Perhatian

1009 Words
"Ayo kita pulang." Ucap Rayza menatap Qiran yang masih sibuk menghabiskan makanan termasuk makanan miliknya. Pria itu menatap wanita cantik yang makan dengan begitu lahap hingga menggerogoti tulang ayam. Sikap makan yang lucu. Padahal biasanya wanita akan bertingkah manis dalam hal makan saat bersama seoang pria. Tapi nyatanya Qiran berbeda. Dia terlalu acuh. Dan hal ini yang membuat gadis itu tampak unik. "Sudah kenyang belum?" Ucap Rayza kembali duduk di kursinya. Pria itu tersenyum melihat cara Qiran menghabiskan makanan. Sama sekali tidak menjaga imagenya. Begitu santai dan cuek. Bahkan gadis itu tak menyadari ada saus yang menempel di sudut bibirnya. Rayza meraih handphone dan menyalakan kamera belakang. Pria itu mencari sudut yang pas untuk memotret wanita cantik di hadapannya. Dan akhirnya dia mendapatkan sudut dengan kondisi yang paling oke. Yaitu saat Qiran menyuapkan makanan dengan tangan. CEKREK... Suara nyaring pertanda pengambilan gambar berbunyi dari handphone Rayza. Mendengar suara itu, Qiran segera mendelik ke arah Rayza. "Hei kalau kau ingin memiliki fotoku jangan mengambil sembarangan. Kau bisa aku tuntut dengan tuduhan tindakan kurang menyenangkan." Ucap Qiran kesal. Sedangkan Rayza hanya menoleh sekilas kemudian tersenyum manis. Bahkan sangat manis di mata Qiran. Haruskah Qiran kembali terpesona pada pria di hadapannya. Sedangkan pria itu sering kali menyebalkan. Rayza pun membalikkan handphonenya menghadap Qiran dan menunjukkan foto dengan kualitas terbaik tapi dengan model bergaya terburuk. Qiran bisa melihat jelas cara makannya dengan amat sangat teramat tidak cantik. "Kau lihat sudut bibir mu. Ada saus di sana. Aku cuma mau menunjukkan ini." Ucap Rayza santai. Ucapan Rayza sukses membuat Qiran speechless. Sungguh dia tak menyangka Rayza memotret dirinya hanya karena saus. Sangat tidak romantis bagi Qiran. Padahal biasanya seorang pria akan membersihkan sisa saus itu dengan jarinya. Dan hal itu pastinya akan meningkatkan kesan romantis dalam atmosfer mereka. Sedangkan pria ini malah melakukan dengan caranya sendiri. Dan tentunya selalu menyebalkan. "Argghhh... Qiran buat apa kau menginginkan hal romantis dilakukan oleh pria itu... Bodoh... Bodoh... Bodoh..." Ucap Qiran membatin. Bahkan tanpa sadar dia menggeram sambil memukuli keningnya. Sedangkan pria di hadapannya tertawa geli melihat tingkah Qiran yang menurutnya sangat lucu. Entah apa yang terjadi pada Qiran. Mungkinkah gadis itu malu? Ataukah dia menginginkan hal romantis yang biasa dilakukan pria di TV saat melihat di bibir sang wanita ada saus? Dan Rayza menebak hal ke dua yang paling mungkin saat ini terjadi pada Qiran. Rayza pun tersenyum bahagia. Jika seandainya memang Qiran menginginkan hal itu, tentu saja Rayza dengan senang hati akan melakukannya. Tapi nanti setelah mereka menikah. "Ish... Ish... Ish... Kau pasti ingin aku melakukan hal yang romantis ya?" Ucap Rayza menggoda Qiran. Qiran kembali mendelik ke arah pria itu. Sungguh Rayza tampak seperti cenayang di matanya. Bagaimana mungkin Rayza bisa menebak dengan tepat pikirannya? "Udah ah ayo pulang." Ucap Qiran langsung bangkit dari kursinya dengan kasar. "Hei kau bahkan belum membersihkan saus di bibir mu. Atau... Kau ingin aku yang membersihkan? Baiklah... Tapi dengan bibir saja ya?" Ucap Rayza bahagia melihat ekspresi Qiran yang semakin cemberut. Dan tanpa dia sangka, Qiran melempar wajahnya dengan kotak bekas handphone yang baru saja mereka beli. Bahkan kotak itu tepat mengenai bibir Rayza. "Cium tuh kotak Handphone." Ucap Qiran mengusap saus di sudut bibirnya dan pergi meninggalkan Rayza. Rayza pun segera berlari mengejar Qiran. "Ih kamu gitu aja marah. Just kidding... Jangan marah dong." Ucap Rayza mengikuti langkah Qiran ke mobil. Dan akhirnya mereka pun pulang dalam diam. Sesampainya di apartemen. Rayza mengantar Qiran ke apartemen yang akan ditempati oleh gadis itu. Bahkan semua belanjaannya di simpan di apartemen Qiran. "Mulai sekarang kamu tinggal di sini ya? Belanjaan juga akan aku simpan di sini." Ucap Rayza. "Kenapa belanjanya di simpan di sini? Kenapa ga di apartemen kamu aja?" Ucap Qiran. "Kan kamu kalo setiap pagi harus buatin aku sarapan. Biar ga repot ketuk-ketuk apartemen aku. Mending kalo udah siap aku ke sini. Tinggal makan." Ucap Rayza menjelaskan. "Iya juga sih..." Ucap Qiran. "Kamu bisa masak kan?" Tanya Rayza. "Engga." Jawab Qiran santai. Rayza pun menepuk jidatnya. Sungguh dia melupakan bahwa Qiran gadis pemalas yang tak mungkin pernah melakukan apapun di rumah. "Yaudah apa aja yang kamu bisa." "Yaudah telur rebus aja. Kan tinggal direbus terus di kupas. Dan sebagai pembantu yang baik aku akan belajar memasak. Bagaimana?" Ucap Qiran. "Oke apa aja. Terserah yang penting aku harus sarapan sebelum jam 9 pagi." "Siap Pak bos." Jawab Qiran dengan gerakan hormat. Tentunya dengan menyunggingkan senyuman termanis dalam hidupnya. "Untuk pakaian, aku sudah siapkan di lemari kamu. Termasuk untuk kamu kuliah. Ingat... Jangan buat aku sia-sia membiayai kuliahmu. Kau harus bisa mendapatkan nilai yang bagus. Atau kalau tidak. Kau aku pecat jadi pembantu. Dan kau tak akan menemukan majikan seperti aku." Ucap Rayza. "Siap Pak bos." Ucap Qiran kembali. "Ini kartu apartemen kamu. Kalo ini kartu cadangan apartemen aku." Ucap Rayza menyodorkan dua kartu akses masuk ke apartemen. "Lho kartu kamu untuk apa?" Tanya Qiran bingung. "Kan tadi di resto aku bilang. Tugas kamu juga membereskan kamar dan apartemen aku. Kalo kamu ga punya akses untuk masuk gimana mau bisa merapikan apartemen aku?" Ucap Rayza membuat Qiran mengangguk. "Oke." Jawab Qiran singkat. Gadis itu menampilkan senyuman manis yang membuat jantung Rayza berdebar kuat. "Ini uang untukmu makan malam dan uang saku kuliah besok. Hari ini aku akan mengunjungi kedua orang tuaku. Kau belajar masak saja lewat YouTube. Lihat postingan memasak. Atau kalau mau mencuci. Di apartemen ku banyak sekali pakaian kotor." Ucap Rayza. "Oke aku akan mencuci saja." Jawab Qiran. "Jadi gadis penurut ya. Jangan kemana-mana. Jangan buat aku khawatir." Ucap Rayza perhatian membuat hati Qiran berdesir. Entah mengapa ucapan Rayza kali ini seperti sosok pria yang melindungi wanitanya. "Iya," ucap Qiran menurut. Sungguh gadis ini tampak manis seperti kucing anggora bagi Rayza. Tapi kadang mengerikan seperti macan. "Aku pergi dulu. Assalamualaikum..." "Waalaikum salam... Hati-hati di jalan ya. Kalau sudah sampai bilang, biar aku ga khawatir." Ucap Qiran membalas perhatian Rayza. Rayza pun tersenyum bahagia diperhatikan oleh seorang gadis. Sungguh dia merasa seperti sepasang kekasih. Ingin sekali Rayza mengecup kening Qiran. Tapi dia tak punya hak. Seandainya saja dia sudah menikahi hadis cantik itu. Dan Rayza memilih tersenyum lalu pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD