu mau membuka lembaran baru denganku,” ujar Adrian dengan tatapan hangat pada Yura. Sontak saja mata Yura membola dengan sempurna, terkejut dengan pernyataan Adrian. “Menjadi sepasang suami istri sungguhan maksudmu?” Yura bertanya untuk memastikan, karena tidak ingin ada salah paham yang membuatnya terbawa perasaan. Sekujur tubuh Yura terasa lemas saat Adrian menganggukkan kepala dengan ekspresi serius. Yura menelan ludahnya susah payah, bingung harus bagaimana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD