Awal yang baik

1220 Words
Entah sudah berapa botol yang mengalir lancar di kerongkongan Rayza. Yang jelas, perutnya kini terasa begitu penuh dan kembung. Tapi sayang pikirannya masih diliputi halusinasi berkonotasi negatif. Pria itu pun mengalihkan pikirannya dengan memasak bubur yang sempat terbengkalai. Alhasil hal itu berhasil mengalihkan pikirannya. Dengan terampil Rayza menarikan pisau dengan jemarinya. Satu persatu sayuran dan daging siap dimasak. Sungguh pria ini tampak berkali-kali lipat lebih tampan saat di dapur. Karena faktanya pria tampan mudah dicari, tapi pria yang lihai menggunakan peralatan dapur sangatlah langka. Satu jam berlalu. Akhirnya semangkuk bubur organik dengan wortel, daging dan jagung siap di santap. Bubur itu tampak menggugah selera. Dari tampilannya yang berwarna warni dan asap pembawa aroma yang menyerbu indera penciuman membuat perut terasa lapar. Rayza membawa semangkuk bubur itu ke kamar. Sebelum memasuki kamarnya. Rayza mengetuknya terlebih dahulu. Dia khawatir akan ada penampakan yang membuatnya tak bisa tidur jika langsung membukanya. Dan tak tidur itu adalah konotasi yang berbeda. Kalian pasti tahu maksudnya kan? Tok... Tok... Tok... "Masuk." Suara dari dalam terdengar nyaring. Rayza pun bergegas masuk dengan semangkuk bubur dan jus buah naga di nampannya. "Ini makanlah. Kau belum makan kan?" tanya Rayza meletakkan nampan di atas nakas. Dan hal itu sukses membuat netra coklat milik Qiran berair. Sungguh baru kali ini ada sosok yang memperhatikan dirinya saat sakit. Karena biasanya dia hanya meringkuk sendirian, tak ada perhatian ataupun sekedar menemani saat dirinya sakit. Bahkan Qiran belum pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang ayah apalagi ibu. "Ya Allah... Rasanya bahagia banget diperhatiin. Selama ini gue kalo sakit nangis sendirian. Papi sibuk kerja. Sedangkan Mami? Gue bahkan ga pernah tahu seperti apa wujud Mami." Qiran membatin. Membuat air matanya diproduksi dengan tak terkendali. Melihat air mata Qiran yang membanjir, Rayza pun merasa iba. Hatinya terenyuh pilu seolah ikut merasakan sakit. Rayza bergerak mengambil tisu di atas nakas dan memberikannya pada Qiran. "Jangan menangis," ucap Rayza lembut. Tapi sayang gadis itu malah semakin menangis pilu bahkan isakannya terasa begitu menyayat hati. Kali ini Qiran benar-benar tak bisa mengeluarkan suaranya. Dia hanya bisa menangis. "Hei apa kau merasa sakit?" Tanya Rayza khawatir. Sungguh Rayza paling tidak sanggup melihat air mata wanita. Tapi gadis itu hanya menggelengkan kepalanya. "Lalu mengapa kau semakin menangis?" Tanya Rayza bingung menghadapi seorang wanita. Sungguh dia tak pernah membantu wanita meredakan tangisnya. "Tidak apa-apa," ucap Qiran mengusap air mata. "Ya sudah cepat makan buburnya," ucap Rayza enggan bertanya lebih jauh. Qiran menoleh ke arah nakas. Dia melihat tampilan bubur yang cantik seperti pelangi. Ada warna jingga dari wortel, kuning dari jagung, putih dari beras organik, dan hijau dari taburan nori. Dan seharusnya Qiran merasa ingin memindahkannya ke perut. Tapi sayang dorongan perutnya lebih dominan. Dan lagi-lagi Qiran memuntahkan isi perutnya. "Huueek... hueekk... hueekk..." Bahkan kali ini dia memuntahkannya tepat di pakaian yang Rayza kenakan. Lengkap sudah rasa bersalahnya. Rayza yang menjadi seorang dokter, memang sudah terbiasa akan hal ini. Tapi jujur saja jika ada pasien yang mengotori pakaiannya dengan muntahan. Qiran juaranya. Baru gadis ini yang melakukannya. "Maafkan aku... Sungguh aku tidak sengaja," ucap Qiran merasa bersalah. Tangannya bergerak hendak membersihkan pakaian Rayza. Tapi Rayza malah menahannya dan meletakkan kembali tangan mungilnya ke pangkuan Qiran. "Tak apa biarkan. Aku ganti pakaian dulu," ucap Rayza berusaha sabar. "Jangan banyak menggerakkan tanganmu. Nanti darahnya naik ke infus," ucap Rayza memperingati Qiran. Sedangkan Qiran hanya bisa mengangguk. Qiran menatap isi perutnya yang terbuang sia-sia. Dia merasa jijik melihat muntahannya yang mengotori spray dan lantai. Bahkan aroma menjijikkan itu membuat perutnya kembali mual. Tak lama kemudian Rayza datang dengan pakaian santai. Dia hanya mengenakan t-shirt putih dan celana pendek selutut. Pria itu segera berjongkok dan membersihkan liquid menjijikkan yang tercecer di lantai. Tapi pria itu membersihkan dengan sangat santai, tanpa rasa jijik. Sedangkan Qiran yang membayangkannya ingin muntah kembali. "Cepat bangun," ucap pria itu selesai membersihkan muntahan Qiran. "Katanya ga boleh banyak gerak," ucap Qiran protes. "Kalo kau mau tidur dengan spray kotor seperti itu ya silakan," ucap Rayza ketus. Qiran pun terkekeh malu melihat muntahannya yang mengotori spray. Rupanya pria yang belum dia ketahui namanya akan menggantikan spray. Qiran pun bangkit perlahan. Berusaha tak banyak menggerakkan tangannya. Dengan telaten pria itu mulai mengganti spray. Dan mempersilakan Qiran kembali istirahat. "Finish... Silakan istirahat," ucap Rayza menepuk bantal. Qiran pun kembali merebahkan tubuhnya. Dan menarik selimut sebatas d**a. Tapi netra coklatnya tetap melekat menatap pria yang mengagumkan baginya. Tapi sepertinya Rayza tak sadar sedang diperhatikan. Dia malah menoleh ke arah bubur yang ada di atas nakas. Sungguh hatinya kembali kesal karena gadis itu belum makan sesuap pun. "Belum kau makan?" Tanya Rayza ketus menatap Qiran. "Aku mual," jawab Qiran manja. "Sudah tahu penyakitmu maag, seharusnya kau jaga makan. Jangan sampai tepat," ucap Rayza ketus. Dia merasa kesal dengan sikap keras kepala gadis cantik di hadapannya. "Ya kan mual... Ga enak makan jadinya. Kayak ga pernah sakit aja," ucap Qiran kesal dengan sikap Rayza yang ketus. Qiran merasa seperti anak kecil yang bisa dijudge sesuka hati pria itu. Sedangkan Rayza hanya bisa menghela nafas kembali. Sepertinya dia harus lebih sabar menghadapi gadis kekanakan yang lupa umur. "Oke maaf. Aku tahu saat sakit maag dorongan gas asam klorida membuat seseorang sulit untuk menerima makanan. Tapi jika kau semakin tak mengisi perutmu dengan makanan maka perut itu akan semakin penuh diisi oleh liquid asam klorida yang mengikis dinding lambungmu. Jadi sebaiknya kau makan, walau sedikit. Bahkan walau muntah pun, kau harus sering mengisinya," ucap Rayza dengan penjelasan ilmiahnya. "Ck... Kayak dokter saja," ucap Qiran mendengus kesal. "Saya memang dokter. Bukan kayak dokter, seperti katamu. Jadi ayo makan!" ucap Rayza kembali memerintah gadis di hadapannya. "Jika kau dokter seharusnya kau memberiku obat. Bukan malah memaksaku untuk makan. Lagi-lagi makan... Lagi-lagi makan... Sudah kubilang aku mual," ucap Qiran semakin kesal. Gadis itu memicingkan matanya dengan bibir yang mengatup rapat. Menggemaskan sekaligus menyebalkan di mata Rayza. "Minum obat tak akan menyembuhkan mu, obat hanya membantumu menetralisir asam lambung. Karena kandungan dalam obat maag adalah antasida. Akan terjadi reaksi kimia antara antasida dengan asam klorida yang nantinya menghasilkan garam. Dan jika kau ketergantungan pada antasida, maka secara tidak langsung kau mengkonsumsi garam secara berlebihan. Dan hal itu tidak baik untuk pembuluh darah. Dan ingat antasida tidak membatasi atau mencegah sekresi asam lambung. Itu artinya antasida tidak mengobati," ucap Rayza menjelaskan. Sungguh dia tak habis pikir dengan pola pikir masyarakat bahwa obat menyembuhkan. Karena nyatanya obat tak menyembuhkan, tapi menghilangkan rasa sakit seolah-olah sembuh. Sedangkan kesembuhan sendiri datangannya karena regenerasi sel. Intinya makanan dengan gizi seimbang yang mempengaruhi regenerasi sel. Qiran menatap kagum pria di hadapannya yang menjelaskan tentang dunia kesehatan. Sungguh selama ini Qiran salah. Dia pikir obat memang benar-benar ampuh menyembuhkan. "Jadi intinya sembuh itu butuh bantuan dari makanan dengan gizi seimbang untuk mempercepat regenerasi sel. Sekarang makan!" Perintah Rayza menyodorkan sendok berisi bubur tepat di depan bibir Qiran yang tertutup rapat. Dengan perlahan akhirnya Qiran membuka mulutnya dan melahap bubur itu. Saat ini lidahnya memang tak bisa mengecap rasa dengan baik. Rasanya pahit. Tapi sikap peduli dan perhatian pria itu membuatnya merasa bahagia. Sungguh Qiran terharu mendapatkan perlakuan sebaik ini dari seseorang. "Terima kasih... Maaf aku merepotkan mu. Padahal kita bahkan belum saling kenal," ucap Qiran menatap dengan perasaan bersalah. Rayza pun tersenyum hingga lesung pipit di pipi kirinya tercipta. Manis dan memesona di mata Qiran. "Aku sudah mengenalmu Qiran. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk kita," gumam Rayza membatin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD