JALAN-JALAN

1009 Words
Yura kembali makan sambil mengedip-ngedipkan mata agar air di pelupuk matanya tidak menetes. "Kenapa diam?" tanya Adrian seraya menggenggam tangan Yura. "Iya." Yura tersentak kaget, sekujur tubuhnya terkesiap sampai sendok di tangannya terjatuh di atas piring dan menimbulkan suara bising saat Adrian menyentuhnya. "Iya apa?" tanya Adrian dengan tatapan teduh. "Kamu nggak sedang mempermainkan aku, kan?" "Apa aku terlihat sedang bermain-main?" jawab Adrian dengan ekspresi serius. Yura menggelengkan kepala, sejujurnya dia masih ragu untuk mempercayai Adrian, sakit hati atas pengkhianatan Malik masih sangat membekas di hatinya. Kegagalan pernikahan menyisakan luka dan trauma yang amat dalam, membuatnya sulit untuk percaya pada laki-laki, apalagi harus membuka hati. "Aku harap kamu mau membuka lembaran baru dalam pernikahan kita, memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Walau bagaimana pun, kita adalah suami istri." Adrian kembali merayu Yura, berharap Yura mau menerimanya dan mencintainya dengan setulus hati. "Yura, mulai saat ini aku akan mendengarkanmu," sambung Adrian yang dijawab anggukan kepala oleh Yura. "Habiskan makanmu, setelah itu ikut aku." "Kemana?" tanya Yura. "Nanti kamu juga akan tahu." *** Yura mengaktifkan hp-nya, ada banyak panggilan tak terjawab dari nomor tidak dikenal. Tiba-tiba hp berdering, ada panggilan telepon dari Andreas. "Hallo." "Kamu di mana?" tanya Andreas tanpa basa basi. "Aku di rumah Pak Adrian." "Kenapa kamu kembali ke rumah di mana semua orang tidak bisa menghargai kamu, Yura?" "Walau bagaimana pun, saya adalah seorang istri. Rasanya tidak pantas tinggal bersama pria lain meski pun pria itu sangat baik pada saya. Saya tidak ingin orang-orang salah paham tentang kita." "Kalau kamu merasa tidak nyaman tinggal denganku, kamu bisa tinggal di apartemenku yang lain." Andreas memiliki banyak properti dan apartemen yang disewakan. "Tidak, Pak. Lebih baik saya tinggal bersama suami saya." Terdengar helaan napas panjang dari seberang telepon. Andreas hanya ingin melindungi Yura dari ketidakadilan. "Bagaimana bisa kamu hidup dengan orang yang selalu bersikap semena-mena padamu, Yura." "Saya hanya mau berbakti pada suami saya, Pak. Lagian, sekarang Pak Adrian sudah bersikap baik pada saya. Dia juga sudah berjasa membebaskan saya dari penjara. Anggap saja ini sebagai balas budi dan penebusan dosa saya terhadap Pak Adrian." "Apa kamu yakin?" Andreas tidak percaya Adrian bisa berubah secepat kilat. Apa jadinya jika Yura tahu bahwa Adrian adalah dalang utama yang membuatnya mendekam di penjara. "Iya, Pak. Saya baik-baik saja, anda jangan khawatir. Jujur saja sampai sekarang saya masih merasa bersalah pada Pak Adrian, saya bisa memaklumi sikapnya dulu. Saya merasa kalau saya itu sangat jahat, karena sudah merusak hidup Pak Adrian. Pak Adrian bersikap seperti itu juga karena salah saya." "Kamu tidak jahat, Yura. Kamu hanya terlalu baik." "Saya yang salah, Pak. Udah untung dari kejadian itu Pak Adrian tidak menuntut saya dan memenjarakan saya. Saya yakin suatu saat nanti Pak Adrian akan benar-benar berubah." "Semoga saja apa yang kamu katakan benar. Jaga dirimu baik-baik, kalau ada apa-apa dan butuh bantuan, jangan sungkan untuk menghubungiku." "Iya, Pak. Terimakasih banyak." Yura sangat bersyukur masih ada orang yang peduli padanya tanpa memandang status sosialnya. Panggilan telepon pun terputus, Yura mengirim pesan pada Hadi, memberitahukan jika dirinya sudah bebas dari penjara. Hp Yura kembali berdering, ada notifikasi panggilan dari inisial Paman Hadi. "Hallo, Paman." "Oh, dasar wanita sialan, hidup cuma bawa petaka." "Apa maksudmu?" tanya Yura dengan geram saat mendengar suara Amira, adik sepupu yang tega merebut tunangan Yura. "Tadi ada penagih hutang datang cari-cari kamu, gara-gara hp-mu nggak aktif, ayah yang dimaki-maki sampai jadi tontonan banyak orang." "Aku nggak pernah punya hutang, aku ditipu." "Halah, nggak usah banyak alasan. Bayar hutangmu biar mereka nggak ganggu. Besok mereka bakal balik lagi ke rumah kalau hutangnya nggak dibayar. Jangan bikin malu ayah yang udah besarin anak sialan kayak kamu." "Iya, aku akan mencicilnya." Yura langsung memutus sambungan teleponnya, mengusap air mata yang tak lagi dapat dipendam. Ia menangis tersedu-sedu. Dadanya terasa sesak, hatinya sakit bagai di sayat belati. Kenapa masalah silih berganti menimpanya tanpa henti. Yura merasa tidak akan sanggup lagi jika harus hidup dengan memikul beban seperti ini. Semua terasa berat untuk dijalani. *** Yura mendorong kursi roda membawa Adrian memasuki sebuah lift. Gresyuan menekan tombol lantai paling atas. Sesampainya di atas rooftop sudah ada helikopter pribadi yang menunggu mereka. Sapuan angin dari baling-baling helikopter membuat rambut Yura yang tergerai indah melambai-lambai. Yura sangat takjub, sebelumnya ia tidak pernah melihat helikopter dalam jarak sedekat ini. "Ngapain kita ke sini?" tanya Yura sembari melangkah mendekati helikopter. "Aku ingin mengajakmu berlibur. Sejak kita menikah, kita tidak pernah jalan-jalan." "Naik itu." Yura menunjuk helikopter. "Iya." Yura merasa merasa tersanjung karena merasa diistimewakan. Ia berharap setelah ini hidupnya akan baik-baik saja. Yura dan Adrian menaiki helikopter yang muat untuk 4 orang termasuk pilot. Yura merasa semua ini mimpi, ia bahkan tidak pernah membayangkan bisa melihat keindahan alam dari atas langit. Panorama alam yang asri dan indah tidak mampu membuat Yura terpukau karena isi kepalanya hanya memikirkan hutang-hutangnya yang menumpuk. Adrian memperhatikan Yura yang sedari tadi memandangi pemandangan alam dengan ekspresi datar. "Kamu senang?" tanya Adrian. Yura menoleh dengan ekspresi datar, hatinya masih terasa beku meski Adrian membawanya jalan-jalan. "Iya." Yura berbohong, tak ingin mengecewakan usaha Adrian yang ingin memperbaiki pernikahan mereka. "Tapi, wajahmu mengatakan berbeda." "Ada apa dengan wajahku? Wajahku memang seperti ini." "Tidak apa. Aku punya sesuatu untukmu." Adrian mengalihkan pembicaraan, tidak ingin merusak suasana saat ini. "Apa?" tanya Yura. Adrian mengeluarkan sebuah liontin dari saku kemejanya, kemudian mengalungkannya ke leher Yura. "Ini, buatku?" tanya Yura seraya mengusap liontin cantik yang melingkar di lehernya. "Iya, kamu suka." "Iya, cantik sekali." Yura tersenyum tipis, tapi logika membentengi hatinya agar tidak jatuh hati pada Adrian. Ia tidak ingin dipermainkan dan patah hati untuk kedua kalinya. "Hmmm, kenapa kamu tiba-tiba baik sama aku?" "Karena kamu istriku." "Bukan itu maksudku, bukannya selama ini kamu tidak menyukaiku karena aku yang membuatmu seperti ini." "Jangan bahas itu lagi, aku tidak mau mendengarnya." "Ok." Yura mengangguk kemudian berpaling ke jendela, lebih nyaman memandangi bumi daripada berkomunikasi dengan Adrian. Beberapa saat kemudian, helikopter mendarat di halaman yang luas. Yura melihat bangunan megah yang ada di pulau xxx. "Itu rumah milikmu?" tanya Yura seraya memandangi bangunan mirip dengan istana yang di kelilingi lautan. "Itu rumah milik kita," jawab Adrian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD