Masakan pertama

1053 Words
Keesokan harinya. Akhirnya Qiran bisa bangun pagi dengan bantuan alarm. Setelah kemarin sore mencuci pakaian. Qiran kelelahan dan dia pun langsung tidur pulas. Qiran mendengus kesal. Sungguh dia tak pernah hidup sekeras ini. Tapi mau bagaimana lagi, tak mungkin dia pulang ke rumah. Bisa-bisa Qiran akan dinikahkan dengan Om-om hari ini juga. Membayangkan hal itu membuat Qiran bergidik ngeri. Usai bangkit dari ranjang, Qiran segera mandi lalu menuju dapur. Langkah gadis itu bergerak menuju lemari pendingin dan mengambil beberapa butir telur untuk direbus. Beruntung dia sudah memiliki handphone. Jadi dia bisa browsing bagaimana cara menyalakan kompor. Bahkan dia juga mencari menu makanan yang mudah dimasak. Akhirnya Qiran memutuskan untuk memasak telur bumbu kecap. Dan kini air mata Qiran terus meleleh. Bukan karena sedih, melainkan karena ulah bawang merah yang menciptakan gas saat dia potong. Sungguh baru kali ini Qiran tahu ternyata, memasak makanan tak semudah memakannya. Padahal dia hanya memasak telur bumbu kecap menggunakan cabai, bawang, tomat dan kecap. Itu saja. Tapi rasanya perjuangan untuk menciptakan telur itu sangatlah sulit. Hingga akhirnya telur bumbu kecap siap disantap. Qiran menatap telur buatannya. Telur itu tidak mulus seperti telur yang biasa dia makan. Bagian putih telurnya banyak yang koyak. Entah apa yang salah saat dia mengupas telur. Dan akhirnya Qiran mengambil sendok untuk mencicipinya. Dengan mengumpulkan kekuatan dan keberanian Qiran harus mencoba masakan pertamanya. Gadis itu memejamkan mata saat mendekatkan sendok ke bibirnya. Dan akhirnya dia membuka mulutnya dan... HAP.... "Emmm.... Tidak terlalu buruk. Lumayan lah untuk ukuran masakan pertama." Ucap Qiran bermonolog. Walau lidahnya merasakan kurang asin, tapi jujur dia tak berani menambahkan garam. Khawatir akan keasinan. Biarkan saja seperti ini. Dan masalah barunya adalah... Qiran menatap kondisi dapur yang benar-benar kacau. Sampah berserakan, cipratan minyak di mana-mana. Bahkan kecap tumpah dan piring kotor berserakan. Qiran menatap jam dinding di dapur. "Jan setengah sembilan. Aku harus bereskan ini semua sebelum Pak bos datang. Aku ga boleh mengecewakan dia." Ucap Qiran bermonolog. Qiran pun segera bergerak cepat untuk membereskan kekacauan yang diciptakan tangan nya. Dan 30 menit pun berlalu. Kini ruangan dapurnya sudah layak kembali. Dan sudah saatnya Qiran menyiapkan sarapan pagi untuk Rayza. Dengan telaten tangan gadis itu menyendok kan nasi ke piring dan menata telur kecap buatannya. Ya walaupun di hanya memasak telur, tapi setidaknya semua itu buruh perjuangan ekstra bagi seorang Qiran yang tak biasa di dapur. "Assalamualaikum..." Ucap Rayza saat memasuki apartemen Qiran. "Waalaikum salam..." Qiran menjawab salam Rayza sambil tersenyum dan menarik kursi untuk diduduki oleh Pak bos gantengnya. "Silakan." Ucap Qiran. "Terima kasih..." Ucap Rayza. "Maaf ya aku baru bisa masak ini. Malah aku ga sempat masak sayurnya." Ucap Qiran. Rayza pun menatap semangkuk telur berisi empat butir berwarna coklat. Dari aroma yang mengepul, Rayza yakin masakan ini layak makan untuk manusia. Dan saat ini hati Rayza benar-benar mengembang bahagia. Pasalnya dia menjadi orang pertama yang mencicipi masakan gadis yang dicintainya itu. Sungguh Rayza merasa sangat bahagia. "Ga apa-apa. Namanya juga masakan pertama kamu. Ayo sarapan bareng." Ucap Rayza memaklumi. "Eh... Masa majikan sama pembantu makannya bareng. Ga enak ah... Aku makan di dapur aja." Ucap Qiran. Karena selama ini para pembantu dan pekerja di rumahnya tak ada yang makan satu meja makan dengan majikannya. "Ga apa-apa... Ayo makan bareng. Apa mau sepiring bareng ma aku? Aku suapin pake bibir. Enak lho," Ucap Rayza menggoda Qiran. "Ih m***m. Lagian juga ga kenyang lah... Aku makan sendiri aja." Jawab Qiran menahan kesal. Sungguh tiada hari tanpa Rayza sukses membuatnya kesal. Qiran pun mengambil nasi dan telur buruk rupanya. "Maaf ya kalo ga enak." Ucap Qiran saat melihat Rayza menyantap masakannya. "Enak kok buat ukuran masakan pertama sih lumayan." Ucap Rayza tampak menikmati masakan Qiran. Sungguh Qiran merasa bahagia karena di hargai segala usahanya. Gadis itu pun tersenyum manis. "Terima kasih," ucap Qiran merasa bersyukur. Itu artinya masakan pertama yang dia buat, layak untuk makanan manusia. "Kamu masak cuma segini?" Tanya Rayza menunjuk 4telur yang masih tersisa. "Iya." Jawab Qiran singkat. "Tolong dibungkus. Aku mau bawa." Ucap Rayza. "Hah?" Qiran benar-benar kehabisan kata-kata. Sungguh tak menyangka Rayza menyukai masakannya. "Kamu serius?" Tanya Qiran tak percaya. "Serius." Jawab Rayza. "Sebentar ya..." Ucap Qiran mengambil lunch box untuk membawa bekal Rayza. "Telurnya semuanya ya. Nanti sore kamu masak lagi." Ucap Rayza. "Iya." Jawa Qiran tersenyum bahagia. Sungguh dia bahagia karena telur buruk rupanya disukai Rayza. "Qiran..." Panggil Rayza. "Ya..." jawab Qiran. "Kita berangkat bersama ya. Aku antar. Mulai besok baru kamu yang antar." Ucap Rayza. "Owh begitu ya... Oke deh... Memangnya kamu ga kesiangan?" Tanya Qiran. "Engga kok. Jadwal praktek ku jam 11 siang. Jadi ga masalah," ucap Rayza tersenyum. Senyum yang sangat indah di mata Qiran. Jujur saja, Rayza memiliki beribu pesona dibalik sikapnya yang menyebalkan. Terlebih lagi fisik yabg rupawan. Qiran yakin banyak wanita yang menyukainya. Dan rasanya tidak mungkin jika Rayza suka pada gadis yang saat ini menjadi pembantunya. "Haaah..." Memikirkan hal ini membuat Qiran mendesah panjang. "Kamu kenapa? Kayak lagi banyak pikiran?" tanya Rayza. "Aku engga mikirin apa-apa. Sok tau kamu," ucap Qiran ketus. "Jadi cewek jangan ketus. Jangan marah-marah mulu. Nanti cepet tua. Yang naksir kakek-kakek," ucap Rayza menyebalkan. "Terserah mau ngomong apa," ucap Qiran. "Just kidding. Jangan marah lagi dong. Oh ya. Kamu kuliah biasanya sampai jam berapa?" tanya Rayza. "Kenapa emangnya?" tanya Qiran balik bertanya. "Ish ish... Aku tanya bukannya jawab malah balik tanya," gumam Rayza. "Ya kan aku harus tau apa tujuannya," ucap Qiran beralasan. "Ya buat jemput kamu. Biar aku bisa memastikan kamu baik-baik aja," ucap Rayza santai tapi sangat berpengaruh pada hati Qiran. Gadis itu mengusap wajahnya yang memanas. Sungguh dia tak mau Rayza menyadari wajahnya merona karena kalimat perhatian pria itu. "Oh... Oke... Aku siap-siap dulu ya..." Ucap Qiran segera pergi dari Rayza. Sungguh pria itu selalu bisa membuat jantungnya menggila hanya kata sederhana. "Oke." ucap Rayza singkat. "Qi," panggil Rayza saat melihat Qiran mulai menjauh. "Apa?" tanya Qiran. "Masakan kamu enak. Makasih ya," ucap Rayza tulus. membuat Qiran semakin menggila. "Terima kasih," ucap gadis itu lalu berlari ke kamar. Qiran tak sanggup terus berlama-lama di dekat Rayza. Entah mengapa perhatian dan pengertian Rayza selalu sukses membuat jantungnya berdebar. Mungkinkah Qiran jatuh cinta pada pria itu. Tapi sungguh Qiran malu pada dirinya. Kenapa cinta harus datang disaat situasi tak mendukung. Bahkan Qiran harus jatuh cinta pada majikannya sendiri. "Jantung gue..." Ucap Qiran menyentuh dadanya yang bergemuruh tepat setelah dia menutup pintu kamarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD