"Selamat pagi, Nona Alexa." sapa Gabriel ketika Alexa sedang sendirian di kelas
Gadis itu sengaja mengatakan pada Leon dan Karina jika dia akan menyusul karena mempunyai urusan. Dan inilah urusan nya.
Pria dengan tubuh tegap dan wajah tegas sekaligus lembut itu menatap Alexa dengan seulas senyuman tipis.
"Alpha Gabriel, sedang apa kau disini?" tanya Alexa setengah berbisik
"Saya diperintahkan oleh Yang Mulia Raja Roland untuk mendampingi anda, Nona." jawab Gabriel
Alexa mengerutkan dahinya, menatap Gabriel penuh selidik.
"Sudah ada Dimitri yang menjagaku. Untuk apa lagi kau disini?" tanya Alexa
"Tuan Dimitri tidak bisa masuk ke dalam kelas, Nona. Akses miliknya terbatas. Dia tidak bisa menggunakan kekuatan nya seperti dulu untuk menjaga anda di dalam kelas. Raja menilai jika itu hanya akan mengganggu konsentrasi anda ketika belajar." jawab Gabriel dengan seulas senyuman
"Kemarin saya juga mendengar jika Nona berkali kali mengalami insiden karena ulah satu manusia dan Tuan Dimitri tidak bisa datang cepat untuk membantu Nona karena dia bukan seorang siswa sekolah ini yang bebas menjelajah sekolah. Tapi dengan adanya saya, maka saya bisa selalu menjaga Nona dan mengakses seluruh fasilitas sekolah tanpa adanya hambatan atau larangan." lanjut Gabriel
Penjelasan panjang Gabriel membuat Alexa terdiam dan menghela nafasnya.
"Baiklah, terserah. Tapi jangan memanggil ku Nona lagi. Panggil aku Alexa, sama seperti yang lain." perintah Alexa pada seorang Alpha dari klan Werewolf itu
Gabriel mengangguk dan tersenyum mengerti.
"Nona akan pergi ke kantin? Saya akan ikut." tawar Gabriel yang diangguki Alexa
"Mulai saat ini, jangan lagi panggil aku Nona ketika di sekolah." tekan Alexa
Gabriel tersenyum geli sebelum akhirnya mengangguk mengerti. Dia mengekor di belakang Alexa dan berjalan menuju kantin.
"Suasana dunia Manusia ternyata tidak beda jauh dengan dunia kita." ujar Gabriel pelan
Alexa tersenyum dan mengangguk, "Karena itu aku tidak merasakan perbedaan apapun pada awalnya." sahut Alexa
Gabriel mengedarkan pandangan nya ke sekeliling area sekolah. Bangunan milik sekolah ini terbilang mewah dengan dua lantainya. Berbentuk letter U dengan arsitektur yang khas.
Tatapan Gabriel berhenti pada seorang pria yang juga sedang menatapnya dari kejauhan. Dia mengerutkan dahinya ketika mengetahui pria itu menatapnya dengan tajam.
"Dia sedang menatap ke arah ku atau ke arah lain?" tanya Gabriel pada Alexa
Alexa menolehkan kepalanya dan terdiam, "Hiraukan saja. Dia memang seperti itu, padaku juga seperti itu."
Gabriel melengos dan menarik lengan Alexa agar lebih cepat menuju kantin.
"Aroma nya sama denganmu. Siapa dia?" tanya Gabriel
"Dia mateku, Gabriel." jawab Alexa lirih
"Apa?!" seru nya terkejut
Seruan Gabriel itu membuat semua orang yang ada di dalam kantin menoleh kearah mereka dengan tatapan penasaran. Hal itu membuat Gabriel menundukan kepalanya dan berdeham canggung.
"Kau serius?" tanya Gabriel
"Hm. Biarkan saja. Hiraukan dia, bersikaplah seolah dia bukan mate ku." ujar Alexa
Gabriel termenung melihat wajah mendung Alexa. Tapi sesaat kemudian ucapan Dimitri soal Brian kembali terlintas di kepalanya.
"Dia yang menamparmu kemarin kan?" tanya Gabriel serius
Alexa hanya tersenyum tipis, "Lupakan saja. Anggap dia tidak ada, seperti yang aku perintahkan padamu." perintah Alexa
"Alexa! Here!" seru Karina dari kejauhan
Seruan itu membuat Alexa mengangguk dan bergegas mendekati meja itu.
"Aku jadi tidak enak karena mengganggu jadwal kencan kalian." ujar Alexa menggoda kedua nya
"Kencan?!" histeris Karina
Berbeda dengan Leon yang malah cengengesan sambil tertawa, "Kau tahu kita sedang berkencan?" tanya nya malu malu
Alexa tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Dia menolehkan kepalanya pada Gabriel dan mengayunkan tangan nya, mengisyaratkan Gabriel untuk bergabung.
"Tidak keberatan jika dia bergabung, kan?" tanya Alexa memastikan
"Tentu saja tidak!" jawab Karina riang. Dia bahkan sempat merapikan rambut nya sebelum akhirnya menatap Gabriel dengan centil.
"Dasar centil!" ketus Leon yang langsung mendapat lirikan sinis Karina
"Kalian terlihat akrab." komentar Karina ketika melihat Gabriel langsung mengambil tempat di sisi Alexa
"Kami teman sejak kecil dan baru bertemu lagi sekarang." jelas Alexa
☸⚛☸⚛☸
"Gabriel, aku angkat kau sebagai seorang Alpha dari Klan ini. Kau harus menjalankan tugasmu sebagai pemimpin dengan baik. Lindungi dan sayangi semua rakyat klan Werewolf." ujar Nichalas pada Gabriel yang baru selesai berlatih
Pria itu bahkan masih bertelanjang da*da ketika Ayahnya tiba tiba mengangkat nya sebagai Alpha generasi baru.
"Tiba tiba? Kenapa?" tanya Gabriel
"Seharusnya kau tidak protes, nak." sahut Roland yang datang bersamaan dengan perwakilan klan lain nya
"Tidak, bukan begitu. Aku hanya terkejut karena tidak ada persiapan pesta peresmianku sebagai Alpha." ralat Gabriel
"Semua tetua dan perwakilan Klan sudah melihat hal ini. Jadi kau sudah menjadi seorang Alpha secara resmi, perayaan untuk hal ini biarlah berlangsung nanti setelah Tuan Putri kembali ke Kerajaan." ujar Nichalas
"Kau tahu bagaimana keadaan Kerajaan pada saat ini, kan? Saat ini kami sedang akan bersiap menumpas semua pemberontakan yang ada." lanjut Nichalas
"Kalian membutuhkan tenaga tambahan? Karena itu tiba tiba mengangkatku sebagai Alpha?" tanya Gabriel memastikan
Roland terkekeh dan menggeleng.
"Tidak, nak. Kekuatan kami sudah lebih dari cukup untuk melakukan nya. Kau memiliki tugas lain." ujar Roland
"Saat ini Alexa sedang ada di dunia Manusia. Tugas pertama mu adalah menjaga Alexa dari berbagai hal yang bisa membuatnya terluka. Jaga dan lindungi dia dengan segenap kekuatanmu." jelas Roland
"Aku dengar Tuan Dimitri juga ada disana kan? Biarkan aku disini dan membantu kalian kalau begitu." tawar Gabriel
"Tidak, nak. Dimitri tidak bisa turut masuk ke dalam kelas. Dia hanya bisa mengantar Alexa dan mengawasinya selama di rumah. Jadi tugasmu untuk menjaga nya selama di dalam kelas dan di tempat lain yang tidak bisa di akses oleh Dimitri." sahut Roland
Gabriel mengangguk mengerti mendengar penjelasan logis itu.
"Kau bisa mulai besok. Dimitri sudah mengurus semua surat surat mu di sana." perintah Roland
Gabriel mengangguk dan menunduk hormat, "Baik Yang Mulia. Saya mengerti."
Awalnya... Gabriel tidak mengerti apa maksud dari Raja nya itu. Tidak akan ada makhluk dari underworld lain yang datang ke dunia Manusia tanpa izin dari penjaga portal dan sang Raja.
Tapi seiring berjalan nya waktu, Gabriel mengetahui jika ada ancaman lain di sekitar Alexa. Ancaman yang tidak terlihat dan mengintai dari balik kegelapan.
Gabriel dengan cepat menarik lengan Alexa dan menyembunyikan perempuan itu di balik tubuh besarnya.
"Permisi? Aku ingin berbicara dengan Alexa."
Gabriel menatap perempuan di depan nya dengan raut menyelidik. Ada sesuatu yang tidak benar, tapi apa?
"Astaga Alexa, kau hanya memiliki masalah dengan Brian dan kau menyewa seorang pengawal?" tanya Sarah. Nada suaranya terdengar mencemooh.
"Aku melindunginya dari hama sepertimu." tegas Gabriel
"Siapa kau? Bau mu busuk." tanya Gabriel
Alexa menatap Gabriel dengan raut terkejut. Pertanyaan yang keluar dari mulut pria itu terdengar sangat menyakitkan, mungkin bisa disandingkan dengan Brian.
Walau raut pria itu tidak terlihat seperti sedang mengatai orang lain.
"Menggelikan." dengus Sarah
"Alexa, bisa kau singkirkan dia? Murid baru sepertinya tidak tahu tata krama." ketus Sarah
"Alexa, sebaiknya kita pergi dari sini." ujar Gabriel sambil menggenggam tangan Alexa dan membawa nya pergi menjauh dari Sarah yang terlihat sangat kesal dengan tingkah Gabriel
Alexa langsung menuruti langkah Gabriel untuk kembali ke kelas. Dia juga sejujurnya malas untuk berhadapan dengan Sarah lagi.
"Alexa, ada baiknya kau jangan bertemu lagi dengannya. Dia terlihat berbahaya dan tidak terdefinisikan." gumam Gabriel
"Dia manusia, Gabriel. Walau dia mungkin jahat, tapi dia masih manusia. Jangan terlalu kasar padanya. Perkataan mu mungkin saja akan menyakiti hatinya." tegur Alexa
"Tapi, aku hanya jujur." ungkap Gabriel
"Dia bau busuk. Penciuman serigala ku tidak bisa disepelekan, Alexa. Lebih baik kau jauh jauh darinya." sambung Gabriel
Alexa hanya menghela nafasnya dan mengangguk.
"Aku juga tidak berminat dekat dekat dengan nya." gumam Alexa
Alexa duduk di bangku nya dan menelungkupkan kepalanya di atas meja. Mendengarkan berbagai suara yang dapat dia dengar dari dalam kelas.
Keheningan diantara keduanya terpecah ketika mendengar suara dering bell yang nyaring. Membuat kelas yang awalnya hanya terisi oleh Alexa dan Gabriel itu mendadak ramai.
Hal itu membuat Alexa menegakkan tubuhnya dan menatap lurus ke depan kelas.
Keadaan yang ramai perlahan lahan mulai hening ketika seorang guru memasuki kelas. Guru itu terlihat mengabsen satu persatu muridnya.
"Brian?"
Hening.
Tidak ada sahutan apapun.
"Kemana dia? Apa dia tidak masuk?" tanya guru perempuan itu pada Leon
"Jika aku memberitahunya apa Brian akan memukulku? Karena tadi pagi dia masuk tapi sekarang tidak. Aku takut rencana bolos nya ketahuan karena ulahku dan dia akan balas dendam." jawab Leon pada guru itu
Guru itu tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Dia tidak akan memukulmu. Baiklah, jadi dia hanya tidak hadir di kelasku? Akan aku sampaikan nanti pada Ketua Yayasan langsung." ujar Guru itu dan lanjut mengabsen
"Sarah Black?"
Lagi lagi hening.
Guru itu menghembuskan nafasnya kesal.
"Baiklah, mereka mungkin membolos bersama." gumam nya
Dia kembali mengabsen seluruh siswa. Tidak memperhatikan raut wajah perempuan berkulit pucat itu yang sedikit tertegun.
Perubahan ekspresi Alexa terekam baik oleh Gabriel. Pria itu sedikitnya mulai mengambil garis kesimpulan tentang kenapa Alexa meminta nya untuk menghiraukan mate dari Nona nya itu.
"Alexa? Can you help me?" tanya guru itu pada Alexa yang langsung membuat Alexa kembali ke alam sadarnya
"Sure, Mrs." jawab Alexa
Guru itu tersenyum, "Bisa tolong bawakan beberapa buku dari perpustakaan?" tanya nya
"Leon mungkin bisa membantu mu." lanjut guru itu sebelum perhatian nya teralihkan dengan Gabriel yang mengangkat tangan nya
"Biar aku yang membantu Alexa." seru Gabriel
Guru itu tersenyum dan mengangguk, "Baiklah, silahkan. Dengan begitu Leon bisa membantuku untuk mengoperasikan hologram untuk belajar."
Alexa menoleh pada Gabriel dan mengangguk. Keduanya berjalan keluar dari kelas dengan tenang.
Gabriel berkali kali melirik Alexa yang terlihat berkali kali lipat lebih pendiam. Tapi kali ini dia enggan bertanya. Karena dia tidak mau melihat Alexa jauh lebih sedih.
"Cari disana. Aku akan mencari di tempat lain. Jika kau sudah menemukan nya, segera cari aku." perintah Alexa yang langsung diangguki Gabriel
Alexa melangkahkan kakinya, menyusuri deretan rak buku yang menjulang tinggi di dalam perpustakaan berukuran besar itu. Sayang nya karena penjaga perpustakaan pergi entah kemana, membuat Alexa harus melangkahkan kaki nya semakin dalam ke perpustakaan.
Langkah Alexa berhenti ketika mendengar decapan decapan pelan yang terdengar di ujung ruang perpustakaan.
Hati Alexa mencelos.
Dia melihat dengan mata nya sendiri jika Brian sedang berciuman panas dengan Sarah disini. Alexa menunduk dan meremas bagian da*da seragam nya. Rasa sesak mulai memenuhi rongga da*da nya.
Alexa mengerjapkan matanya ketika dia hanya melihat kegelapan kosong. Biarpun telinga nya masih mendengar suara itu, tapi matanya sudah tidak melihat wajah Brian dan Sarah lagi.
"Tutup matamu, Nona. Kau tidak perlu melihat hal seperti ini." bisik Gabriel. Dia menutup kedua mata Alexa dengan satu tangan nya. Sementara tangan nya yang lain meraih ponsel miliknya dan memasangkan earphone di telinga Alexa.
Dia menyetelkan sebuah musik dengan volume yang cukup kencang hingga dapat meredam suara suara desahan dan decakan yang terdengar oleh Alexa.
Setelah itu, Gabriel langsung membawa Alexa keluar dari perpustakaan.
"Tunggu disini. Biar aku yang mencari buku nya." pinta Gabriel yang diangguki Alexa
Alexa menundukan kepalanya. Matanya menyendu bersamaan dengan bulir bening dari matanya meluncur bebas ke lantai.
Alexa menutup mulutnya sendiri, berusaha meredam isak tangisnya agar tidak terdengar oleh siapapun.
Tangan Alexa gemetar kecil. Dia menutup wajahnya dan mengusap air mata nya dengan cepat.
'Lagi lagi, aku yang terluka dalam hubungan Mate ini...' lirih Alexa dalam pikiran nya
Sementara Gabriel berdiri di balik dinding tempat Alexa berdiri dengan setumpuk buku berada di tangan nya. Dalam diam, dia mengepalkan tangan nya geram.
'Mate mu yang seharusnya melindungi mu dan setia padamu justru seperti ini. Dia anak dari Ryan Jade kan? Dia pasti akan menjadi penerus tugas Ryan.'
'Akan aku buat perhitungan untuk keduanya. Biarpun dia tidak mengetahui jika dia adalah mate dari Nona Alexa, anggap saja ini sebagai hukuman karena bebuat asusila di sekolah.'
:: Author Note::
Apa yang bakal kalian lakuin kalau kalian jadi Alexa? Fyi, hubungan Mate itu gak bisa dibilang sepele. Karena jiwa sama tubuh Alexa bakal ngerasain, apa yang Brian rasain.
Jadi kalau misalnya Brian lagi ada di dalam bahaya dan terluka, Alexa bakal ngerasa kesakitan. Itu juga berlaku buat Brian. Tapi karena dia gak tau kalau Alexa itu mate dia, Brian bakal cuma ngerasa gelisah kalau Alexa celaka. Go