Part 13 "Hukuman"

1879 Words
Gabriel keluar dari perpustakaan dengan setumpuk buku di tangan nya. Dia menyimpan buku itu pada kursi yang ada di samping Alexa. Gabriel berdiri di hadapan Alexa setelahnya, menghalangi Alexa dari siapapun yang bisa saja lewat dan melihatnya menangis. "Pergilah, Gabriel. Bilang pada guru jika aku ke toilet sebentar." lirih Alexa "Dan membiarkan anda disini sendirian? Tidak, Nona." sahut Gabriel lugas Alexa terdiam dan menghembuskan nafasnya gusar. "Ini memalukan. Tidak seharusnya orang lain melihatku dalam keadaan seperti ini." gumam Alexa pahit Gabriel terdiam, enggan menyahuti perkataan Alexa yang terdengar menyedihkan. "Ayo pergi, Gabriel. Bersikaplah seolah kau tidak mendengar apapun. Lupakan hal ini." perintah Alexa sambil mengusap wajahnya yang basah dan berlalu Gabriel mengangguk patuh dan membiarkan Alexa berjalan meninggalkan nya terlebih dahulu. Dia mengeluarkan ponsel yang dia ambil dari meja pengawas perpustakaan. Jarinya bergerak lincah mengirimkan video pada sebuah grup chat sekolah. Dia senyum puas ketika melihat video nya sudah sukses terkirim. Gabriel melesat cepat ke dalam perpustakaan dan kembali menyimpan ponsel yang diyakini sebagai milik staff perpustakaan itu ke atas meja. Setelahnya Gabriel kembali keluar dari perpustakaan dan membawa setumpuk buku ke ruang kelas. "Kenapa lama sekali?" tanya Alexa dengan suara sumbang nya. Perempuan itu menunggu Gabriel di lorong sambil berusaha meredakan rasa sesak didada nya. "Maaf, Nona. Tadi tali sepatu milikku tiba tiba lepas." jawab Gabriel Alexa mengangguk dan mengambil beberapa buku dari dekapan Gabriel, membantu pria itu agar tidak kesulitan melangkah. Alexa menghela nafasnya. Dia menatap sendu lorong panjang di depan nya. Harapan nya untuk hidup bersama orang yang dia cintai tidak akan berjalan lancar. Dia harus sadar jika dirinya berada dalam realita yang tidak selalu indah. Alexa melirik Gabriel yang memasang wajah rumit. "Ada apa Gabriel? Jika ada yang ingin kau tanyakan, cukup tanyakan padaku." tanya Alexa Gabriel tersenyum segan sebelum akhirnya menanyakan sesuatu yang membuatnya cukup terganggu. "Apa Brian tahu jika Nona adalah mate nya?" tanya Gabriel hati hati "Tidak. Dia manusia. Aku juga, tidak pernah mengatakan hal ini pada Paman Ryan. Jika aku bisa, aku ingin mendapatkan Brian dengan caraku sendiri." jawab Alexa Dia menghela nafasnya dan tersenyum pahit setelahnya, "Tapi aku kalah jauh sebelum aku mulai mendekatinya." "Aku tahu ego Alpha mu yang selalu loyal terhadap pasangan akan sangat terganggu karena itu. Tapi tolong jangan bilang pada siapapun tentang hal ini ya? Cukup aku menyimpan nya sendiri." pinta Alexa pada Gabriel "Nona bahkan tidak memberitahunya pada Tuan Dimitri?" tanya Gabriel tidak percaya Alexa menghentikan langkahnya. Dia menatap Gabriel dengan hangat. "Iya. Dimitri mungkin tahu jika aku berkali kali mengalami kesulitan karena Brian. Tapi dia tidak tahu soal hubungan antara Brian dan Sarah." jawab Alexa "Jangan beritahu dia. Aku yakin dia akan bergerak cepat melakukan banyak hal untukku. Aku tidak mau Dimitri mengotori tangan nya. Kau tahu sendiri bagaimana cara kerja Dimitri, bukan?" tanya Alexa memastikan Gabriel mengangguk. Siapa yang tidak kenal Dimitri? Dia adalah anak yang diangkat oleh Raja Roland menjadi anak sekaligus pengawal pribadi Alexa bahkan jauh sebelum Alexa lahir. Desas desus yang beredar diantara rakyat Darkness Kingdom, Dimitri tidak segan melenyapkan banyak nyawa untuk melindungi Alexa. Bahkan ada yang mengatakan jika Dimitri adalah monster rahasia yang dibesarkan dengan cara yang elegan. Karena itu semua sifat brutalnya tersembunyi dibalik wajah hangat dan sifat bangsawan nya. Mengingat sejak kecil, Dimitri besar dan di didik oleh Raja Roland sendiri. "Jadi tolong jangan beritahu Dimitri ya?" pinta Alexa sekali lagi "Baiklah, Nona." sahut Gabriel 'Lagipula aku sudah melakukan sesuatu. Anggap saja sebagai hadiah untukmu dan hukuman bagi mereka.' lanjut Gabriel di dalam kepala nya ☸⚛☸⚛☸ Sementara di ruang kelas, guru yang hendak mengajar mengerutkan dahi ketika melihat notifikasi dari ponselnya yang menumpuk. Dia meraih ponselnya dan membelalakkan matanya ketika melihat sebuah video singkat yang menunjukan perbuatan terlarang di perpustakaan. "Anak anak, kalian tunggu sebentar. Ada sesuatu yang darurat terjadi." ujar guru itu dan dengan tergesa keluar dari kelas Dia berpapasan dengan Alexa dan Gabriel yang berada di luar kelas. Dia menatap Alexa dengan serius. "Alexa, kau tidak melihat sesuatu di perpustakaan tadi kan?" tanya guru itu Alexa terdiam. "Alexa, jawab aku." pinta guru itu Sikap diam nya Alexa membuat guru itu menghela nafas dan memeluk Alexa singkat. "Kau pasti terkejut. Masuklah ke dalam kelas dan pura pura lah tidak melihat apapun." perintah guru itu yang diangguki Alexa Guru perempuan itu tersenyum dan menatap Gabriel, "Kau juga lupakan ya. Biar ini jadi urusan para guru dan ketua yayasan." ujarnya Dia mengusap rambut Alexa dengan hangat dan berlalu setelahnya. "Gabriel, kau..." ujar Alexa menggantung Gabriel mengendikkan bahu nya dan memasuki kelas. Meninggalkan Alexa yang mendesah frustasi mendengar pengakuan secara tidak langsung dari Gabriel. Alexa menipiskan bibirnya dan memasuki kelas dengan wajah kusut. Dia melirik Karina dengan frustasi sebelum akhirnya menenggelamkan wajahnya di meja. "Ada apa?" tanya Karina "Kau melihat hantu?" lanjutnya serius "Ada kabar yang beredar tentang perpustakaan. Katanya ada hantu perempuan yang sudah muncul di siang hari. Dia mengeluarkan suara suara lirih." bisik Karina menakut nakuti Alexa tertawa pahit. 'Berarti ini bukan pertama kalinya Brian dan Sarah seperti itu. Aku salah. Ciuman di taman bermain itu, bukan yang pertama.' batin Alexa miris "Andai jika itu memang hantu, aku akan lebih senang." sahut Alexa Karina terdiam. "Jadi itu bukan hantu?" tanya nya serius "Kau melihat wujud perempuan yang mengeluarkan suara suara itu?" cerca Karina Alexa mengangguk kecil. Dia tersenyum kecil setelahnya. "Orangtua mu adalah petinggi sekolah, kan? Kau dapat mengetahui nya sesaat lagi." ujar Alexa penuh arti Ucapan Alexa bertepatan dengan suara notifikasi dari ponsel Karina yang berada di bawah meja. Dia dengan cepat meraih ponsel miliknya dan membaca cepat semua informasi dari orang tuanya yang masuk lewat chat. "OH MY GOD! CRAZY! THEY'RE CRAZY!" teriak Karina heboh Perempuan itu berlari pada Leon dan memberikan ponselnya pada Leon. Pria itu terpekik kaget setelahnya. "APA APAAN INI?!" histeris Leon Bertepatan dengan kekacauan singkat yang dibuat oleh Karina dan Leon, sebuah suara dari speaker sekolah terdengar. "Selamat siang murid muridku. Sekolah akan mengadakan rapat dadakan, karena hal itu kalian akan pulang lebih cepat dari jadwal. Bereskan tas sekolah kalian dan bersiaplah untuk pulang. Sekian, terimakasih." Demikian pengumuman sekolah itu terdengar ke seluruh penjuru sekolah. Sebagian bersorak senang, sebagian lagi merasa bingung dengan keadaan yang ada. "Ada apa?" "Entah, sepertinya bersangkutan dengan keluarnya Mrs. Eva dari kelas." "Benar, raut wajahnya terlihat panik." "Karina sepertinya tahu sesuatu." "SPILL THE TEA, SIST!" Karina mendengus keras mendengar seruan terakhir. "Akan aku beritahu. Tapi itu berarti kalian harus tinggal di sekolah." seru Karina Dia menyeringai kecil. Hal ini dapat dia lakukan untuk membalas dendam pada Sarah. Si perempuan dengan seribu wajah. "Karina, ini bukan hal yang bagus." bisik Alexa "Nope. Akan aku lakukan selama itu bisa membuat Sarah hancur dan dipermalukan." tekan Karina "Biarkan dia, Alexa. Karina sangat keras kepala. Apa yang dia inginkan, harus dia dapatkan." sahut Leon sambil menggelengkan kepalanya dan memasang sebuah pin di dasi nya "Aku sedang menjadi mode Ketua Dewan. Sebentar lagi aku pasti akan dipanggil untuk mengikuti rapat." jelas Leon ketika melihat wajah heran Alexa "Tapi tunggu." seru Karina Dia menatap Alexa dengan pandangan menyelidik. "Beberapa saat yang lalu bukannya kau ke perpustakaan?" tanya Karina "Iya." jawab Alexa jujur "Itu berarti kau yang merekam ini?" tanya Karina terkejut "Bukan. Aku, tidak." sahut Alexa pelan "Ah benar juga. Tampang Malaikat seperti mu mana sanggup merekam hal seperti ini dan menyebarkan nya. Sarah berkali kali membodohimu pun, kau tidak membalasnya sama sekali." ujar Karina sambil mengangguk-anggukan kepalanya, setuju dengan opini nya sendiri. "Jadi ini benar benar dari staff perpustakaan ya?" tanya Leon pelan "Itu dariku." ujar Gabriel tiba tiba Karina menganga dan menatap Gabriel dengan speechless. Pasalnya tampang Gabriel terlalu kalem dan santai untuk kepanikan dan kehebohan yang terjadi di sekitarnya. "Kau?" beo Leon "Hm. Aku tidak tahan melihat pemandangan menjijikan itu." sahut Gabriel Dia berdiri dan merapikan buku Alexa yang masih berceceran di atas meja. "Ayo pulang, Alexa." ajak Gabriel sambil menggandeng tangan Alexa dan membawanya keluar dari kelas "Wahh, gila ya. Bayangin gimana bahagianya jadi Alexa. Di kelilingi cogan sejak dini." decak Karina "Aku kapan?" tanya nya pasrah ☸⚛☸⚛☸ Pegangan tangan Gabriel pada Alexa terputus ketika tangan Alexa yang lain di tarik oleh Brian. "Ikut aku!" seru Brian sambil menyeret Alexa kembali ke area sekolah "Brian, lepaskan! Tanganku sakit!" ringis Alexa Interaksi keduanya ditonton oleh banyak nya murid yang hendak pulang. Semua nya langsung menghentikan langkah mereka dan menyaksikan apa yang sedang terjadi ditengah lapang. "Sakit, Brian! Kau mau apa?" tanya Alexa kesal Dia menyentak tangan Brian dari tangan nya dan memegang pergelangan tangannya yang memerah. "KAU YANG MEREKAM NYA KAN?!" bentak Brian Semua terkesiap. Tidak menyangka jika Brian akan membentak seorang perempuan di hadapan banyak orang. "Merekam apa? Jangan sembarangan!" sahut Alexa "Jangan berkelit, Alexa! Sarah melihatmu di perpustakaan!" seru Brian Tak lama kemudian Alexa mendengar suara tangisan dari Sarah yang berdiri di belakang Brian. "Brian, sudah... Mungkin Alexa tidak sengaja." isak Sarah "Tidak mungkin dia tidak sengaja! Dia bahkan menyebarkan video nya, untuk balas dendam padamu!" sentak Brian Alexa menatap Brian dengan tidak menyangka. Kaget sekaligus bingung memenuhi isi kepalanya. "Aku tidak melakukan apapun!" sangkal Alexa "Berlututlah dan minta maaf pada Sarah atas perbuatanmu yang bisa membuat reputasi Sarah hancur." tekan Brian "Ber..lutut?" gumam Alexa tidak percaya "Cepat!" sentak Brian Alexa menggigit bibir dalam nya. Dia mendekat pada Sarah, hendak meminta maaf pada perempuan itu atas kesalahan Alexa yang tidak pernah terjadi. Alexa sudah menekuk lututnya, rasa malu karena diperhatikan oleh semua siswa sekolah membuatnya enggan menolak. Hal itu akan membuatnya semakin dipojokkan oleh Brian. "Apa apaan ini?" dengus Gabriel Dia dengan cepat menahan tubuh Alexa yang hendak menunduk dan meminta maaf pada Sarah. "Tuan Putri tidak boleh berlutut untuk sebuah sampah." bisik Gabriel "Sudahlah. Aku tidak mau memperpanjang masalah, Gabriel." lirih Alexa Gabriel menarik Alexa untuk kembali berdiri. "Bukan Alexa. Tapi aku." ujarnya pada Brian dengan tenang "Kau?!" kesal Brian "Kenapa? Apa yang aku lakukan tidak wajar? Kalau begitu bagaimana denganmu? Apa perbuatan kalian terbilang wajar?" tantang Gabriel "Seingatku perpustakaan masih tempat untuk membaca. Bukan tempat untuk mendesah dan berbuat asusila. Ini sekolah, bukan Hotel." sarkas Gabriel "Dan satu lagi. Jika kau berani menyentuh Alexa seperti tadi, aku tidak akan segan membuat perhitungan padamu." ancam Gabriel Dia kembali menggandeng Alexa dan berjalan menuju lapangan parkir mobil. Dimitri ada disana, dia membuka pintu untuk Alexa dan menatap Gabriel dengan satu alis terangkat. "Membuat kekacauan di hari pertama sekolah?" tanya Dimitri geli "Aku muak dengan anak dari Ryan itu." dengus Gabriel "Hmph, jangan seperti itu. Dia mungkin akan segera menggantikan posisi Ryan dan menjadi pemimpin generasi baru sepertimu dan Apri." ujar Dimitri "Dia tidak akan bisa melakukan nya. Dia terlalu bodoh dan gegabah. Bisa bisa dia akan pingsan ketika mulai memimpin dan berkunjung ke Kerajaan." cemooh Gabriel Dia melirik sekilas Alexa yang duduk di kursi belakang. Perempuan itu sedang memejamkan matanya, berusaha menenangkan diri. "Jaga Alexa." pinta Gabriel "Tidak perlu kau suruh, aku akan selalu menjaganya." sahut Dimitri Gabriel tersenyum tipis dan melambaikan tangan nya. Dia berbalik menuju sebuah motor besar yang terparkir tak jauh dari mobil Alexa dan mulai mengendarainya untuk keluar dari wilayah sekolah. "Kita pulang, Nona." ujar Dimitri :: Vamp Pedia:: Vampire terkenal loyal sama pemimpin mereka. Sama kayak klan Werewolf. Makanya jangan kaget liat Dimitri sama Gabriel yang bener bener lindungin Alexa kayak gitu. Walau ibaratnya Gabriel itu Alpha, tapi klan Werewolf punya dia masih ada di bawah kepemimpinan Ayahnya Alexa yang berarti, otomatis tahta sama pemimpin generasi baru bakal pindah ke Alexa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD